Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search
Showing posts with label jawa. Show all posts
Showing posts with label jawa. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Yogyakarta Kota Wisata Spa

Sebagai daerah tujuan wisata, Yogyakarta melengkapi pernik pariwisata dengan fasilitas spa. Sedikitnya sudah ada 100 penyedia jasa spa untuk relaksasi bagi yang ingin mencari suasana santai dan memanjakan tubuh.

Memanjakan tubuh di tempat-tempat yang menyediakan fasilitas salon dengan spa diperlukan untuk relaksasi. Spa terapi pun bisa menambah tubuh semakin sehat. Hotel-hotel kelas bintang di Daerah Istimewa Yogyakarta rata-rata sudah menyediakan fasilitas spa bagi para tamu atau konsumen.

"Kami mengampanyekan Yogyakarta sebagai kota wisata spa karena sumber daya alam, manusia dan fasilitas ada," kata M Tazbir Abdullah, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 13 Januari 2012.

Ia menyatakan, wisata Yogyakarta tidak hanya terbatas dengan Malioboro, Keraton, Candi Prambanan, Borobudur, wisata pantai maupun gunung. Tetapi ada potensi lain yang bisa menambah pernik kelengkapan dunia wisata. Salah satunya adalah fasilitas spa. Karena orang berwisata atau yang sudah lelah bekerja bisa menikmati suasana relaks dan sehat di tempat-tempat spa.

Ia mengaku sudah berembuk dan bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Spa Daerah Istimewa Yogyakarta dan Asosiasi Spa Terapis Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mencanangkan dan memajukan pariwisata dengan fasilitas spa.

Untuk ramuan-ramuan terapi spa, kata dia juga sangat tersedia. Baik dari jamu-jamuan dan rempah yang bisa diolah untuk ramuan terapi spa bagi tubuh. Para pemilik fasilitas spa juga diminta profesional dalam pengelolaannya. Sehingga spa layak dijual kepada masyarakat untuk menikmati layanan-layanan yang disediakan.

"Spa itu kan bukan didapat dari impor, tetapi nenek moyang kita dulu juga melakukan spa dengan ramuan tradisional," kata Tazbir.

Tidak hanya sekadar berpromosi, pihaknya juga bekerja sama dengan asosiasi spa untuk meningkatkan kualitas fasilitas dan terapisnya. Para terapis harus bersertifikat, standar ramuan spa yang tidak merusak kulit, keamanan dan kenyamanan tempat spa dan lain-lain.

Menurut Anny Wulan, Ketua Asosiasi Spa Terapi Daerah Istimewa Yogyakarta, ada banyak macam layanan spa yang disediakan oleh para pengusaha. Dari pijat atau massage tradisional hingga spa bayi dan spa bagi yang akan menyelenggarakan pernikahan (spa pra nikah).

Layanan itu antara lain daily spa seperti lulur, masker, massage (bermacam-macam), baby massage dan lain-lain. Sebenarnya ada juga medical spa. Tetapi di Indonesia baru ada di Ciater Jawa Barat.

"Kami berkomitmen untuk menjadikan spa sebagai salah satu destinasi wisata. Maka kami juga punya standar mutu untuk pelayanan konsumen," kata dia.

Salah satu hotel yang menyediakan fasilitas spa adalah Jogjakarta Plaza Hotel: Kirana Health Club dan Sekar Arum Spa. Fasilitas di Kirana Health Club dilengkapi dengan peralatan yang semakin lengkap, modern dengan kualitas yang berstandar internasional. Selain itu juga dilengkapi dengan berbagai alat fitness untuk penunjang kesehatan.

Selain itu juga ada Hotel Grand Aston, All Season, Hotel Jayakarta, The Cangkringan Jogja Villas & Spa dan lain-lain. Begitu pula, akan ada sebuah graha spa di Maguwoharjo yang menyediakan fasilitas spa, karaoke bar dan fasilitas lainnya. Graha spa itu baru akan buka pada 19 Januari 2012 mendatang.

Namun, untuk memilih tempat yang menyediakan layanan spa juga harus bisa membedakan tempat yang benar-benar menyediakan fasilitas dan layanan profesional atau yang hanya menjadi kedok prostitusi. Sebab, di Daerah Istimewa Yogyakarta terutama di kabupaten Sleman banyak terdapat salon kecantikan yang juga menyediakan fasilitas spa tetapi hanya untuk kedok prostitusi.

"Harus bisa memilih tempat yang profesional dalam layanan spa," kata Tri D, salah satu penyuka wisata spa.

Memborong Ragam Keripik Pedas di Bandung

Pengin beli keripik pedas dari Bandung sebagai oleh-oleh? Kali ini agak repot memilihnya. Soalnya, Keripik pedas olahan rumah tangga di Bandung semakin marak.

Dalam setahun ini, sudah ada puluhan jenis dan merek kudapan berbubuk cabai itu yang beredar di jalanan, toko, juga dunia maya. Label nama dan lambangnya ada yang mirip-mirip hingga menggelitik.

Di Jalan Dago tiap Ahad pada jam Car Free Day antara pukul 06.00-10.00 WIB, misalnya, tak kurang dari 10 merek keripik menggoda mata lewat spanduk di gerobak atau mobil dagangan. Sebagian hanya dijajakan sederhana dengan tumpukan kardus di atas trotoar. Namanya mulai dari keripik Maicih, Maedeh, Maemeh, Ceu Tety, Jenong, Cipuy, Kribo, juga Karuhun.

Salah seorang penjual keripik pedas di trotoar Jalan Dago 85, Yuyun Yulianingsih, rata-rata menjual 125 bungkus keripik setiap hari. Saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu, pembelian mencapai 150-200 bungkus per hari. Sejak berjualan 4 bulan lalu, kata dia, keripik Maicih yang paling laris. "Terutama level (pedas) 3, 5, dan 10," katanya, Ahad, 4 Desember 2011.

Pembelinya dari kalangan remaja hingga orang tua. Paling banyak orang Bandung dan Jakarta. Biasanya, kata Yuyun, mereka memborong 5-10 bungkus untuk dikudap sendiri atau sebagai oleh-oleh.

Di Toko Serba Lada atau Toserda di Jalan Pajajaran 4 Bandung, lebih dari 20 merek keripik pedas berkumpul rapi di rak. Lada, dari bahasa Sunda yang artinya pedas itu diantaranya keripik Kurutuk yang diproduksi artis Rida, Siripik Kingkong, juga Kutang Janda size 36. "Keripik pedas jadi makin banyak setelah booming Maicih awal 2011," kata pemilik toko, Willy Hono, 28 tahun.

Sejak itu, hampir setiap pekan ada 1-2 pembuat keripik pedas yang menawarkan produknya. Namun tak semua olahan industri rumahan itu bisa dijual di tokonya. Sarjana Matematika dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, itu mengaku banyak menolak contoh kiriman karena rasanya kurang mantap, harganya dinilai mahal, atau kemasannya kurang baik sehingga keripik dikhawatirkan cepat melempem.

Uji produk itu juga melibatkan istri, dua karyawannya, serta rekan-rekannya. Willy sempat menjadi korban saat mencicipi keripik contoh. "Pernah langsung sakit radang tenggorokan," katanya. Walau begitu, ia tak mewajibkan para pembuat keripik pedas harus punya izin Departemen atau Dinas Kesehatan karena biayanya mahal. "Saya juga ingin bantu home industry," katanya.

Sejak toko berdiri akhir tahun lalu, ia juga menjual keripik lewat jalur online. Pembeli keripik per hari rata-rata ada 10 orang. Tiap bulan, omzet penjualan keripik pedasnya mencapai Rp 20-25 juta.

Keripik pedas sejak puluhan tahun lalu telah menempel di lidah orang Indonesia. Di Bandung, kudapan itu mulai naik pamor sejak tahun lalu dikenal sebagai pikset atau keripik setan. Sebutan itu karena  pedas bubuk cabai pada keripik dari bahan singkong tersebut sangat menyengat lidah.

Setelah itu, pembuat keripik singkong pedas lainnya mengolah racikan dengan tingkat kepedasan berbeda. Selain itu juga kemasan dan cara penjualannya ikut memanfaatkan jejaring sosial di Internet. Sejak awal 2011, keripik pedas jadi barang buruan. “Penasaran awalnya, kok pakai level-levelan segala, ternyata sama seperti pikset tapi harganya lebih mahal,” kata Yuli Saputra, ibu rumah tangga berusia 34 tahun.

Penyuka keripik pedas itu mengaku sudah biasa mengalami panas mulut dan perut setelah makan keripik. Agar tak sampai mulas, ia memilih cara makan keroyokan bersama teman sambil ngobrol. “Namanya makanan pedas itu kan susah berhenti ya, jadi harus sedikit-sedikit dan makannya ramean,” ujarnya.

Kini jenis keripik pedas tak cuma dari singkong, tapi juga kentang, talas, tahu, dan kerupuk seperti gurilem, dorokdok (kerupuk kulit), keripik cireng (aci digoreng), serta basreng (baso goreng). Walau sama-sama dijamin pedas, masing-masing punya rasa, aroma, dan bumbu berbeda. Buat yang suka tantangan dan penasaran makanan pedas, siapa yang tak tergoda?

Membeli 1001 Penganan Khas Daerah di Jakarta

Mencari oleh-oleh bisa jadi merupakan salah satu agenda favorit Anda saat bepergian ke luar kota, terlebih jika dititipi keluarga atau teman sebelum bepergian.

Lalu, bagaimana bila Anda keluar kota tapi tidak sempat membeli oleh-oleh? Tidak perlu khawatir, terutama bila Anda berdomisili di Jakarta. Di Jakarta Selatan, ada satu toko khusus yang menjual oleh-oleh dari pelbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Rumah Makan Nusa Indah namanya.

Meski menggunakan kata rumah makan di nama tokonya, Nusa Indah sebenarnya menyediakan beragam jenis penganan daerah. Sepanjang mata memandang rupa-rupa oleh-oleh menumpuk hingga sudut toko.

