Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search
Showing posts with label barat. Show all posts
Showing posts with label barat. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Yogyakarta Kota Wisata Spa

Sebagai daerah tujuan wisata, Yogyakarta melengkapi pernik pariwisata dengan fasilitas spa. Sedikitnya sudah ada 100 penyedia jasa spa untuk relaksasi bagi yang ingin mencari suasana santai dan memanjakan tubuh.

Memanjakan tubuh di tempat-tempat yang menyediakan fasilitas salon dengan spa diperlukan untuk relaksasi. Spa terapi pun bisa menambah tubuh semakin sehat. Hotel-hotel kelas bintang di Daerah Istimewa Yogyakarta rata-rata sudah menyediakan fasilitas spa bagi para tamu atau konsumen.

"Kami mengampanyekan Yogyakarta sebagai kota wisata spa karena sumber daya alam, manusia dan fasilitas ada," kata M Tazbir Abdullah, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 13 Januari 2012.

Ia menyatakan, wisata Yogyakarta tidak hanya terbatas dengan Malioboro, Keraton, Candi Prambanan, Borobudur, wisata pantai maupun gunung. Tetapi ada potensi lain yang bisa menambah pernik kelengkapan dunia wisata. Salah satunya adalah fasilitas spa. Karena orang berwisata atau yang sudah lelah bekerja bisa menikmati suasana relaks dan sehat di tempat-tempat spa.

Ia mengaku sudah berembuk dan bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Spa Daerah Istimewa Yogyakarta dan Asosiasi Spa Terapis Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mencanangkan dan memajukan pariwisata dengan fasilitas spa.

Untuk ramuan-ramuan terapi spa, kata dia juga sangat tersedia. Baik dari jamu-jamuan dan rempah yang bisa diolah untuk ramuan terapi spa bagi tubuh. Para pemilik fasilitas spa juga diminta profesional dalam pengelolaannya. Sehingga spa layak dijual kepada masyarakat untuk menikmati layanan-layanan yang disediakan.

"Spa itu kan bukan didapat dari impor, tetapi nenek moyang kita dulu juga melakukan spa dengan ramuan tradisional," kata Tazbir.

Tidak hanya sekadar berpromosi, pihaknya juga bekerja sama dengan asosiasi spa untuk meningkatkan kualitas fasilitas dan terapisnya. Para terapis harus bersertifikat, standar ramuan spa yang tidak merusak kulit, keamanan dan kenyamanan tempat spa dan lain-lain.

Menurut Anny Wulan, Ketua Asosiasi Spa Terapi Daerah Istimewa Yogyakarta, ada banyak macam layanan spa yang disediakan oleh para pengusaha. Dari pijat atau massage tradisional hingga spa bayi dan spa bagi yang akan menyelenggarakan pernikahan (spa pra nikah).

Layanan itu antara lain daily spa seperti lulur, masker, massage (bermacam-macam), baby massage dan lain-lain. Sebenarnya ada juga medical spa. Tetapi di Indonesia baru ada di Ciater Jawa Barat.

"Kami berkomitmen untuk menjadikan spa sebagai salah satu destinasi wisata. Maka kami juga punya standar mutu untuk pelayanan konsumen," kata dia.

Salah satu hotel yang menyediakan fasilitas spa adalah Jogjakarta Plaza Hotel: Kirana Health Club dan Sekar Arum Spa. Fasilitas di Kirana Health Club dilengkapi dengan peralatan yang semakin lengkap, modern dengan kualitas yang berstandar internasional. Selain itu juga dilengkapi dengan berbagai alat fitness untuk penunjang kesehatan.

Selain itu juga ada Hotel Grand Aston, All Season, Hotel Jayakarta, The Cangkringan Jogja Villas & Spa dan lain-lain. Begitu pula, akan ada sebuah graha spa di Maguwoharjo yang menyediakan fasilitas spa, karaoke bar dan fasilitas lainnya. Graha spa itu baru akan buka pada 19 Januari 2012 mendatang.

Namun, untuk memilih tempat yang menyediakan layanan spa juga harus bisa membedakan tempat yang benar-benar menyediakan fasilitas dan layanan profesional atau yang hanya menjadi kedok prostitusi. Sebab, di Daerah Istimewa Yogyakarta terutama di kabupaten Sleman banyak terdapat salon kecantikan yang juga menyediakan fasilitas spa tetapi hanya untuk kedok prostitusi.

"Harus bisa memilih tempat yang profesional dalam layanan spa," kata Tri D, salah satu penyuka wisata spa.

Memborong Ragam Keripik Pedas di Bandung

Pengin beli keripik pedas dari Bandung sebagai oleh-oleh? Kali ini agak repot memilihnya. Soalnya, Keripik pedas olahan rumah tangga di Bandung semakin marak.

Dalam setahun ini, sudah ada puluhan jenis dan merek kudapan berbubuk cabai itu yang beredar di jalanan, toko, juga dunia maya. Label nama dan lambangnya ada yang mirip-mirip hingga menggelitik.

Di Jalan Dago tiap Ahad pada jam Car Free Day antara pukul 06.00-10.00 WIB, misalnya, tak kurang dari 10 merek keripik menggoda mata lewat spanduk di gerobak atau mobil dagangan. Sebagian hanya dijajakan sederhana dengan tumpukan kardus di atas trotoar. Namanya mulai dari keripik Maicih, Maedeh, Maemeh, Ceu Tety, Jenong, Cipuy, Kribo, juga Karuhun.

Salah seorang penjual keripik pedas di trotoar Jalan Dago 85, Yuyun Yulianingsih, rata-rata menjual 125 bungkus keripik setiap hari. Saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu, pembelian mencapai 150-200 bungkus per hari. Sejak berjualan 4 bulan lalu, kata dia, keripik Maicih yang paling laris. "Terutama level (pedas) 3, 5, dan 10," katanya, Ahad, 4 Desember 2011.

Pembelinya dari kalangan remaja hingga orang tua. Paling banyak orang Bandung dan Jakarta. Biasanya, kata Yuyun, mereka memborong 5-10 bungkus untuk dikudap sendiri atau sebagai oleh-oleh.

Di Toko Serba Lada atau Toserda di Jalan Pajajaran 4 Bandung, lebih dari 20 merek keripik pedas berkumpul rapi di rak. Lada, dari bahasa Sunda yang artinya pedas itu diantaranya keripik Kurutuk yang diproduksi artis Rida, Siripik Kingkong, juga Kutang Janda size 36. "Keripik pedas jadi makin banyak setelah booming Maicih awal 2011," kata pemilik toko, Willy Hono, 28 tahun.

Sejak itu, hampir setiap pekan ada 1-2 pembuat keripik pedas yang menawarkan produknya. Namun tak semua olahan industri rumahan itu bisa dijual di tokonya. Sarjana Matematika dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, itu mengaku banyak menolak contoh kiriman karena rasanya kurang mantap, harganya dinilai mahal, atau kemasannya kurang baik sehingga keripik dikhawatirkan cepat melempem.

Uji produk itu juga melibatkan istri, dua karyawannya, serta rekan-rekannya. Willy sempat menjadi korban saat mencicipi keripik contoh. "Pernah langsung sakit radang tenggorokan," katanya. Walau begitu, ia tak mewajibkan para pembuat keripik pedas harus punya izin Departemen atau Dinas Kesehatan karena biayanya mahal. "Saya juga ingin bantu home industry," katanya.

Sejak toko berdiri akhir tahun lalu, ia juga menjual keripik lewat jalur online. Pembeli keripik per hari rata-rata ada 10 orang. Tiap bulan, omzet penjualan keripik pedasnya mencapai Rp 20-25 juta.

Keripik pedas sejak puluhan tahun lalu telah menempel di lidah orang Indonesia. Di Bandung, kudapan itu mulai naik pamor sejak tahun lalu dikenal sebagai pikset atau keripik setan. Sebutan itu karena  pedas bubuk cabai pada keripik dari bahan singkong tersebut sangat menyengat lidah.

Setelah itu, pembuat keripik singkong pedas lainnya mengolah racikan dengan tingkat kepedasan berbeda. Selain itu juga kemasan dan cara penjualannya ikut memanfaatkan jejaring sosial di Internet. Sejak awal 2011, keripik pedas jadi barang buruan. “Penasaran awalnya, kok pakai level-levelan segala, ternyata sama seperti pikset tapi harganya lebih mahal,” kata Yuli Saputra, ibu rumah tangga berusia 34 tahun.

Penyuka keripik pedas itu mengaku sudah biasa mengalami panas mulut dan perut setelah makan keripik. Agar tak sampai mulas, ia memilih cara makan keroyokan bersama teman sambil ngobrol. “Namanya makanan pedas itu kan susah berhenti ya, jadi harus sedikit-sedikit dan makannya ramean,” ujarnya.

Kini jenis keripik pedas tak cuma dari singkong, tapi juga kentang, talas, tahu, dan kerupuk seperti gurilem, dorokdok (kerupuk kulit), keripik cireng (aci digoreng), serta basreng (baso goreng). Walau sama-sama dijamin pedas, masing-masing punya rasa, aroma, dan bumbu berbeda. Buat yang suka tantangan dan penasaran makanan pedas, siapa yang tak tergoda?

Membeli 1001 Penganan Khas Daerah di Jakarta

Mencari oleh-oleh bisa jadi merupakan salah satu agenda favorit Anda saat bepergian ke luar kota, terlebih jika dititipi keluarga atau teman sebelum bepergian.

Lalu, bagaimana bila Anda keluar kota tapi tidak sempat membeli oleh-oleh? Tidak perlu khawatir, terutama bila Anda berdomisili di Jakarta. Di Jakarta Selatan, ada satu toko khusus yang menjual oleh-oleh dari pelbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Rumah Makan Nusa Indah namanya.

Meski menggunakan kata rumah makan di nama tokonya, Nusa Indah sebenarnya menyediakan beragam jenis penganan daerah. Sepanjang mata memandang rupa-rupa oleh-oleh menumpuk hingga sudut toko.

Bertempat di Jalan KH Achmad Dahlan 33, Kebayoran Baru, toko Nusa Indah sudah berdiri selama 25 tahun. Hartati, 64 tahun, pemilik toko, memulai bisnis toko oleh-oleh di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, itu pada 1983.

Menurut dia, selama dua tahun pertama berdiri toko itu sepi pembeli. Banyak penganan yang terbuang percuma. "Di tahun ketiga orang sudah banyak tahu tentang toko ini. Pembeli semakin banyak yang datang," kata Hartati.

Banyaknya pembeli yang datang membuat Hartati kewalahan. Apalagi toko kecilnya tidak memiliki lahan parkir yang memadai. Pada 1986, ibu tiga anak ini memutuskan memindahkan tokonya ke lokasi saat ini.

"Dari hari ke hari, tahun ke tahun, toko ini semakin ramai pengunjung," ujar perempuan kelahiran Semarang itu.

Di Nusa Indah tersedia pelbagai penganan seperti Brownies Amanda, kue lapis legit Spikoe asal Surabaya, kue lapis Surabaya Mandarijn, begelen Kartika Sari, kerupuk udang Ny. Siok dari Sidoarjo, dan keripik pedas Ma Icih asal Bandung.

Selain itu Hartati juga menyediakan oleh-oleh berupa balado singkong Christine Hakim dari Padang, bandeng presto asal Semarang, Marquisa Heavy Juice dari Sumatera Utara, keripik paru dari Solo, serta brem asal Madiun. Rupa-rupa penganan dari pelbagai daerah itu pun menyesaki toko Hartati.

"Dulu pernah jual oleh-oleh dari Indonesia bagian timur, tapi peminatnya sedikit dan ongkos kirimnya mahal. Jadi sekarang tidak menyediakan lagi," kata dia.

Hartati memang memanjakan pelanggan dengan oleh-oleh dari berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Salah seorang pembeli, Syaefudin, mengaku sudah menjadi langganan Hartati sejak 1994 lalu. Awalnya dia hanya melihat spanduk Nusa Indah yang menjual bandeng presto asal Semarang.

