Berada lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut menjadikan
Kabupaten Karo, Sumatera Utara, beriklim 18 derajat Celsius. Memasuki
Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, udara dingin mulai
menyergap kulit. Kecamatan Sibolangit merupakan wilayah perbatasan Deli
Serdang dan Kabupaten Karo.
Roda kendaraan kami melambat di jalan
menanjak yang berkelok. Pengendara yang melintasi jalur ini kudu ekstra
hati-hati. Ruas jalan tidak lebar, dilalui berbagai jenis kendaraan
seperti trailer. Jalur bergelombang lantaran topografi Kabupaten Karo
berada di dataran tinggi.
Daerah ini memiliki dua gunung berapi
aktif, Gunung Sinabung dan Sibayaak, telah bangun dari tidur panjangnya.
Sudah tentu pula Bukit Barisan, menambah pigura panorama Kabupaten
Karo. Bukit Barisan merupakan pegunungan yang membentang di Pulau
Sumatera.
Lintasan menuju Karo tergolong rawan kecelakaan lalu
lintas. Lantaran beberapa kelokan, di antaranya kelokan tajam hingga 180
derajat, terhalang pepohonan dan ilalang menyebabkan pandangan mata
terbatas.
Tiga sopir pikap tidak menghiraukan rute berbahaya itu.
Menjelang tikungan, kendaraan pikap menyalip kendaraan kami dan dua
kendaraan di depan. Secara mendadak, sopir pikap membanting setir ke
kiri dan mengerem pakem. Truk melon dari arah Karo tiba-tiba muncul.
Beruntung tidak terjadi kecelakaan, walau jarak kedua kendaraan hanya
beberapa sentimeter saja. ”Rasain kau!” ujar Jon, teman saya yang
mengemudikan kendaraan.
Pekan kedua Januari 2012 saya dan dua
teman mengunjungi Kabupaten Karo untuk melepaskan penat dari aktivitas
sehari-hari. Karo menjadi alternatif tujuan wisata. Kabupaten ini
menyuguhkan beragam tempat rekreasi. Mulai dari Kota Berastagi. Kota ini
memiliki sejarah dan kedekatan dengan Bung Karno. Pada Desember 1948,
Sang Proklamator, bersama dua tokoh lainnya: Sutan Sjahrir dan Agus
Salim, diasingkan oleh Belanda di kota ini.
Karo pun memiliki dua
air terjun. Sipiso-piso dan Sikulikap, Bukit Gundaling, di Kecamatan
Berastagi, telah tersohor sebagai kawasan puncak yang kerap diramaikan
pengunjung domestik dan mancanegara. Dari dataran Gundaling, panorama
alam begitu nikmat dipandang dengan latar Gunung Sinabung dan Sibayak.
Di sini kuda ataupun dokar menjadi transportasi khas.
Selain
panorama, Gundaling dan Berastagi dikenal sebagai pusat flora. Kabupaten
Karo adalah salah satu daerah potensi hortikultura di Provinsi Sumatera
Utara. Tak mengherankan bila Karo menjadi daerah agrowisata. Mayoritas
pasar di Kota Medan dan provinsi lainnya mendapat pasokan sayur-mayur
hasil tani di Karo.
Karo juga mengeksploitasi panorama Danau Toba
dari kawasan Tongging, dan sudah tentu Danau Toba sendiri, meliputi
beberapa kabupaten di Sumatera Utara.
Ada juga Danau Lau Kawar,
danau yang berada di kaki Gunung Sinabung. Areal ini menjadi kawasan
favorit bagi para mahasiswa dan keluarga untuk menikmati malam dengan
membakar api unggun dan tidur di dalam tenda. Pencinta alam yang hendak
mendaki Gunung Sinabung kerap melalui Lau Kawar.
Seperti halnya
Danau Toba, Danau Lau Kawar memiliki kedalaman yang sulit dijangkau--tak
terukur. Lokasi wisata terakhir yang kerap dikunjungi bila berwisata ke
Kabupaten Karo adalah pemandian air hangat atau disebut Lau
Debuk-Debuk.