Bertempat di Jalan KH Achmad Dahlan 33, Kebayoran Baru, toko Nusa Indah sudah berdiri selama 25 tahun. Hartati, 64 tahun, pemilik toko, memulai bisnis toko oleh-oleh di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, itu pada 1983.

Menurut dia, selama dua tahun pertama berdiri toko itu sepi pembeli. Banyak penganan yang terbuang percuma. "Di tahun ketiga orang sudah banyak tahu tentang toko ini. Pembeli semakin banyak yang datang," kata Hartati.

Banyaknya pembeli yang datang membuat Hartati kewalahan. Apalagi toko kecilnya tidak memiliki lahan parkir yang memadai. Pada 1986, ibu tiga anak ini memutuskan memindahkan tokonya ke lokasi saat ini.

"Dari hari ke hari, tahun ke tahun, toko ini semakin ramai pengunjung," ujar perempuan kelahiran Semarang itu.

Di Nusa Indah tersedia pelbagai penganan seperti Brownies Amanda, kue lapis legit Spikoe asal Surabaya, kue lapis Surabaya Mandarijn, begelen Kartika Sari, kerupuk udang Ny. Siok dari Sidoarjo, dan keripik pedas Ma Icih asal Bandung.

Selain itu Hartati juga menyediakan oleh-oleh berupa balado singkong Christine Hakim dari Padang, bandeng presto asal Semarang, Marquisa Heavy Juice dari Sumatera Utara, keripik paru dari Solo, serta brem asal Madiun. Rupa-rupa penganan dari pelbagai daerah itu pun menyesaki toko Hartati.

"Dulu pernah jual oleh-oleh dari Indonesia bagian timur, tapi peminatnya sedikit dan ongkos kirimnya mahal. Jadi sekarang tidak menyediakan lagi," kata dia.

Hartati memang memanjakan pelanggan dengan oleh-oleh dari berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Salah seorang pembeli, Syaefudin, mengaku sudah menjadi langganan Hartati sejak 1994 lalu. Awalnya dia hanya melihat spanduk Nusa Indah yang menjual bandeng presto asal Semarang.

"Saya coba beli. Ternyata rasanya enak, rasa sambalnya pas, dan tulangnya sangat empuk," kata Syaefudin.

Toko Hartati juga sering dikunjungi turis mancanegara. Misalnya orang Jepang yang doyan memborong camilan berupa teng teng Super Mete Nugat. "Ada juga pembeli borongan yang mengirim kue-kue dari sini ke Kalimantan, Sumatera, bahkan Amerika, Australia, dan Jepang," kata Hartati.

Kaus Khas Jogja Laris

Para pedagang kaos di kawasan Malioboro panen rezeki pada liburan akhir tahun ini. Di hari biasa, rata-rata per hari hanya 300 kaus yang terjual. Tapi kini pedagang grosir di kawasan itu kewalahan. Dalam satu hari saja bisa 1.000 kaos terjual dari satu pedagang.

“Kaos yang harganya di bawah Rp 15 ribu sangat laku untuk oleh-oleh wisatawan,” kata Lukmono, salah satu pedagang kaus di Jalan Kauman, Rabu, 28 Desember 2011. 

Ia menyatakan, jenis kaos yang laku adalah kaos yang bermotifkan gambar khas Yogyakarta dan kaos yang berdesain trendi. Segmen pembelinya pun berbeda-beda, tergantung jenis kaosnya.

Kaos yang bergambar dan bertuliskan kata-kata Yogyakarta biasanya diminati oleh semua kalangan untuk dipakai atau dijadikan oleh-oleh. Sedangkan kaos yang desainnya trendi disasar para wisatawan kalangan muda.

Para pedagang penjual kaos secara grosir banyak didatangi oleh pengecer yang langsung menawarkan kaus ke wisatawan. Para penjual kaus itu biasanya disebut buser atau buru sergap. Sebab, mereka langsung menawarkan kaus kepada pembeli di tempat-tempat parkir, tempat wisata, dan di sekitar Benteng Vredeburg (ujung Malioboro).

“Pada November lalu sepi wisatawan. Sekaranglah saatnya para pedagang itu mendapatkan rezeki,” kata dia.

Salah satu ikon kaos di Yogyakarta adalah Dagadu yang memang sudah banyak dikenal oleh para wisatawan. Produsen kaos dengan gambar dan kata-kata unik itu mengaku omzet penjualannya naik 30 persen saat liburan seperti ini. Bahkan, di akhir pekan penjualan naik mencapai 60 persen.

“Untuk melayani para pembeli, kami sediakan gerai-gerai yang nyaman untuk dikunjungi wisatawan,” kata Marketing Communication PT Aseli Dagadu Djokdja Junno Mahesa.

Gerai Dagadu saat ini ada beberapa yang disediakan, yaitu Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) di Mal Malioboro, UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan, DPRD (Djawatan Plajanan Resmi Dagadu) di Ambarukmo Plaza, dan Posyandu II di Jalan Pekapalan (Alun-alun Utara).

Memburu Batik Lawasan Nan Cantik di Malioboro

Baju batik dengan warna dominasi coklat kemerah-merahan
itu terlihat cantik. Padahal, batik-dengan aneka ragam motif seperti parang, daun-daunan, bunga, dan  binatang ini dijahit sambung-menyambung dengan tekstur kotak-kotak. Motif menabrak itu justru menampilkan batik yang dikenal batik lawasan ini justru terlihat etnik nan cantik.

Modelnya pun disesuaikan dengan anak-anak muda zaman sekarang. Ada yang model baju   BCL karena baju model begini kerap dikenakan Bunga Citra Lestari, penyanyi. Ada pula model lawasan Luna Maya karena mirip dengan  pakaian Luna Maya, pemain sinetron dan film, hingga model kelelawar yang trend belakangan ini.

Di sebuah los  Pasar Beringharjo, beberapa orang terlihat memburu batik lawasan. Satu orang tak cukup membeli dua atau tiga potong. “Saya memborong 10 untuk oleh-oleh juga,” kata Ivon, seorang pengunjung asal Surabaya ketika ditemui di Pasar Beringharjo.

Batik lawasan, semula hanya dijual kainnya saja. Harganya bervariasi mulai Rp 50.000 hingga Rp 200.000. Nah, begitu jadi baju, harganya bervariasi antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000.

Belakangan, batik lawasan lantas dibuat model baju yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak, remaja, hingga untuk orang tua. Dinamakan batik lawasan karena memang dari batik tulis lawas yang sudah pernah dipakai simbah-simbah zaman dulu.

Nah, karena sudah jarang digunakan karena kondisinya tak lagi sempurna, mereka lantas menjual ke pedagang dan didaur ulang menjadi pakaian sehari-hari.  Karena lawas dan umumnya batik tulis asli, kekuatan batik lawasan nyaman dipakai dan adem di tubuh. Umumnya pemakai mengenakan di rumah atau bepergian santai. Ada pula yang membeli  batik dengan memodifikasinya dengan kain lurik.

Menurut Maryati, penjual batik lawasan, batik lawasan ini umumnya dijual oleh mereka dengan kondisi bolong atau aus di bagian tertentu. Nah, bagian lain yang masih bisa dimanfaatkan itulah yang kemudian dipotong-potong lalu disambung-sambung dan membentuk model macam-macam. “Model baju disesuaikan dengan model zaman sekarang yang sedang tren,” katanya.

Nah, penjahit-penjahit Yogyakarta yang terkenal memiliki citra seni yang tinggi inilah yang menjadikan batik lawasan, barang aus, namun tetap terlihat elegan.

Tak mengherankan, jika beberapa kali Tempo mendapati istri pejabat atau artis mengenakan batik lawasan. “Memang banyak artis yang datang belanja ke sini,” kata seorang pedagang batik lawasan lainnya, Sri. Dia mengaku peminat batik lawasan justru kebanyakan berasal dari Jakarta dan kota lain seperti Semarang, Bandung, Surabaya.

Hanya saja karena barang lawasan, memperlakukan batik ini kudu ekstra hati-hati. Batik ini punya kelemahan mudah robek karena usianya terlalu tua. Karena kalau dicuci cukup dengan lerak saja.

Aktris dan sutradara, Ine Febriyanti salah satu yang kerap memborong batik lawasan. Ine mengaku menyukai batik lawasan karena  adem dikenakan di tubuh. “Warnanya juga klasik, kuno, dan terkesan membumi,” katanya.

Membeli batik lawasan baginya bukan semata-mata soal mencintai produk Indonesia saja, tetapi juga ikut mendorong pedagang kecil agar lebih bisa berkiprah. “Kalau bukan kita yang membeli siapa lagi,” katanya.

Ivon, senada dengan Ine. Dengan membeli batik lawasan, maka, secara tidak langsung dia tidak sekedar berteori soal pemberdayaan pedagang Usaha Kecil dan Menengah (UKM). “Prakteknya ya dengan membeli seperti sekarang ini,” kata perempuan berparas ayu ini.

Pasar Beringharjo bukan satu-satunya yang menyediakan batik lawasan. Gerai toko Mirota Batik juga menyediakan batik lawasan. Hanya saja banderol harganya beberapa kali lipat dari Pasar Beringharjo.

Dari banderol yang dilihat Tempo,  rata-rata harganya Rp 68.000 hingga Rp
85.000. Di kelas-kelas mall seperti Ambarukmo Plaza, batik lawasan rata-rata di banderol dengan harga Rp 85.000.

Buat pembeli yang tak segan menawar, tempat belanja yang paling cocok memang di Pasar Beringharjo yang lokasinya berhadap-hadapan dengan Mirota. Apalagi, kualitas barangnya nyaris sama.

Di Pasar Beringharjo, memang tak ada banderol harga. Karena itu, mereka yang menyukai   perang urat syaraf alias tawar-menawar harga, di sinilah tempatnya. Apalagi, penjual  batik lawasan juga menekankan prinsip kekeluargaan dalam menawarkan barang dagangannya.