"Saya coba beli. Ternyata rasanya enak, rasa sambalnya pas, dan tulangnya sangat empuk," kata Syaefudin.

Toko Hartati juga sering dikunjungi turis mancanegara. Misalnya orang Jepang yang doyan memborong camilan berupa teng teng Super Mete Nugat. "Ada juga pembeli borongan yang mengirim kue-kue dari sini ke Kalimantan, Sumatera, bahkan Amerika, Australia, dan Jepang," kata Hartati.

Kaus Khas Jogja Laris

Para pedagang kaos di kawasan Malioboro panen rezeki pada liburan akhir tahun ini. Di hari biasa, rata-rata per hari hanya 300 kaus yang terjual. Tapi kini pedagang grosir di kawasan itu kewalahan. Dalam satu hari saja bisa 1.000 kaos terjual dari satu pedagang.

“Kaos yang harganya di bawah Rp 15 ribu sangat laku untuk oleh-oleh wisatawan,” kata Lukmono, salah satu pedagang kaus di Jalan Kauman, Rabu, 28 Desember 2011. 

Ia menyatakan, jenis kaos yang laku adalah kaos yang bermotifkan gambar khas Yogyakarta dan kaos yang berdesain trendi. Segmen pembelinya pun berbeda-beda, tergantung jenis kaosnya.

Kaos yang bergambar dan bertuliskan kata-kata Yogyakarta biasanya diminati oleh semua kalangan untuk dipakai atau dijadikan oleh-oleh. Sedangkan kaos yang desainnya trendi disasar para wisatawan kalangan muda.

Para pedagang penjual kaos secara grosir banyak didatangi oleh pengecer yang langsung menawarkan kaus ke wisatawan. Para penjual kaus itu biasanya disebut buser atau buru sergap. Sebab, mereka langsung menawarkan kaus kepada pembeli di tempat-tempat parkir, tempat wisata, dan di sekitar Benteng Vredeburg (ujung Malioboro).

“Pada November lalu sepi wisatawan. Sekaranglah saatnya para pedagang itu mendapatkan rezeki,” kata dia.

Salah satu ikon kaos di Yogyakarta adalah Dagadu yang memang sudah banyak dikenal oleh para wisatawan. Produsen kaos dengan gambar dan kata-kata unik itu mengaku omzet penjualannya naik 30 persen saat liburan seperti ini. Bahkan, di akhir pekan penjualan naik mencapai 60 persen.

“Untuk melayani para pembeli, kami sediakan gerai-gerai yang nyaman untuk dikunjungi wisatawan,” kata Marketing Communication PT Aseli Dagadu Djokdja Junno Mahesa.

Gerai Dagadu saat ini ada beberapa yang disediakan, yaitu Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) di Mal Malioboro, UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan, DPRD (Djawatan Plajanan Resmi Dagadu) di Ambarukmo Plaza, dan Posyandu II di Jalan Pekapalan (Alun-alun Utara).

Memburu Batik Lawasan Nan Cantik di Malioboro

Baju batik dengan warna dominasi coklat kemerah-merahan
itu terlihat cantik. Padahal, batik-dengan aneka ragam motif seperti parang, daun-daunan, bunga, dan  binatang ini dijahit sambung-menyambung dengan tekstur kotak-kotak. Motif menabrak itu justru menampilkan batik yang dikenal batik lawasan ini justru terlihat etnik nan cantik.

Modelnya pun disesuaikan dengan anak-anak muda zaman sekarang. Ada yang model baju   BCL karena baju model begini kerap dikenakan Bunga Citra Lestari, penyanyi. Ada pula model lawasan Luna Maya karena mirip dengan  pakaian Luna Maya, pemain sinetron dan film, hingga model kelelawar yang trend belakangan ini.

Di sebuah los  Pasar Beringharjo, beberapa orang terlihat memburu batik lawasan. Satu orang tak cukup membeli dua atau tiga potong. “Saya memborong 10 untuk oleh-oleh juga,” kata Ivon, seorang pengunjung asal Surabaya ketika ditemui di Pasar Beringharjo.

Batik lawasan, semula hanya dijual kainnya saja. Harganya bervariasi mulai Rp 50.000 hingga Rp 200.000. Nah, begitu jadi baju, harganya bervariasi antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000.

Belakangan, batik lawasan lantas dibuat model baju yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak, remaja, hingga untuk orang tua. Dinamakan batik lawasan karena memang dari batik tulis lawas yang sudah pernah dipakai simbah-simbah zaman dulu.

Nah, karena sudah jarang digunakan karena kondisinya tak lagi sempurna, mereka lantas menjual ke pedagang dan didaur ulang menjadi pakaian sehari-hari.  Karena lawas dan umumnya batik tulis asli, kekuatan batik lawasan nyaman dipakai dan adem di tubuh. Umumnya pemakai mengenakan di rumah atau bepergian santai. Ada pula yang membeli  batik dengan memodifikasinya dengan kain lurik.

Menurut Maryati, penjual batik lawasan, batik lawasan ini umumnya dijual oleh mereka dengan kondisi bolong atau aus di bagian tertentu. Nah, bagian lain yang masih bisa dimanfaatkan itulah yang kemudian dipotong-potong lalu disambung-sambung dan membentuk model macam-macam. “Model baju disesuaikan dengan model zaman sekarang yang sedang tren,” katanya.

Nah, penjahit-penjahit Yogyakarta yang terkenal memiliki citra seni yang tinggi inilah yang menjadikan batik lawasan, barang aus, namun tetap terlihat elegan.

Tak mengherankan, jika beberapa kali Tempo mendapati istri pejabat atau artis mengenakan batik lawasan. “Memang banyak artis yang datang belanja ke sini,” kata seorang pedagang batik lawasan lainnya, Sri. Dia mengaku peminat batik lawasan justru kebanyakan berasal dari Jakarta dan kota lain seperti Semarang, Bandung, Surabaya.

Hanya saja karena barang lawasan, memperlakukan batik ini kudu ekstra hati-hati. Batik ini punya kelemahan mudah robek karena usianya terlalu tua. Karena kalau dicuci cukup dengan lerak saja.

Aktris dan sutradara, Ine Febriyanti salah satu yang kerap memborong batik lawasan. Ine mengaku menyukai batik lawasan karena  adem dikenakan di tubuh. “Warnanya juga klasik, kuno, dan terkesan membumi,” katanya.

Membeli batik lawasan baginya bukan semata-mata soal mencintai produk Indonesia saja, tetapi juga ikut mendorong pedagang kecil agar lebih bisa berkiprah. “Kalau bukan kita yang membeli siapa lagi,” katanya.

Ivon, senada dengan Ine. Dengan membeli batik lawasan, maka, secara tidak langsung dia tidak sekedar berteori soal pemberdayaan pedagang Usaha Kecil dan Menengah (UKM). “Prakteknya ya dengan membeli seperti sekarang ini,” kata perempuan berparas ayu ini.

Pasar Beringharjo bukan satu-satunya yang menyediakan batik lawasan. Gerai toko Mirota Batik juga menyediakan batik lawasan. Hanya saja banderol harganya beberapa kali lipat dari Pasar Beringharjo.

Dari banderol yang dilihat Tempo,  rata-rata harganya Rp 68.000 hingga Rp
85.000. Di kelas-kelas mall seperti Ambarukmo Plaza, batik lawasan rata-rata di banderol dengan harga Rp 85.000.

Buat pembeli yang tak segan menawar, tempat belanja yang paling cocok memang di Pasar Beringharjo yang lokasinya berhadap-hadapan dengan Mirota. Apalagi, kualitas barangnya nyaris sama.

Di Pasar Beringharjo, memang tak ada banderol harga. Karena itu, mereka yang menyukai   perang urat syaraf alias tawar-menawar harga, di sinilah tempatnya. Apalagi, penjual  batik lawasan juga menekankan prinsip kekeluargaan dalam menawarkan barang dagangannya.

Belanja Tenunan Songket di Pandai Sikek

Ingin memiliki tenunan songket khas Minang? Pergilah ke Pandai Sikek, nagari di kaki Gunung Singgalang yang terletak tak jauh setelah Kota Padang Panjang menuju Bukittinggi. Tenunan Pandai Sikek buatan tangan ini sangat indah dengan beragam motif dan warna.

Di Pandai Sikek saat ini terdapat puluhan rumah tenun dengan ratusan penenun yang umumnya perempuan muda. Rata-rata dalam satu bulan seorang penenun bisa menghasilkan selembar kain (untuk sarung) atau selendang dengan motif paling sederhana. Pandai Sikek adalah daerah yang masuk daftar kunjungan wisata ke Sumatera Barat untuk berbelanja.

Selain membeli songket, Anda juga bisa melihat langsung proses pembuatan tenunan yang masih menggunakan alat tenun tradisional di rumah-rumah. Anda pun bisa menyaksikan proses pembuatan tenunan songket Pandai Sikek dari helai demi helai benang untuk membuat selembar kain yang indah. Ini tentu pemandangan yang unik dan langka, mengingat di zaman pabrikasi saat ini masih ada pembuatan kain dengan menggunakan keterampilan tangan dan alat sederhana.

Dulunya pembuatan kain tenun ini berkaitan dengan penyediaan pakaian untuk upacara adat, seperti melantik penghulu, pesta perkawinan.

Pandai Sikek merupakan satu dari tujuh nagari di Minangkabau yang masyarakatnya secara turun-temurun sejak ratusan tahun terkenal sebagai perajin tenun. Nagari lain adalah Pitalah dan Sungayang, Silungkang, Kotogadang, Koto nan Ampek, dan Kubang.

Namun sekarang hanya tinggal Silungkang, Kubang, dan Pandai Sikek yang masih terdapat penenun. Dari ketiga itu hanya Pandai Sikeklah yang lebih maju dalam melanjutkan tradisi menenun dengan tetap mewariskan kemahiran menenun kepada warganya, sehingga banyak penduduknya tetap menjadi penenun.

Selain itu, tenunan songketnya pun memiliki kehalusan dan keberagaman motif yang jauh lebih tinggi dan banyak. Jenis motif tenunan songket Pandai Sikek yang jumlahnya lebih 200 itu rata-rata memiliki arti yang berkaitan dengan filosofi adat Minangkabau, seperti motif pinggir “itiak pulang patang” (itik pulang petang) yang mengiaskan orang Minang seiya-sekata atau bersatu.

Di Pandai Sikek puluhan rumah tenunan songket menjual songket buatan tangan itu. Salah satunya adalah Rumah Tenun Pusako yang berbentuk rumah gadang milik Hajah Sanuar yang termasuk paling awal merintis bisnis penjualan songket di Pandai Sikek.

Songket dari Rumah Tenun Pusako sangat indah dengan beragam motif dan warna. Selain mempertahankan songket dengan warna tradisional, warna songket yang dijual juga mengikuti tren mode seperti merah menyala, biru, krem, dan kecokelatan. Harga songket mulai Rp 1,5 juta sampai Rp 10 juta per set, terdiri dari kain songket dan selendang.

Harga lebih ditentukan oleh kerumitan pengerjaan motif yang banyak menggali motif lama serta tergantung pada kain. “Songket paling mahal terbuat dari sutra asli dengan motif kuno Minangkabau, pengerjaannya lebih rumit karena di atas kain sutra, tapi lebih ringan dikenakan, ini yang membuatnya lebih mahal,” kata Adyan Anwar, pemilik usaha songket Rumah Tenun Pusako.

Selain Rumah Tenun Pusako yang khusus menjual songket tenunan, masih ada toko-toko lainnya yang tidak hanya menjual songket, tapi juga kain bordir dan kain sulaman khas Minang. Salah satunya di toko milik Erma Yulnita. Erma memiliki 30 perajin tenun di Pandai Sikek yang bekerja untuknya.