Tiba-tiba Jon melontarkan ide untuk istirahat di
kawasan Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Untuk
tiba di Karo dari Kota Medan perlu waktu 2 jam. Saat musim liburan
waktu tempuh bisa lebih dari 4 jam. ”Mau tiduran dulu di kawasan ini,”
ucap Jon disertai tawa. Tawanya sebagai isyarat mengenalkan kawasan ini.
Bandar Baru, entah dimulai sejak tahun berapa, tersohor sebagai
daerah prostitusi. Ide itu sama-sama kami tepis. Perjalanan kami
lanjutkan di siang yang cerah itu. Matahari bersinar penuh, sinarnya
berpendar menerobos daun dan ranting pohon, menciptakan cahaya dan
kilatan, membantu mengusir dingin.
Memasuki wilayah Kabupaten
Karo kami disambut dengan dagangan jagung bakar. Lokasi ini populer
disebut Panatapan. Warung dibangun pada bibir curam, di jalur berkelok.
Ini areal pilihan bagi pengunjung sekadar melepas lelah atau menyegarkan
diri dari kursi kendaraan.
Keramaian baru terasa menjelang senja hingga malam hari. Dari Panatapan Jagung Bakar ini memandang
sunset menjadi kepuasan tersendiri. Kala malam tiba, jutaan cahaya bohlam dari Kota Medan menjadi sajian pandangan lainnya.

Mejuah-juah,
slogan di bumi Karo, mudah ditemukan di gapura, pusat bisnis, tentu
juga di obyek wisata di kabupaten ini. Memasuki Kota Berastagi, aura
wisata begitu kentara. Jajaran gazebo berarsitektur rumah adat Karo,
silawuh jabu, atau suah berderet membelah jalan protokol hingga bundaran
Tugu Perjuangan di Kecamatan Berastagi, berpopulasi 23.161 jiwa.
Pria
kais kuda menuntun hewan itu yang ditunggangi seorang pria bule,
berkeliling Kota Berastagi. K. Sembiring, penyedia jasa transportasi
kuda, mengaku dalam sehari bisa memperoleh penghasilan sedikitnya Rp 250
ribu. “Hari tahun baru kemarin lumayan banyaklah,” kata Sembiring
dengan bibir melebar.
Untuk sekali rute, penyedia jasa kuda dan
sado memasang tarif Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu. Penyedia jasa kuda
dan delman bisa ditemui di tiga tempat, Pasar Buah (Taman Menjuah-juah),
Gundaling, dan Bukit Kubuh.
Kami tak meneruskan perjalanan ke
Gundaling. Perut memaksa kami berhenti di areal Pasar Buah atau juga
disebut Taman Mejuah-juah. Di bagian belakang terdapat deretan rumah
makan. Menu pesanan telah tersaji, langsung kami lahap. Udara dingin
menambah selera makan.
Rehat di jantung Kota Berastagi membikin
kami terlena akan waktu. Kami duduk di rumah makan yang di bagian
dindingnya bertengger foto beberapa artis Ibu Kota, menandakan mereka
pernah berkunjung dan menyantap menu di rumah makan ini, melihat
aktivitas para pengunjung yang saling tawar tarif kuda dan dokar.
Dagangan
bunga, pusat perbelanjaan buah hasil tani, toko-toko suvenir, dan
beberapa lapak pakaian eks impor, menjadi daya tarik dan hiruk pikuk
kota ini. Sayangnya, di jalan protokol kota ini tumpukan sampah
berserakan. ”Makin parah kota ini, di mana-mana sudah banyak tumpukan
sampah,” seru sopir angkutan kota mengenalkan dirinya bermarga Ketaren.
Tiga
jam sudah kami menghabiskan waktu di Kota Berastagi. Karena liburan
kali ini dilakukan tanpa rencana, jadi kami memutuskan tidak mencari
penginapan. Infrastruktur wisata di Karo tergolong lengkap. Berbagai
hotel dan penginapan tidak sulit untuk mendapatkannya, dengan harga
bersaing.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.45 WIB, kami pun
meninggalkan Kota Berastagi. Di inti kota, kemacetan terjadi. “Tahun
baru kemarin macetnya minta ampun panjangnya,” ujar pengendara Toyota
Fortuner yang terjebak kemacetan seperti kami.