Yuk, Berburu Kaus Unik di Bandung

Kota Kembang tak cuma asyik sebagai tempat berburu kuliner enak, tapi juga kaus untuk segala umur. Desainnya unik dan bernada humor, dari yang khas Bandung juga etnis kesundaan. Harganya mulai dari Rp 25 ribu hingga hampir Rp 100 ribu.

Umumnya kaus dengan desain yang menggambarkan suasana khas Bandung tersebut dijual di luar toko-toko distribution outlet (distro). Pusatnya berada di emperan Jalan Cihampelas, juga sekitar Pasar Baru Bandung Jalan Otto Iskandar Dinata. Ukurannya mulai dari untuk anak kecil hingga dewasa. Di kedua tempat itu, harga kaus ditawarkan murah, mulai dari Rp 20 ribu.

Di pertokoan jeans Jalan Cihampelas, beberapa corak desain dan jenis bahan kausnya ada yang berbeda dengan di emperan. Beberapa juga bergambar lokasi wisata, seperti museum, Gedung Sate, dan bangunan bersejarah. Paling mahal harganya sekitar Rp 100 ribu. Salah satunya di toko KPK alias Kelompok Pecinta Kaus di Cihampelas.

Menurut kasir toko Mida Marliana, tiap akhir pekan penjualannya berlipat ganda dibanding hari kerja. “Kalau di Cihampelas, kaus banyak diserbu turis luar kota dan anak-anak sekolah yang darmawisata,” katanya. Jika ingin memesan kaus untuk acara dan desain khusus dalam jumlah banyak, sentra kaus di Jalan Suci atau Surapati tempatnya.

Tapi kalau tak ingin kaos yang pasaran dan berbahan katun adem, di Cihampelas Walk ada outlet kaus Mahanagari dan kaus Gurita yang mengolah kata-kata lucu dengan gambar ilustrasi. Sedangkan kaus berlabel Harax yang mengangkat tema etnis kesundaan ada di Rockhouse Jalan Dewi Sartika. Nah, apakah Anda sudah siap berburu oleh-oleh kaus dari Bandung?

Renyahnya Ayam 4 Jari

Ayam sudah menjadi makanan kebanyakan orang Indonesia. Tapi bagaimana dengan ayam empat jari? Itu bukan jenis ayam berjari empat, melainkan nama restoran yang baru dua tahun berdiri, 4 Fingers.


“Restoran kami semi fast food, makan bukan sudah langsung jadi. Tapi setelah orang pesan, masih ada proses memasaknya lagi,” ujar Brand Manager 4 Fingers, Ditha Fitriana, ketika ditemui di cabang Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Kamis lalu.

Berbeda dengan restoran lainnya, ayam 4 Fingers diolah dengan cara yang berbeda. Ayam yang matang dioles dengan bumbu spesial dari Korea. Pengunjung bisa memilih dua saus antara Soy Garlic Sauce atau Hot Spicy Sauce, atau keduanya.

Misalnya untuk menu andalan Crispy Chicken Wing atau Drumstick. Sayap ayam diolah dengan cara deepfried sebanyak dua kali dengan suhu 180 derajat. Kulit ayam pasti dijamin renyah saat baru terhidang panas-panas. “Makanya kami sebut Premium Fried Chicken karena semua tersaji renyah,” ujar Ditha.

Kulit ayam yang renyah juga terdapat pada Chicken Burger. Untuk yang satu ini, daging paha ayam atas yang menjadi isi burger beserta selada, tomat, timun, dan jamur. Kebanyakan burger biasa menyajikan daging ayam polos olahan.

Jika ingin memuaskan perut, coba menu combo ditambah kentang goreng. Tak hanya dilumuri garam, kentang goreng juga tak kalah renyah karena ditaburi remahan rumput laut dan bubuk cabai.

Makanan lain yang patut dicoba ialah Katsu Chicken Sandwich. Menu ini terbilang unik karena campuran cita rasa tiga negara: Jepang, Cina, dan Korea. Cina diambil dari penggunaan Chinese Bun atau roti mantau sebagai pengganti dua tangkup roti tawar untuk sandwich umumnya.

Jepang tentu saja diambil dari kata Katsu, yang berarti irisan daging ayam. Sedangkan untuk sentuhan Korea di dalam roti isi diberi kimchi atau sayuran yang terfermentasi dengan rasa asam. Campuran ketiganya dijamin menarik untuk dicoba dan mampu membuat lidah bergoyang.

Tidak hanya negara-negara di Asia yang menjadi inspirasi resto yang berkapasitas 70 orang ini. Salah satu menu andalan mereka yang diadopsi dari Meksiko adalah Chicken Wrap. Berbentuk seperti kebab, lapisan roti tortilla ini berisi daging ayam yang dilengkapi dengan jamur dan sayuran. Sebagai penambah rasa, isi makanan ini dilumuri saus kari mayonnaise.

Jika bosan dengan makanan serba ayam, Tofu Salad bisa jadi alternatif lain. Salad berisi tahu goreng ini dilengkapi dengan daun selada dan jamur. Saus dressing yang dipakai adalah soy garlic sauce dan sesame oil. Ada juga menu vegetarian lainnya, yakni Tofu Rice Box, yaitu tahu goreng dengan kimchi. Siraman saus berwarna coklat dengan tingkat keasinan yang rendah memperkaya rasa nasi putih yang tersedia.

Sekilas, restoran yang namanya terinspirasi dari jumlah kaki ayam dan jumlah pendirinya ini terlihat seperti restoran cepat saji biasa. Anda tinggal memesan makanan di kasir pesanan, yang kemudian akan diteruskan ke bagian dapur. Menu yang disajikan pun tidak banyak berbeda dengan restoran cepat saji lainnya.

Mengambil konsep subway, resto yang baru berdiri pada 2010 ini mengincar generasi muda sebagai konsumennya. Itulah sebabnya, dekorasi ruangan dipilih dengan gaya anak muda pula. Di bagian dindingnya terdapat graffiti dengan warna dominan merah. Ada juga scribble atau coretan tulisan tangan di dua tiang dalam resto.

"Bedanya, kalau di subway biasanya orang makan dengan terburu-buru. Di sini mereka bisa santai,” Ditha menambahkan. Sebab, disediakan dua sofa panjang untuk pengunjung yang ingin berleha-leha.

Berbeda dengan rumah makan cepat saji biasa, harga di 4 Finger pun tak sama. Restoran yang berlogokan empat jari manusia ini mematok harga untuk empat potong Crispy Chicken Wings sebesar Rp 24 ribu. Menu favorit seperti Chicken Burger Combo, Katsu Chicken Sandwich Combo, dan Chicken Wrap Combo masing-masing dibanderol dengan harga Rp 44 ribu dan Rp 57 ribu. Selamat mencoba.

Menikmati Cupcake Berpadu Teh ala Eropa

Menikmati cupcake, biasanya jika lebih dari dua buah, perut menjadi enek alias mual. Ternyata, jika makan makanan ringan itu dipadukan dengan minum teh, perut tetap merasa nyaman.

Pilihan menikmati cupcake bisa menjadi alternatif kuliner yang kini sudah marak di Yogyakarta. Namun biasanya penikmat cupcake hanya membelinya di toko roti lalu dibawa pulang untuk dimakan di rumah atau di perjalanan.

Nah, ada tempat asyik untuk nongkrong yang menyediakan cake dan cupcake berbagai rasa di Yogyakarta. La Vie Michi Dessert Cake, sebuah gerai khusus menu-menu dessert yang unik nan lezat. Gerai itu ada di lantai 2 Mirota Palagan, Jalan Palagan Tentara Pelajar Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Perpaduan antara makan cake dengan minum teh ala Eropa sangat pas. Perut tetap nyaman," kata pemilik La Vie Michi, RR Christina, Sabtu, 4 Februari 2012.

Lokasinya yang berada di jalan menuju lereng Gunung Merapi itu sangat cocok untuk nongkrong di waktu sore hingga malam. Cupcake atau cake dipadu dengan teh panas sangat cocok dinikmati bersama pasangan, kerabat, atau sahabat.

Di tempat itu pula, pengunjung bisa belajar nge-teh, atau minum teh, dan menyantap aneka dessert itu. La Vie Michi menawarkan belasan jenis teh yang didatangkan langsung dari Eropa. Sedangkan untuk cake, ada 23 jenis. Ada Tiramisu, cokelat, Mouse Cake, Opera Cake, bahkan kue berbentuk Shaun The Sheep.

Khusus untuk teh, bahan-bahan teh didatangkan dari London, Inggris, Sri Lanka, Jepang, Cina, dan negara lain. Aneka teh yang tersedia di kedai ini antara lain teh jasmine, stroberi, Blackcurrant, dan teh peach. Untuk harga cake antara Rp 9.000 hingga Rp 18.500 saja. Satu cangkir teh dibanderol Rp 12.000. Teh itu bukan sekadar minuman, tetapi juga baik untuk kesehatan.

Christina menjelaskan, gerai-gerai khusus cupcake di luar negeri sudah marak, terutama di Amerika Serikat. Di Yogyakarta, masyarakat terutama kalangan muda dan mahasiswa suka nongkrong. Nah, sesekali, jika memilih altrenatif kuliner, bisa menikmati cake dipadu dengan minum teh. "Ini menjadi gaya hidup kawula muda," kata Christina.

Alumnus Studi Commerce di universitas ternama di Australia ini melihat peluang bisnis yang belum ada sebelumnya di Yogyakarta, seperti perpaduan makan cake sembari minum teh ini.

Nama La Vie Michi berasal dari bahasa Prancis, La Vie, yang bermakna kehidupan. Tetapi itu juga singkatan dari Victor dan Erick, kedua kakak Christina. Filosofi makan cake dan minum teh ini, kata Christina, diharapkan hidup semakin lebih cerah, lebih hidup.