Songket yang ia jual juga dibanderol cukup terjangkau, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 7 juta per lembar. Harga songket di Pandai Sikek sangat tergantung pada kain, benang, serta kerumitan pengerjaannya. Semakin halus tentu semakin mahal. Harga masih bisa ditawar dan bisa berkurang paling banyak 10 persen.

Jangan takut tertipu berbelanja di Pandai Sikek karena ini usaha rumahan dan pemilik songket sangat mengandalkan kedatangan wisatawan ke tempatnya. Membeli atau tidak, Anda tetap dilayani dengan ramah. Bahkan di atas meja beranda selalu tersedia minuman gelas dan aneka makanan kecil khas Sumatera Barat seperti rakik maco, gelamai, keripik, hingga kue sagun yang bisa dimakan sambil menonton cara pembuatan songket di semua rumah tenun. Semua cemilan itu gratis.

Yuk, Berburu Kaus Unik di Bandung

Kota Kembang tak cuma asyik sebagai tempat berburu kuliner enak, tapi juga kaus untuk segala umur. Desainnya unik dan bernada humor, dari yang khas Bandung juga etnis kesundaan. Harganya mulai dari Rp 25 ribu hingga hampir Rp 100 ribu.

Umumnya kaus dengan desain yang menggambarkan suasana khas Bandung tersebut dijual di luar toko-toko distribution outlet (distro). Pusatnya berada di emperan Jalan Cihampelas, juga sekitar Pasar Baru Bandung Jalan Otto Iskandar Dinata. Ukurannya mulai dari untuk anak kecil hingga dewasa. Di kedua tempat itu, harga kaus ditawarkan murah, mulai dari Rp 20 ribu.

Di pertokoan jeans Jalan Cihampelas, beberapa corak desain dan jenis bahan kausnya ada yang berbeda dengan di emperan. Beberapa juga bergambar lokasi wisata, seperti museum, Gedung Sate, dan bangunan bersejarah. Paling mahal harganya sekitar Rp 100 ribu. Salah satunya di toko KPK alias Kelompok Pecinta Kaus di Cihampelas.

Menurut kasir toko Mida Marliana, tiap akhir pekan penjualannya berlipat ganda dibanding hari kerja. “Kalau di Cihampelas, kaus banyak diserbu turis luar kota dan anak-anak sekolah yang darmawisata,” katanya. Jika ingin memesan kaus untuk acara dan desain khusus dalam jumlah banyak, sentra kaus di Jalan Suci atau Surapati tempatnya.

Tapi kalau tak ingin kaos yang pasaran dan berbahan katun adem, di Cihampelas Walk ada outlet kaus Mahanagari dan kaus Gurita yang mengolah kata-kata lucu dengan gambar ilustrasi. Sedangkan kaus berlabel Harax yang mengangkat tema etnis kesundaan ada di Rockhouse Jalan Dewi Sartika. Nah, apakah Anda sudah siap berburu oleh-oleh kaus dari Bandung?

Lezatnya Nasi Kapau di Los Lambuang

Ranah minang terkenal dengan kekayaan makanannya. Salah satunya adalah nasi Kapau. Masakan dari Kapau, kampung yang berada di dekat Bukittinggi, terkenal dengan gulai kapau yang kaya bumbu dan lezat. Di Bukittinggi ada satu tempat khusus yang menjual nasi Kapau. Namanya Los Lambuang, di Pasar Lereng dekat Pasar Atas.

Di tempat ini ada belasan kedai nasi Kapau yang menempati lahan terbuka. Di setiap kedai dilengkapi dengan nama masing-masing penjualnya. Ada Nasi Kapau Uni Lis, Nasi Kapau Uni Linda, dan lainnya. Silakan memuaskan selera mata dan perut. Nama tempatnya saja Los Lambuang, artinya tempat untuk memuaskan selera lambung.

Nasi Kapau memang sangat khas. Penyajian masakannya juga unik. Uni penjualnya duduk lebih tinggi dari bangku pembeli, seperti di atas takhta dengan aneka lauk dan gulai kapau di dalam baskom-baskom yang besar di depannya. Dengan posisi meja hidangan yang lebih tinggi, pembeli dapat langsung melihat aneka lauk yang menggiurkan terhampar di depan mata. Kita tinggal tunjuk ingin lauk apa, dan si uni dengan tangkas akan mengambil lauk dan gulai sayuran kapau dengan sendok tempurung bertangkai panjang.

Ada berbagai lauk untuk melengkapi nasi kapau. Yang khas seperti gulai tunjang. Ini gulai kikil kaki sapi atau urat sapi berkuah kuning dan dimasak lama, sehingga amat lembut saat digigit. Ada juga pangek ikan mas yang masih ada telur di dalam perutnya. Pangek ini gulai yang dibuat sampai kuahnya kering. Ada juga gulai tamusu atau usus sapi yang diisi telur dan tahu yang dihaluskan.

Ada juga masakan Minang yang sudah dikenal seperti rendang, ayam goreng berbumbu, belut goreng, atau dendeng batokok. Semua itu dipadukan dengan gulai nangka muda yang dicampur kol, kacang panjang, dan rebung. Ini yang paling khas dari nasi kapau.

Gulai Kapau memang sangat kaya bumbu dan agak berbeda dari masakan Minang lainnya. Gulai Kapau terbuat dari santan kental dengan bumbu jahe, lengkuas, kemiri, cabe, dan menggunakan lebih banyak kunyit sehingga warnanya lebih kuning. Dimasak perlahan di atas tungku dan kuali tebal membuat semua bumbu meresap ke lauk dan sayurannya.

Seporsi nasi kapau yang dihidang si uni penjual biasanya terdiri dari nasi, sepotong gulai nangka muda, kol, kacang panjang dan seiris rebung dengan kuah kuning kental, sedikit rendang ubi kayu, dan lauk pilihan. Kali ini saya memilih sepotong gulai usus yang tampak gemuk karena berisi campuran telur dan tahu. Rasanya?...hmmm semua paduan nasi dan lauk dari Kapau itu benar-benar lezat. Tak mengherankan jika banyak orang ke Bukittinggi hanya untuk mencari nasi Kapau.

Renyahnya Ayam 4 Jari

Ayam sudah menjadi makanan kebanyakan orang Indonesia. Tapi bagaimana dengan ayam empat jari? Itu bukan jenis ayam berjari empat, melainkan nama restoran yang baru dua tahun berdiri, 4 Fingers.


“Restoran kami semi fast food, makan bukan sudah langsung jadi. Tapi setelah orang pesan, masih ada proses memasaknya lagi,” ujar Brand Manager 4 Fingers, Ditha Fitriana, ketika ditemui di cabang Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Kamis lalu.

Berbeda dengan restoran lainnya, ayam 4 Fingers diolah dengan cara yang berbeda. Ayam yang matang dioles dengan bumbu spesial dari Korea. Pengunjung bisa memilih dua saus antara Soy Garlic Sauce atau Hot Spicy Sauce, atau keduanya.

Misalnya untuk menu andalan Crispy Chicken Wing atau Drumstick. Sayap ayam diolah dengan cara deepfried sebanyak dua kali dengan suhu 180 derajat. Kulit ayam pasti dijamin renyah saat baru terhidang panas-panas. “Makanya kami sebut Premium Fried Chicken karena semua tersaji renyah,” ujar Ditha.

Kulit ayam yang renyah juga terdapat pada Chicken Burger. Untuk yang satu ini, daging paha ayam atas yang menjadi isi burger beserta selada, tomat, timun, dan jamur. Kebanyakan burger biasa menyajikan daging ayam polos olahan.

Jika ingin memuaskan perut, coba menu combo ditambah kentang goreng. Tak hanya dilumuri garam, kentang goreng juga tak kalah renyah karena ditaburi remahan rumput laut dan bubuk cabai.

Makanan lain yang patut dicoba ialah Katsu Chicken Sandwich. Menu ini terbilang unik karena campuran cita rasa tiga negara: Jepang, Cina, dan Korea. Cina diambil dari penggunaan Chinese Bun atau roti mantau sebagai pengganti dua tangkup roti tawar untuk sandwich umumnya.

Jepang tentu saja diambil dari kata Katsu, yang berarti irisan daging ayam. Sedangkan untuk sentuhan Korea di dalam roti isi diberi kimchi atau sayuran yang terfermentasi dengan rasa asam. Campuran ketiganya dijamin menarik untuk dicoba dan mampu membuat lidah bergoyang.

Tidak hanya negara-negara di Asia yang menjadi inspirasi resto yang berkapasitas 70 orang ini. Salah satu menu andalan mereka yang diadopsi dari Meksiko adalah Chicken Wrap. Berbentuk seperti kebab, lapisan roti tortilla ini berisi daging ayam yang dilengkapi dengan jamur dan sayuran. Sebagai penambah rasa, isi makanan ini dilumuri saus kari mayonnaise.

Jika bosan dengan makanan serba ayam, Tofu Salad bisa jadi alternatif lain. Salad berisi tahu goreng ini dilengkapi dengan daun selada dan jamur. Saus dressing yang dipakai adalah soy garlic sauce dan sesame oil. Ada juga menu vegetarian lainnya, yakni Tofu Rice Box, yaitu tahu goreng dengan kimchi. Siraman saus berwarna coklat dengan tingkat keasinan yang rendah memperkaya rasa nasi putih yang tersedia.

Sekilas, restoran yang namanya terinspirasi dari jumlah kaki ayam dan jumlah pendirinya ini terlihat seperti restoran cepat saji biasa. Anda tinggal memesan makanan di kasir pesanan, yang kemudian akan diteruskan ke bagian dapur. Menu yang disajikan pun tidak banyak berbeda dengan restoran cepat saji lainnya.

Mengambil konsep subway, resto yang baru berdiri pada 2010 ini mengincar generasi muda sebagai konsumennya. Itulah sebabnya, dekorasi ruangan dipilih dengan gaya anak muda pula. Di bagian dindingnya terdapat graffiti dengan warna dominan merah. Ada juga scribble atau coretan tulisan tangan di dua tiang dalam resto.

"Bedanya, kalau di subway biasanya orang makan dengan terburu-buru. Di sini mereka bisa santai,” Ditha menambahkan. Sebab, disediakan dua sofa panjang untuk pengunjung yang ingin berleha-leha.

Berbeda dengan rumah makan cepat saji biasa, harga di 4 Finger pun tak sama. Restoran yang berlogokan empat jari manusia ini mematok harga untuk empat potong Crispy Chicken Wings sebesar Rp 24 ribu. Menu favorit seperti Chicken Burger Combo, Katsu Chicken Sandwich Combo, dan Chicken Wrap Combo masing-masing dibanderol dengan harga Rp 44 ribu dan Rp 57 ribu. Selamat mencoba.

Menikmati Cupcake Berpadu Teh ala Eropa

Menikmati cupcake, biasanya jika lebih dari dua buah, perut menjadi enek alias mual. Ternyata, jika makan makanan ringan itu dipadukan dengan minum teh, perut tetap merasa nyaman.

Pilihan menikmati cupcake bisa menjadi alternatif kuliner yang kini sudah marak di Yogyakarta. Namun biasanya penikmat cupcake hanya membelinya di toko roti lalu dibawa pulang untuk dimakan di rumah atau di perjalanan.

Nah, ada tempat asyik untuk nongkrong yang menyediakan cake dan cupcake berbagai rasa di Yogyakarta. La Vie Michi Dessert Cake, sebuah gerai khusus menu-menu dessert yang unik nan lezat. Gerai itu ada di lantai 2 Mirota Palagan, Jalan Palagan Tentara Pelajar Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Perpaduan antara makan cake dengan minum teh ala Eropa sangat pas. Perut tetap nyaman," kata pemilik La Vie Michi, RR Christina, Sabtu, 4 Februari 2012.