Di sela waktu
singkat itu si pengendara yang bernama Dermawan, seorang pengusaha
leveransir di Kota Medan, sengaja memilih Karo sebagai liburan. Di tahun
baru lalu ia memboyong keluarganya ke mari.
Saat itu seluruh
obyek wisata di Karo dipenuhi pengunjung. “Di Tongging juga cukup ramai.
Beruntung kami (saat itu) mendapatkan kamar di Taman Resor Simalem,”
ujar dia.
Taman Resor Simalem adalah salah satu areal perhotelan
berkelas di Kabupaten Karo. Pengakuan Dermawan tidak berlebihan.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu sendiri
memilih Kabupaten Karo menghabiskan liburan akhir tahun 2011. Lokasinya
berada di perbukitan, memanjakan tamu hotel dan pengunjung menikmati
pemandangan Danau Toba juga permukiman warga yang berada di pinggiran
Danau Toba.
Sempritan personel polisi lalu lintas mengakhiri perbincangan saya dengan pengendara itu.
”Singgah
di rumah Bung Karno saja, menghindari kemacetan,” ujar Samhadi. Tanpa
didebat, saya dan Jon menerima saran teman kami itu.
Rumah
pengasingan Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim berada tak jauh dari
jantung Kota Berastagi, tepatnya di Desa Lau Gumba, Kecamatan
Berastagi. Lokasi itu juga tak jauh dari Bukit Kubuh, salah satu taman
rekreasi di Berastagi. Memasuki Jalan Sampurna, kendaraan kami meluncur
melalui aspal yang kupak-kapik dan menanjak.
Rumah pengasingan
Proklamator Kemerdekaan Indonesia memiliki areal sekitar 2 hektare. Di
atasnya berdiri bangunan yang terbagi dua. Rizal, pengurus rumah
pengasingan, secara sukarela menjadi pemandu pada kunjungan kami di
bangunan bercat serba putih itu. Rizal menyebutkan bangunan ini telah
dipugar. ”Dulunya di sini hanya ada dua kamar. Satu kamar ditempati Bung
Karno, dan kamar di depan itu ditempati Agus Salim dan Sjahrir,” tutur
Rizal begitu kami memasuki bangunan utama.
Tak ada lagi benda
jejak Soekarno yang masih tertinggal di rumah ini. Bangunan belakang
dihuni pembantu dan serdadu Belanda yang ditugasi mengawasi 24 jam
ketiga tokoh itu.
Kamar seluas 5x8 meter yang dulu menjadi kamar
istirahat Bung Karno kini diisi dengan empat tempat tidur, satu tempat
tidur ukuran satu orang. Rizal menerangkan salah satu dari tempat tidur
itu merupakan kasur Bung Karno. ”Persisnya yang mana saya tidak tahu,”
ujar dia. Di kamar ini terdapat kamar mandi. ”Kamar mandi sudah beberapa
kali direnovasi. Terakhir bangunan ini dipugar pada 2005,” kata dia. Di
tahun itu juga, anak Bung Karno, Guruh Soekarno Putra, menempatkan arca
Bung Karno, terbuat dari perunggu, di halaman rumah pengasingan. Arca
Bung Karno, setinggi tujuh meter, berpose duduk dengan kaki kanan
ditumpukkan di paha kaki kiri. Kedua tangan bertumpu pada paha kaki
kanan.
Di ruang tamu Rizal hanya menerangkan tiga bingkai foto,
hitam putih, menempel di dinding. Foto-foto itu mengabadikan senyuman
dan cengkerama Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim bersama serdadu
Belanda. Halaman bagian kanan berdiri kokoh pohon jenis cemara. ”Di
bawah pohon itu Bung Karno sering mengajak tentara Belanda yang
menjaganya berdiskusi,” kata Rizal.
Pada hari libur, Rizal
mengamini, kawasan situs sejarah ini menjadi obyek kunjungan wisata.
Tidak semua pengunjung diperkenankan masuk ke dalam bangunan, yang kini
menjadi mes Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara.