Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search
Showing posts with label sumut. Show all posts
Showing posts with label sumut. Show all posts

Sunday, February 12, 2012

Samosir Disiapkan Jadi Taman Geologi Dunia

Ledakan Gunung Toba yang terjadi sekitar 75 ribu tahun lalu hampir memusnahkan umat manusia. Kini Pemerintah Kabupaten Samosir berupaya menjadikan pulau yang terletak di tengah Danau Toba itu menjadi salah satu simpul geologi dunia.

Menurut Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Pemerintah Kabupaten telah mendapat laporan mengenai fakta geologi kawasan tersebut dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Maklum saja, penelitian geologi untuk kawasan Pulau Samosir adalah yang terlengkap dibandingkan kawasan lain di sekitar Danau Toba.

Beberapa fakta yang terungkap adalah munculnya batuan dasar bumi berusia 300 juta tahun setelah terjadi ledakan. Batuan tua ini menjadi salah satu obyek penelitian penting dalam mengungkap kejadian Ledakan Gunung Toba.

"Samosir menjadi begitu penting bagi penelitian geologi, sehingga diajukan masuk sebagai jaringan Geo Park dunia," ujar Mandindar kepada wartawan di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu, 30 November 2011.

Geo Park Samosir nantinya disusun oleh 35 titik penting atau disebut sebagai geo site. Di setiap titik akan menjadi lokasi edukasi dan penelitian yang bisa dikunjungi masyarakat dan peneliti. Masyarakat dilibatkan sebagai pemandu dan penjaga setiap situs geologi ini.

Sebuah pusat informasi akan didirikan di kaki Gunung Pusuk Buhit yang terletak di tengah Danau Toba. Di lokasi ini akan dibangun denah sebaran geo site berikut penjelasan geologinya. Gunung ini memegang posisi penting bagi masyarakat Samosir karena dianggap sebagai tempat munculnya nenek-moyang mereka.

Mangindar sendiri berencana mulai membangun Geo Park tahun depan. Dana sebesar Rp 20 miliar disiapkan untuk membangun keseluruhan kompleks. Untuk pengerjaan proyek Geo Park, Pemerintah Kabupaten Samosir meminta bimbingan dari BPPT.

Kopi dan Kabut di Kelok Danau Toba

Perlu waktu berhari-hari  untuk menikmati eksotis Danau Toba. Lokasi wisata yang telah menjadi keajaiban dunia ini mengelilingi tujuh kabupaten di Sumatera Utara: Kabupaten Simalungun, Tanah Karo, Tapanuli Utara, Samosir, Toba Samosir, Dairi, dan Humbang Hasundutan.

Lumrah bila Kota Parapat, tepian Danau Toba, secara administratif masuk wilayah Kabupaten Simalungun, lebih ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Parapat merupakan jalur utama menuju Danau Toba. Daya tarik Danau Toba tak sebatas Kota Parapat. Berkunjunglah ke sudut Danau Toba lainnya, Tuk Tuk Siadong di Kabupaten Samosir, misalnya.

April lalu, saya bertolak dari Kota Medan menuju Kota Parapat. Perjalanan pada hari kerja memerlukan waktu tempuh 4 jam, berjarak 175 kilometer. Hari itu, kami menempuh waktu lebih lama satu jam karena lapisan kendaraan yang mengular begitu keluar dari Kota Pematang Siantar.

Maklum saja, ruas jalan tergolong sempit dengan sisi curam dan volume kendaraan yang lalu-lalang berbagai jenis menyebabkan laju kendaraan tidak bisa maksimal.

Jalan menanjak, menurun, dan berbukit tentu membosankan dan mengkhawatirkan keselamatan. Rambu peringatan serta panorama hijau dari barisan pohon cemara menjadi obat penenang di perjalanan. Wajah selalu berpaling ke sisi kiri dan kanan, memetik keindahan alamnya.

Dua kelokan terakhir mengantar kami menuju mulut Kota Parapat. Jalur menurun melahirkan keindahan tersendiri dengan pandangan hamparan air biru Danau Toba. Kendaraan yang membawa kami berhenti di sisi kelokan menurun, persis di depan warung yang berjejal. Beberapa rekan turun dari kendaraan, mengabadikan tepian Kota Parapat dari sudut kelokan ini. Yang lainnya melepas lelah dengan suguhan minuman segar dan kacang produksi petani di Tanah Batak.