Lokasinya yang berada di jalan menuju lereng Gunung Merapi itu sangat cocok untuk nongkrong di waktu sore hingga malam. Cupcake atau cake dipadu dengan teh panas sangat cocok dinikmati bersama pasangan, kerabat, atau sahabat.

Di tempat itu pula, pengunjung bisa belajar nge-teh, atau minum teh, dan menyantap aneka dessert itu. La Vie Michi menawarkan belasan jenis teh yang didatangkan langsung dari Eropa. Sedangkan untuk cake, ada 23 jenis. Ada Tiramisu, cokelat, Mouse Cake, Opera Cake, bahkan kue berbentuk Shaun The Sheep.

Khusus untuk teh, bahan-bahan teh didatangkan dari London, Inggris, Sri Lanka, Jepang, Cina, dan negara lain. Aneka teh yang tersedia di kedai ini antara lain teh jasmine, stroberi, Blackcurrant, dan teh peach. Untuk harga cake antara Rp 9.000 hingga Rp 18.500 saja. Satu cangkir teh dibanderol Rp 12.000. Teh itu bukan sekadar minuman, tetapi juga baik untuk kesehatan.

Christina menjelaskan, gerai-gerai khusus cupcake di luar negeri sudah marak, terutama di Amerika Serikat. Di Yogyakarta, masyarakat terutama kalangan muda dan mahasiswa suka nongkrong. Nah, sesekali, jika memilih altrenatif kuliner, bisa menikmati cake dipadu dengan minum teh. "Ini menjadi gaya hidup kawula muda," kata Christina.

Alumnus Studi Commerce di universitas ternama di Australia ini melihat peluang bisnis yang belum ada sebelumnya di Yogyakarta, seperti perpaduan makan cake sembari minum teh ini.

Nama La Vie Michi berasal dari bahasa Prancis, La Vie, yang bermakna kehidupan. Tetapi itu juga singkatan dari Victor dan Erick, kedua kakak Christina. Filosofi makan cake dan minum teh ini, kata Christina, diharapkan hidup semakin lebih cerah, lebih hidup.

Dijelaskan oleh Rita, penanggung jawab produk makanan La Vie Michi, bahan-bahan cake dan cupcake yang dibuatnya berasal dari bahan berkualitas dan aman dikonsumsi bagi siapa pun. Termasuk bagi mereka yang merasa kegemukan. Sebab bahan baku cake dipastikan 'zero calorie sugar' dan tanpa bahan pengawet. "Yang pasti makanan dan minuman sangat higienis dan sehat," katanya.

Menu Jepang Harga Indonesia Hanya di Umaku

Penahkah Anda melahap gumpalan nasi berbalut ikan mentah atau rumput laut? Ya, gumpalan nasi itu bernama sushi. Berasal dari Negeri Sakura, kini sushi menjadi satu makanan terkenal di Indonesia, terutama di Jakarta.

Dengan semakin dikenalnya sushi di kalangan masyarakat, makin banyak pula rumah makan berkonsep ala Jepang yang menyajikan sushi sebagai menu utama. Sayangnya mayoritas restoran Jepang mematok harga mahal untuk sajiannya. Kenapa mahal? Karena lokasi restoran Jepang kerap berada di mal atau hotel yang mematok pajak tinggi. Ditambah lagi bahan baku sushi banyak dikirim langsung dari Jepang.

Atas pertimbangan harga itu, tidak jarang calon pengunjung urung datang ke restoran Jepang. Takut harga tidak sesuai dengan kemampuan kantong.

Nah, merebaknya restoran Jepang yang mahal itu mendorong Beth Hayes mendirikan restoran dengan konsep serupa, tapi dengan harga terjangkau. Akhirnya, berdirilah restoran Jepang bernama Umaku, artinya 'sang ahli'.

"Suara yang ditimbulkan saat menyebut Umaku juga seperti rumahku. Jadi, seakan-akan menyantap sushi di rumah," kata Beth.

Awalnya Umaku berdiri di Cibubur, Jawa Barat, pada 2009 lalu. Karena pelanggannya semakin banyak, Beth pun membuka peluang waralaba Umaku. Lalu berdirilah Umaku Tebet dan Umaku Duren Tiga Raya Nomor 32, Jakarta Selatan.

Maka, datanglah Tempo ke Umaku Duren Tiga. Meski menyediakan pelbagai penganan Jepang, menu pertama yang dipesan Tempo adalah deretan sushi, misalnya Volcano, Spider Roll, Salmon Maki, dan Tobiko.

Lalu, hap! Satu Spider Roll langsung disantap, seketika mulut terasa penuh. Lembutnya unagi atau daging belut terasa cepat melumat. Begitu kontras dengan kriuk-nya gorengan daging kepiting yang disematkan di dalam kepalan nasi. Saya pun langsung sibuk mengunyah dan menyesap rasa laba-laba gulung ini. Enak.

"Spider Roll ini satu menu sushi andalan kami," kata Head Chef Umaku, Uki.

Sudah habis urusan dengan Spider Roll, saya mulai melirik Volcano. Kali ini, sekepal nasi menyelimuti daging kepiting dan Tobiko bakar. Di atasnya, ikan salmon dengan lelehen mayones berperan sebagai mahkota, sedangkan di sisi kanan-kiri Volcano terlihat jejak hitam sisa pembakaran.

Ketika mulut mengecap Volcano, hal pertama yang terdeteksi adalah rasa gosong. Sedikit amis dari salmon dan kentalnya mayones meramaikan isi mulut. Sayang, keramaian itu masih kalah dengan rasa sisa pembakaran.

Masih penasaran dengan menu sushi Umaku, saya lahap beberapa potong Salmon Maki dan Tobiko Flying Fish Roe. Memang dua menu itu bukanlah yang spesial, tapi butiran nasi pulen tetap menyenangkan mulut.

"Kami pakai beras dari Jepang dan menambahkan kombu atau ganggang laut saat memasaknya. Setelah matang, selain seperti ketan, rasanya pun beraroma ikan," ujar sang chef.

Sudah puas mengecap sushi, selanjutnya saya coba Soba Moriawase. Mie soba datang ditemani tempura udang, rumput laut, dan kuah bening kecokelatan. Saat menyesap air kuah, rasa segar terasa menyergap tenggorokan. Ada semilir manis juga di dalamnya. Dan mie soba terasa unik, seperti ubi.

"Mienya berbahan dasar gandum dan diimpor dari Jepang. Kuahnya sendiri mengandung ikan cakalang yang telah diasap, diserut, dan direbus dalam air selama tiga jam," kata Uki.

O ia, bagi Anda yang tidak menyukai makanan mentah, bisa juga memesan Katsu Kare Rice. Nasi kare di Umaku bisa dikategorikan unik karena perkawinan antara kayu manis dan lada halus menciptakan beragam rasa di mulut. Manis, wangi, dan sedikit panas.

Perut kenyang, hati senang. Saya pun sedikit berbincang dengan tamu Umaku lainnya. Ducta, 41 tahun, mengaku baru pertama kali datang ke Umaku Duren Tiga. Pada kunjungan perdananya itu, dia telah menghabiskan tiga mangkuk mie udon. "Rasanya enak dan harga terjangkau. Jadi, enggak takut kalau mau pesan banyak menu atau nambah," kata perempuan itu.

Tidak jauh berbeda dengan Ducta, Dicky, 43 tahun, bercerita jika dia tidak takut membawa anak dan keluarganya makan di Umaku Duren Tiga. "Karena tidak mahal, saya tidak deg-degan kalau mereka memesan banyak sushi atau menu lainnya," kata Dicky.

Tentang harga murah ini, Chef Uki punya rahasianya, yakni membayar pesanan bahan baku dari Jepang dengan pembayaran tunai dan tepat waktu sehingga penyuplai bahan baku mau memberi potongan harga. Selain itu, kata Uki, bahan baku yang mereka terima langsung dibersihkan dan masuk ke lemari pendingin. “Karena perawatan yang baik, usia ketahanan ikan bisa maksimal, misalnya sampai tiga hari. Jadi tidak ada yang mubazir.”

Suasana Umaku yang tidak kaku dan seperti di rumah membuat mereka nyaman duduk berlama-lama. Bercanda lepas tanpa takut ditunggu antrean tamu lainnya bisa dilakukan di Umaku.

"Apalagi kalau ada tamu Jepang, mereka suka membaca berita dari tempelan koran Jakarta Shinbun di dinding resto. Itulah keunikan kami," kata Chef Uki.

Daftar Harga di Umaku:

Volcano 4 potong Rp 35 ribu
Spider Roll 4 potong Rp 37 ribu
Salmon Maki 6 potong Rp 30 ribu
Tobiko Flying Fish Roe 2 potong Rp 21 ribu
Soba Moriawase Rp 33 ribu

www.tempo.co

Menikmati Sensasi Kopi Jos Lik Man

Kopi jos. Begitulah orang-orang menyebutnya. Para penggemar kopi di angkringan di Yogyakarta selalu berjubel duduk menikmati kopi khas itu.

Di sebelah utara Stasiun Tugu Yogyakarta, ada berderet angkringan tempat minum kopi. Kopi yang paling khas adalah kopi jos. Kopi ini diseduh dalam gelas yang diberi bara arang. Nah, suara bara arang yang masuk dalam minuman kopi berbunyi, "Josss..." Dari situlah minuman itu dinamakan.

Angkringan Lik Man yang berada di Jalan Wongsodirjan yang menempel di tembok luar stasiun itu yang pertama kali ada. Sejak 1970-an, angkringan tempat minum itu sudah ada. Nama Lik Man sendiri diambil dari nama Sisgiman, 62 tahun, sang pemilik angkringan. Namun saat ini yang menjalankan angkringan ini adalah Kobar, 42 tahun, menantu Lik Man.

"Dulu buka 24 jam, tetapi saat ini buka pada petang hingga pagi hari," kata Kobar sambil menyeduh kopi.

Khasiat kopi yang diberi bara arang itu diyakini bisa menghilangkan perut kembung, masuk angin, dan penyakit kurang enak badan. Kopinya pun juga kopi pilihan yang tradisional dari Klaten dan sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tempat itu menjadi favorit nongkrong dari semua kalangan. Pejabat, seniman, budayawan, wartawan, mahasiswa, pekerja malam, hingga penjaja cinta. Di tempat itu pula, dari banyak obrolan, muncul ide-ide cerdas. Para mahasiswa yang nongkrong juga membicarakan skripsi.

"Ada penelitian dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada, bara arang itu bisa mengurangi kadar kafein," kata Kobar, Kamis malam, 2 Februari 2012.

Para seniman yang sering nongkrong di tempat itu antara lain Marwoto Kawer, Butet Kartarejasa, Djaduk Ferianto, Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain.

Harga segelas kopi jos hanya Rp 3.000, baik yang pakai arang maupun kopi yang tidak. Tetapi tidak perlu khawatir bagi yang tidak suka kopi. Ada juga minuman teh manis Rp 1.500, jeruk, jahe, serta wedang tape ketan Rp 2.500.

Makanan khas angkringan, tentu saja nasi kucing yang harganya hanya Rp 1.000 per bungkus, ada yang berlauk teri, sambal, dan oseng-oseng. Makanan kecilnya rata-rata seharga Rp 500 saja. Ada mendoan (tempe goreng tepung), tempe bacem, kepala ayam, tahu susur, rempeyek, kacang, juga ada jadah. Jika ingin disajikan panas, makanan gorengan itu bisa dibakar dengan arang yang juga untuk memanaskan air minum di angkringan itu.

Lik Man saat ini tidak lagi secara langsung menangani angkringan miliknya. Ia saat ini justru bertani di dusun asalnya di Jetis, Tugu, Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Ia mewariskan usaha itu kepada anak, menantu, dan keluarga lainnya untuk meneruskan usaha itu.

"Sekarang bertani saja, kalau pendapatan dari angkringan ada lebihnya, saya juga diberi," kata Lik Man melalui telepon.

Ia berkisah, awalnya ia berjualan angkringan sejak tahun 1960-an. Sering berpindah dan bereksperimen membuat minuman, ia lalu mencoba memberi arang dalam minuman kopi. Ternyata sambutan pelanggannya sangat baik dan rasanya lebih enak. Yang masuk angin dan perut kembung bisa sembuh.

Saat ini, tidak hanya satu angkringan di sebelah utara stasiun itu. Muncul lebih dari 10 angkringan kopi jos yang setiap malam selalu ramai dikunjungi.

Semakin malam, deretan angkringan itu semakin ramai bahkan sampai waktu subuh. Yang usai dari tempat hiburan malam atau diskotek biasanya juga menunggu waktu pagi di angkringan itu. Apalagi mahasiswi yang usai berdugem, karena ada jam malam di kos-kosannya, nongkrong di tempat itu hingga pagi hari.

Soal pengamanan, tempat itu tergolong aman karena para pedagang angkringan dan tukang parkir kompak untuk menjaga keamanan di tempat itu. Para pengamen pun tertib. Hanya, jika sedang nongkrong di tempat itu, siap-siap uang receh untuk para pengamen.

Di tempat itu, para pengunjung bisa memilih duduk di kursi atau lesehan dengan tikar. Tergantung selera para pengunjung.

Cita Rasa Resto Bintang Lima di Tepi Pemakaman

Pernahkah Anda menyantap penganan di restoran mewah, katakanlah restoran bintang lima? Lalu, apakah Anda sudah merasakan sensasi makan di restoran yang berada di taman pemakaman? Kalau jawabannya belum, coba Anda datang ke Restoran La Collina yang berdiri di tepi taman pemakaman San Diego Hills Memorial Park, Karawang.

Jarak La Collina dengan deretan tanah kubur San Diego hanya sekitar setengah kilometer. Meski begitu, kesan angker atau menakutkan yang kerap timbul dari pemakaman tidak akan terasa. Sebab, restoran itu berdiri di atas bukit kecil dengan kolam renang di terasnya. Dan dari ruang makan La Collina, pengunjung bisa melihat danau buatan dengan deretan pohon rindang, tempat burung dara bertengger.

Tak ada aura menakutkan dari restoran tepi pemakaman itu.

Kala Tempo bertandang, 26 Januari 2012, koordinator La Collina, Tintin, menjelaskan bahwa makanan di restoran itu berkonsep Italia dan Indonesia. Karena itu, La Collina menawarkan sajian seputar pasta, pizza, ayam betutu, dan sup. Untuk menu pizza, La Collina memiliki satu menu spesial bernama Siciliana Pizza.

Layaknya pizza Italia pada umumnya, Siciliana disajikan dalam bentuk tipis, bukan roti yang tebal. Di atas Siciliana, sang chef hanya menaburkan lelehan saus keju mozzarella, remahan daun oregano, sedikit saus tomat, dan daging asap seukuran tomat iris.

Kalau dilihat, Siciliana Pizza ini sangat minimalis. Tidak banyak bahan yang dijadikan taburan atau topping di atasnya. Tapi, saat lembaran pizza mulai tergigit, hmmm… Rasa keju bercampur asam tomat mulai mengisi mulut. Lezat. Sedikit rasa ragi yang dikeluarkan lembar pizza juga terkecap di mulut. Sensasi terus berlanjut kala daging asap digigit. Meski hanya seiris, rasa daging begitu kental. Akhir kata, semua kelezatan itu ditutup dengan kriuk-nya pinggiran pizza yang dimasak garing.

Satu iris Siciliana Pizza cukup sebagai sebuah pembuka. Selanjutnya ada Lasagna al Forno. Entah apa arti dari kata al forno itu. Yang jelas, lasagna ini berupa pasta panggang dengan saus bolognaise yang penuh daging serta saus keju mozzarella dan daun peterseli. Bentuknya yang tebal pun membuat mulut langsung penuh, meski sebelumnya sudah dipotong kecil-kecil. Dan rasanya, yummy... Enak.

Tiap campuran dalam lasagna memberi rasa tersendiri di mulut. Ada asin keju, asam tomat, manis daging, sedikit rasa daun, serta kelembutan pasta. Membuat mulut ingin terus mengecap.

Kelar mengecap lasagna, Tempo pun mencoba menu andalan La Collina lainnya, yakni Spaghetti Carbonara. Berbeda dengan Spaghetti Bolognaise yang menggunakan siraman saus tomat dan daging giling, carbonara ini dipenuhi dengan krim susu yang diadon bersama kuning telur. Hasilnya adalah untaian spageti yang saling menempel lengket dengan taburan daging asap.

Satu suapan Spaghetti Carbonara rasanya lumayan. Kemudian dua, tiga, empat, dan suapan selanjutnya membuat mulut tak terlalu nyaman. Saus krim yang seharusnya menjadi andalan malah terasa tidak cocok di mulut. Kata Tintin, "Spaghetti Carbonara ini biasa dipilih pengunjung dari Eropa. Memang berbeda dengan orang Indonesia yang lebih memilih bolognaise. Mungkin karena orang kita tak terbiasa dengan saus krim."

Yah, makanan Italia sudah tercicip. Maka tidak afdol kalau belum memesan penganan Indonesia. Pilihan pun jatuh pada Sop Buntut. Kemudian datanglah semangkuk besar Sop Buntut, lengkap dengan sepiring nasi dan emping di pinggirnya. Sebelum menyantap sup dan nasinya, Tempo mencicipi dulu potongan buntut sapi itu. Rasanya empuk. Daging tebal di sekitar tulang ekor sapi begitu mudah dipotong dan dikunyah. Manisnya daging juga terasa. Meski kuah sup terasa terlalu manis, sajian ini tidaklah mengecewakan.

Menutup semua sajian itu, Tempo pun menyesap segelas La Collina Special. Minuman yang diracik dengan jus lemon, jus jeruk, irisan pisang, dan madu itu lantas meluruhkan segala lemak yang terasa di mulut. Begitu ringan dan segar.

Daftar harga di La Collina:
Spaghetti Carbonara Rp 54.900
Lasagna al Forno Rp 65.900
Siciliana Pizza ukuran besar Rp 79.500
Siciliana Pizza ukuran sedang Rp 72.500
Sop Buntut Rp 67.500
La Collina Special Rp 18.900

www.tempo.co

Sunday, February 12, 2012

Menengok Kejayaan Zaman Kolonial di Kota Padang

Kota Padang menyimpan kenangan sejarah zaman Kolonial Belanda. Kota yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera ini sepanjang abad ke-18 dan ke-19 tumbuh menjadi kota dagang, sekaligus kota militer Pemerintahan Hindia Belanda.

Di sepanjang Sungai Batang Arau hingga Pelabuhan Muaro sejumlah bangunan tua jadi saksi bisu jejak kolonial yang tertinggal. Dari Jembatan Siti Nurbaya terlihat jelas sisa-sisa kota tua di Jalan Batang Arau di sisi sungai.

Pada zaman kolonial, Jalan Batang Arau menjadi kawasan perkantoran pemerintahan, perdagangan, dan militer. Di jalan ini berderet bangunan-bangunan tua dan besar bekas kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang peninggalan VOC.

Bangunan yang menonjol adalah gedung NHM (Nederlansche Handels-Maatschappij), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio yang didirikan sebelum 1920. Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik dengan tinggi 24 meter dan berdinding permanen ini berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada puncak atap sebagai tempat sirkulasi udara.

NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat berkantor beberapa perusahaan swasta, asuransi, dan perbankan. Kini bangunan ini hanya dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga. Di seberang gedung NHM ada kantor Bank Indonesia yang dulunya gedung De Javasche Bank. Gedung yang dibangun sekitar 1930 itu bergaya arsitektur tropis dengan bagian puncak atapnya menyerupai atap mesjid.

Masih di Jalan Batang Arau, berdiri kokoh Gedung Padangsche Spaarbank yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua dengan tinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik yang mendapat pengaruh dari arsitektur art-deco.

Padangsche Spaarbank sempat dikelola Hotel Batang Arau hingga 2009. Hotel tua ini amat disukai turis asing yang surfing ke Mentawai. Di sebelah Spaatbank terdapat gedung NV Internatio, sebuah perusahaan dagang yang dibangun sekitar 1910. Gedung yang sekarang milik BUMN Cipta Niaga itu berarsitektur neoklasik bercampur modern yang berkembang sebelum 1920. Selain itu masih ada beberapa gedung tua lagi yang masih berdiri.

Selain di sepanjang Jalan Batang Arau juga masih ada lusinan gedung tua di sebelah selatan. Di antaranya tiga bekas pasar yang dulunya terkenal di pengujung abad ke-19 itu, yaitu Pasa Gadang (Pasar Hilir), Pasa Mudik, dan Pasa Tanah Kongsi.

Kawasan ini sekarang tak lagi menjadi pasar. Arsitektur bangunan yang unik dengan arsitektur campuran antara Arab, Melayu, Cina, dan Minangkabau masih asli dan terjaga. Sebanyak 74 bangunan di sini dijadikan Pemerintah Kota Padang sebagai benda bersejarah yang dilindungi.

Samosir Disiapkan Jadi Taman Geologi Dunia

Ledakan Gunung Toba yang terjadi sekitar 75 ribu tahun lalu hampir memusnahkan umat manusia. Kini Pemerintah Kabupaten Samosir berupaya menjadikan pulau yang terletak di tengah Danau Toba itu menjadi salah satu simpul geologi dunia.

Menurut Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Pemerintah Kabupaten telah mendapat laporan mengenai fakta geologi kawasan tersebut dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Maklum saja, penelitian geologi untuk kawasan Pulau Samosir adalah yang terlengkap dibandingkan kawasan lain di sekitar Danau Toba.

Beberapa fakta yang terungkap adalah munculnya batuan dasar bumi berusia 300 juta tahun setelah terjadi ledakan. Batuan tua ini menjadi salah satu obyek penelitian penting dalam mengungkap kejadian Ledakan Gunung Toba.

"Samosir menjadi begitu penting bagi penelitian geologi, sehingga diajukan masuk sebagai jaringan Geo Park dunia," ujar Mandindar kepada wartawan di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu, 30 November 2011.

Geo Park Samosir nantinya disusun oleh 35 titik penting atau disebut sebagai geo site. Di setiap titik akan menjadi lokasi edukasi dan penelitian yang bisa dikunjungi masyarakat dan peneliti. Masyarakat dilibatkan sebagai pemandu dan penjaga setiap situs geologi ini.

Sebuah pusat informasi akan didirikan di kaki Gunung Pusuk Buhit yang terletak di tengah Danau Toba. Di lokasi ini akan dibangun denah sebaran geo site berikut penjelasan geologinya. Gunung ini memegang posisi penting bagi masyarakat Samosir karena dianggap sebagai tempat munculnya nenek-moyang mereka.

Mangindar sendiri berencana mulai membangun Geo Park tahun depan. Dana sebesar Rp 20 miliar disiapkan untuk membangun keseluruhan kompleks. Untuk pengerjaan proyek Geo Park, Pemerintah Kabupaten Samosir meminta bimbingan dari BPPT.

Asyiknya Menyusuri Perut Bumi Gombong Selatan

Tanpa rasa takut, Fauzy Zulvikar, 20 tahun, nyemplung ke Sendang Mawar di Gua Jatijajar Kebumen akhir pekan lalu. Berkali-kali, ia membasuh muka dengan air sendang yang mengalir deras. Bening tanpa sampah, mengalir di sela-sela stalakmit gua itu.

“Biar awet muda dan tambah ganteng,” ujar Bang Ozi, panggilan akrab Fauzy, meniru iklan goyang gayung di televisi, saat mengunjungi Gua Jatijajar.

Bang Ozy bersama puluhan kawan satu kampusnya sengaja berlibur ke Gua Jatijajar untuk melihat eksotisme gua karst Gombong Selatan. Kawasan karst yang membentang di perairan selatan Kebumen itu berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Kabupaten Kebumen.

Ratusan gua yang layak dijadikan wisata petualangan ada di kawasan ini. Hamparan pantai selepas pegunungan karst, juga menambah lengkap agenda liburan.

Agus Rasono, 50 tahun, juru kunci Gua Jatijajar mengatakan, kawasan gua akan banyak didatangi pengunjung saat hari libur. “Ada yang sengaja untuk melihat keindahan gua, ada juga yang sengaja ingin semedi,” katanya.

Seperti halnya di Gua Jatijajar yang mulai dibangun sebagai obyek wisata pada tahun 1975. Selain pemandangan stalaktit dan stalakmit, yang paling terkenal stalakmit Kurungan Ayam, di gua ini juga ada beberapa sendang atau kubangan air yang dipercaya mempunyai khasiat terntentu.

Selain itu, ratusan patung yang mengisahkan cerita Kamandaka juga menjadi pemandangan tersendiri di gua itu. Kisah Kamandaka atau dikenal dengan kisah lutung kasarung menjadi visualisasi di gua itu. Banyaknya patung kera, kata Agus, merupakan gambaran perwujudan lain dari Kamandaka. Kisah itu sendiri bersumber dari Babad Pasir Luhur yang merupakan cikal bakal lahirnya Kadipaten Banyumas.

Waktu itu, gua Jatijajar digunakan Kamandaka untuk semedi mencari wangsit. Selain Kamandaka, ada juga patung Dewi Nawang Wulan sedang berendam di sendang kanthil dan mawar.

Air dari Sendang Kanthil dipercaya bisa membuat orang yang membasuh mukanya dengan air sendang itu akan menjadi cantik atau ganteng. Sementara sendang Mawar dipercaya bisa membuat orang awet muda. “Nalarnya, air dari pegunungan karst mempunyai kandungan mineral tinggi sehingga bagus untuk tubuh,” katanya.

Selain dua sendang itu, ada juga sendang Paser Bumi dan Jombor yang khusus digunakan orang untuk bersemedi. Dua sendang itu pintu masuknya dikunci dan tidak diperboleh dimasuki oleh sembarang orang. Biasanya, orang yang bersemedi ingin jabatannya naik atau perdagangannya lancar. Selama tiga hari tiga malam, orang itu ngebleng atau berdiam diri di sendang yang cukup gelap itu.

Bahkan, kata Agus, Sri Sultan Hamengkubono IX pernah bersemedi di tempat itu. Konon, Sri Sultan hendak bertemu dengan penguasa pantai laut selatan, Nyi Roro Kidul. Ia percaya, sungai-sungai yang mengalir di tengah gua, bermuara di pantai laut selatan.

Gua Jatijajar sendiri ditemukan tahun 1802 oleh Djaya Menawi yang juga kakek buyutnya Agus. Ia adalah pemilik lahan di atas gua. Saat itu, ia tak sengaja menemukan gua. Sebuah lubang dengan kedalaman 24 meter membuatnya terperosok dan ia pun jatuh ke dalam gua. Beruntung ia tersangkut di akar pohon besar.

Jatijajar sendiri berasal dari kata Jati dan Jajar. Dulunya, di mulut gua ada dua batang pohon Jati berukuran raksasa tumbuh berjejer. Kelak nama gua dan desa itu menjadi Jatijajar. Dua pohon jati itu lantas ditebang dan dijadikan tiang pendopo Kadipaten Ambal.

Di pintu masuk gua, nampak ratusan tulisan tangan memenuhi dinding gua. Tulisan itu merupakan bentuk kenarsisan orang-orang Belanda dan penggede keratin yang mengunjungi tempat itu. “Tulisan dari pengunjung mulai ada tahun 1812 berisi nama-nama mereka. Tulisan itu tidak boleh dihapus karena merupakan bukti sejarah,” katanya.

Bahkan, tahun 1979, serombongan turis Belanda yang rata-rata sudah berumur 90-an pernah berwisata nostalgia ke gua itu. Mereka membaca kembali tulisan-tulisan mereka yang pernah ditorehkan di dinding gua.

Belanda, waktu itu sedang membangun jalan Deandels yang membentang dari Anyer hingga Panarukan melintasi Kebumen. Nama-nama pejabat Keraton Jogjakarta juga terpampang di dinding itu. Di situ tertulis tanggal, 21 Juni 1931.

Agus mengatakan, saat Jepang berkuasa, mereka memanfaatkan kotoran kelelawar untuk dijadikan pupuk. Dulu, kata dia, ada ribuan kelelawar tinggal di situ. “Sekarang tinggal ratusan saja,” katanya.

Kepala Pengelola Kawasan Jatijajar, Suyatno mengatakan, tahun 1981 pemerintah membangun jalan tembus untuk keluar gua. “Sebelum dibangun jalan tembus, pengunjung harus kembali ke mulut gua yang panjangnya sekitar 350 meter,” katanya.

Ia menyebutkan, kawasan itu mempunyai luas sekitar lima hektare. Selain jembatan dan jalan yang memudahkan pengunjung berkeliling gua, pengelola juga membangun pasar tradisioanal yang khusus menjajakan kerajinan tangan dan souvenir khas Kebumen.

Suyatno menambahkan, di kawasan karst Gombong Selatan terdapat sekitar 175 gua. Selain gua Pteruk, ada juga gua dempok, intan, titukan, barat, simpenan, gelatik dan lainnya. Gua tersebut masih alami sehingga biasa dimanfaatkan untuk penelitian atau olahraga caving atau susur gua.

Ia menceritakan, dulunya kawasan itu pernah akan ditambang kapurnya. Namun banyak yang menolak karena bisa merusak lingkungan dan mengancam ketersediaan air bersih di Kebumen. Menurutnya, dari sebuah hasil penelitian, di kawasan itu ada sebuah danau raksasa yang terletak di bawah kawasan karst.

Jika kawasan itu dipapras dan ditambang kapurnya, dikhawatirkan bisa menyedot persediaan air bersih. Lingkungan menjadi kering dan petani tak bisa mengolah lahannya karena air habis.

Ia menambahkan, aliran air melalui stalaktit dan stalakmit bisa dijadikan indikator lingkungan. ia menambahkan, dulunya air masih mengucur deras dari ujung stalaktit menandakan lingkungan di sekitar gua masih ijo royo-royo. Namun saat ini, air sudah tidak mengalir lagi. “Secara teori, gua ini sudah mati. Tidak ada air lagi yang mengalir. Stalaktit dan stalakmit sudah tak mungkin tumbuh,” imbuhnya.

Karena itu, saat ini Gua Petruk yang mempunyai panjang dua kilometer tidak dibangun untuk pariwisata. Gua Petruk sendiri hanya digunakan untuk penelitian sehingga proses pembentukan stalaktit dan stalakmit selama ribuan tahun akan terus terjadi.

Serunya Nonton Pacu Jawi di Lereng Gunung Marapi

Menggigit ekor sapi hidup? Wuiihh... menjijikkan. Begitu tanggapan saya saat mendengar cerita dari seorang teman yang pernah nonton Pacu Jawi. Tak terbayang ada orang yang mau menggigit ekor sapi hidup yang berlumpur, berbulu, bau lagi. Kalau sop buntut sih lain ceritanya.

Tontonan unik ini bisa dilihat dalam acara Pacu Jawi di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang kerap diadakan seusai panen padi. Dalam arena itu sang joki akan menggigit ekor sapi keras-keras agar sapinya berlari kencang. Orang Minang menamai sapi dengan jawi, jadi acaranya namanya Pacu Jawi.

Rasa penasaran ingin nonton Pacu Jawi akhirnya kesampaian. Rupanya ada atraksi Pacu Jawi di Nagari Sungai Tarab. Kini masyarakat sedang keranjingan membuat acara Pacu Jawi di nagarinya begitu usai tanam padi lantaran semakin banyak ditonton untuk hiburan anak nagari.

Tempatnya jauh di tengah areal pesawahan yang berundak di kaki Gunung Marapi. Perlu ekstra kerja keras untuk mencapai lokasi karena harus berjalan di pematang sawah dan kubangan lumpur. Di Sungai Tarab, Gunung Marapi terlihat lebih menjulang dari biasanya karena sebagian punggungannya tertutup kabut.

Di depannya terbentang sawah yang berundak, dan ada sepetak sawah yang cukup lebar dengan panjang sekitar 60 meter yang akan digunakan untuk Pacu Jawi. Tanahnya berlumpur halus dan cukup dalam karena sudah empat pekan dijajal puluhan sapi yang ikut Pacu Jawi. Di lokasi Pacu Jawi ini tidak tercium lagi aroma kotoran sapi, tapi yang ada aroma lumpur sawah yang segar.

Suasana keceriaan dialek Nagari terasa kental, tiupan saluang mengalun riang diiringi gendang. Ibu-ibu membawa nampan yang tudungnya berhias berisi makanan ringan. Puluhan ekor sapi yang akan berpacu juga terlihat dipersiapkan pemiliknya untuk siap bertanding di lapangan.

Rupanya ini acara penutupan karena belasan sapi jantan sudah dirias seperti pengantin. Mulai dari kepalanya yang dihias rangkaian bunga plastik, tanduknya yang dibalut kain beludu bersulam, dan seluruh tubuhnya dipakaikan kain aneka warna. Itu tandanya sapi tuan rumah dari Sungai Tarab. Paginya mereka sudah diarak keliling kampung yang menandakan penutupan acara Pacu Jawi yang sudah berlangsung empat pekan setiap Sabtu.

Ada empat kecamatan yang punya tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar, yaitu Sungai Tarab, Pariangan, Rambatan, dan Lima Kaum. Keempat daerah ini ada di lereng Gunung Marapi. Pacu Jawi ini dilaksanakan usai panen padi dan tempatnya digilir tiap kecamatan yang dilaksanakan selama empat pekan setiap Sabtu.

“Pacu jawi ini sudah ada dari dulu, tapi belum seramai sekarang. Ini untuk menaikkan harga jawi. Kalau bagus larinya, harganya bisa sampai Rp 20 juta, lebih mahal dari harga pasaran yang hanya Rp 5 sampai Rp 7 juta,” kata Justiar, warga Koto Hiliang yang ikut Pacu Jawi. Ia membawa sapinya yang bernama Merica yang berusia 2 tahun 6 bulan.

“Walaupun kecil dia hebat, larinya kencang. Jadi saya namai merica. Kalau ada yang mau beli Rp 15 juta saya lepas,” kata Justiar. Dalam Pacu Jawi ini Merica akan tandem dengan Tando, seekor sapi jantan yang punya tanda totol hitam di kakinya milik kerabat Justiar.

Untuk meningkatkan stamina sapinya, sebelum dibawa berpacu, sapinya tidak diberi rumput, tapi makan telur dan madu yang dicampur minuman berenergi.

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba. Saya mengambil tempat di dekat garis start. Ingin melihat saat-saat penting ketika sang joki menggigit ekor sapinya. Aturannya, dua ekor sapi masing-masing diberi kala, atau kayu bajak, yang akan diinjak kaki kanan dan kiri sang joki. Joki mengendalikan sapi dengan menarik kedua ekor sapinya. Sapi yang dilepaskan hanya sepasang, dan tidak ada lawannya.
Yang dianggap juara adalah sepasang sapi yang larinya lurus, tidak berbelok ke sawah sebelah, dan jokinya tidak jatuh. Tidak ada pemenang karena penonton yang menyaksikan sapi siapa yang paling jagoan. Tentu saja setelah itu harga sang jagoan menjadi lebih tinggi.

Terjadi keributan kecil di lokasi start karena sapi-sapi itu sulit diatur. Tiba-tiba saja seekor sapi berlari karena tak sengaja bajaknya terinjak oleh joki. Ini soal insting sapi. Sebab setiap bajaknya diijak, sapi merasa itu saatnya berlari. Makanya joki-joki harus memegang bajak dan tidak meletakkannya di lumpur agar sapi tidak lari sebelum pertandingan dimulai.

Pacu Jawi dimulai dengan diiringi teriakan "Heyahhh..!" dari pemimpin lomba. Teriakan yang membuat kedua sapi lari kencang. Di sinilah unik dan lucunya, ada cipratan lumpur di mana-mana, wajah dan tubuh joki bersimbah lumpur sawah.

Ada joki yang langsung terpental jatuh karena kedua sapi berlari sangat kencang. Ada joki yang terjatuh karena hanya salah satu sapi yang lari kencang. Dan, ini yang saya tunggu-tunggu, di antara hujan cipratan lumpur telihat seorang joki yang berusaha mengendalikan kedua sapinya dengan menarik ekor dan menggigit salah satu ekor sapi. Akhirnya dua sapi dan jokinya sukses sampai ke ujung yang disambut sorakan penonton.

Namun gigitan joki pada ekor sapinya itu ada juga yang tidak sukses. Ada sapi yang kelihatannya marah sekali dan berlari kencang berbelok ke sawah orang nyaris menabrak penonton di pematang.

Usai bertanding, saya bertanya pada salah satu joki soal ekor sapi yang digigit itu. Kenapa ekor jawi-nya mesti digigit?

“Ini sudah biasa dalam pertandingan. Apalagi sehari-hari saya main dengan sapi itu, membajak sawah, menggigit ekornya itu pun kalau terpaksa. Biasanya agar lari kencang saya hanya menarik ekornya. Tapi kalau salah satu sapi saja yang lari kencang, terpaksa saya gigit ekor sapi satunya lagi agar larinya sama,” kata Yoyon, 18 tahun, salah satu joki.

Di Tanah Datar ajang Pacu Jawi ini tak lagi sekadar acara hiburan dan bisnis jual-beli ternak tradisional. Tapi sudah dimasukkan ke dalam salah satu cabang olahraga. Kegiatan ini dikelola Persatuan Olah Raga Pacu Jawi (PORWI) Kabupaten Tanah Datar, di bawah naungan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) kabupaten itu.

Tentu saja ajang Pacu Jawi masuk dalam salah satu event wisata favorit di Tanah Datar. Inilah salah satu obyek wisata dari banyak obyek wisata sejarah dan budaya tempat asal dan pusat kebudayaan Minangkabau di Ranah Minang. Di daerah tempat Istana Pagaruyung terletak.

Untuk memastikan ada-tidaknya acara Pacu Jawi, cari informasi dulu ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanah Datar. Biasanya hampir tiap bulan setiap akhir pekan ada acara Pacu Jawi yang tempatnya berpindah-pindah. Nonton acara ini tidak dipungut bayaran.

Kopi dan Kabut di Kelok Danau Toba

Perlu waktu berhari-hari  untuk menikmati eksotis Danau Toba. Lokasi wisata yang telah menjadi keajaiban dunia ini mengelilingi tujuh kabupaten di Sumatera Utara: Kabupaten Simalungun, Tanah Karo, Tapanuli Utara, Samosir, Toba Samosir, Dairi, dan Humbang Hasundutan.

Lumrah bila Kota Parapat, tepian Danau Toba, secara administratif masuk wilayah Kabupaten Simalungun, lebih ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Parapat merupakan jalur utama menuju Danau Toba. Daya tarik Danau Toba tak sebatas Kota Parapat. Berkunjunglah ke sudut Danau Toba lainnya, Tuk Tuk Siadong di Kabupaten Samosir, misalnya.

April lalu, saya bertolak dari Kota Medan menuju Kota Parapat. Perjalanan pada hari kerja memerlukan waktu tempuh 4 jam, berjarak 175 kilometer. Hari itu, kami menempuh waktu lebih lama satu jam karena lapisan kendaraan yang mengular begitu keluar dari Kota Pematang Siantar.

Maklum saja, ruas jalan tergolong sempit dengan sisi curam dan volume kendaraan yang lalu-lalang berbagai jenis menyebabkan laju kendaraan tidak bisa maksimal.

Jalan menanjak, menurun, dan berbukit tentu membosankan dan mengkhawatirkan keselamatan. Rambu peringatan serta panorama hijau dari barisan pohon cemara menjadi obat penenang di perjalanan. Wajah selalu berpaling ke sisi kiri dan kanan, memetik keindahan alamnya.

Dua kelokan terakhir mengantar kami menuju mulut Kota Parapat. Jalur menurun melahirkan keindahan tersendiri dengan pandangan hamparan air biru Danau Toba. Kendaraan yang membawa kami berhenti di sisi kelokan menurun, persis di depan warung yang berjejal. Beberapa rekan turun dari kendaraan, mengabadikan tepian Kota Parapat dari sudut kelokan ini. Yang lainnya melepas lelah dengan suguhan minuman segar dan kacang produksi petani di Tanah Batak.

Dari warung ini, terilhat air Danau Toba ternyata tak biru lagi. Ratusan kerambah apung yang bertebar dituding menjadi penyebab tercemarnya air Danau Toba. Keberadaan kerambah mencederai panorama Parapat, dengan pagar bangunan hotel berbaris mengikuti lekukan Danau Toba, dengan latar gundukan bukit.

Terpaan angin danau membikin kami terlena oleh waktu yang kian mendekati malam. Semula, kami ingin melanjutkan perjalanan langsung ke Tuk Tuk Siadong. Setibanya di Pelabuhan Ajibata, Kota Parapat, niat tersebut kami urungkan melihat antrean panjang kendaraan menunggu feri penyeberangan ke Kabupaten Samosir. Untuk menikmati malam ini, kami memutuskan istirahat di hotel kawasan Parapat.

Danau Toba. Beruntung salah satu hotel tengah menggelar diskon kamar, putusan diambil tanpa ragu. Dari kawasan penginapan yang berada di dataran tinggi ini, pemandangan Danau Toba begitu luas dipandang. Sayangnya, malam itu, manajemen hotel meniadakan acara untuk tamu hotel. Jadinya, malam itu kami isi dengan duduk memandang danau yang hitam pekat.

Embun pagi belum mengering saat kami meninggalkan hotel menuju Pelabuhan Ajibata. Dugaan kami, pagi ini, penyeberangan menuju Tomok, Kabupaten Samosir, akan lengang. Lagi-lagi asumsi itu nyaris salah.

Feri penyeberangan telah bersandar di Pelabuhan Ajibata. Beruntung kendaraan kami dan empat kendaraan lain yang berada di belakang kami diperkenankan memasuki feri, tentu setelah membeli tiket penyeberangan dengan harga Rp 95 ribu. Menyeberang ke Tomok diperlukan waktu paling lama 60 menit.

Usai memarkirkan kendaraan dan gerbang feri ditutup, suara menderu dari mesin feri memekakkan telinga untuk beberapa saat. Namun kondisi yang menjengkelkan ini mencair dengan keberadaan tiga bocah koin. Tiga anak laki-laki yang semula berpakaian lengkap seketika melepaskan seluruh pakaiannya. Mereka dengan akrab menggapai pembatas feri, berdiri bersama. Dalam hitungan, serempak mereka menceburkan diri ke Danau Toba.

"Ayo Pak, lemparkan uang koinnya," seru ketiga bocah dengan beratraksi di dalam air. Beberapa penumpang menanggapi seruan ketiga bocah laki-laki itu, sedangkan penumpang lainnya hanya menonton dan tersenyum. "Ini tangkap," ujar seorang penumpang perempuan seraya melemparkan uang koin ke dalam air.

Ketiga bocah berlomba menyelam. Tak ada kegaduhan di antara ketiga bocah itu. Siapa yang terlebih dulu meraih koin yang tenggelam dialah pemenang dan pemilik uang. Koin yang didapat itu disimpan di mulut mereka dan mereka menunggu koin dari penumpang lainnya.

Feri pun mulai meninggalkan pelabuhan. Bentangan Danau Toba dan perbukitan menjadi teman pemandangan sepanjang perjalanan. Untuk menghilangkan kebosanan dalam perjalanan, menikmati kopi di lantai dua feri adalah salah satu cara yang kerap dilakukan penumpang di sini. Dari lantai dua ini pula mata semakin luas memandang.

Suasana Pelabuhan Tomok, Kabupaten Samosir, tidak berbeda jauh dengan kondisi Pelabuhan Ajibata. Selepas melewati pintu pelabuhan, jejeran warung dan kios penjual suvenir berbaris memanjang.

Pendaratan kami di pelabuhan ini disambut rintik hujan. Perjalanan segera kami lanjutkan tanpa menyempatkan diri menikmati nuansa pelabuhan, apalagi mencari suvenir khas dari kawasan ini berupa ukiran kayu. Mengambil arah ke kanan, kendaraan kami pacu menembus jalan selebar 2,5 meter.

Pohon cemara, tanaman ciri khas di kawasan Danau Toba, yang mengapit sisi jalan. Setelah menempuh perjalanan 30 menit, kami memasuki Desa Tuk Tuk Siadong, Kecamatan Simanindo, yang ditandai dengan gapura desa.

Jalan berkelok dengan pemandangan bukit masih menjadi panorama tersaji. Tuk Tuk Siadong, desa dengan industri pariwisata yang terus berkembang. Di kawasan ini, sejumlah hotel berdiri megah. Para penduduk pun menyediakan rumah kontrakan, mayoritas dihuni oleh para wisatawan luar negeri.

Berbekal informasi rekan, kami pun menuju ujung Tuk Tuk Siadong untuk menemukan hotel dengan tarif relatif murah dan pemandangan indah. Benar saja, mendekati hotel yang direkomendasikan oleh teman, belasan kendaraan telah parkir di halaman hotel. Beberapa turis tengah berjalan kaki menikmati alam desa itu.

Sebagian hotel di kawasan ini ternyata memiliki sarana transportasi penyeberangan dari Ajibata dan Tomok, yang langsung bersandar di areal hotel, kebanyakan berdiri di bibir danau. Kami pun tiba di Hotel Carolina. Areal ini begitu asri, dengan pohon beringin besar kokoh berdiri dan pohon kelapa, menjadikan tempat ini benar-benar tujuan berwisata dan istirahat yang mengasyikkan. Sayangnya, kamar yang menghadap danau ternyata telah penuh dipesan. Dengan terpaksa kami menempati kamar yang menghadap sisi lain.

Hujan yang mengiringi perjalanan telah reda, namun matahari masih tertutup kabut. Menunggu senja, menikmati pemandangan danau, bermain di dinginnya air danau dan juga memancing, kegiatan alternatif yang cukup menghibur.

Menjelang senja, kafetaria hotel menjadi pilihan bersantai sambil menyeruput kopi. Sayangnya, kami kalah cepat dibanding turis yang telah memenuhi kursi di beranda kafetaria, menghadap danau. Seperti halnya mereka, kami pun tak ingin melewatkan keindahan saat matahari terbenam.

Harapan melihat sunset dari sudut Danau Toba ternyata gagal. Kabut yang tak kunjung menghilang menjadi penghalang keindahan sunset dari kawasan ini. Meski begitu, Tuk Tuk Siadong menjadi salah satu sudut Danau Toba yang eksotisme.

Menikmati Keindahan Arsitektur Kampung Naga

Anggukan dan senyuman menyambut setiap orang yang datang. Kenyamanan dan kebersihan pun begitu terasa saat menurunkan kaki dari kendaraan. Tugu kujang raksasa setinggi 3 meter, yang ditopang sebuah bangunan persegi empat terbuat dari beton, menegaskan bahwa daerah ini sebagai perkampungan adat. Daerah ini bernama Kampung Adat Naga.

Perkampungan ini persis berada di kilometer 32 jalan antara Kabupaten Garut-Tasikmalaya. Secara administratif, kampung adat ini berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Jarak dari jalan utama ke perkampungan sekitar 500 meter.

