Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search
Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Secangkir Kopi Gembira di Kawangkoan

Indonesia boleh bertepuk dada soal kekayaan alam karena negeri gemah ripah loh jinawi ini memiliki ragam kopi yang tumbuh di berbagai wilayah Nagroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, atau Nusa Tenggara Timur. Namun dari keragaman itu ada terselip cerita bahwa kopi Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara, yang juga memiliki cita rasa khas, alpa diwartakan.

Agak sulit memang menceritakan kekhasannya sebelum kita bertandang ke daerah yang memiliki suhu udara 18 derajat Celsius ini. Jika Anda melancong ke Manado, ada baiknya singgah sejenak ke Rumah Kopi Gembira Kawangkoan di Minahasa untuk mencoba kopi khas daerah ini. Hanya membutuhkan waktu tempuh satu jam dari Manado ke Minahasa atau setengah jam dari Kota Tomohon.

Kedai kopi ini didirikan oleh Ipthae Hang pada 1946 di Kota Kawangkoan, jalan utama Manado-Minahasa. Kini warung kopi tersebut dikelola oleh cucu Ipthae, yaitu Silvana Soesanto.

Menurut pengakuan perempuan 48 tahun itu dia sengaja mempertahankan ciri khas rasa dan cara memasak kopi yang dirintis kakeknya.

“Saya mendatangkan biji kopi pilihan dari Kotamobagu, Bolaan Mongondo, seperti yang dilakukan kakek. Selanjutnya, biji kopi itu saya simpan hingga memiliki kekeringan tertentu,” ujar ibu dua anak ini kepada Tempo, pekan lalu.

Untuk menyimpan biji kopi, tutur Silvana, membutuhkan waktu 10 tahun agar aroma khas kopi keluar ketika didihkan dengan air. “Supaya aroma kopi terasa wangi ketika diseduh dengan air panas.”

Cara memasak kopi di Rumah Kopi Gembira Kawankoan juga masih tradisional kendati zaman sudah maju. Silvana tak menggunakan kompor atau panci untuk mendidihkan air.

Ini pun, jelasnya, demi mempertahankan cita rasa khas kopi agar tak hilang. Mereka menggunakan tungku yang dipanaskan dengan kayu bakar. “Ceret yang saya gunakan terbuat dari kuningan peninggalan kakek. Kalau bocor kami tambal,” ucapnya.

Tak pelak, dengan cita rasa dan kekhasan inilah Rumah Kopi Gembira Kawangkoan tersohor di hampir seluruh kota di Sulawesi Utara. Dari gubernur, bupati, anggota DPRD setempat, atau pelancong dari luar Kota Kawangkoan, menyempatkan mampir ke kedai ini untuk sekadar mencicipi kehangatan kopi.

Fian, salah seorang karyawan PT Newmont Minahasa Raya, mengakui kenikmatan kopi racikan Silvana. “Saya sangat suka kopi ini, Ketika dalam perjalanan menuju Buyat atau Rakatotok dari Manado, saya suka singgah di warung kopi ini. Rasa kopinya tak seperti di warung kopi lainnya,” kata Fian kepada Tempo.
Pengakuan Fian diamini wartawan harian bisnis di Jakarta, Rani JD, yang sempat menikmati sajian Rumah Kopi Gembira Kawangkoan. “Memang rasanya lain dibandingkan dengan kopi dari daerah lainnya,” ucap Rani yang sempat membungkus satu kilogram biji kopi untuk oleh-oleh temannya di Jakarta.

Silvana tak menjelaskan detail omzet penjualan kopinya. Ia hanya mengatakan Sabtu atau Minggu Silvana bisa menjual 500 gelas kopi per hari dengan harga Rp 5.000 per gelas. “Kalau hari biasa, sekitar 200 gelas per hari,” katanya. Nah, maukah Anda bergembira bersama Rumah Kopi Gembira Kawangkoan?

Empat Berkuah dari Makassar

Jika berkunjung ke Makassar, bersiaplah memanjakan lidah dengan sejumlah kenikmatan kuliner. Hidangan laut tentu saja menjadi pilihan pertama. Tapi bukan Makassar bila tanpa makanan khas kota ini: hidangan olahan daging berkuah, sarat rempah khas Makassar.

Sebagai pintu gerbang kawasan Indonesia timur, menu makanan Makassar merupakan hasil perpaduan budaya sejumlah daerah. Budaya Cina dan Arab sangat kental mempengaruhi rasa dan menu makanan khas wilayah ini. Berikut ini beberapa menu khas Kota Daeng.

1. Coto Makassar


Coto Makassar menyerap hampir semua bumbu dapur. Daging dan jeroan direbus dengan beragam rempah, air beras, kaldu dari jeroan sapi dan kacang goreng halus untuk menambah rasa gurih.

Air beras bukan bumbu wajib. Sejumlah warung coto Makassar ada yang tak memakai air beras, tapi susu, atau tidak sama sekali. Isi Coto bisa sesuai dengan selera, mau jeroan, atau daging. Jangan lupa, bumbui tauco. Jangan berharap Anda akan ditemani nasi saat menyantap coto. Ya, karena coto hanya disantap dengan ketupat atau burasa (sejenis ketupat rasa gurih).