Dari warung ini, terilhat air Danau Toba ternyata tak biru lagi. Ratusan kerambah apung yang bertebar dituding menjadi penyebab tercemarnya air Danau Toba. Keberadaan kerambah mencederai panorama Parapat, dengan pagar bangunan hotel berbaris mengikuti lekukan Danau Toba, dengan latar gundukan bukit.

Terpaan angin danau membikin kami terlena oleh waktu yang kian mendekati malam. Semula, kami ingin melanjutkan perjalanan langsung ke Tuk Tuk Siadong. Setibanya di Pelabuhan Ajibata, Kota Parapat, niat tersebut kami urungkan melihat antrean panjang kendaraan menunggu feri penyeberangan ke Kabupaten Samosir. Untuk menikmati malam ini, kami memutuskan istirahat di hotel kawasan Parapat.

Danau Toba. Beruntung salah satu hotel tengah menggelar diskon kamar, putusan diambil tanpa ragu. Dari kawasan penginapan yang berada di dataran tinggi ini, pemandangan Danau Toba begitu luas dipandang. Sayangnya, malam itu, manajemen hotel meniadakan acara untuk tamu hotel. Jadinya, malam itu kami isi dengan duduk memandang danau yang hitam pekat.

Embun pagi belum mengering saat kami meninggalkan hotel menuju Pelabuhan Ajibata. Dugaan kami, pagi ini, penyeberangan menuju Tomok, Kabupaten Samosir, akan lengang. Lagi-lagi asumsi itu nyaris salah.

Feri penyeberangan telah bersandar di Pelabuhan Ajibata. Beruntung kendaraan kami dan empat kendaraan lain yang berada di belakang kami diperkenankan memasuki feri, tentu setelah membeli tiket penyeberangan dengan harga Rp 95 ribu. Menyeberang ke Tomok diperlukan waktu paling lama 60 menit.

Usai memarkirkan kendaraan dan gerbang feri ditutup, suara menderu dari mesin feri memekakkan telinga untuk beberapa saat. Namun kondisi yang menjengkelkan ini mencair dengan keberadaan tiga bocah koin. Tiga anak laki-laki yang semula berpakaian lengkap seketika melepaskan seluruh pakaiannya. Mereka dengan akrab menggapai pembatas feri, berdiri bersama. Dalam hitungan, serempak mereka menceburkan diri ke Danau Toba.

"Ayo Pak, lemparkan uang koinnya," seru ketiga bocah dengan beratraksi di dalam air. Beberapa penumpang menanggapi seruan ketiga bocah laki-laki itu, sedangkan penumpang lainnya hanya menonton dan tersenyum. "Ini tangkap," ujar seorang penumpang perempuan seraya melemparkan uang koin ke dalam air.

Ketiga bocah berlomba menyelam. Tak ada kegaduhan di antara ketiga bocah itu. Siapa yang terlebih dulu meraih koin yang tenggelam dialah pemenang dan pemilik uang. Koin yang didapat itu disimpan di mulut mereka dan mereka menunggu koin dari penumpang lainnya.

Feri pun mulai meninggalkan pelabuhan. Bentangan Danau Toba dan perbukitan menjadi teman pemandangan sepanjang perjalanan. Untuk menghilangkan kebosanan dalam perjalanan, menikmati kopi di lantai dua feri adalah salah satu cara yang kerap dilakukan penumpang di sini. Dari lantai dua ini pula mata semakin luas memandang.

Suasana Pelabuhan Tomok, Kabupaten Samosir, tidak berbeda jauh dengan kondisi Pelabuhan Ajibata. Selepas melewati pintu pelabuhan, jejeran warung dan kios penjual suvenir berbaris memanjang.

Pendaratan kami di pelabuhan ini disambut rintik hujan. Perjalanan segera kami lanjutkan tanpa menyempatkan diri menikmati nuansa pelabuhan, apalagi mencari suvenir khas dari kawasan ini berupa ukiran kayu. Mengambil arah ke kanan, kendaraan kami pacu menembus jalan selebar 2,5 meter.

