Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search
Showing posts with label belanja. Show all posts
Showing posts with label belanja. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Memborong Ragam Keripik Pedas di Bandung

Pengin beli keripik pedas dari Bandung sebagai oleh-oleh? Kali ini agak repot memilihnya. Soalnya, Keripik pedas olahan rumah tangga di Bandung semakin marak.

Dalam setahun ini, sudah ada puluhan jenis dan merek kudapan berbubuk cabai itu yang beredar di jalanan, toko, juga dunia maya. Label nama dan lambangnya ada yang mirip-mirip hingga menggelitik.

Di Jalan Dago tiap Ahad pada jam Car Free Day antara pukul 06.00-10.00 WIB, misalnya, tak kurang dari 10 merek keripik menggoda mata lewat spanduk di gerobak atau mobil dagangan. Sebagian hanya dijajakan sederhana dengan tumpukan kardus di atas trotoar. Namanya mulai dari keripik Maicih, Maedeh, Maemeh, Ceu Tety, Jenong, Cipuy, Kribo, juga Karuhun.

Salah seorang penjual keripik pedas di trotoar Jalan Dago 85, Yuyun Yulianingsih, rata-rata menjual 125 bungkus keripik setiap hari. Saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu, pembelian mencapai 150-200 bungkus per hari. Sejak berjualan 4 bulan lalu, kata dia, keripik Maicih yang paling laris. "Terutama level (pedas) 3, 5, dan 10," katanya, Ahad, 4 Desember 2011.

Pembelinya dari kalangan remaja hingga orang tua. Paling banyak orang Bandung dan Jakarta. Biasanya, kata Yuyun, mereka memborong 5-10 bungkus untuk dikudap sendiri atau sebagai oleh-oleh.

Di Toko Serba Lada atau Toserda di Jalan Pajajaran 4 Bandung, lebih dari 20 merek keripik pedas berkumpul rapi di rak. Lada, dari bahasa Sunda yang artinya pedas itu diantaranya keripik Kurutuk yang diproduksi artis Rida, Siripik Kingkong, juga Kutang Janda size 36. "Keripik pedas jadi makin banyak setelah booming Maicih awal 2011," kata pemilik toko, Willy Hono, 28 tahun.

Sejak itu, hampir setiap pekan ada 1-2 pembuat keripik pedas yang menawarkan produknya. Namun tak semua olahan industri rumahan itu bisa dijual di tokonya. Sarjana Matematika dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, itu mengaku banyak menolak contoh kiriman karena rasanya kurang mantap, harganya dinilai mahal, atau kemasannya kurang baik sehingga keripik dikhawatirkan cepat melempem.

Uji produk itu juga melibatkan istri, dua karyawannya, serta rekan-rekannya. Willy sempat menjadi korban saat mencicipi keripik contoh. "Pernah langsung sakit radang tenggorokan," katanya. Walau begitu, ia tak mewajibkan para pembuat keripik pedas harus punya izin Departemen atau Dinas Kesehatan karena biayanya mahal. "Saya juga ingin bantu home industry," katanya.

Sejak toko berdiri akhir tahun lalu, ia juga menjual keripik lewat jalur online. Pembeli keripik per hari rata-rata ada 10 orang. Tiap bulan, omzet penjualan keripik pedasnya mencapai Rp 20-25 juta.

Keripik pedas sejak puluhan tahun lalu telah menempel di lidah orang Indonesia. Di Bandung, kudapan itu mulai naik pamor sejak tahun lalu dikenal sebagai pikset atau keripik setan. Sebutan itu karena  pedas bubuk cabai pada keripik dari bahan singkong tersebut sangat menyengat lidah.

Setelah itu, pembuat keripik singkong pedas lainnya mengolah racikan dengan tingkat kepedasan berbeda. Selain itu juga kemasan dan cara penjualannya ikut memanfaatkan jejaring sosial di Internet. Sejak awal 2011, keripik pedas jadi barang buruan. “Penasaran awalnya, kok pakai level-levelan segala, ternyata sama seperti pikset tapi harganya lebih mahal,” kata Yuli Saputra, ibu rumah tangga berusia 34 tahun.

Penyuka keripik pedas itu mengaku sudah biasa mengalami panas mulut dan perut setelah makan keripik. Agar tak sampai mulas, ia memilih cara makan keroyokan bersama teman sambil ngobrol. “Namanya makanan pedas itu kan susah berhenti ya, jadi harus sedikit-sedikit dan makannya ramean,” ujarnya.

Kini jenis keripik pedas tak cuma dari singkong, tapi juga kentang, talas, tahu, dan kerupuk seperti gurilem, dorokdok (kerupuk kulit), keripik cireng (aci digoreng), serta basreng (baso goreng). Walau sama-sama dijamin pedas, masing-masing punya rasa, aroma, dan bumbu berbeda. Buat yang suka tantangan dan penasaran makanan pedas, siapa yang tak tergoda?

Membeli 1001 Penganan Khas Daerah di Jakarta

Mencari oleh-oleh bisa jadi merupakan salah satu agenda favorit Anda saat bepergian ke luar kota, terlebih jika dititipi keluarga atau teman sebelum bepergian.

Lalu, bagaimana bila Anda keluar kota tapi tidak sempat membeli oleh-oleh? Tidak perlu khawatir, terutama bila Anda berdomisili di Jakarta. Di Jakarta Selatan, ada satu toko khusus yang menjual oleh-oleh dari pelbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Rumah Makan Nusa Indah namanya.

Meski menggunakan kata rumah makan di nama tokonya, Nusa Indah sebenarnya menyediakan beragam jenis penganan daerah. Sepanjang mata memandang rupa-rupa oleh-oleh menumpuk hingga sudut toko.

Bertempat di Jalan KH Achmad Dahlan 33, Kebayoran Baru, toko Nusa Indah sudah berdiri selama 25 tahun. Hartati, 64 tahun, pemilik toko, memulai bisnis toko oleh-oleh di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, itu pada 1983.

Menurut dia, selama dua tahun pertama berdiri toko itu sepi pembeli. Banyak penganan yang terbuang percuma. "Di tahun ketiga orang sudah banyak tahu tentang toko ini. Pembeli semakin banyak yang datang," kata Hartati.

Banyaknya pembeli yang datang membuat Hartati kewalahan. Apalagi toko kecilnya tidak memiliki lahan parkir yang memadai. Pada 1986, ibu tiga anak ini memutuskan memindahkan tokonya ke lokasi saat ini.

"Dari hari ke hari, tahun ke tahun, toko ini semakin ramai pengunjung," ujar perempuan kelahiran Semarang itu.

Di Nusa Indah tersedia pelbagai penganan seperti Brownies Amanda, kue lapis legit Spikoe asal Surabaya, kue lapis Surabaya Mandarijn, begelen Kartika Sari, kerupuk udang Ny. Siok dari Sidoarjo, dan keripik pedas Ma Icih asal Bandung.

Selain itu Hartati juga menyediakan oleh-oleh berupa balado singkong Christine Hakim dari Padang, bandeng presto asal Semarang, Marquisa Heavy Juice dari Sumatera Utara, keripik paru dari Solo, serta brem asal Madiun. Rupa-rupa penganan dari pelbagai daerah itu pun menyesaki toko Hartati.

"Dulu pernah jual oleh-oleh dari Indonesia bagian timur, tapi peminatnya sedikit dan ongkos kirimnya mahal. Jadi sekarang tidak menyediakan lagi," kata dia.

Hartati memang memanjakan pelanggan dengan oleh-oleh dari berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Salah seorang pembeli, Syaefudin, mengaku sudah menjadi langganan Hartati sejak 1994 lalu. Awalnya dia hanya melihat spanduk Nusa Indah yang menjual bandeng presto asal Semarang.