Santapan ini bisa dijumpai di sekujur Kota Makassar. Tapi hati-hati, banyak warung coto tutup saat stok coto habis. Jangan kaget, coto bisa habis pukul 12.00 WIB. Ini karena coto umumnya jadi santapan pagi dan siang. Tapi jika Anda pengin menyantapnya malam, cari yang buka 24 jam. Beberapa di antaranya:

Coto Nusantara
Jalan Nusantara (seberang Peti Kemas Soekarno Hatta Makassar)
Harga: Rp 10.000 per porsi
Buka: 08.00-hingga habis

Aroma Coto Gagak
Jalan Gagak No 27 Makassar
Telpon: 0411-870800
Harga: Rp 8.000 per porsi
Buka : 24 Jam

Coto Daeng Sirua
Jalan Abd. Daeng Sirua no 10 Makassar
Harga: Rp 9.000 per porsi
Buka: 08.00-hingga habis

Coto Daeng Begadang
Ruko Jesper, Jalan Pengayoman (seberang Mall Panakukang)
Jalan Karunrung, Makassar
Harga: Rp. 6.000 per porsi
Buka: 24 Jam

tempo.co

Lezatnya Nasi Kapau di Los Lambuang

Ranah minang terkenal dengan kekayaan makanannya. Salah satunya adalah nasi Kapau. Masakan dari Kapau, kampung yang berada di dekat Bukittinggi, terkenal dengan gulai kapau yang kaya bumbu dan lezat. Di Bukittinggi ada satu tempat khusus yang menjual nasi Kapau. Namanya Los Lambuang, di Pasar Lereng dekat Pasar Atas.

Di tempat ini ada belasan kedai nasi Kapau yang menempati lahan terbuka. Di setiap kedai dilengkapi dengan nama masing-masing penjualnya. Ada Nasi Kapau Uni Lis, Nasi Kapau Uni Linda, dan lainnya. Silakan memuaskan selera mata dan perut. Nama tempatnya saja Los Lambuang, artinya tempat untuk memuaskan selera lambung.

Nasi Kapau memang sangat khas. Penyajian masakannya juga unik. Uni penjualnya duduk lebih tinggi dari bangku pembeli, seperti di atas takhta dengan aneka lauk dan gulai kapau di dalam baskom-baskom yang besar di depannya. Dengan posisi meja hidangan yang lebih tinggi, pembeli dapat langsung melihat aneka lauk yang menggiurkan terhampar di depan mata. Kita tinggal tunjuk ingin lauk apa, dan si uni dengan tangkas akan mengambil lauk dan gulai sayuran kapau dengan sendok tempurung bertangkai panjang.

Ada berbagai lauk untuk melengkapi nasi kapau. Yang khas seperti gulai tunjang. Ini gulai kikil kaki sapi atau urat sapi berkuah kuning dan dimasak lama, sehingga amat lembut saat digigit. Ada juga pangek ikan mas yang masih ada telur di dalam perutnya. Pangek ini gulai yang dibuat sampai kuahnya kering. Ada juga gulai tamusu atau usus sapi yang diisi telur dan tahu yang dihaluskan.

Ada juga masakan Minang yang sudah dikenal seperti rendang, ayam goreng berbumbu, belut goreng, atau dendeng batokok. Semua itu dipadukan dengan gulai nangka muda yang dicampur kol, kacang panjang, dan rebung. Ini yang paling khas dari nasi kapau.

Gulai Kapau memang sangat kaya bumbu dan agak berbeda dari masakan Minang lainnya. Gulai Kapau terbuat dari santan kental dengan bumbu jahe, lengkuas, kemiri, cabe, dan menggunakan lebih banyak kunyit sehingga warnanya lebih kuning. Dimasak perlahan di atas tungku dan kuali tebal membuat semua bumbu meresap ke lauk dan sayurannya.

Seporsi nasi kapau yang dihidang si uni penjual biasanya terdiri dari nasi, sepotong gulai nangka muda, kol, kacang panjang dan seiris rebung dengan kuah kuning kental, sedikit rendang ubi kayu, dan lauk pilihan. Kali ini saya memilih sepotong gulai usus yang tampak gemuk karena berisi campuran telur dan tahu. Rasanya?...hmmm semua paduan nasi dan lauk dari Kapau itu benar-benar lezat. Tak mengherankan jika banyak orang ke Bukittinggi hanya untuk mencari nasi Kapau.

Renyahnya Ayam 4 Jari

Ayam sudah menjadi makanan kebanyakan orang Indonesia. Tapi bagaimana dengan ayam empat jari? Itu bukan jenis ayam berjari empat, melainkan nama restoran yang baru dua tahun berdiri, 4 Fingers.


“Restoran kami semi fast food, makan bukan sudah langsung jadi. Tapi setelah orang pesan, masih ada proses memasaknya lagi,” ujar Brand Manager 4 Fingers, Ditha Fitriana, ketika ditemui di cabang Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Kamis lalu.

Berbeda dengan restoran lainnya, ayam 4 Fingers diolah dengan cara yang berbeda. Ayam yang matang dioles dengan bumbu spesial dari Korea. Pengunjung bisa memilih dua saus antara Soy Garlic Sauce atau Hot Spicy Sauce, atau keduanya.