Pohon cemara, tanaman ciri khas di kawasan Danau Toba, yang mengapit sisi jalan. Setelah menempuh perjalanan 30 menit, kami memasuki Desa Tuk Tuk Siadong, Kecamatan Simanindo, yang ditandai dengan gapura desa.

Jalan berkelok dengan pemandangan bukit masih menjadi panorama tersaji. Tuk Tuk Siadong, desa dengan industri pariwisata yang terus berkembang. Di kawasan ini, sejumlah hotel berdiri megah. Para penduduk pun menyediakan rumah kontrakan, mayoritas dihuni oleh para wisatawan luar negeri.

Berbekal informasi rekan, kami pun menuju ujung Tuk Tuk Siadong untuk menemukan hotel dengan tarif relatif murah dan pemandangan indah. Benar saja, mendekati hotel yang direkomendasikan oleh teman, belasan kendaraan telah parkir di halaman hotel. Beberapa turis tengah berjalan kaki menikmati alam desa itu.

Sebagian hotel di kawasan ini ternyata memiliki sarana transportasi penyeberangan dari Ajibata dan Tomok, yang langsung bersandar di areal hotel, kebanyakan berdiri di bibir danau. Kami pun tiba di Hotel Carolina. Areal ini begitu asri, dengan pohon beringin besar kokoh berdiri dan pohon kelapa, menjadikan tempat ini benar-benar tujuan berwisata dan istirahat yang mengasyikkan. Sayangnya, kamar yang menghadap danau ternyata telah penuh dipesan. Dengan terpaksa kami menempati kamar yang menghadap sisi lain.

Hujan yang mengiringi perjalanan telah reda, namun matahari masih tertutup kabut. Menunggu senja, menikmati pemandangan danau, bermain di dinginnya air danau dan juga memancing, kegiatan alternatif yang cukup menghibur.

Menjelang senja, kafetaria hotel menjadi pilihan bersantai sambil menyeruput kopi. Sayangnya, kami kalah cepat dibanding turis yang telah memenuhi kursi di beranda kafetaria, menghadap danau. Seperti halnya mereka, kami pun tak ingin melewatkan keindahan saat matahari terbenam.

Harapan melihat sunset dari sudut Danau Toba ternyata gagal. Kabut yang tak kunjung menghilang menjadi penghalang keindahan sunset dari kawasan ini. Meski begitu, Tuk Tuk Siadong menjadi salah satu sudut Danau Toba yang eksotisme.

Menikmati Pesona Karo

Berada lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut menjadikan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, beriklim 18 derajat Celsius. Memasuki Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, udara dingin mulai menyergap kulit. Kecamatan Sibolangit merupakan wilayah perbatasan Deli Serdang dan Kabupaten Karo.

Roda kendaraan kami melambat di jalan menanjak yang berkelok. Pengendara yang melintasi jalur ini kudu ekstra hati-hati. Ruas jalan tidak lebar, dilalui berbagai jenis kendaraan seperti trailer. Jalur bergelombang lantaran topografi Kabupaten Karo berada di dataran tinggi.

Daerah ini memiliki dua gunung berapi aktif, Gunung Sinabung dan Sibayaak, telah bangun dari tidur panjangnya. Sudah tentu pula Bukit Barisan, menambah pigura panorama Kabupaten Karo. Bukit Barisan merupakan pegunungan yang membentang di Pulau Sumatera.

Lintasan menuju Karo tergolong rawan kecelakaan lalu lintas. Lantaran beberapa kelokan, di antaranya kelokan tajam hingga 180 derajat, terhalang pepohonan dan ilalang menyebabkan pandangan mata terbatas.

Tiga sopir pikap tidak menghiraukan rute berbahaya itu. Menjelang tikungan, kendaraan pikap menyalip kendaraan kami dan dua kendaraan di depan. Secara mendadak, sopir pikap membanting setir ke kiri dan mengerem pakem. Truk melon dari arah Karo tiba-tiba muncul. Beruntung tidak terjadi kecelakaan, walau jarak kedua kendaraan hanya beberapa sentimeter saja. ”Rasain kau!” ujar Jon, teman saya yang mengemudikan kendaraan.