"Saya coba beli. Ternyata rasanya enak, rasa sambalnya pas, dan tulangnya sangat empuk," kata Syaefudin.

Toko Hartati juga sering dikunjungi turis mancanegara. Misalnya orang Jepang yang doyan memborong camilan berupa teng teng Super Mete Nugat. "Ada juga pembeli borongan yang mengirim kue-kue dari sini ke Kalimantan, Sumatera, bahkan Amerika, Australia, dan Jepang," kata Hartati.

Kaus Khas Jogja Laris

Para pedagang kaos di kawasan Malioboro panen rezeki pada liburan akhir tahun ini. Di hari biasa, rata-rata per hari hanya 300 kaus yang terjual. Tapi kini pedagang grosir di kawasan itu kewalahan. Dalam satu hari saja bisa 1.000 kaos terjual dari satu pedagang.

“Kaos yang harganya di bawah Rp 15 ribu sangat laku untuk oleh-oleh wisatawan,” kata Lukmono, salah satu pedagang kaus di Jalan Kauman, Rabu, 28 Desember 2011. 

Ia menyatakan, jenis kaos yang laku adalah kaos yang bermotifkan gambar khas Yogyakarta dan kaos yang berdesain trendi. Segmen pembelinya pun berbeda-beda, tergantung jenis kaosnya.

Kaos yang bergambar dan bertuliskan kata-kata Yogyakarta biasanya diminati oleh semua kalangan untuk dipakai atau dijadikan oleh-oleh. Sedangkan kaos yang desainnya trendi disasar para wisatawan kalangan muda.

Para pedagang penjual kaos secara grosir banyak didatangi oleh pengecer yang langsung menawarkan kaus ke wisatawan. Para penjual kaus itu biasanya disebut buser atau buru sergap. Sebab, mereka langsung menawarkan kaus kepada pembeli di tempat-tempat parkir, tempat wisata, dan di sekitar Benteng Vredeburg (ujung Malioboro).

“Pada November lalu sepi wisatawan. Sekaranglah saatnya para pedagang itu mendapatkan rezeki,” kata dia.

Salah satu ikon kaos di Yogyakarta adalah Dagadu yang memang sudah banyak dikenal oleh para wisatawan. Produsen kaos dengan gambar dan kata-kata unik itu mengaku omzet penjualannya naik 30 persen saat liburan seperti ini. Bahkan, di akhir pekan penjualan naik mencapai 60 persen.

“Untuk melayani para pembeli, kami sediakan gerai-gerai yang nyaman untuk dikunjungi wisatawan,” kata Marketing Communication PT Aseli Dagadu Djokdja Junno Mahesa.

Gerai Dagadu saat ini ada beberapa yang disediakan, yaitu Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) di Mal Malioboro, UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan, DPRD (Djawatan Plajanan Resmi Dagadu) di Ambarukmo Plaza, dan Posyandu II di Jalan Pekapalan (Alun-alun Utara).

Memburu Batik Lawasan Nan Cantik di Malioboro

Baju batik dengan warna dominasi coklat kemerah-merahan
itu terlihat cantik. Padahal, batik-dengan aneka ragam motif seperti parang, daun-daunan, bunga, dan  binatang ini dijahit sambung-menyambung dengan tekstur kotak-kotak. Motif menabrak itu justru menampilkan batik yang dikenal batik lawasan ini justru terlihat etnik nan cantik.

Modelnya pun disesuaikan dengan anak-anak muda zaman sekarang. Ada yang model baju   BCL karena baju model begini kerap dikenakan Bunga Citra Lestari, penyanyi. Ada pula model lawasan Luna Maya karena mirip dengan  pakaian Luna Maya, pemain sinetron dan film, hingga model kelelawar yang trend belakangan ini.