Misalnya untuk menu andalan Crispy Chicken Wing atau Drumstick. Sayap ayam diolah dengan cara deepfried sebanyak dua kali dengan suhu 180 derajat. Kulit ayam pasti dijamin renyah saat baru terhidang panas-panas. “Makanya kami sebut Premium Fried Chicken karena semua tersaji renyah,” ujar Ditha.

Kulit ayam yang renyah juga terdapat pada Chicken Burger. Untuk yang satu ini, daging paha ayam atas yang menjadi isi burger beserta selada, tomat, timun, dan jamur. Kebanyakan burger biasa menyajikan daging ayam polos olahan.

Jika ingin memuaskan perut, coba menu combo ditambah kentang goreng. Tak hanya dilumuri garam, kentang goreng juga tak kalah renyah karena ditaburi remahan rumput laut dan bubuk cabai.

Makanan lain yang patut dicoba ialah Katsu Chicken Sandwich. Menu ini terbilang unik karena campuran cita rasa tiga negara: Jepang, Cina, dan Korea. Cina diambil dari penggunaan Chinese Bun atau roti mantau sebagai pengganti dua tangkup roti tawar untuk sandwich umumnya.

Jepang tentu saja diambil dari kata Katsu, yang berarti irisan daging ayam. Sedangkan untuk sentuhan Korea di dalam roti isi diberi kimchi atau sayuran yang terfermentasi dengan rasa asam. Campuran ketiganya dijamin menarik untuk dicoba dan mampu membuat lidah bergoyang.

Tidak hanya negara-negara di Asia yang menjadi inspirasi resto yang berkapasitas 70 orang ini. Salah satu menu andalan mereka yang diadopsi dari Meksiko adalah Chicken Wrap. Berbentuk seperti kebab, lapisan roti tortilla ini berisi daging ayam yang dilengkapi dengan jamur dan sayuran. Sebagai penambah rasa, isi makanan ini dilumuri saus kari mayonnaise.

Jika bosan dengan makanan serba ayam, Tofu Salad bisa jadi alternatif lain. Salad berisi tahu goreng ini dilengkapi dengan daun selada dan jamur. Saus dressing yang dipakai adalah soy garlic sauce dan sesame oil. Ada juga menu vegetarian lainnya, yakni Tofu Rice Box, yaitu tahu goreng dengan kimchi. Siraman saus berwarna coklat dengan tingkat keasinan yang rendah memperkaya rasa nasi putih yang tersedia.

Sekilas, restoran yang namanya terinspirasi dari jumlah kaki ayam dan jumlah pendirinya ini terlihat seperti restoran cepat saji biasa. Anda tinggal memesan makanan di kasir pesanan, yang kemudian akan diteruskan ke bagian dapur. Menu yang disajikan pun tidak banyak berbeda dengan restoran cepat saji lainnya.

Mengambil konsep subway, resto yang baru berdiri pada 2010 ini mengincar generasi muda sebagai konsumennya. Itulah sebabnya, dekorasi ruangan dipilih dengan gaya anak muda pula. Di bagian dindingnya terdapat graffiti dengan warna dominan merah. Ada juga scribble atau coretan tulisan tangan di dua tiang dalam resto.

"Bedanya, kalau di subway biasanya orang makan dengan terburu-buru. Di sini mereka bisa santai,” Ditha menambahkan. Sebab, disediakan dua sofa panjang untuk pengunjung yang ingin berleha-leha.

Berbeda dengan rumah makan cepat saji biasa, harga di 4 Finger pun tak sama. Restoran yang berlogokan empat jari manusia ini mematok harga untuk empat potong Crispy Chicken Wings sebesar Rp 24 ribu. Menu favorit seperti Chicken Burger Combo, Katsu Chicken Sandwich Combo, dan Chicken Wrap Combo masing-masing dibanderol dengan harga Rp 44 ribu dan Rp 57 ribu. Selamat mencoba.

Menikmati Cupcake Berpadu Teh ala Eropa

Menikmati cupcake, biasanya jika lebih dari dua buah, perut menjadi enek alias mual. Ternyata, jika makan makanan ringan itu dipadukan dengan minum teh, perut tetap merasa nyaman.

Pilihan menikmati cupcake bisa menjadi alternatif kuliner yang kini sudah marak di Yogyakarta. Namun biasanya penikmat cupcake hanya membelinya di toko roti lalu dibawa pulang untuk dimakan di rumah atau di perjalanan.

Nah, ada tempat asyik untuk nongkrong yang menyediakan cake dan cupcake berbagai rasa di Yogyakarta. La Vie Michi Dessert Cake, sebuah gerai khusus menu-menu dessert yang unik nan lezat. Gerai itu ada di lantai 2 Mirota Palagan, Jalan Palagan Tentara Pelajar Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Perpaduan antara makan cake dengan minum teh ala Eropa sangat pas. Perut tetap nyaman," kata pemilik La Vie Michi, RR Christina, Sabtu, 4 Februari 2012.

Lokasinya yang berada di jalan menuju lereng Gunung Merapi itu sangat cocok untuk nongkrong di waktu sore hingga malam. Cupcake atau cake dipadu dengan teh panas sangat cocok dinikmati bersama pasangan, kerabat, atau sahabat.

Di tempat itu pula, pengunjung bisa belajar nge-teh, atau minum teh, dan menyantap aneka dessert itu. La Vie Michi menawarkan belasan jenis teh yang didatangkan langsung dari Eropa. Sedangkan untuk cake, ada 23 jenis. Ada Tiramisu, cokelat, Mouse Cake, Opera Cake, bahkan kue berbentuk Shaun The Sheep.

Khusus untuk teh, bahan-bahan teh didatangkan dari London, Inggris, Sri Lanka, Jepang, Cina, dan negara lain. Aneka teh yang tersedia di kedai ini antara lain teh jasmine, stroberi, Blackcurrant, dan teh peach. Untuk harga cake antara Rp 9.000 hingga Rp 18.500 saja. Satu cangkir teh dibanderol Rp 12.000. Teh itu bukan sekadar minuman, tetapi juga baik untuk kesehatan.

Christina menjelaskan, gerai-gerai khusus cupcake di luar negeri sudah marak, terutama di Amerika Serikat. Di Yogyakarta, masyarakat terutama kalangan muda dan mahasiswa suka nongkrong. Nah, sesekali, jika memilih altrenatif kuliner, bisa menikmati cake dipadu dengan minum teh. "Ini menjadi gaya hidup kawula muda," kata Christina.

Alumnus Studi Commerce di universitas ternama di Australia ini melihat peluang bisnis yang belum ada sebelumnya di Yogyakarta, seperti perpaduan makan cake sembari minum teh ini.

Nama La Vie Michi berasal dari bahasa Prancis, La Vie, yang bermakna kehidupan. Tetapi itu juga singkatan dari Victor dan Erick, kedua kakak Christina. Filosofi makan cake dan minum teh ini, kata Christina, diharapkan hidup semakin lebih cerah, lebih hidup.

Dijelaskan oleh Rita, penanggung jawab produk makanan La Vie Michi, bahan-bahan cake dan cupcake yang dibuatnya berasal dari bahan berkualitas dan aman dikonsumsi bagi siapa pun. Termasuk bagi mereka yang merasa kegemukan. Sebab bahan baku cake dipastikan 'zero calorie sugar' dan tanpa bahan pengawet. "Yang pasti makanan dan minuman sangat higienis dan sehat," katanya.

Kuah Asam Goropa Pembangkit Selera Makan

Rasa asam dengan sedikit pedas empuknya daging ikan goropa membuat siapa saja yang mencicipinya tergugah selera makannya. Walaupun hanya semangkuk kecil, kuah asam Goropa di Restoran Big Fish Manado ini mampu membangkitkan selera makan.

Silakan Anda melahap semua makanan yang disajkan di restoran di Jalan Wolter Mongonsidi, kompleks Bahu Mall Manado, belakang kantor Dinas Pariwisata Kota Manado.

Kuah asam Goropa sebenarnya menu sayur dengan kuah bening. Perpaduan rasa asam dan pedas dengan daging empuk memberikan cita rasa istimewa. Isi kuah asam, seperti tomat, daun bawang, seledri, dan cabai rawit hijau yang dibelah tengahnya di antara bumbu kuah, yang biasanya menjadi makanan pembuka.

Bagi mereka yang tak terlalu biasa makan-makanan pedas, kuah asam Goropa bisa sebagai solusinya. "Memang makanan ini paling pas untuk makanan pembuka. Ini sekaligus membangkitkan selera makan," kata Supervisor Big Fish Manado, Andri, kepada Tempo.

Menurut Andri, kuah asam Goropa ini bisa dinikmati para pengunjung Big Fish dengan memilih sendiri ikan seharga Rp 16 ribu per ons. "Harga ini sudah termasuk ongkos memasak," kata dia.

Khusus untuk siang hari, tepatnya pukul 12.00-15.00 WITA, Big Fish memberikan penawaran konsep All U Can Eat. Para pengunjung cukup membayar Rp 35 ribu per orang. Dengan harga tersebut, pengunjung bisa makan sepuasnya hingga berkali-kali tanpa batasan.

"Yang penting tidak lewat dari pukul 3 sore, kami berikan kesempatan para pengunjung untuk mencicipi semua masakan di restoran ini," ujar Andri. Pemandangan di sekitar restoran ini indah. Bukan sekadar di tepi Pantai Malalayang, tapi pemandangannya langsung mengarah ke Teluk Manado.

Tahun lalu, Empat Juta Kucing Disantap di Cina

Rupanya kucing menjadi salah satu santapan favorit di kawasan Cina Selatan. Dalam setahun empat juta kucing liar Cina ditangkapi,  kemudian dibunuh untuk dijadikan santapan.

"Biasanya kami mengumpulkan kucing-kucing liar itu lalu menjualnya ke restoran terdekat di Provinsi Guangdong dan Guang Xi," ujar salah seorang penangkap kucing, Zhou, kepada China Daily, kemarin.

Daging kucing, kata Zhou, banyak dikonsumsi untuk keperluan diet. Harganya 10 yuan per kilogram. Di Ghuangdong, daging kucing merupakan bahan utama dalam hidangan tradisional mereka. "Dalam sehari saya bisa mendapat 70-80 ekor kucing," katanya.

Zhou mengungkapkan kucing yang ditangkapnya biasanya liar dan berada di jalanan. "Namun memang ada harga khusus untuk kucing hitam," ujarnya sambil tidak menerangkan alasannya.

Feng Dongmei, seorang aktivis perlindungan hewan di Hong Kong, mengakui daging kucing memang jadi santapan populer di Cina daratan. Namun menu kucing bakal sangat jarang ditemukan di pusat kota. "Biasanya pemakannya dari kalangan usia lanjut, sulit untuk menghentikan kebiasaan mereka," ujarnya.

Tidak ada data statistik resmi soal populasi kucing di seluruh Cina sekarang ini. Namun beberapa sumber organisasi perlindungan hewan mengatakan sedikitnya empat juta kucing mati dibunuh untuk dijadikan santapan para orang tua di Cina Selatan, tahun lalu. Berminat wisata kuliner ke sana?

Menu Jepang Harga Indonesia Hanya di Umaku

Penahkah Anda melahap gumpalan nasi berbalut ikan mentah atau rumput laut? Ya, gumpalan nasi itu bernama sushi. Berasal dari Negeri Sakura, kini sushi menjadi satu makanan terkenal di Indonesia, terutama di Jakarta.

Dengan semakin dikenalnya sushi di kalangan masyarakat, makin banyak pula rumah makan berkonsep ala Jepang yang menyajikan sushi sebagai menu utama. Sayangnya mayoritas restoran Jepang mematok harga mahal untuk sajiannya. Kenapa mahal? Karena lokasi restoran Jepang kerap berada di mal atau hotel yang mematok pajak tinggi. Ditambah lagi bahan baku sushi banyak dikirim langsung dari Jepang.

Atas pertimbangan harga itu, tidak jarang calon pengunjung urung datang ke restoran Jepang. Takut harga tidak sesuai dengan kemampuan kantong.

Nah, merebaknya restoran Jepang yang mahal itu mendorong Beth Hayes mendirikan restoran dengan konsep serupa, tapi dengan harga terjangkau. Akhirnya, berdirilah restoran Jepang bernama Umaku, artinya 'sang ahli'.

"Suara yang ditimbulkan saat menyebut Umaku juga seperti rumahku. Jadi, seakan-akan menyantap sushi di rumah," kata Beth.

Awalnya Umaku berdiri di Cibubur, Jawa Barat, pada 2009 lalu. Karena pelanggannya semakin banyak, Beth pun membuka peluang waralaba Umaku. Lalu berdirilah Umaku Tebet dan Umaku Duren Tiga Raya Nomor 32, Jakarta Selatan.

Maka, datanglah Tempo ke Umaku Duren Tiga. Meski menyediakan pelbagai penganan Jepang, menu pertama yang dipesan Tempo adalah deretan sushi, misalnya Volcano, Spider Roll, Salmon Maki, dan Tobiko.

Lalu, hap! Satu Spider Roll langsung disantap, seketika mulut terasa penuh. Lembutnya unagi atau daging belut terasa cepat melumat. Begitu kontras dengan kriuk-nya gorengan daging kepiting yang disematkan di dalam kepalan nasi. Saya pun langsung sibuk mengunyah dan menyesap rasa laba-laba gulung ini. Enak.

"Spider Roll ini satu menu sushi andalan kami," kata Head Chef Umaku, Uki.

Sudah habis urusan dengan Spider Roll, saya mulai melirik Volcano. Kali ini, sekepal nasi menyelimuti daging kepiting dan Tobiko bakar. Di atasnya, ikan salmon dengan lelehen mayones berperan sebagai mahkota, sedangkan di sisi kanan-kiri Volcano terlihat jejak hitam sisa pembakaran.

Ketika mulut mengecap Volcano, hal pertama yang terdeteksi adalah rasa gosong. Sedikit amis dari salmon dan kentalnya mayones meramaikan isi mulut. Sayang, keramaian itu masih kalah dengan rasa sisa pembakaran.

Masih penasaran dengan menu sushi Umaku, saya lahap beberapa potong Salmon Maki dan Tobiko Flying Fish Roe. Memang dua menu itu bukanlah yang spesial, tapi butiran nasi pulen tetap menyenangkan mulut.

"Kami pakai beras dari Jepang dan menambahkan kombu atau ganggang laut saat memasaknya. Setelah matang, selain seperti ketan, rasanya pun beraroma ikan," ujar sang chef.

Sudah puas mengecap sushi, selanjutnya saya coba Soba Moriawase. Mie soba datang ditemani tempura udang, rumput laut, dan kuah bening kecokelatan. Saat menyesap air kuah, rasa segar terasa menyergap tenggorokan. Ada semilir manis juga di dalamnya. Dan mie soba terasa unik, seperti ubi.

"Mienya berbahan dasar gandum dan diimpor dari Jepang. Kuahnya sendiri mengandung ikan cakalang yang telah diasap, diserut, dan direbus dalam air selama tiga jam," kata Uki.