Dijelaskan oleh Rita, penanggung jawab produk makanan La Vie Michi, bahan-bahan cake dan cupcake yang dibuatnya berasal dari bahan berkualitas dan aman dikonsumsi bagi siapa pun. Termasuk bagi mereka yang merasa kegemukan. Sebab bahan baku cake dipastikan 'zero calorie sugar' dan tanpa bahan pengawet. "Yang pasti makanan dan minuman sangat higienis dan sehat," katanya.

Menu Jepang Harga Indonesia Hanya di Umaku

Penahkah Anda melahap gumpalan nasi berbalut ikan mentah atau rumput laut? Ya, gumpalan nasi itu bernama sushi. Berasal dari Negeri Sakura, kini sushi menjadi satu makanan terkenal di Indonesia, terutama di Jakarta.

Dengan semakin dikenalnya sushi di kalangan masyarakat, makin banyak pula rumah makan berkonsep ala Jepang yang menyajikan sushi sebagai menu utama. Sayangnya mayoritas restoran Jepang mematok harga mahal untuk sajiannya. Kenapa mahal? Karena lokasi restoran Jepang kerap berada di mal atau hotel yang mematok pajak tinggi. Ditambah lagi bahan baku sushi banyak dikirim langsung dari Jepang.

Atas pertimbangan harga itu, tidak jarang calon pengunjung urung datang ke restoran Jepang. Takut harga tidak sesuai dengan kemampuan kantong.

Nah, merebaknya restoran Jepang yang mahal itu mendorong Beth Hayes mendirikan restoran dengan konsep serupa, tapi dengan harga terjangkau. Akhirnya, berdirilah restoran Jepang bernama Umaku, artinya 'sang ahli'.

"Suara yang ditimbulkan saat menyebut Umaku juga seperti rumahku. Jadi, seakan-akan menyantap sushi di rumah," kata Beth.

Awalnya Umaku berdiri di Cibubur, Jawa Barat, pada 2009 lalu. Karena pelanggannya semakin banyak, Beth pun membuka peluang waralaba Umaku. Lalu berdirilah Umaku Tebet dan Umaku Duren Tiga Raya Nomor 32, Jakarta Selatan.

Maka, datanglah Tempo ke Umaku Duren Tiga. Meski menyediakan pelbagai penganan Jepang, menu pertama yang dipesan Tempo adalah deretan sushi, misalnya Volcano, Spider Roll, Salmon Maki, dan Tobiko.

Lalu, hap! Satu Spider Roll langsung disantap, seketika mulut terasa penuh. Lembutnya unagi atau daging belut terasa cepat melumat. Begitu kontras dengan kriuk-nya gorengan daging kepiting yang disematkan di dalam kepalan nasi. Saya pun langsung sibuk mengunyah dan menyesap rasa laba-laba gulung ini. Enak.

"Spider Roll ini satu menu sushi andalan kami," kata Head Chef Umaku, Uki.

Sudah habis urusan dengan Spider Roll, saya mulai melirik Volcano. Kali ini, sekepal nasi menyelimuti daging kepiting dan Tobiko bakar. Di atasnya, ikan salmon dengan lelehen mayones berperan sebagai mahkota, sedangkan di sisi kanan-kiri Volcano terlihat jejak hitam sisa pembakaran.

Ketika mulut mengecap Volcano, hal pertama yang terdeteksi adalah rasa gosong. Sedikit amis dari salmon dan kentalnya mayones meramaikan isi mulut. Sayang, keramaian itu masih kalah dengan rasa sisa pembakaran.

Masih penasaran dengan menu sushi Umaku, saya lahap beberapa potong Salmon Maki dan Tobiko Flying Fish Roe. Memang dua menu itu bukanlah yang spesial, tapi butiran nasi pulen tetap menyenangkan mulut.

"Kami pakai beras dari Jepang dan menambahkan kombu atau ganggang laut saat memasaknya. Setelah matang, selain seperti ketan, rasanya pun beraroma ikan," ujar sang chef.

Sudah puas mengecap sushi, selanjutnya saya coba Soba Moriawase. Mie soba datang ditemani tempura udang, rumput laut, dan kuah bening kecokelatan. Saat menyesap air kuah, rasa segar terasa menyergap tenggorokan. Ada semilir manis juga di dalamnya. Dan mie soba terasa unik, seperti ubi.

"Mienya berbahan dasar gandum dan diimpor dari Jepang. Kuahnya sendiri mengandung ikan cakalang yang telah diasap, diserut, dan direbus dalam air selama tiga jam," kata Uki.

O ia, bagi Anda yang tidak menyukai makanan mentah, bisa juga memesan Katsu Kare Rice. Nasi kare di Umaku bisa dikategorikan unik karena perkawinan antara kayu manis dan lada halus menciptakan beragam rasa di mulut. Manis, wangi, dan sedikit panas.

Perut kenyang, hati senang. Saya pun sedikit berbincang dengan tamu Umaku lainnya. Ducta, 41 tahun, mengaku baru pertama kali datang ke Umaku Duren Tiga. Pada kunjungan perdananya itu, dia telah menghabiskan tiga mangkuk mie udon. "Rasanya enak dan harga terjangkau. Jadi, enggak takut kalau mau pesan banyak menu atau nambah," kata perempuan itu.

Tidak jauh berbeda dengan Ducta, Dicky, 43 tahun, bercerita jika dia tidak takut membawa anak dan keluarganya makan di Umaku Duren Tiga. "Karena tidak mahal, saya tidak deg-degan kalau mereka memesan banyak sushi atau menu lainnya," kata Dicky.

Tentang harga murah ini, Chef Uki punya rahasianya, yakni membayar pesanan bahan baku dari Jepang dengan pembayaran tunai dan tepat waktu sehingga penyuplai bahan baku mau memberi potongan harga. Selain itu, kata Uki, bahan baku yang mereka terima langsung dibersihkan dan masuk ke lemari pendingin. “Karena perawatan yang baik, usia ketahanan ikan bisa maksimal, misalnya sampai tiga hari. Jadi tidak ada yang mubazir.”

Suasana Umaku yang tidak kaku dan seperti di rumah membuat mereka nyaman duduk berlama-lama. Bercanda lepas tanpa takut ditunggu antrean tamu lainnya bisa dilakukan di Umaku.

"Apalagi kalau ada tamu Jepang, mereka suka membaca berita dari tempelan koran Jakarta Shinbun di dinding resto. Itulah keunikan kami," kata Chef Uki.

Daftar Harga di Umaku:

Volcano 4 potong Rp 35 ribu
Spider Roll 4 potong Rp 37 ribu
Salmon Maki 6 potong Rp 30 ribu
Tobiko Flying Fish Roe 2 potong Rp 21 ribu
Soba Moriawase Rp 33 ribu

www.tempo.co

Menikmati Sensasi Kopi Jos Lik Man

Kopi jos. Begitulah orang-orang menyebutnya. Para penggemar kopi di angkringan di Yogyakarta selalu berjubel duduk menikmati kopi khas itu.

Di sebelah utara Stasiun Tugu Yogyakarta, ada berderet angkringan tempat minum kopi. Kopi yang paling khas adalah kopi jos. Kopi ini diseduh dalam gelas yang diberi bara arang. Nah, suara bara arang yang masuk dalam minuman kopi berbunyi, "Josss..." Dari situlah minuman itu dinamakan.

Angkringan Lik Man yang berada di Jalan Wongsodirjan yang menempel di tembok luar stasiun itu yang pertama kali ada. Sejak 1970-an, angkringan tempat minum itu sudah ada. Nama Lik Man sendiri diambil dari nama Sisgiman, 62 tahun, sang pemilik angkringan. Namun saat ini yang menjalankan angkringan ini adalah Kobar, 42 tahun, menantu Lik Man.

"Dulu buka 24 jam, tetapi saat ini buka pada petang hingga pagi hari," kata Kobar sambil menyeduh kopi.

Khasiat kopi yang diberi bara arang itu diyakini bisa menghilangkan perut kembung, masuk angin, dan penyakit kurang enak badan. Kopinya pun juga kopi pilihan yang tradisional dari Klaten dan sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tempat itu menjadi favorit nongkrong dari semua kalangan. Pejabat, seniman, budayawan, wartawan, mahasiswa, pekerja malam, hingga penjaja cinta. Di tempat itu pula, dari banyak obrolan, muncul ide-ide cerdas. Para mahasiswa yang nongkrong juga membicarakan skripsi.

"Ada penelitian dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada, bara arang itu bisa mengurangi kadar kafein," kata Kobar, Kamis malam, 2 Februari 2012.

Para seniman yang sering nongkrong di tempat itu antara lain Marwoto Kawer, Butet Kartarejasa, Djaduk Ferianto, Emha Ainun Nadjib, dan lain-lain.

Harga segelas kopi jos hanya Rp 3.000, baik yang pakai arang maupun kopi yang tidak. Tetapi tidak perlu khawatir bagi yang tidak suka kopi. Ada juga minuman teh manis Rp 1.500, jeruk, jahe, serta wedang tape ketan Rp 2.500.

Makanan khas angkringan, tentu saja nasi kucing yang harganya hanya Rp 1.000 per bungkus, ada yang berlauk teri, sambal, dan oseng-oseng. Makanan kecilnya rata-rata seharga Rp 500 saja. Ada mendoan (tempe goreng tepung), tempe bacem, kepala ayam, tahu susur, rempeyek, kacang, juga ada jadah. Jika ingin disajikan panas, makanan gorengan itu bisa dibakar dengan arang yang juga untuk memanaskan air minum di angkringan itu.

Lik Man saat ini tidak lagi secara langsung menangani angkringan miliknya. Ia saat ini justru bertani di dusun asalnya di Jetis, Tugu, Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Ia mewariskan usaha itu kepada anak, menantu, dan keluarga lainnya untuk meneruskan usaha itu.

"Sekarang bertani saja, kalau pendapatan dari angkringan ada lebihnya, saya juga diberi," kata Lik Man melalui telepon.