Di sebuah los  Pasar Beringharjo, beberapa orang terlihat memburu batik lawasan. Satu orang tak cukup membeli dua atau tiga potong. “Saya memborong 10 untuk oleh-oleh juga,” kata Ivon, seorang pengunjung asal Surabaya ketika ditemui di Pasar Beringharjo.

Batik lawasan, semula hanya dijual kainnya saja. Harganya bervariasi mulai Rp 50.000 hingga Rp 200.000. Nah, begitu jadi baju, harganya bervariasi antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000.

Belakangan, batik lawasan lantas dibuat model baju yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak, remaja, hingga untuk orang tua. Dinamakan batik lawasan karena memang dari batik tulis lawas yang sudah pernah dipakai simbah-simbah zaman dulu.

Nah, karena sudah jarang digunakan karena kondisinya tak lagi sempurna, mereka lantas menjual ke pedagang dan didaur ulang menjadi pakaian sehari-hari.  Karena lawas dan umumnya batik tulis asli, kekuatan batik lawasan nyaman dipakai dan adem di tubuh. Umumnya pemakai mengenakan di rumah atau bepergian santai. Ada pula yang membeli  batik dengan memodifikasinya dengan kain lurik.

Menurut Maryati, penjual batik lawasan, batik lawasan ini umumnya dijual oleh mereka dengan kondisi bolong atau aus di bagian tertentu. Nah, bagian lain yang masih bisa dimanfaatkan itulah yang kemudian dipotong-potong lalu disambung-sambung dan membentuk model macam-macam. “Model baju disesuaikan dengan model zaman sekarang yang sedang tren,” katanya.

Nah, penjahit-penjahit Yogyakarta yang terkenal memiliki citra seni yang tinggi inilah yang menjadikan batik lawasan, barang aus, namun tetap terlihat elegan.

Tak mengherankan, jika beberapa kali Tempo mendapati istri pejabat atau artis mengenakan batik lawasan. “Memang banyak artis yang datang belanja ke sini,” kata seorang pedagang batik lawasan lainnya, Sri. Dia mengaku peminat batik lawasan justru kebanyakan berasal dari Jakarta dan kota lain seperti Semarang, Bandung, Surabaya.

Hanya saja karena barang lawasan, memperlakukan batik ini kudu ekstra hati-hati. Batik ini punya kelemahan mudah robek karena usianya terlalu tua. Karena kalau dicuci cukup dengan lerak saja.

Aktris dan sutradara, Ine Febriyanti salah satu yang kerap memborong batik lawasan. Ine mengaku menyukai batik lawasan karena  adem dikenakan di tubuh. “Warnanya juga klasik, kuno, dan terkesan membumi,” katanya.

Membeli batik lawasan baginya bukan semata-mata soal mencintai produk Indonesia saja, tetapi juga ikut mendorong pedagang kecil agar lebih bisa berkiprah. “Kalau bukan kita yang membeli siapa lagi,” katanya.

Ivon, senada dengan Ine. Dengan membeli batik lawasan, maka, secara tidak langsung dia tidak sekedar berteori soal pemberdayaan pedagang Usaha Kecil dan Menengah (UKM). “Prakteknya ya dengan membeli seperti sekarang ini,” kata perempuan berparas ayu ini.

Pasar Beringharjo bukan satu-satunya yang menyediakan batik lawasan. Gerai toko Mirota Batik juga menyediakan batik lawasan. Hanya saja banderol harganya beberapa kali lipat dari Pasar Beringharjo.

Dari banderol yang dilihat Tempo,  rata-rata harganya Rp 68.000 hingga Rp
85.000. Di kelas-kelas mall seperti Ambarukmo Plaza, batik lawasan rata-rata di banderol dengan harga Rp 85.000.

Buat pembeli yang tak segan menawar, tempat belanja yang paling cocok memang di Pasar Beringharjo yang lokasinya berhadap-hadapan dengan Mirota. Apalagi, kualitas barangnya nyaris sama.