O ia, bagi Anda yang tidak menyukai makanan mentah, bisa juga memesan Katsu Kare Rice. Nasi kare di Umaku bisa dikategorikan unik karena perkawinan antara kayu manis dan lada halus menciptakan beragam rasa di mulut. Manis, wangi, dan sedikit panas.

Perut kenyang, hati senang. Saya pun sedikit berbincang dengan tamu Umaku lainnya. Ducta, 41 tahun, mengaku baru pertama kali datang ke Umaku Duren Tiga. Pada kunjungan perdananya itu, dia telah menghabiskan tiga mangkuk mie udon. "Rasanya enak dan harga terjangkau. Jadi, enggak takut kalau mau pesan banyak menu atau nambah," kata perempuan itu.

Tidak jauh berbeda dengan Ducta, Dicky, 43 tahun, bercerita jika dia tidak takut membawa anak dan keluarganya makan di Umaku Duren Tiga. "Karena tidak mahal, saya tidak deg-degan kalau mereka memesan banyak sushi atau menu lainnya," kata Dicky.

Tentang harga murah ini, Chef Uki punya rahasianya, yakni membayar pesanan bahan baku dari Jepang dengan pembayaran tunai dan tepat waktu sehingga penyuplai bahan baku mau memberi potongan harga. Selain itu, kata Uki, bahan baku yang mereka terima langsung dibersihkan dan masuk ke lemari pendingin. “Karena perawatan yang baik, usia ketahanan ikan bisa maksimal, misalnya sampai tiga hari. Jadi tidak ada yang mubazir.”

Suasana Umaku yang tidak kaku dan seperti di rumah membuat mereka nyaman duduk berlama-lama. Bercanda lepas tanpa takut ditunggu antrean tamu lainnya bisa dilakukan di Umaku.

"Apalagi kalau ada tamu Jepang, mereka suka membaca berita dari tempelan koran Jakarta Shinbun di dinding resto. Itulah keunikan kami," kata Chef Uki.

Daftar Harga di Umaku:

Volcano 4 potong Rp 35 ribu
Spider Roll 4 potong Rp 37 ribu
Salmon Maki 6 potong Rp 30 ribu
Tobiko Flying Fish Roe 2 potong Rp 21 ribu
Soba Moriawase Rp 33 ribu

www.tempo.co

Menikmati Sensasi Kopi Jos Lik Man

Kopi jos. Begitulah orang-orang menyebutnya. Para penggemar kopi di angkringan di Yogyakarta selalu berjubel duduk menikmati kopi khas itu.

Di sebelah utara Stasiun Tugu Yogyakarta, ada berderet angkringan tempat minum kopi. Kopi yang paling khas adalah kopi jos. Kopi ini diseduh dalam gelas yang diberi bara arang. Nah, suara bara arang yang masuk dalam minuman kopi berbunyi, "Josss..." Dari situlah minuman itu dinamakan.

Angkringan Lik Man yang berada di Jalan Wongsodirjan yang menempel di tembok luar stasiun itu yang pertama kali ada. Sejak 1970-an, angkringan tempat minum itu sudah ada. Nama Lik Man sendiri diambil dari nama Sisgiman, 62 tahun, sang pemilik angkringan. Namun saat ini yang menjalankan angkringan ini adalah Kobar, 42 tahun, menantu Lik Man.

"Dulu buka 24 jam, tetapi saat ini buka pada petang hingga pagi hari," kata Kobar sambil menyeduh kopi.

Khasiat kopi yang diberi bara arang itu diyakini bisa menghilangkan perut kembung, masuk angin, dan penyakit kurang enak badan. Kopinya pun juga kopi pilihan yang tradisional dari Klaten dan sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tempat itu menjadi favorit nongkrong dari semua kalangan. Pejabat, seniman, budayawan, wartawan, mahasiswa, pekerja malam, hingga penjaja cinta. Di tempat itu pula, dari banyak obrolan, muncul ide-ide cerdas. Para mahasiswa yang nongkrong juga membicarakan skripsi.

"Ada penelitian dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada, bara arang itu bisa mengurangi kadar kafein," kata Kobar, Kamis malam, 2 Februari 2012.

Para seniman yang sering nongkrong di tempat itu antara lain Marwoto Kawer, Butet Kartarejasa, Djaduk Ferianto, Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain.

Harga segelas kopi jos hanya Rp 3.000, baik yang pakai arang maupun kopi yang tidak. Tetapi tidak perlu khawatir bagi yang tidak suka kopi. Ada juga minuman teh manis Rp 1.500, jeruk, jahe, serta wedang tape ketan Rp 2.500.

Makanan khas angkringan, tentu saja nasi kucing yang harganya hanya Rp 1.000 per bungkus, ada yang berlauk teri, sambal, dan oseng-oseng. Makanan kecilnya rata-rata seharga Rp 500 saja. Ada mendoan (tempe goreng tepung), tempe bacem, kepala ayam, tahu susur, rempeyek, kacang, juga ada jadah. Jika ingin disajikan panas, makanan gorengan itu bisa dibakar dengan arang yang juga untuk memanaskan air minum di angkringan itu.