Pekan kedua Januari 2012 saya dan dua teman mengunjungi Kabupaten Karo untuk melepaskan penat dari aktivitas sehari-hari. Karo menjadi alternatif tujuan wisata. Kabupaten ini menyuguhkan beragam tempat rekreasi. Mulai dari Kota Berastagi. Kota ini memiliki sejarah dan kedekatan dengan Bung Karno. Pada Desember 1948, Sang Proklamator, bersama dua tokoh lainnya: Sutan Sjahrir dan Agus Salim, diasingkan oleh Belanda di kota ini.

Karo pun memiliki dua air terjun. Sipiso-piso dan Sikulikap, Bukit Gundaling, di Kecamatan Berastagi, telah tersohor sebagai kawasan puncak yang kerap diramaikan pengunjung domestik dan mancanegara. Dari dataran Gundaling, panorama alam begitu nikmat dipandang dengan latar Gunung Sinabung dan Sibayak. Di sini kuda ataupun dokar menjadi transportasi khas.

Selain panorama, Gundaling dan Berastagi dikenal sebagai pusat flora. Kabupaten Karo adalah salah satu daerah potensi hortikultura di Provinsi Sumatera Utara. Tak mengherankan bila Karo menjadi daerah agrowisata. Mayoritas pasar di Kota Medan dan provinsi lainnya mendapat pasokan sayur-mayur hasil tani di Karo.

Karo juga mengeksploitasi panorama Danau Toba dari kawasan Tongging, dan sudah tentu Danau Toba sendiri, meliputi beberapa kabupaten di Sumatera Utara.

Ada juga Danau Lau Kawar, danau yang berada di kaki Gunung Sinabung. Areal ini menjadi kawasan favorit bagi para mahasiswa dan keluarga untuk menikmati malam dengan membakar api unggun dan tidur di dalam tenda. Pencinta alam yang hendak mendaki Gunung Sinabung kerap melalui Lau Kawar.

Seperti halnya Danau Toba, Danau Lau Kawar memiliki kedalaman yang sulit dijangkau--tak terukur. Lokasi wisata terakhir yang kerap dikunjungi bila berwisata ke Kabupaten Karo adalah pemandian air hangat atau disebut Lau Debuk-Debuk.

Tiba-tiba Jon melontarkan ide untuk istirahat di kawasan Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Untuk tiba di Karo dari Kota Medan perlu waktu 2 jam. Saat musim liburan waktu tempuh bisa lebih dari 4 jam. ”Mau tiduran dulu di kawasan ini,” ucap Jon disertai tawa. Tawanya sebagai isyarat mengenalkan kawasan ini.

Bandar Baru, entah dimulai sejak tahun berapa, tersohor sebagai daerah prostitusi. Ide itu sama-sama kami tepis. Perjalanan kami lanjutkan di siang yang cerah itu. Matahari bersinar penuh, sinarnya berpendar menerobos daun dan ranting pohon, menciptakan cahaya dan kilatan, membantu mengusir dingin.

Memasuki wilayah Kabupaten Karo kami disambut dengan dagangan jagung bakar. Lokasi ini populer disebut Panatapan. Warung dibangun pada bibir curam, di jalur berkelok. Ini areal pilihan bagi pengunjung sekadar melepas lelah atau menyegarkan diri dari kursi kendaraan.

Keramaian baru terasa menjelang senja hingga malam hari. Dari Panatapan Jagung Bakar ini memandang sunset menjadi kepuasan tersendiri. Kala malam tiba, jutaan cahaya bohlam dari Kota Medan menjadi sajian pandangan lainnya.



Mejuah-juah, slogan di bumi Karo, mudah ditemukan di gapura, pusat bisnis, tentu juga di obyek wisata di kabupaten ini. Memasuki Kota Berastagi, aura wisata begitu kentara. Jajaran gazebo berarsitektur rumah adat Karo, silawuh jabu, atau suah berderet membelah jalan protokol hingga bundaran Tugu Perjuangan di Kecamatan Berastagi, berpopulasi 23.161 jiwa.

Pria kais kuda menuntun hewan itu yang ditunggangi seorang pria bule, berkeliling Kota Berastagi. K. Sembiring, penyedia jasa transportasi kuda, mengaku dalam sehari bisa memperoleh penghasilan sedikitnya Rp 250 ribu. “Hari tahun baru kemarin lumayan banyaklah,” kata Sembiring dengan bibir melebar.

Untuk sekali rute, penyedia jasa kuda dan sado memasang tarif Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu. Penyedia jasa kuda dan delman bisa ditemui di tiga tempat, Pasar Buah (Taman Menjuah-juah), Gundaling, dan Bukit Kubuh.

Kami tak meneruskan perjalanan ke Gundaling. Perut memaksa kami berhenti di areal Pasar Buah atau juga disebut Taman Mejuah-juah. Di bagian belakang terdapat deretan rumah makan. Menu pesanan telah tersaji, langsung kami lahap. Udara dingin menambah selera makan.

Rehat di jantung Kota Berastagi membikin kami terlena akan waktu. Kami duduk di rumah makan yang di bagian dindingnya bertengger foto beberapa artis Ibu Kota, menandakan mereka pernah berkunjung dan menyantap menu di rumah makan ini, melihat aktivitas para pengunjung yang saling tawar tarif kuda dan dokar.

Dagangan bunga, pusat perbelanjaan buah hasil tani, toko-toko suvenir, dan beberapa lapak pakaian eks impor, menjadi daya tarik dan hiruk pikuk kota ini. Sayangnya, di jalan protokol kota ini tumpukan sampah berserakan. ”Makin parah kota ini, di mana-mana sudah banyak tumpukan sampah,” seru  sopir angkutan kota mengenalkan dirinya bermarga Ketaren.

Tiga jam sudah kami menghabiskan waktu di Kota Berastagi. Karena liburan kali ini dilakukan tanpa rencana, jadi kami memutuskan tidak mencari penginapan. Infrastruktur wisata di Karo tergolong lengkap. Berbagai hotel dan penginapan tidak sulit untuk mendapatkannya, dengan harga bersaing.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.45 WIB, kami pun meninggalkan Kota Berastagi. Di inti kota, kemacetan terjadi. “Tahun baru kemarin macetnya minta ampun panjangnya,” ujar pengendara Toyota Fortuner yang terjebak kemacetan seperti kami.

Di sela waktu singkat itu si pengendara yang bernama Dermawan, seorang pengusaha leveransir di Kota Medan, sengaja memilih Karo sebagai liburan. Di tahun baru lalu ia memboyong keluarganya ke mari.

Saat itu seluruh obyek wisata di Karo dipenuhi pengunjung. “Di Tongging juga cukup ramai. Beruntung kami (saat itu) mendapatkan kamar di Taman Resor Simalem,” ujar dia.

Taman Resor Simalem adalah salah satu areal perhotelan berkelas di Kabupaten Karo. Pengakuan Dermawan tidak berlebihan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu sendiri memilih Kabupaten Karo menghabiskan liburan akhir tahun 2011. Lokasinya berada di perbukitan, memanjakan tamu hotel dan pengunjung menikmati pemandangan Danau Toba juga permukiman warga yang berada di pinggiran Danau Toba.

Sempritan personel polisi lalu lintas mengakhiri perbincangan saya dengan pengendara itu.

”Singgah di rumah Bung Karno saja, menghindari kemacetan,” ujar Samhadi. Tanpa didebat, saya dan Jon menerima saran teman kami itu.

Rumah pengasingan Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim berada tak jauh dari jantung Kota Berastagi, tepatnya di Desa Lau Gumba, Kecamatan Berastagi. Lokasi itu juga tak jauh dari Bukit Kubuh, salah satu taman rekreasi di Berastagi. Memasuki Jalan Sampurna, kendaraan kami meluncur melalui aspal yang kupak-kapik dan menanjak.

Rumah pengasingan Proklamator Kemerdekaan Indonesia memiliki areal sekitar 2 hektare. Di atasnya berdiri bangunan yang terbagi dua. Rizal, pengurus rumah pengasingan, secara sukarela menjadi pemandu pada kunjungan kami di bangunan bercat serba putih itu. Rizal menyebutkan bangunan ini telah dipugar. ”Dulunya di sini hanya ada dua kamar. Satu kamar ditempati Bung Karno, dan kamar di depan itu ditempati Agus Salim dan Sjahrir,” tutur Rizal begitu kami memasuki bangunan utama.