Di Pasar Beringharjo, memang tak ada banderol harga. Karena itu, mereka yang menyukai   perang urat syaraf alias tawar-menawar harga, di sinilah tempatnya. Apalagi, penjual  batik lawasan juga menekankan prinsip kekeluargaan dalam menawarkan barang dagangannya.

Belanja Tenunan Songket di Pandai Sikek

Ingin memiliki tenunan songket khas Minang? Pergilah ke Pandai Sikek, nagari di kaki Gunung Singgalang yang terletak tak jauh setelah Kota Padang Panjang menuju Bukittinggi. Tenunan Pandai Sikek buatan tangan ini sangat indah dengan beragam motif dan warna.

Di Pandai Sikek saat ini terdapat puluhan rumah tenun dengan ratusan penenun yang umumnya perempuan muda. Rata-rata dalam satu bulan seorang penenun bisa menghasilkan selembar kain (untuk sarung) atau selendang dengan motif paling sederhana. Pandai Sikek adalah daerah yang masuk daftar kunjungan wisata ke Sumatera Barat untuk berbelanja.

Selain membeli songket, Anda juga bisa melihat langsung proses pembuatan tenunan yang masih menggunakan alat tenun tradisional di rumah-rumah. Anda pun bisa menyaksikan proses pembuatan tenunan songket Pandai Sikek dari helai demi helai benang untuk membuat selembar kain yang indah. Ini tentu pemandangan yang unik dan langka, mengingat di zaman pabrikasi saat ini masih ada pembuatan kain dengan menggunakan keterampilan tangan dan alat sederhana.

Dulunya pembuatan kain tenun ini berkaitan dengan penyediaan pakaian untuk upacara adat, seperti melantik penghulu, pesta perkawinan.

Pandai Sikek merupakan satu dari tujuh nagari di Minangkabau yang masyarakatnya secara turun-temurun sejak ratusan tahun terkenal sebagai perajin tenun. Nagari lain adalah Pitalah dan Sungayang, Silungkang, Kotogadang, Koto nan Ampek, dan Kubang.

Namun sekarang hanya tinggal Silungkang, Kubang, dan Pandai Sikek yang masih terdapat penenun. Dari ketiga itu hanya Pandai Sikeklah yang lebih maju dalam melanjutkan tradisi menenun dengan tetap mewariskan kemahiran menenun kepada warganya, sehingga banyak penduduknya tetap menjadi penenun.

Selain itu, tenunan songketnya pun memiliki kehalusan dan keberagaman motif yang jauh lebih tinggi dan banyak. Jenis motif tenunan songket Pandai Sikek yang jumlahnya lebih 200 itu rata-rata memiliki arti yang berkaitan dengan filosofi adat Minangkabau, seperti motif pinggir “itiak pulang patang” (itik pulang petang) yang mengiaskan orang Minang seiya-sekata atau bersatu.

Di Pandai Sikek puluhan rumah tenunan songket menjual songket buatan tangan itu. Salah satunya adalah Rumah Tenun Pusako yang berbentuk rumah gadang milik Hajah Sanuar yang termasuk paling awal merintis bisnis penjualan songket di Pandai Sikek.

Songket dari Rumah Tenun Pusako sangat indah dengan beragam motif dan warna. Selain mempertahankan songket dengan warna tradisional, warna songket yang dijual juga mengikuti tren mode seperti merah menyala, biru, krem, dan kecokelatan. Harga songket mulai Rp 1,5 juta sampai Rp 10 juta per set, terdiri dari kain songket dan selendang.

Harga lebih ditentukan oleh kerumitan pengerjaan motif yang banyak menggali motif lama serta tergantung pada kain. “Songket paling mahal terbuat dari sutra asli dengan motif kuno Minangkabau, pengerjaannya lebih rumit karena di atas kain sutra, tapi lebih ringan dikenakan, ini yang membuatnya lebih mahal,” kata Adyan Anwar, pemilik usaha songket Rumah Tenun Pusako.

Selain Rumah Tenun Pusako yang khusus menjual songket tenunan, masih ada toko-toko lainnya yang tidak hanya menjual songket, tapi juga kain bordir dan kain sulaman khas Minang. Salah satunya di toko milik Erma Yulnita. Erma memiliki 30 perajin tenun di Pandai Sikek yang bekerja untuknya.

Songket yang ia jual juga dibanderol cukup terjangkau, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 7 juta per lembar. Harga songket di Pandai Sikek sangat tergantung pada kain, benang, serta kerumitan pengerjaannya. Semakin halus tentu semakin mahal. Harga masih bisa ditawar dan bisa berkurang paling banyak 10 persen.

Jangan takut tertipu berbelanja di Pandai Sikek karena ini usaha rumahan dan pemilik songket sangat mengandalkan kedatangan wisatawan ke tempatnya. Membeli atau tidak, Anda tetap dilayani dengan ramah. Bahkan di atas meja beranda selalu tersedia minuman gelas dan aneka makanan kecil khas Sumatera Barat seperti rakik maco, gelamai, keripik, hingga kue sagun yang bisa dimakan sambil menonton cara pembuatan songket di semua rumah tenun. Semua cemilan itu gratis.

Yuk, Berburu Kaus Unik di Bandung

Kota Kembang tak cuma asyik sebagai tempat berburu kuliner enak, tapi juga kaus untuk segala umur. Desainnya unik dan bernada humor, dari yang khas Bandung juga etnis kesundaan. Harganya mulai dari Rp 25 ribu hingga hampir Rp 100 ribu.

Umumnya kaus dengan desain yang menggambarkan suasana khas Bandung tersebut dijual di luar toko-toko distribution outlet (distro). Pusatnya berada di emperan Jalan Cihampelas, juga sekitar Pasar Baru Bandung Jalan Otto Iskandar Dinata. Ukurannya mulai dari untuk anak kecil hingga dewasa. Di kedua tempat itu, harga kaus ditawarkan murah, mulai dari Rp 20 ribu.

Di pertokoan jeans Jalan Cihampelas, beberapa corak desain dan jenis bahan kausnya ada yang berbeda dengan di emperan. Beberapa juga bergambar lokasi wisata, seperti museum, Gedung Sate, dan bangunan bersejarah. Paling mahal harganya sekitar Rp 100 ribu. Salah satunya di toko KPK alias Kelompok Pecinta Kaus di Cihampelas.

Menurut kasir toko Mida Marliana, tiap akhir pekan penjualannya berlipat ganda dibanding hari kerja. “Kalau di Cihampelas, kaus banyak diserbu turis luar kota dan anak-anak sekolah yang darmawisata,” katanya. Jika ingin memesan kaus untuk acara dan desain khusus dalam jumlah banyak, sentra kaus di Jalan Suci atau Surapati tempatnya.

Tapi kalau tak ingin kaos yang pasaran dan berbahan katun adem, di Cihampelas Walk ada outlet kaus Mahanagari dan kaus Gurita yang mengolah kata-kata lucu dengan gambar ilustrasi. Sedangkan kaus berlabel Harax yang mengangkat tema etnis kesundaan ada di Rockhouse Jalan Dewi Sartika. Nah, apakah Anda sudah siap berburu oleh-oleh kaus dari Bandung?

Ke Bali, Jangan Lupa Mampir di Pasar Seni Sukowati

Kabupaten Gianyar adalah tetangga sebelah timur dari Kota Denpasar, berjarak sekitar 25 kilometer. Banyak pekerja seni di daerah ini, mulai dari tari, ukir kayu dan perak. Seiring berkembangnya industri pariwisata, ada kawasan Sukawati yang semakin menampilkan sebagai pusat pasar seni di Bali.