Lik Man saat ini tidak lagi secara langsung menangani angkringan miliknya. Ia saat ini justru bertani di dusun asalnya di Jetis, Tugu, Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Ia mewariskan usaha itu kepada anak, menantu, dan keluarga lainnya untuk meneruskan usaha itu.

"Sekarang bertani saja, kalau pendapatan dari angkringan ada lebihnya, saya juga diberi," kata Lik Man melalui telepon.

Ia berkisah, awalnya ia berjualan angkringan sejak tahun 1960-an. Sering berpindah dan bereksperimen membuat minuman, ia lalu mencoba memberi arang dalam minuman kopi. Ternyata sambutan pelanggannya sangat baik dan rasanya lebih enak. Yang masuk angin dan perut kembung bisa sembuh.

Saat ini, tidak hanya satu angkringan di sebelah utara stasiun itu. Muncul lebih dari 10 angkringan kopi jos yang setiap malam selalu ramai dikunjungi.

Semakin malam, deretan angkringan itu semakin ramai bahkan sampai waktu subuh. Yang usai dari tempat hiburan malam atau diskotek biasanya juga menunggu waktu pagi di angkringan itu. Apalagi mahasiswi yang usai berdugem, karena ada jam malam di kos-kosannya, nongkrong di tempat itu hingga pagi hari.

Soal pengamanan, tempat itu tergolong aman karena para pedagang angkringan dan tukang parkir kompak untuk menjaga keamanan di tempat itu. Para pengamen pun tertib. Hanya, jika sedang nongkrong di tempat itu, siap-siap uang receh untuk para pengamen.

Di tempat itu, para pengunjung bisa memilih duduk di kursi atau lesehan dengan tikar. Tergantung selera para pengunjung.

Cita Rasa Resto Bintang Lima di Tepi Pemakaman

Pernahkah Anda menyantap penganan di restoran mewah, katakanlah restoran bintang lima? Lalu, apakah Anda sudah merasakan sensasi makan di restoran yang berada di taman pemakaman? Kalau jawabannya belum, coba Anda datang ke Restoran La Collina yang berdiri di tepi taman pemakaman San Diego Hills Memorial Park, Karawang.

Jarak La Collina dengan deretan tanah kubur San Diego hanya sekitar setengah kilometer. Meski begitu, kesan angker atau menakutkan yang kerap timbul dari pemakaman tidak akan terasa. Sebab, restoran itu berdiri di atas bukit kecil dengan kolam renang di terasnya. Dan dari ruang makan La Collina, pengunjung bisa melihat danau buatan dengan deretan pohon rindang, tempat burung dara bertengger.

Tak ada aura menakutkan dari restoran tepi pemakaman itu.

Kala Tempo bertandang, 26 Januari 2012, koordinator La Collina, Tintin, menjelaskan bahwa makanan di restoran itu berkonsep Italia dan Indonesia. Karena itu, La Collina menawarkan sajian seputar pasta, pizza, ayam betutu, dan sup. Untuk menu pizza, La Collina memiliki satu menu spesial bernama Siciliana Pizza.

Layaknya pizza Italia pada umumnya, Siciliana disajikan dalam bentuk tipis, bukan roti yang tebal. Di atas Siciliana, sang chef hanya menaburkan lelehan saus keju mozzarella, remahan daun oregano, sedikit saus tomat, dan daging asap seukuran tomat iris.

Kalau dilihat, Siciliana Pizza ini sangat minimalis. Tidak banyak bahan yang dijadikan taburan atau topping di atasnya. Tapi, saat lembaran pizza mulai tergigit, hmmm… Rasa keju bercampur asam tomat mulai mengisi mulut. Lezat. Sedikit rasa ragi yang dikeluarkan lembar pizza juga terkecap di mulut. Sensasi terus berlanjut kala daging asap digigit. Meski hanya seiris, rasa daging begitu kental. Akhir kata, semua kelezatan itu ditutup dengan kriuk-nya pinggiran pizza yang dimasak garing.

Satu iris Siciliana Pizza cukup sebagai sebuah pembuka. Selanjutnya ada Lasagna al Forno. Entah apa arti dari kata al forno itu. Yang jelas, lasagna ini berupa pasta panggang dengan saus bolognaise yang penuh daging serta saus keju mozzarella dan daun peterseli. Bentuknya yang tebal pun membuat mulut langsung penuh, meski sebelumnya sudah dipotong kecil-kecil. Dan rasanya, yummy... Enak.

Tiap campuran dalam lasagna memberi rasa tersendiri di mulut. Ada asin keju, asam tomat, manis daging, sedikit rasa daun, serta kelembutan pasta. Membuat mulut ingin terus mengecap.

Kelar mengecap lasagna, Tempo pun mencoba menu andalan La Collina lainnya, yakni Spaghetti Carbonara. Berbeda dengan Spaghetti Bolognaise yang menggunakan siraman saus tomat dan daging giling, carbonara ini dipenuhi dengan krim susu yang diadon bersama kuning telur. Hasilnya adalah untaian spageti yang saling menempel lengket dengan taburan daging asap.