Tak ada lagi benda jejak Soekarno yang masih tertinggal di rumah ini. Bangunan belakang dihuni pembantu dan serdadu Belanda yang ditugasi mengawasi 24 jam ketiga tokoh itu.

Kamar seluas 5x8 meter yang dulu menjadi kamar istirahat Bung Karno kini diisi dengan empat tempat tidur, satu tempat tidur ukuran satu orang. Rizal menerangkan salah satu dari tempat tidur itu merupakan kasur Bung Karno. ”Persisnya yang mana saya tidak tahu,” ujar dia. Di kamar ini terdapat kamar mandi. ”Kamar mandi sudah beberapa kali direnovasi. Terakhir bangunan ini dipugar pada 2005,” kata dia. Di tahun itu juga, anak Bung Karno, Guruh Soekarno Putra, menempatkan arca Bung Karno, terbuat dari perunggu, di halaman rumah pengasingan. Arca Bung Karno, setinggi tujuh meter, berpose duduk dengan kaki kanan ditumpukkan di paha kaki kiri. Kedua tangan bertumpu pada paha kaki kanan.

Di ruang tamu Rizal hanya menerangkan tiga bingkai foto, hitam putih, menempel di dinding. Foto-foto itu mengabadikan senyuman dan cengkerama Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim bersama serdadu Belanda. Halaman bagian kanan berdiri kokoh pohon jenis cemara. ”Di bawah pohon itu Bung Karno sering mengajak tentara Belanda yang menjaganya berdiskusi,” kata Rizal.

Pada hari libur, Rizal mengamini, kawasan situs sejarah ini menjadi obyek kunjungan wisata. Tidak semua pengunjung diperkenankan masuk ke dalam bangunan, yang kini menjadi mes Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara.

Monday, June 20, 2011

Taman Nasional Batang Gadis

Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) adalah sebuah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara, terletak di 99° 12’ 45" BT sampai dengan 99° 47’ 10" dan 0° 27’ 15" sampai dengan 1° 01’ 57" LU dan secara administrasi wilayah ini dikelilingi 68 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal. Nama taman nasional ini berasal dari dari nama sungai utama yang mengalir dan membelah Kabupaten Madina, Sungai Batang Gadis.

TNBG meliputi kawasan seluas 108.000 hektar atau 26% dari total luas Madina yang terletak pada ketinggian 300 s/d 2.145 meter di atas permukaan laut dengan titik tertinggi puncak Gunung Sorik Merapi.
Tujuan pembentukan taman nasional adalah untuk menyelamatkan satwa dan habitat alam. TNBG juga sebagai simbol pengakuan nilai-nilai kearifan lokal dalam mengelola hutan.

Salah satu kearifan tradisional masyarakat setempat ini dibuktikan dengan lubuk larangan atau naborgo-borgo atau harangan rarangan atau hutan larangan, merupakan beberapa contoh kearifan lokal yang hingga kini masih lestari

Monday, June 13, 2011

Pesona Danau Toba dan Pulau Samosir

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara. Danau ini lebih mirip lautan dibandingkan danau. Suasana yang adem dan menyegarkan, pemandangan yang indah dan memesona, dengan pegunungan yang mengelilingi daerah ini akan membuat Anda betah. Pulau Samosir terletak dengan megahnya di tengah-tengah pulau. Di tengah-tengah Samosir, masih ada danau lagi, yang menambah keunikan tempat wisata ini.