Ia berkisah, awalnya ia berjualan angkringan sejak tahun 1960-an. Sering berpindah dan bereksperimen membuat minuman, ia lalu mencoba memberi arang dalam minuman kopi. Ternyata sambutan pelanggannya sangat baik dan rasanya lebih enak. Yang masuk angin dan perut kembung bisa sembuh.

Saat ini, tidak hanya satu angkringan di sebelah utara stasiun itu. Muncul lebih dari 10 angkringan kopi jos yang setiap malam selalu ramai dikunjungi.

Semakin malam, deretan angkringan itu semakin ramai bahkan sampai waktu subuh. Yang usai dari tempat hiburan malam atau diskotek biasanya juga menunggu waktu pagi di angkringan itu. Apalagi mahasiswi yang usai berdugem, karena ada jam malam di kos-kosannya, nongkrong di tempat itu hingga pagi hari.

Soal pengamanan, tempat itu tergolong aman karena para pedagang angkringan dan tukang parkir kompak untuk menjaga keamanan di tempat itu. Para pengamen pun tertib. Hanya, jika sedang nongkrong di tempat itu, siap-siap uang receh untuk para pengamen.

Di tempat itu, para pengunjung bisa memilih duduk di kursi atau lesehan dengan tikar. Tergantung selera para pengunjung.

Cita Rasa Resto Bintang Lima di Tepi Pemakaman

Pernahkah Anda menyantap penganan di restoran mewah, katakanlah restoran bintang lima? Lalu, apakah Anda sudah merasakan sensasi makan di restoran yang berada di taman pemakaman? Kalau jawabannya belum, coba Anda datang ke Restoran La Collina yang berdiri di tepi taman pemakaman San Diego Hills Memorial Park, Karawang.

Jarak La Collina dengan deretan tanah kubur San Diego hanya sekitar setengah kilometer. Meski begitu, kesan angker atau menakutkan yang kerap timbul dari pemakaman tidak akan terasa. Sebab, restoran itu berdiri di atas bukit kecil dengan kolam renang di terasnya. Dan dari ruang makan La Collina, pengunjung bisa melihat danau buatan dengan deretan pohon rindang, tempat burung dara bertengger.

Tak ada aura menakutkan dari restoran tepi pemakaman itu.

Kala Tempo bertandang, 26 Januari 2012, koordinator La Collina, Tintin, menjelaskan bahwa makanan di restoran itu berkonsep Italia dan Indonesia. Karena itu, La Collina menawarkan sajian seputar pasta, pizza, ayam betutu, dan sup. Untuk menu pizza, La Collina memiliki satu menu spesial bernama Siciliana Pizza.

Layaknya pizza Italia pada umumnya, Siciliana disajikan dalam bentuk tipis, bukan roti yang tebal. Di atas Siciliana, sang chef hanya menaburkan lelehan saus keju mozzarella, remahan daun oregano, sedikit saus tomat, dan daging asap seukuran tomat iris.

Kalau dilihat, Siciliana Pizza ini sangat minimalis. Tidak banyak bahan yang dijadikan taburan atau topping di atasnya. Tapi, saat lembaran pizza mulai tergigit, hmmm… Rasa keju bercampur asam tomat mulai mengisi mulut. Lezat. Sedikit rasa ragi yang dikeluarkan lembar pizza juga terkecap di mulut. Sensasi terus berlanjut kala daging asap digigit. Meski hanya seiris, rasa daging begitu kental. Akhir kata, semua kelezatan itu ditutup dengan kriuk-nya pinggiran pizza yang dimasak garing.

Satu iris Siciliana Pizza cukup sebagai sebuah pembuka. Selanjutnya ada Lasagna al Forno. Entah apa arti dari kata al forno itu. Yang jelas, lasagna ini berupa pasta panggang dengan saus bolognaise yang penuh daging serta saus keju mozzarella dan daun peterseli. Bentuknya yang tebal pun membuat mulut langsung penuh, meski sebelumnya sudah dipotong kecil-kecil. Dan rasanya, yummy... Enak.

Tiap campuran dalam lasagna memberi rasa tersendiri di mulut. Ada asin keju, asam tomat, manis daging, sedikit rasa daun, serta kelembutan pasta. Membuat mulut ingin terus mengecap.

Kelar mengecap lasagna, Tempo pun mencoba menu andalan La Collina lainnya, yakni Spaghetti Carbonara. Berbeda dengan Spaghetti Bolognaise yang menggunakan siraman saus tomat dan daging giling, carbonara ini dipenuhi dengan krim susu yang diadon bersama kuning telur. Hasilnya adalah untaian spageti yang saling menempel lengket dengan taburan daging asap.

Satu suapan Spaghetti Carbonara rasanya lumayan. Kemudian dua, tiga, empat, dan suapan selanjutnya membuat mulut tak terlalu nyaman. Saus krim yang seharusnya menjadi andalan malah terasa tidak cocok di mulut. Kata Tintin, "Spaghetti Carbonara ini biasa dipilih pengunjung dari Eropa. Memang berbeda dengan orang Indonesia yang lebih memilih bolognaise. Mungkin karena orang kita tak terbiasa dengan saus krim."

Yah, makanan Italia sudah tercicip. Maka tidak afdol kalau belum memesan penganan Indonesia. Pilihan pun jatuh pada Sop Buntut. Kemudian datanglah semangkuk besar Sop Buntut, lengkap dengan sepiring nasi dan emping di pinggirnya. Sebelum menyantap sup dan nasinya, Tempo mencicipi dulu potongan buntut sapi itu. Rasanya empuk. Daging tebal di sekitar tulang ekor sapi begitu mudah dipotong dan dikunyah. Manisnya daging juga terasa. Meski kuah sup terasa terlalu manis, sajian ini tidaklah mengecewakan.

Menutup semua sajian itu, Tempo pun menyesap segelas La Collina Special. Minuman yang diracik dengan jus lemon, jus jeruk, irisan pisang, dan madu itu lantas meluruhkan segala lemak yang terasa di mulut. Begitu ringan dan segar.

Daftar harga di La Collina:
Spaghetti Carbonara Rp 54.900
Lasagna al Forno Rp 65.900
Siciliana Pizza ukuran besar Rp 79.500
Siciliana Pizza ukuran sedang Rp 72.500
Sop Buntut Rp 67.500
La Collina Special Rp 18.900

www.tempo.co

Sunday, February 12, 2012

Asyiknya Menyusuri Perut Bumi Gombong Selatan

Tanpa rasa takut, Fauzy Zulvikar, 20 tahun, nyemplung ke Sendang Mawar di Gua Jatijajar Kebumen akhir pekan lalu. Berkali-kali, ia membasuh muka dengan air sendang yang mengalir deras. Bening tanpa sampah, mengalir di sela-sela stalakmit gua itu.

“Biar awet muda dan tambah ganteng,” ujar Bang Ozi, panggilan akrab Fauzy, meniru iklan goyang gayung di televisi, saat mengunjungi Gua Jatijajar.

Bang Ozy bersama puluhan kawan satu kampusnya sengaja berlibur ke Gua Jatijajar untuk melihat eksotisme gua karst Gombong Selatan. Kawasan karst yang membentang di perairan selatan Kebumen itu berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Kabupaten Kebumen.

Ratusan gua yang layak dijadikan wisata petualangan ada di kawasan ini. Hamparan pantai selepas pegunungan karst, juga menambah lengkap agenda liburan.

Agus Rasono, 50 tahun, juru kunci Gua Jatijajar mengatakan, kawasan gua akan banyak didatangi pengunjung saat hari libur. “Ada yang sengaja untuk melihat keindahan gua, ada juga yang sengaja ingin semedi,” katanya.

Seperti halnya di Gua Jatijajar yang mulai dibangun sebagai obyek wisata pada tahun 1975. Selain pemandangan stalaktit dan stalakmit, yang paling terkenal stalakmit Kurungan Ayam, di gua ini juga ada beberapa sendang atau kubangan air yang dipercaya mempunyai khasiat terntentu.

Selain itu, ratusan patung yang mengisahkan cerita Kamandaka juga menjadi pemandangan tersendiri di gua itu. Kisah Kamandaka atau dikenal dengan kisah lutung kasarung menjadi visualisasi di gua itu. Banyaknya patung kera, kata Agus, merupakan gambaran perwujudan lain dari Kamandaka. Kisah itu sendiri bersumber dari Babad Pasir Luhur yang merupakan cikal bakal lahirnya Kadipaten Banyumas.

Waktu itu, gua Jatijajar digunakan Kamandaka untuk semedi mencari wangsit. Selain Kamandaka, ada juga patung Dewi Nawang Wulan sedang berendam di sendang kanthil dan mawar.

Air dari Sendang Kanthil dipercaya bisa membuat orang yang membasuh mukanya dengan air sendang itu akan menjadi cantik atau ganteng. Sementara sendang Mawar dipercaya bisa membuat orang awet muda. “Nalarnya, air dari pegunungan karst mempunyai kandungan mineral tinggi sehingga bagus untuk tubuh,” katanya.

Selain dua sendang itu, ada juga sendang Paser Bumi dan Jombor yang khusus digunakan orang untuk bersemedi. Dua sendang itu pintu masuknya dikunci dan tidak diperboleh dimasuki oleh sembarang orang. Biasanya, orang yang bersemedi ingin jabatannya naik atau perdagangannya lancar. Selama tiga hari tiga malam, orang itu ngebleng atau berdiam diri di sendang yang cukup gelap itu.

Bahkan, kata Agus, Sri Sultan Hamengkubono IX pernah bersemedi di tempat itu. Konon, Sri Sultan hendak bertemu dengan penguasa pantai laut selatan, Nyi Roro Kidul. Ia percaya, sungai-sungai yang mengalir di tengah gua, bermuara di pantai laut selatan.

Gua Jatijajar sendiri ditemukan tahun 1802 oleh Djaya Menawi yang juga kakek buyutnya Agus. Ia adalah pemilik lahan di atas gua. Saat itu, ia tak sengaja menemukan gua. Sebuah lubang dengan kedalaman 24 meter membuatnya terperosok dan ia pun jatuh ke dalam gua. Beruntung ia tersangkut di akar pohon besar.

Jatijajar sendiri berasal dari kata Jati dan Jajar. Dulunya, di mulut gua ada dua batang pohon Jati berukuran raksasa tumbuh berjejer. Kelak nama gua dan desa itu menjadi Jatijajar. Dua pohon jati itu lantas ditebang dan dijadikan tiang pendopo Kadipaten Ambal.

Di pintu masuk gua, nampak ratusan tulisan tangan memenuhi dinding gua. Tulisan itu merupakan bentuk kenarsisan orang-orang Belanda dan penggede keratin yang mengunjungi tempat itu. “Tulisan dari pengunjung mulai ada tahun 1812 berisi nama-nama mereka. Tulisan itu tidak boleh dihapus karena merupakan bukti sejarah,” katanya.

Bahkan, tahun 1979, serombongan turis Belanda yang rata-rata sudah berumur 90-an pernah berwisata nostalgia ke gua itu. Mereka membaca kembali tulisan-tulisan mereka yang pernah ditorehkan di dinding gua.

Belanda, waktu itu sedang membangun jalan Deandels yang membentang dari Anyer hingga Panarukan melintasi Kebumen. Nama-nama pejabat Keraton Jogjakarta juga terpampang di dinding itu. Di situ tertulis tanggal, 21 Juni 1931.

Agus mengatakan, saat Jepang berkuasa, mereka memanfaatkan kotoran kelelawar untuk dijadikan pupuk. Dulu, kata dia, ada ribuan kelelawar tinggal di situ. “Sekarang tinggal ratusan saja,” katanya.

Kepala Pengelola Kawasan Jatijajar, Suyatno mengatakan, tahun 1981 pemerintah membangun jalan tembus untuk keluar gua. “Sebelum dibangun jalan tembus, pengunjung harus kembali ke mulut gua yang panjangnya sekitar 350 meter,” katanya.

Ia menyebutkan, kawasan itu mempunyai luas sekitar lima hektare. Selain jembatan dan jalan yang memudahkan pengunjung berkeliling gua, pengelola juga membangun pasar tradisioanal yang khusus menjajakan kerajinan tangan dan souvenir khas Kebumen.

Suyatno menambahkan, di kawasan karst Gombong Selatan terdapat sekitar 175 gua. Selain gua Pteruk, ada juga gua dempok, intan, titukan, barat, simpenan, gelatik dan lainnya. Gua tersebut masih alami sehingga biasa dimanfaatkan untuk penelitian atau olahraga caving atau susur gua.

Ia menceritakan, dulunya kawasan itu pernah akan ditambang kapurnya. Namun banyak yang menolak karena bisa merusak lingkungan dan mengancam ketersediaan air bersih di Kebumen. Menurutnya, dari sebuah hasil penelitian, di kawasan itu ada sebuah danau raksasa yang terletak di bawah kawasan karst.

Jika kawasan itu dipapras dan ditambang kapurnya, dikhawatirkan bisa menyedot persediaan air bersih. Lingkungan menjadi kering dan petani tak bisa mengolah lahannya karena air habis.

Ia menambahkan, aliran air melalui stalaktit dan stalakmit bisa dijadikan indikator lingkungan. ia menambahkan, dulunya air masih mengucur deras dari ujung stalaktit menandakan lingkungan di sekitar gua masih ijo royo-royo. Namun saat ini, air sudah tidak mengalir lagi. “Secara teori, gua ini sudah mati. Tidak ada air lagi yang mengalir. Stalaktit dan stalakmit sudah tak mungkin tumbuh,” imbuhnya.

Karena itu, saat ini Gua Petruk yang mempunyai panjang dua kilometer tidak dibangun untuk pariwisata. Gua Petruk sendiri hanya digunakan untuk penelitian sehingga proses pembentukan stalaktit dan stalakmit selama ribuan tahun akan terus terjadi.

Menikmati Keindahan Arsitektur Kampung Naga

Anggukan dan senyuman menyambut setiap orang yang datang. Kenyamanan dan kebersihan pun begitu terasa saat menurunkan kaki dari kendaraan. Tugu kujang raksasa setinggi 3 meter, yang ditopang sebuah bangunan persegi empat terbuat dari beton, menegaskan bahwa daerah ini sebagai perkampungan adat. Daerah ini bernama Kampung Adat Naga.

Perkampungan ini persis berada di kilometer 32 jalan antara Kabupaten Garut-Tasikmalaya. Secara administratif, kampung adat ini berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Jarak dari jalan utama ke perkampungan sekitar 500 meter.

Meski tidak terlalu jauh, untuk menuju perkampungan harus menyusuri anak tangga tembok sebanyak 439 buah dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Sepanjang menyelusuri anak tangga, panorama hijau perbukitan terlihat di mana-mana. Sesampainya di ujung Sungai Ciwulan, kemudian menyusuri jalan setapak sepanjang 100 meter untuk sampai di Kampung Naga yang biasa disebut Kampung Naga Dalam. Gemericik air sungai akan menemani setiap langkah menuju kampung.

Kampung Naga berada di lembah dengan batas wilayah di sebelah barat dibatasi oleh hutan keramat yang di dalamnya terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di Kabupaten Garut. Luas kampung sekitar 1,5 hektare, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan sawah.

Keunikan kampung ini terlihat dari bentuk dan konstruksi bangunan. Ornamen rumah dibuat seragam, mulai dari bahan sampai pada potongan bangunan dan arah menghadapnya. Rumah-rumah itu tersusun berderet sejajar dan tertata dengan rapi. Kondisi ini berbeda jauh dengan Kampung Naga Luar yang jaraknya sekitar 100 meter. Hampir seluruh bangunan di sini telah menggunakan dinding tembok dan genting.

Jumlah bangunan di Kampung Naga sebanyak 113 unit, di antaranya sebanyak 110 rumah, namun yang ditinggali 108 rumah. Tempat lainnya di antaranya bale pertemuan, lumbung padi, dan masjid yang letaknya sejajar menghadap ke arah timur-barat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan. Jumlah penduduknya tercatat sebanyak 108 kepala keluarga yang terdiri dari 314 jiwa.

Bangunan rumah berupa panggung berbentuk empat persegi panjang. Desain arsitektur dan interiornya sederhana, namun tertata apik, sehingga sirkulasi udara dan cahaya cukup baik masuk ke dalam ruangan. Pola ruangan dibagi dua petak, di antaranya ruang tengah dan petak kedua terdiri dari dapur, gudang (goah), dan kamar. Hal itu juga terlihat dari muka rumah yang terdiri dari dua pintu, satu pintu yang langsung ke ruang tengah dan yang satunya lagi pintu dapur.

Bahan bangunan yang digunakan di antaranya terbuat dari kayu, bambu, daun nipah, dan ijuk atau alang-alang. Rangka bangunan terbuat dari kayu. Daun nipah dan ijuk digunakan untuk bagian atap.

Jenis kayu yang digunakan berupa pohon yang tidak mengandung getah, seperti Albasiah. Sedangkan untuk daun pintu dan kusen menggunakan kayu manglid. Alasannya karena kayu dari tanaman yang mengandung getah mudah dimakan rayap dan lapuk.

Bahan yang digunakan untuk bagian ruang tengah rumah hampir semuanya terbuat dari kayu seperti pada dinding bagian luar dan lantainya. Namun, untuk dinding bagian dalam, semuanya menggunakan anyaman bambu (bilik).

Sedangkan untuk dapur lebih banyak menggunakan bambu, baik dari dinding maupun lantainya. Anyaman bambu secara vertikal dan horizontal atau biasa disebut bilik sasag digunakan bagian muka. Alasannya, agar saat memasak, asap dapat cepat keluar dari ruangan. Selain itu, bila terjadi bencana kebakaran, dapat dilihat orang yang lewat dari luar.

Tak hanya itu, lantai untuk dapur pun menggunakan belahan bambu (palupuh). Alasannya agar mudah dibersihkan. Bila ada makanan yang tercecer, bisa langsung dibuang ke bawah, di mana tempat tersebut dijadikan kandang ternak. Bahan untuk menopang bangunan, fondasi rumah terbuat dari batu yang terpasang sejumlah titik. Batu yang digunakan berupa batu papas berukuran 20 x 60 sentimeter.

Bangunan masyarakat Kampung Naga ini sebelumnya pernah rata dengan tanah pada 1956. Semua bangunan hangus dibakar oleh gerakan pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwirjo. Namun, meski begitu, bangunan yang berdiri sekarang masih tetap seperti yang dulu. “Masyarakat berhasil membangunnya kembali pada tahun 57-an. Bangunannya sama tidak ada yang berubah,” ujar salah seorang keturunan warga Kampung Naga, Darmawan, 43 tahun, yang berprofesi sebagai pemandu pengunjung yang akan ke Kampung Naga.

Tak hanya bentuk bangunan, masyarakat d isini pun hidup sederhana. Mereka dilarang untuk menggunakan listrik sebagai penerangan di malam hari dan menggunakan kompor gas. Alasannya karena banyak menimbulkan bencana seperti kebakaran. Namun, meski begitu, ada di antara sebagian masyarakat yang memiliki televisi. Mereka menggunakan accu sebagai energinya. “Kalau TV boleh, karena sebagai sarana informasi dan hiburan,” ujar Darmawan.

Menurut dia, tradisi di Kampung Naga dari dulu hingga saat ini masih tetap terjaga dengan baik. Segala hal yang dianggap tabu masih tetap dipercaya masyarakat dan tidak ada satu pun yang dilanggar. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dari setiap generasi.

Salah satu caranya, semua masyarakat dari mulai anak-anak sampai orang tua dilibatkan untuk mengikuti setiap kegiatan adat. Untuk rumah diwariskan kepada anak perempuan yang paling bungsu. Alasannya karena anak perempuan sering tinggal di rumah, bisa menjaga rumah, dan banyak mengetahui kondisi rumah dibandingkan dengan anak laki-laki yang jarang di rumah.