Bukan hanya satu pasar seni di sana. Ada empat pasar seni yang tumbuh berkembang menjadi obyek kunjungan wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Bali. Walaupun di kawasan wisata pantai Kuta atau Denpasar, barang-barang kerajinan bisa didapatkan di berbagai tempat, tetapi belum lengkap rasanya bila perjalanan liburan di Bali tidak mendatangi Sukawati.

Terbukti, ratusan bus antar kota antar pulau yang membawa rombongan wisatawan nusantara maupun mancanegara yang datang dan pergi silih berganti. Pemandangan hiruk-pikuk itu juga tampak pada kemarin siang, di Pasar Seni III Cemenggoan Celuk Sukawati. Begitu para penumpang bus turun di tempat parkir yang berada di depan kios-kios, langsung disambut riuh rendah para pedagang. "Mari Pak lihat-lihat dulu," kata mereka. Pedagang tidak memaksa, tetapi ujung-ujungnya pedagang sangat pandai merayu agar pengunjung membeli dagangannya.

Oh ya, empat pasar seni ini tersebar di sejumlah tempat, tetapi semuanya masih berada di Kecamatan Sukawati. Ada dua pasar seni di pusat Kecamatan Sukawati. Yaitu Pasar Seni I dan Pasar Seni IV. Pasar III ada di Cemenggoan dan Pasar II di Guang.

Di Pasar Seni III ada 200 kios pedagang, utamanya yang menjual pakaian bermerek Bali. Rata-rata setiap pedagang memiliki satu meja yang berukuran 140 senti lebar 40 seniti. Barang dagangannya berupa pakaian pria maupun wanita, termasuk untuk anak-anak. Ada kaos gambar barong, kaos motif batik Bali atau kaos yang berisi kata-kata.

Tidak kalah dengan kaos Dagadu dari Yogya atau Joger di Kuta, kaos kata-kata tersebut di antaranya berisi tulisan yang bersifat promotif, seperti `Rahasia orang sukses adalah berlibur dan istirahat sebentar di Bali`, dan `Berlibur di Bali dapat menyehatkan pikiran dan membangkitkan semangat baru`.

Ada lagi kaos yang berisi tulisan gurauan, antara lainyn `Semakin banyak belajar semakin banyak yang kita tahu`, `Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita lupa`, `Semakin banyak yang kita lupa semakin sedikit yang kita tahu. Jadi... kenapa kita sibuk belajar?`

Berapa harga kaos Sukawati itu ? Bisa disebut murah. Berbahan katun atau krayon. Karena selembar kaos rata-rata hanya Rp15 ribu. Untuk yang motif batik lebih mahal, Rp20 ribu. "Kalau motif batik ini beda harganya pak," kata Dewi, salah satu pedagang.

Sedangkan celana pendek khas Bali yang di antaranya motif kembang-kembang ala Hawai dijual Rp25 ribu. Untuk selembar rok dres mulai dari harga Rp25 ribu, Rp35 ribu hingga Rp45 ribu. Dewi juga menjual barang cinderamata asesoris berupa gelang-gelang kerajinan, ada juga asbak atau patung topeng. Untuk asesoris ini, pedagang lainnya, Wayan Sari, menjual gelang mulai dari harga Rp5 ribu hingga 7.500.

Boleh dikata, bisnis pakain jadi di pasar seni Sukowati cukup menjanjikan. Wayan Radu, 32 tahun, misalnya, mengaku mulai berdagang di Pasar Seni II di Guang sejak 2009. Ia kini hanya berdagang pakaian tanpa menjual asesoris karena perpuran uang bisnis pakaian jadi lebih cepat. Awalnya ia hanya menjual cinderamata kerajinan. Selain menjual eceran, kini ia juga melayani sesama pedagang  yang memerlukan baju-baju motif barong. "Banyak orang cari kaos barong," katanya kepada Tempo. Untuk penjualan ke pedagang lain, Wayan hanya mengutip untung Rp500 per lembar baju.

Random Post