Danau yang luas ini memiliki nilai magis dan kosmologis, karena dipercaya sebagai tempat berdiamnya Namborru (tujuh dewi leluhur Suku Batak). Bilamana masyarakat Suku Batak ingin menggelar acara adat di sekitar danau, mereka harus terlebih dahulu memohon izin kepada Namborru. Seperti dalam perayaan Pesta Rakyat Danau Toba yang setiap tahunnya digelar, beberapa ritual dilakukan terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Keindahan Danau Toba sangat  mengagumkan. Danau itu dikelilingi oleh perbukitan, sehingga suasana di sekitar  danau terasa nyaman, udaranya segar dan sejuk. Para pengunjung dapat menikmati  keindahannya dengan berenang atau pun menyewa perahu motor, mengitari sekitar  danau. Di sore hari, pengunjung dapat menikmati suasana yag lebih hening dengan  pemandangan cahaya matahari terbenam yang begitu indah

Danau Toba berkedalaman kurang lebih 450 meter. Terletak 906 meter di atas permukaan laut, tempat ini merupakan surga bagi banyak tumbuhan menarik.Ada banyak pilihan menikmati Danau Toba dengan mudah dan murah, salah satunya, kunjungi salah satu café-cafe disepanjang pantai Lumban Silintong, duduk santai sembari memesan satu gelas Jus dengan melihat mata telanjang cukup mengeluarkan sepulu recehan ribuhan, kita dapat mengamati kedahsyatan Danau Toba yang terbentang dengan begitu luas, juga mengasyikkan menikmati keindahan Danau Toba merupakan kenangan yang tidak terlupakan.


Dengan menggunakan mobil sewaan dari kota Medan, Anda dapat mencapai Parapat dalam waktu kurang lebih 4 jam. Parapat terletak sekitar 185 kilometer jauhnya dari ibu kota Sumatra Utara. Anda juga dapat menggunakan bus atau mengikuti tur untuk mengunjungi danau ini. Berbagai penginapan dan hotel tersedia di Parapat. Beberapa hotel malah menyediakan fasilitas seperti kolam renang dan jacuzzi untuk memanjakan tamu-tamunya.

Jangan lupa untuk membeli suvenir seperti T Shirt, topi, gantungan kunci, dan sebagainya dapat Anda beli di Medan, Parapat, ataupun di Pulau Samosir. Di Tuk Tuk Anda dapat membeli kerajinan khas suku Batak yang unik--misalnya ulos, ukiran khas, kalender Batak, alat musik tradisional, dan lain sebagainya.
 Pulau Samosir, siapa yang tidak mengenalnya? Pulau yang terletak ditengah-tengah Danau Toba. Pulau Samosir itu sendiri dikelilingi oleh pegunungan, kemana pun mata kita memandang kita akan selalu menemukan pegunungan. Tak heran udara di sana pun sangat dingin. Mengingat Pulau Samosir terletak di dataran tinggi sekitar 700 " 1.995 mdpl.

Untuk menuju ke pulau Samosir itu sendiri dapat di tempuh dengan dua cara, yang pertama kita dapat menyeberang danau Toba melalui Ajibata dan yang kedua kita dapat melewati Brastagi. Keduanya tinggal anda yang menentukan. Keindahan pulau Samosir akan membuat anda terbuai oleh hijaunya gunung dan sejuknya udara. Anda akan benar-benar merasa segar kembali setelah melewati satu malam di Pulau Samosir.


Tempat Menginap
tempat menginap di Samosir banyak dan beragam. masing-masing menawarkan pemadangan yang paling indah dari Danau Toba. Penginapan-penginapan tersebut terlekat di pinggiran Danau Toba

Berkeliling
Untuk berkeliling di sekitar pulau Samosir, anda dapat menggunakan BeMo (Becak Motor) yang sangat terkenal di Sumatera Utara, biayanya sekitar Rp.3000 " Rp 10.000,- tergantung jauh dekatnya tujuan anda. Atau anda dapat menggunakan kendaraan umum.

Tempat Bersantap
Untuk di Samosirnya sendiri, tempat makan pun sangat banyak. Dari mulai masakan cina sampai dengan masakan jawa. Tinggal pilih sesuai selera anda.

Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan
Anda dapat berjalan-jalan mengelilingi Pulau Samosri, anda dapat memancing di pinggir danau Toba dan anda dapat mengunjungi objek-objek wisata yang ada disana. Atau anda dapat mencuci mata di daerah Tomok

Tips
  • Udara Pulau Samosir bila malam sangat dingin, bagi anda yang tidak terbiasa dengan udara dingin jangan lupa membawa jacket yang tebal.
  • Teliti dalam memilih tempat makan terutama bagi anda yang Muslim.

Random Post