Kehidupan yang harmonis ini membuat semua penduduk betah tinggal di kampung ini. Menurut Darmawan, semua kebutuhan pun dapat tercukupi dengan baik. “Disini itu, sosialnya lebih tinggi, beda dengan di kota. Untuk makan sehari-hari juga tidak susah beda dengan di kota yang segalanya harus dibeli,” ujarnya.

Piknik Asyik di Pemakaman San Diego Hills

Sesosok anak perempuan berlari kecil di hamparan rumput hijau. Sesekali dia masuk ke jalan setapak, kadang juga berhenti untuk melihat bunga yang mekar di sana. Kala lari, rambut pendek si kecil tersapu embusan angin. Tawa riang tak pernah lepas dari wajah polosnya.

Usia si anak kira-kira 1,5 tahun. Namanya Holy Gracia Angel Far Far. Holy tak sendiri. Ada ayah, ibu, dan sang nenek yang berjalan mengiring dirinya.

Menjelang puncak bukit kecil, Holy mendekati sepetak tanah kubur berhias batu nisan dengan tulisan, Octavianus Far Far. Holy cium foto lelaki pada batu nisan itu. "Selamat ulang tahun opa," kata dia.

Sejurus kemudian, sang nenek, Sally Far-Far, ikut mendekati makam suaminya. "Selamat ulang tahun pa. Saya sama anak-anak dan Holy datang nih," ujar Sally seraya mengelus nisan suaminya. Ya, hari itu adalah tanggal kelahiran almarhum Octavianus. Purnawirawan polisi itu mengembuskan napas terakhirnya pada 26 November 2010 karena sakit.

Setelah anak, menantu, cucu, dan sanak saudara menyapa Octavianus, Sally pun menggelar selembar kain di sisi makam dan menata makanan yang dibawanya. Karena hari itu peringatan kelahiran sang suami, perempuan 55 tahun tersebut tak lupa membawa kue tart cokelat. "Kami rayakan ulang tahun bapak di sini," kata Sally.

Bersama anak-cucunya, Sally kerap mendatangi tanah kuburan Octavianus yang berada di San Diego Hills Memorial Park, Karawang. "Tiap tanggal 26 saya ke sini." Tidak hanya datang untuk berziarah, mereka juga piknik di sana. Kenapa Sally piknik di taman pemakaman? Alasannya, karena San Diego Hills Memorial Park tidak seperti kuburan pada umumnya yang menyeramkan. Suasana San Diego yang dibuat sedemikian rupa membuatnya seperti taman bunga.

Hamparan rumput hijau nan empuk seperti lapangan golf, jalan setapak yang dicetak dengan semen, dan sejumlah pohon bunga menyulap San Diego jauh dari kesan angker. Bahkan beberapa bangku dari batu bata dengan lapisan semen abu-abu, tebaran baru koral, serta patung malaikat menjadikan kawasan pemakaman itu cocok untuk lokasi pemotretan. Suasana seperti itulah yang membuat Sally dan keluarganya betah berlama-lama di makam Octavianus.

"Sekali datang, kami bisa menghabiskan waktu 2-3 jam di sini. Kalau ke pemakaman umum, paling lama 15-20 menit," kata Sally. Pengelolaan San Diego Hills seperti bukit taman itu pun membuat Sally tidak segan membawa serta cucunya yang masih balita. "Holy malah suka diajak ziarah. Kadang dia yang mengingatkan saya untuk mengunjungi opanya," ujar dia.

Di San Diego, Holy memang tidak datang hanya untuk mendoakan sang kakek saja. Bocah itu juga mengejar burung dara, memetik bunga krisan, menyantap makanan kesukaannya di Restoran La Collina, atau bermain air di kolam renang yang ada di sana. Suasana sedemikian rupa sengaja disuguhkan oleh si empunya taman pemakaman, Mochtar Riady, pendiri sekaligus CEO Grup Lippo.

Kata Suziany Japardy, Direktur San Diego Hills, ide membangun kawasan tersebut berawal kala Mochtar merasa tidak nyaman ketika mengunjungi makam orang tuanya di Jawa Timur. Selama berziarah, Mochtar merasa sedih melihat kondisi pemakaman yang dipenuhi pengemis, rusaknya jalanan, dan tak ada fasilitas umum, seperti toilet.

Kondisi itulah yang menurut Mochtar membuat makam hanya sekadar pengingat bagi orang tua. "Anak kecil dan kaum muda malas berlama-lama berziarah, jadinya merenggangkan persaudaraan di generasi yang lebih muda," kata Suzi.

Karena itu Mochtar memindahkan makam orang tuanya ke tanah pribadinya di Karawang, Jawa Barat. Dia pun mendapat ide untuk mengelola lahan seluas 500 hektare itu menjadi taman pemakaman. Dan simsalabim. Berdirilah San Diego Hills Memorial Park pada 2007. "San Diego itu City of God," ungkap Suzi.

San Diego Hills tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki makam anggota keluarga di sana. Masyarakat umum pun diizinkan berkunjung, tapi bukan di taman pemakamannya, melainkan pada kompleks perkantoran. Di kompleks itu, Mochtar menyediakan restoran La Collina yang menyediakan makanan ala Italia dan Nusantara; kolam renang; danau buatan; dan jogging track. Untuk berenang, pengunjung hanya dipungut bayaran Rp 20 ribu pada hari kerja dan Rp 25 ribu di akhir pekan.

"Pengunjung juga bisa menyewa sepeda seharga Rp 20 ribu per jam atau perahu dayung Rp 50 ribu untuk dua orang," kata Suzy.

Telah satu tahun Octavianus pergi, namun Sally dan keluarganya tak pernah bosan datang ke San Diego Hills. Dan bulan depan, tepatnya tanggal 26, Sally akan kembali mengunjungi makam suaminya itu. Kata dia, sejauh ini tidak ada keluhan untuk pengelolaan taman makam itu. Semua terkelola dengan baik dan rapi. "Hanya perlu lampu taman. Jadi kalau ada keluarga mendadak datang, bisa berziarah di malam hari," ujar dia.

Ke depan, Sally berencana menggelar perhelatan pernikahan anak keduanya, Ade Luther Far Far, di San Diego. Kebetulan pengelola juga menyediakan sebuah kapel di sana. "Kata Ade, tempatnya bagus untuk menggelar pernikahan ala pesta taman. Tapi nanti, kalau jodohnya sudah ada," ujar Sally.

Wisata Gunung Sadahurip Bisa Hidup dari Mitos Piramida

Meski keberadaan piramida masih diragukan, Gunung Sadahurip tetap bisa dijadikan lokasi wisata. Masyarakat bisa mengenal geologi dari gunung ini.

Pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sujatmiko adalah seorang yang menentang keras dugaan piramida di perut Sadahurip. Menurut dia gunung ini terbentuk oleh desakan magma yang perlahan, sehingga membentuk struktur limas.

Namun ia tak menafikkan tingginya minat masyarakat akan keberadaan piramida. Apalagi ia menyaksikan langsung ratusan orang berkumpul di puncak Sadahurip setelah isu ini berkembang.

"Ini menunjukkan masyarakat mencintai gunung," kata dia di Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012.

Lalu bagaimana cara mengkompromikan kealamian Sadahurip dengan minat masyarakat ini? Sujatmiko mengusulkan Pemerintah Kabupaten mempertahankan mitos piramida di dalam gunung. Hal ini dianggap wajar karena banyak lokasi wisata di dalam dan luar negeri ramai dikunjungi karena adanya mitos. "Mitos piramida akan menarik minat wisatawan," kata dia.

Atas alasan ini, ia meminta Bupati Garut agar segera membangun sarana publik di gunung ini. Upaya ini tak perlu menunggu kesimpulan akhir dari Tim Bencana Katastropik Purba yang masih mempelajari kemungkinan keberadaan piramida di balik Sadahurip.

Friday, June 17, 2011

Keindahan Pantai Anyer dan Karang Bolong

Anyer

 Pesisir pantai Anyer terletak di sisi paling barat Pulau Jawa, tepatnya di Selat Sunda. Banyak orang senang menikmati keindahan pantai di pesisir Anyer, khususnya pada saat matahari terbenam. Selain itu, pada beberapa lokasi, Anda bisa melihat langsung keindahan Gunung Anak Krakatau. Pantai Anyer yang umumnya berkarang membuat banyak pengunjungnya yang tidak dapat secara bebas bermain di pantainya.
Anyer khususnya menjadi salah satu tujuan wisata pantai yang sering dikunjungi penduduk Jakarta yang ingin menikmati suasana berbeda dari pantai Ancol, Jakarta. Jarak yang tidak terlalu jauh dari kota Jakarta, yaitu sekitar 1,5 jam perjalanan, mungkin menjadi salah satu alasan bagi para penduduknya yang ingin menikmati tenangnya suasana pantai.
Di sepanjang Jalan Raya Anyer terdapat berbagai penginapan seperti vila, resor, maupun hotel berbintang baik yang langsung menghadap ke pantai maupun di sisi seberang jalan raya tersebut. Selain itu, terdapat berbagai tempat wisata pantai yang dibuka untuk umum, di mana para wisatawan bisa berkunjung menikmati suasana pantai di Anyer.

Karang Bolong

Masih di daerah Anyer, tempat wisata Karang Bolong dapat menjadi tempat jika Anda ingin berwisata di pantai. Di sini terdapat area pantai yang cukup luas dan landai, tidak seperti lokasi pantai lainnya di area Anyer. Banyak wisatawan senang bermain pasir pantai dan berenang di Karang Bolong karena ada sebagian pantainya yang tidak berkarang sehingga Anda dapat bermain dengan lebih leluasa.
Letaknya ada di sebelah kanan jalan jika Anda menyusuri Jalan Raya Anyer menuju Carita dari Jakarta. Merupakan salah satu tempat wisata yang murah meriah dan unik. Untuk biaya parkir mobil ada di seberang jalan pintu masuk. Biaya parkir sebesar Rp 5.000,- untuk setiap mobil. Sedangkan harga tiket masuk untuk tiap pengunjung hanya Rp 5.000,- per orang.
Melewati loket pembayaran, banyak penjual yang menjual aneka dagangan. Mulai dari pakaian, mainan anak, makanan khas daerah, umang (binatang seperti keong yang biasa ada di pantai), penjual aneka pajangan dari kerang, sampai berbagai aksesories seperti kalung, gelang, pita dan kacamata.