Satu suapan Spaghetti Carbonara rasanya lumayan. Kemudian dua, tiga, empat, dan suapan selanjutnya membuat mulut tak terlalu nyaman. Saus krim yang seharusnya menjadi andalan malah terasa tidak cocok di mulut. Kata Tintin, "Spaghetti Carbonara ini biasa dipilih pengunjung dari Eropa. Memang berbeda dengan orang Indonesia yang lebih memilih bolognaise. Mungkin karena orang kita tak terbiasa dengan saus krim."

Yah, makanan Italia sudah tercicip. Maka tidak afdol kalau belum memesan penganan Indonesia. Pilihan pun jatuh pada Sop Buntut. Kemudian datanglah semangkuk besar Sop Buntut, lengkap dengan sepiring nasi dan emping di pinggirnya. Sebelum menyantap sup dan nasinya, Tempo mencicipi dulu potongan buntut sapi itu. Rasanya empuk. Daging tebal di sekitar tulang ekor sapi begitu mudah dipotong dan dikunyah. Manisnya daging juga terasa. Meski kuah sup terasa terlalu manis, sajian ini tidaklah mengecewakan.

Menutup semua sajian itu, Tempo pun menyesap segelas La Collina Special. Minuman yang diracik dengan jus lemon, jus jeruk, irisan pisang, dan madu itu lantas meluruhkan segala lemak yang terasa di mulut. Begitu ringan dan segar.

Daftar harga di La Collina:
Spaghetti Carbonara Rp 54.900
Lasagna al Forno Rp 65.900
Siciliana Pizza ukuran besar Rp 79.500
Siciliana Pizza ukuran sedang Rp 72.500
Sop Buntut Rp 67.500
La Collina Special Rp 18.900

www.tempo.co

Tuesday, June 14, 2011

Ayam Muda Bercinta (ayam taliwang)

Ayam Taliwang, makanan khas dari Lombok, Nusa Tenggara Barat ini memang cukup terkenal termasuk di Jakarta. Tapi kalau Ayam Muda Bercinta, makanan apa lagi nih?

Ayam Muda Bercinta tak lain merupakan Ayam Taliwang. Ayam Muda Bercinta hanya sekedar nama saja yang diberikan oleh Rumah Makan Dua EM (2M). “Supaya orang tertarik dan jadi penasaran,” kata H. Muhibbin Murad, si pemilik RM. 2M saat dikunjung di rumah makan yang terletak di Jl. Transmigrasi 99 Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Rumah Makan 2M sudah sangat terkenal. Tidak saja di Lombok tapi juga orang-orang Jakarta. Wajar saja soalnya RM. 2M sudah berdiri puluan tahun. Banyak pejabat dan artis setiap datang ke Lombok selalu menyempatkan diri untuk istirahat dan bersantap aneka menu khas Lombok.

Selain Ayam Muda Bercinta, tersedia juga plencing kangkung dan ayam plencing. Ciri khas citarasa masakan di sini adalah pedas.

Ayam Muda Bercinta sering juga disebut ayam manis. Soalnya dagingnya terasa sangat manis. Selain menggunakan ayam muda, saat dibakar ayam yang sudah diberi bumbu-bumbu lokal dilumurin dengan sedikit madu. Jadilah rasa agak manis. “Orang kalau sedang jatuh cinta, terasa manis terus. Makanya namanya kami sebut ayam manis,” kata H. Muhibbin sedikit berkelakar. Menikmati ayam Taliwang tak sedap rasanya jika menyantap tanpa nasi hangat dan sambel.. Nikmatnya bukan main!

Disamping ayam manis, Ayam Plencingan juga menarik untuk dicoba. Setiap makanan, memiliki sambel tersendiri untuk menambah greget saat bersantap. Seperti ayam manis, ayam plencingan juga punya sambel khusus yang namanya sambel Beberuk. Sambel ini rasanya sangat pedas hingga ke tenggorokan. Makanya jika mau mengambil sambel beberuk, ambil sedikit saja dulu.

Jika kurang bisa tambah lagi. Sambel Beberuk sendiri didalamnya ada tomat dan terong. Tak ketinggalan pula Lombok (cabe) selalu ada dalam setiap masakan di sana.. Semua bahan diulek bersama terasi, garam serta penyedap khas Lombok. “Makanan di sini kalau tidak pedas bukan Lombok namanya,” ucap H. Muhibbin.
Sebenarnya saya sudah kenyang. Tapi H. Muhibbin menyodorkan satu menu lagi yang namanya Plencing Kangkung untuk dicoba. Tak enak rasanya menolak kebaikan tuan rumah. Beruntung, plencing kangkung porsinya tidak begitu banyak hanya mangkok kecil. Isinya hanya sejumput toge dan kangkung yang direbus.
Isi lainya dari plencing kangkung adalah kelapa muda yang berwarna coklat yang sudah dicampur dengan gula jawa. Ciri khas dari plencing kangkung adalah adanya taburan kacang tanah goreng. Terakhir, bahan-bahan tersebut disiram dengan sambel pelala berwarna merah yang dibuat dari terasi dan tomat. Cara makannya, semua diaduk menjadi satu. Harga seporsi cukup murah hanya Rp 6.000,-

Source:   http://www.restodb.com

Random Post