Meski tidak terlalu jauh, untuk menuju perkampungan harus menyusuri anak tangga tembok sebanyak 439 buah dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Sepanjang menyelusuri anak tangga, panorama hijau perbukitan terlihat di mana-mana. Sesampainya di ujung Sungai Ciwulan, kemudian menyusuri jalan setapak sepanjang 100 meter untuk sampai di Kampung Naga yang biasa disebut Kampung Naga Dalam. Gemericik air sungai akan menemani setiap langkah menuju kampung.

Kampung Naga berada di lembah dengan batas wilayah di sebelah barat dibatasi oleh hutan keramat yang di dalamnya terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di Kabupaten Garut. Luas kampung sekitar 1,5 hektare, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan sawah.

Keunikan kampung ini terlihat dari bentuk dan konstruksi bangunan. Ornamen rumah dibuat seragam, mulai dari bahan sampai pada potongan bangunan dan arah menghadapnya. Rumah-rumah itu tersusun berderet sejajar dan tertata dengan rapi. Kondisi ini berbeda jauh dengan Kampung Naga Luar yang jaraknya sekitar 100 meter. Hampir seluruh bangunan di sini telah menggunakan dinding tembok dan genting.

Jumlah bangunan di Kampung Naga sebanyak 113 unit, di antaranya sebanyak 110 rumah, namun yang ditinggali 108 rumah. Tempat lainnya di antaranya bale pertemuan, lumbung padi, dan masjid yang letaknya sejajar menghadap ke arah timur-barat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan. Jumlah penduduknya tercatat sebanyak 108 kepala keluarga yang terdiri dari 314 jiwa.

Bangunan rumah berupa panggung berbentuk empat persegi panjang. Desain arsitektur dan interiornya sederhana, namun tertata apik, sehingga sirkulasi udara dan cahaya cukup baik masuk ke dalam ruangan. Pola ruangan dibagi dua petak, di antaranya ruang tengah dan petak kedua terdiri dari dapur, gudang (goah), dan kamar. Hal itu juga terlihat dari muka rumah yang terdiri dari dua pintu, satu pintu yang langsung ke ruang tengah dan yang satunya lagi pintu dapur.

Bahan bangunan yang digunakan di antaranya terbuat dari kayu, bambu, daun nipah, dan ijuk atau alang-alang. Rangka bangunan terbuat dari kayu. Daun nipah dan ijuk digunakan untuk bagian atap.

Jenis kayu yang digunakan berupa pohon yang tidak mengandung getah, seperti Albasiah. Sedangkan untuk daun pintu dan kusen menggunakan kayu manglid. Alasannya karena kayu dari tanaman yang mengandung getah mudah dimakan rayap dan lapuk.

Bahan yang digunakan untuk bagian ruang tengah rumah hampir semuanya terbuat dari kayu seperti pada dinding bagian luar dan lantainya. Namun, untuk dinding bagian dalam, semuanya menggunakan anyaman bambu (bilik).

Sedangkan untuk dapur lebih banyak menggunakan bambu, baik dari dinding maupun lantainya. Anyaman bambu secara vertikal dan horizontal atau biasa disebut bilik sasag digunakan bagian muka. Alasannya, agar saat memasak, asap dapat cepat keluar dari ruangan. Selain itu, bila terjadi bencana kebakaran, dapat dilihat orang yang lewat dari luar.

Tak hanya itu, lantai untuk dapur pun menggunakan belahan bambu (palupuh). Alasannya agar mudah dibersihkan. Bila ada makanan yang tercecer, bisa langsung dibuang ke bawah, di mana tempat tersebut dijadikan kandang ternak. Bahan untuk menopang bangunan, fondasi rumah terbuat dari batu yang terpasang sejumlah titik. Batu yang digunakan berupa batu papas berukuran 20 x 60 sentimeter.

Bangunan masyarakat Kampung Naga ini sebelumnya pernah rata dengan tanah pada 1956. Semua bangunan hangus dibakar oleh gerakan pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwirjo. Namun, meski begitu, bangunan yang berdiri sekarang masih tetap seperti yang dulu. “Masyarakat berhasil membangunnya kembali pada tahun 57-an. Bangunannya sama tidak ada yang berubah,” ujar salah seorang keturunan warga Kampung Naga, Darmawan, 43 tahun, yang berprofesi sebagai pemandu pengunjung yang akan ke Kampung Naga.

Tak hanya bentuk bangunan, masyarakat d isini pun hidup sederhana. Mereka dilarang untuk menggunakan listrik sebagai penerangan di malam hari dan menggunakan kompor gas. Alasannya karena banyak menimbulkan bencana seperti kebakaran. Namun, meski begitu, ada di antara sebagian masyarakat yang memiliki televisi. Mereka menggunakan accu sebagai energinya. “Kalau TV boleh, karena sebagai sarana informasi dan hiburan,” ujar Darmawan.

Menurut dia, tradisi di Kampung Naga dari dulu hingga saat ini masih tetap terjaga dengan baik. Segala hal yang dianggap tabu masih tetap dipercaya masyarakat dan tidak ada satu pun yang dilanggar. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dari setiap generasi.

Salah satu caranya, semua masyarakat dari mulai anak-anak sampai orang tua dilibatkan untuk mengikuti setiap kegiatan adat. Untuk rumah diwariskan kepada anak perempuan yang paling bungsu. Alasannya karena anak perempuan sering tinggal di rumah, bisa menjaga rumah, dan banyak mengetahui kondisi rumah dibandingkan dengan anak laki-laki yang jarang di rumah.

Kehidupan yang harmonis ini membuat semua penduduk betah tinggal di kampung ini. Menurut Darmawan, semua kebutuhan pun dapat tercukupi dengan baik. “Disini itu, sosialnya lebih tinggi, beda dengan di kota. Untuk makan sehari-hari juga tidak susah beda dengan di kota yang segalanya harus dibeli,” ujarnya.

Balada Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang adalah maskotnya Kota Bukittinggi. Menikmati Bukittinggi akan lebih berkesan sambil bersantai di dekat Jam Gadang. Apalagi kawasan di sekitar Jam Gadang dilengkapi taman yang nyaman dan cukup luas dengan beberapa pohon yang rindang yang dilengkapi kursi untuk bersantai menikmati kota.

Di pagi hari, dari kawasan Jam Gadang, Gunung Singgalang dan Gunung Marapi jelas terlihat. Malam hari, kawasan Jam Gadang juga tidak pernah sepi. Taman Jam Gadang dilengkapi lampu taman yang temaram, menambah indahnya Jam Gadang.

Pengunjung bisa menikmati udara dingin sambil makan jagung bakar dan pisang bakar. Namun, di balik itu, mungkin tidak banyak yang tahu, sejak didirikan pada zaman kolonial, Jam Gadang tak pernah lepas dari tangan kekuasaan.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek kota bernama Yazid bersama Sutan Gigi Ameh. Pada saat itu, controleur atau Sekretaris Kota Bukittinggi dijabat oleh Rook Maker yang mendapat hadiah empat buah jam berukuran besar dengan diameter masing-masing 80 sentimeter dari Ratu Belanda. Keempat jam itu didatangkan dari Rotterdam, Belanda, melalui pelabuhan Teluk Bayur.

Rook Maker meminta arsitek kota membuat bangunan untuk meletakkan Jam Gadang. Jam Gadang dibangun dengan biaya 3.000 gulden. Menara Jam Gadang dibangun setinggi 26 meter. Luas denah dasar dari Jam Gadang adalah 13 x 4 meter. Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih.

Keunikan dari Jam Gadang adalah pada kesalahan penulisan angka Romawi empat ("IV") pada masing-masing jam yang tertulis "IIII", bukan nomor tradisional Romawi "IV". Mesin Jam Gadang digerakkan secara mekanik.

Mungkin karena terkenalnya Jam Gadang, membuat setiap rezim yang berkuasa juga punya kekuasaan pada Jam Gadang. Ini terlihat pada atap Jam Gadang yang telah mengalami tiga kali perubahan sesuai rezim yang berkuasa.

Pada zaman kolonial Belanda, di puncak Jam Gadang diletakkan patung ayam yang menghadap ke timur. Konon ini untuk menggambarkan anak nagari yang belum mengerti melihat jam dan hanya mengandalkan waktu dengan kokok ayam jantan di pagi hari.

Di masa pendudukan Jepang, puncak Jam Gadang diganti dengan klenteng. Sedangkan, setelah kemerdekaan Indonesia, puncaknya berbentuk atap rumah bagonjong Minangkabau.

Tidak sampai di situ saja. Di masa otonomi daerah seperti sekarang, Jam Gadang juga berusaha tetap dikendalikan penguasa lokal.

Kawasan Jam Gadang paling ramai dan sesak pada malam tahun baru karena warga kota dan wisatawan menunggu momen pergantian tahun itu dengan mendengar detak Jam Gadang dan melihat detik-detik jarum jam di Jam Gadang melewati angka 00.00 WIB. Tak kurang dari 20 ribu pengunjung datang ke Bukittinggi dan sebagian besar memadati kawasan Jam Gadang untuk menunggu detik-detik pergantian tahun di depan Jam Gadang dan merayakannya dengan meriah.

Kegembiraan anak muda pada saat pergantian tahun sempat membuat gerah ulama Bukittinggi. Mereka menuduh perayaan tahun baru di dekat Jam Gadang mendatangkan maksiat. Sebab, saat momen pergantian tahun, datang banyak pasangan muda yang berpelukan.

Pada 2008 lalu, atas permintaan mereka, Wali Kota Bukittinggi saat itu, Djufri, memerintahkan menjahit selubung dari kain marawa untuk menutupi Jam Gadang pada malam tahun baru. Kain Marawa adalah panji Minangkabau dengan warna merah, kuning, dan hitam.

Selain diselubungi kain dan jarum, Jam Gadang juga dimatikan agar tidak terdengar detaknya pada malam pergantian tahun. Tujuan pemerintah kota agar tidak ada yang merayakan tahun baru di depan Jam Gadang.

Menurut Djufri, penyelubungan Jam Gadang dilakukan sebagai upaya untuk menghindari kemaksiatan yang diduga sering terjadi saat malam pergantian tahun. Akhirnya, mulai pukul 16.00 WIB pada 31 Desember 2008 hingga 1 Januari 2009, menara Jam Gadang setinggi 26 meter itu diselubungi kain. Aksi ini menuai protes banyak kalangan. Setahun berikutnya, Jam Gadang tidak lagi diselubungi tahun.

Namun diam-diam mesin jamnya dimatikan sehingga dentangnya tak berbunyi saat pergantian tahun. Namun, pada akhir tahun lalu, tidak ada lagi “sabotase” pada Jam Gadang karena Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengimbau agar Jam Gadang yang megah itu tidak dimatikan mesinnya saat pergantian tahun. Wisatawan kembali bisa menikmati dentangnya berbunyi di malam tahun baru.

Di Bukittinggi, tentu tidak hanya melihat Jam Gadang. Ada banyak kawasan wisata di dalam kota yang dekat dengan Jam Gadang, bahkan bisa didatangi dengan berjalan kaki. Seperti Ngarai Sianok, Terowongan Lubang Jepang, dan menikmati panorama Bukittinggi di Benteng Fort de Kock.

Belum lagi menikmati sederet masakan Minang yang lezat, mulai dari Nasi Kapau hingga Ampaing Dadiah (susu kerbau yang difermentasi dan ditambah cairan gula merah serta emping beras).

Karena Bukittinggi setiap tahun menjadi tujuan wisatawan untuk merayakan tahun baru, di akhir tahun semua hotel penuh. Bila ingin menghabiskan liburan akhir tahun di Bukittinggi, sebaiknya pesan hotel jauh-jauh hari.

Dari Padang ke Bukittinggi, perjalanan memakan waktu dua jam menempuh jarak 91 kilometer dengan menggunakan bus travel.

Random Post