Karang Besar yang Unik

Selanjutnya, Anda akan disuguhi pemandangan yang unik, yaitu sebuah tebing batu yang besar atau karang besar yang bagian bawahnya berlubang seolah membentuk pintu gerbang masuk menuju pantai. Itulah sebabnya mengapa pantai ini dinamakan Karang Bolong karena karang yang berlubang (bolong).
Banyak pengunjung yang menyempatkan diri untuk berfoto di di lubang karang ini karena latar belakang pemandangan yang indah. Dengan latar belakang pantai dan juga terdapat karang di dekat pantai membuat rasanya sayang jika tidak berfoto disini. Di sisi kiri lubang karang ini akar pohon yang besar sampai timbul di permukaan. Suatu pemandangan yang unik yang juga layak untuk diabadikan dalam foto.
Bagi Anda yang ingin berolahraga atau ingin menikmati pantai dengan cara yang berbeda di Karang Bolong, cobalah untuk menaiki tangga menuju bagian atas karang yang berlubang ini. Pengelola menyediakan tangga untuk menuju ke atas. Jalanan yang sedikit sempit, berkelok, dan menanjak akan sedikit terobati dengan rimbunnya pepohonan di atas karang ini. Di tengah-tengah perjalanan terdapat batang dari tanaman yang cukup besar menggantung di atas Anda membuat seolah sedang berada di rumah pohon.
Mendekati akhir perjalanan, Anda akan sedikit menuruni anak tangga. Disini terdapat tempat yang cukup lapang untuk menikmati pemandangan pantai dari atas karang. Memandang di bagian kiri dimana terlihat banyak karang di sepanjang pesisir pantai sebelah kiri atau memandang bagian kanan yang merupakan pantai dengan lebih sedikit karang sehingga banyak pengunjung yang senang bermain di pantai ini. Anda juga dapat melihat Gunung Anak Krakatau dari kejauhan sambil mendengar suara deburan ombak yang menghantam karang ini.

Pantai Karang Bolong



Selesai menjelajahi Karang Bolong ini, Anda dapat kembali untuk menikmati pantai yang ada di sisi kanan karang ini. Anda dapat duduk-duduk di pinggir pantai beralas tikar menikmati angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi. Atau duduk sambil menikmati kelapa muda dan menikmati semangkuk bakso hangat serta melihat bagaimana serunya para pengunjung lain yang bermain di pantai.
Anda dapat juga bermain air, bermain pasir atau berenang di pantai dengan menyewa ban sebagai pelampung. Pantai di kawasan ini landai dan Anda bisa berenang di pantai tersebut. Hanya saja jangan berenang terlalu jauh dan tetap memperhatikan keselamatan.
Jika suka, Anda dapat membiarkan bagian tubuh Anda di tato. Banyak pembuat tato sementara yang menawarkan motif-motif menarik untuk digambar. Tato akan hilang selama kurang lebih 2 minggu.
Ingin mencoba yang sedikit menantang? Ajaklah teman atau keluarga Anda untuk naik banana boat. Dengan harga sekitar Rp 20.000,- per orang dan kapasitas 8 orang untuk tiap banana boat, bersiaplah untuk basah karena dijatuhkan di air. Tetapi, jika Anda tidak mau basah-basahan, Anda dapat naik spead boat yang menarik banana boat untuk merasakan serunya mengelilingi laut.
Cukup banyak penjual makanan dan minuman dengan harga yang tidak terlalu mahal sehingga Anda tidak akan kelaparan atau kehausan. Jika tidak nyaman dengan baju atau celana yang basah sehabis bermain banana boat, cukup banyak pula penjual pakaian dengan nuansa pantai yang dapat juga dijadikan oleh-oleh.
Menikmati pantai di pesisir kawasan Anyer sambil menikmati uniknya Karang Bolong dapat menjadi pengalaman yang asyik untuk diceritakan dengan teman Anda.

Monday, June 13, 2011

Pesona Kawah Ijen

Kawah Ijen Siang Hari

Fotografer Olivier Grunewald - sumber  : kaskus.us
Kawah Ijen merupakan salah satu kawasan wisata yang dapat Anda kunjungi selama liburan di Jawa Timur. Kawah yang terletak di Gunung Ijen ini merupakan salah satu kawah paling asam yang terbesar di dunia. Di mana lokasi Ijen? Apa yang menarik dari kawah yang bisa dengan cepat melarutkan tubuh manusia?

Kawah Ijen terletak di puncak Gunung Ijen yang merupakan salah satu dari rangkaian gunung berapi di Jawa Timur seperti Bromo, Semeru, dan Merapi. Gunung Ijen terletak di sebelah timur Gunung Merapi (di Jawa Timur juga terdapat gunung yang memiliki nama yang sama dengan gunung di Jawa Tengah yaitu Gunung Merapi). Kawasan Wisata Kawah Ijen atau Cagar Alam Taman Wisata Ijen terletak di wilayah Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso.

Kawah Ijen terletak di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut. Yang menarik adalah kawah ini terletak di tengah kaldera yang terluas di Pulau Jawa. Ukuran kaldera sekitar 20 kilometer. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter dengan kedalaman 200 meter. Kawah ini terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera.

Mengapa Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia? Tahukah Anda berapa derajat keasaman (pH) dari kawah ini? Kawah ini memiliki tingkat keasaman yang sangat tinggi yaitu mendekati nol sehingga bisa melarutkan tubuh manusia dengan cepat. Selain itu, suhu kawah yang mencapai 200 derajat celcius menambah takjub akan kawah yang sangat besar ini. Namun, dibalik angka-angka yang membuat rasa takut tersebut, ternyata kawah ini menyajikan pesona keindahan yang juga menakjubkan. Keindahan apa saja yang bisa Anda dapatkan di Kawah Ijen?

Kawah Ijen dari atas Gunung Ijen terlihat sangat indah. Kawah ini merupakan danau yang besar berwarna hijau kebiruan dengan kabut dan asap belerang yang sangat memesona. Selain itu, udara dingin dengan suhu 10 derajat celcius, bahkan bisa mencapai suhu 2 derajat celcius, akan menambah sensasi tersendiri. Berbagai tanaman yang hanya ada di dataran tinggi juga dapat Anda temukan, seperti Bunga Edelweis dan Cemara Gunung. 

Saat pagi hari, ketika matahari mulai menyinari kawasan Kawah Ijen, pemandangan yang indah dapat Anda nikmati. Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan akan ditambah cahaya matahari yang berwarna keemasan memantul di kawah tersebut. Pemandangan menakjubkan juga dapat Anda peroleh dengan menyaksikan pesona keindahan Gunung Merapi yang berdekatan. Gunung Merapi memiliki kemiripan bentuk dengan Gunung Ijen. Saat yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Ijen adalah pada pagi hari.

Fotografer Olivier Grunewald - Penambangan Belerang Malam Hari
Untuk menuju Kawah Ijen, Anda harus menyusuri jalan setapak menyusuri tebing kaldera. Jangan lupa membawa penutup hidup karena kadang asap belerang tertiup angin melewati jalur tersebut. Anda juga dapat mengelilingi kaldera di kawasan ini yang memakan waktu mencapai 8 hingga 10 jam berjalan kaki.

Penambang Belerang Tradisional
Salah satu yang menjadi perhatian pengunjung di kawasan Kawah Ijen adalah adanya penambang belerang tradisional. Mereka dengan berani mendekati danau untuk menggali belerang dengan peralatan sederhana lalu dipikul dengan keranjang.

Para penambang belerang ini mengambil belerang dari dasar kawah. Di sini asap cukup tebal, namun dengan peralatan penutup hidung sekadarnya seperti sarung, mereka tetap mencari lelehan belerang. Lelehan belerang didapat dari pipa yang menuju sumber gas vulkanik yang mengandung sulfur. Gas ini dialirkan melalui pipa lalu keluar dalam bentuk lelehan belerang berwarna merah. Setelah membeku belerang berwarna kuning.

Setelah belerang dipotong, para penambang akan memikulnya melalui jalan setapak. Beban yang dipikul cukup berat antara 80 hingga 100 kg. Para penambang sudah terbiasa memikul beban yang berat ini sambil menyusuri jalan setapak di tebing kaldera menuruni gunung sejauh 3 kilometer.
Menuju Kawah Ijen

Anda dapat mencapai Kawah Ijen melalui dua alternatif rute. Berikut ini rute yang sering digunakan oleh para pengunjung Kawah Ijen:

Banyuwangi
Rute ini lebih sulit dilalui karena kondisi jalan yang buruk. Biasanya digunakan oleh para pendaki untuk rute pendakian Gunung Ijen. Rute ini dapat ditempuh dari Banyuwangi, lalu menuju Kecamatan Licin. Dari Licin menuju Jambu lalu ke Patulding. Dari Patulding Anda tinggal berjalan kaki melewati jalan setapak dan tebing kaldera sejauh 2 kilometer menuju Kawah Ijen. Total jarak tempuh melewati rute ini adalah 38 kilometer.

Bondowoso
Rute ini lebih mudah dilalui karena kondisi jalan yang bagus dan relatif mulus. Rute ini dapat ditempuh dari Bondowoso, lalu menuju Wonosari, lalu ke Sempol dan akhirnya ke Patulding. Dari Patulding Anda tinggal berjalan kaki melewati jalan setapak dan tebing kaldera sejauh 2 kilometer menuju Kawah Ijen. Jarak tempuh melewati rute ini adalah 70 kilometer dengan pemandangan pohon kopi dan hutan pinus yang memesona.

Random Post