Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search
Showing posts with label jabar. Show all posts
Showing posts with label jabar. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Memborong Ragam Keripik Pedas di Bandung

Pengin beli keripik pedas dari Bandung sebagai oleh-oleh? Kali ini agak repot memilihnya. Soalnya, Keripik pedas olahan rumah tangga di Bandung semakin marak.

Dalam setahun ini, sudah ada puluhan jenis dan merek kudapan berbubuk cabai itu yang beredar di jalanan, toko, juga dunia maya. Label nama dan lambangnya ada yang mirip-mirip hingga menggelitik.

Di Jalan Dago tiap Ahad pada jam Car Free Day antara pukul 06.00-10.00 WIB, misalnya, tak kurang dari 10 merek keripik menggoda mata lewat spanduk di gerobak atau mobil dagangan. Sebagian hanya dijajakan sederhana dengan tumpukan kardus di atas trotoar. Namanya mulai dari keripik Maicih, Maedeh, Maemeh, Ceu Tety, Jenong, Cipuy, Kribo, juga Karuhun.

Salah seorang penjual keripik pedas di trotoar Jalan Dago 85, Yuyun Yulianingsih, rata-rata menjual 125 bungkus keripik setiap hari. Saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu, pembelian mencapai 150-200 bungkus per hari. Sejak berjualan 4 bulan lalu, kata dia, keripik Maicih yang paling laris. "Terutama level (pedas) 3, 5, dan 10," katanya, Ahad, 4 Desember 2011.

Pembelinya dari kalangan remaja hingga orang tua. Paling banyak orang Bandung dan Jakarta. Biasanya, kata Yuyun, mereka memborong 5-10 bungkus untuk dikudap sendiri atau sebagai oleh-oleh.

Di Toko Serba Lada atau Toserda di Jalan Pajajaran 4 Bandung, lebih dari 20 merek keripik pedas berkumpul rapi di rak. Lada, dari bahasa Sunda yang artinya pedas itu diantaranya keripik Kurutuk yang diproduksi artis Rida, Siripik Kingkong, juga Kutang Janda size 36. "Keripik pedas jadi makin banyak setelah booming Maicih awal 2011," kata pemilik toko, Willy Hono, 28 tahun.

Sejak itu, hampir setiap pekan ada 1-2 pembuat keripik pedas yang menawarkan produknya. Namun tak semua olahan industri rumahan itu bisa dijual di tokonya. Sarjana Matematika dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, itu mengaku banyak menolak contoh kiriman karena rasanya kurang mantap, harganya dinilai mahal, atau kemasannya kurang baik sehingga keripik dikhawatirkan cepat melempem.

Uji produk itu juga melibatkan istri, dua karyawannya, serta rekan-rekannya. Willy sempat menjadi korban saat mencicipi keripik contoh. "Pernah langsung sakit radang tenggorokan," katanya. Walau begitu, ia tak mewajibkan para pembuat keripik pedas harus punya izin Departemen atau Dinas Kesehatan karena biayanya mahal. "Saya juga ingin bantu home industry," katanya.

Sejak toko berdiri akhir tahun lalu, ia juga menjual keripik lewat jalur online. Pembeli keripik per hari rata-rata ada 10 orang. Tiap bulan, omzet penjualan keripik pedasnya mencapai Rp 20-25 juta.

Keripik pedas sejak puluhan tahun lalu telah menempel di lidah orang Indonesia. Di Bandung, kudapan itu mulai naik pamor sejak tahun lalu dikenal sebagai pikset atau keripik setan. Sebutan itu karena  pedas bubuk cabai pada keripik dari bahan singkong tersebut sangat menyengat lidah.

Setelah itu, pembuat keripik singkong pedas lainnya mengolah racikan dengan tingkat kepedasan berbeda. Selain itu juga kemasan dan cara penjualannya ikut memanfaatkan jejaring sosial di Internet. Sejak awal 2011, keripik pedas jadi barang buruan. “Penasaran awalnya, kok pakai level-levelan segala, ternyata sama seperti pikset tapi harganya lebih mahal,” kata Yuli Saputra, ibu rumah tangga berusia 34 tahun.

Penyuka keripik pedas itu mengaku sudah biasa mengalami panas mulut dan perut setelah makan keripik. Agar tak sampai mulas, ia memilih cara makan keroyokan bersama teman sambil ngobrol. “Namanya makanan pedas itu kan susah berhenti ya, jadi harus sedikit-sedikit dan makannya ramean,” ujarnya.

Kini jenis keripik pedas tak cuma dari singkong, tapi juga kentang, talas, tahu, dan kerupuk seperti gurilem, dorokdok (kerupuk kulit), keripik cireng (aci digoreng), serta basreng (baso goreng). Walau sama-sama dijamin pedas, masing-masing punya rasa, aroma, dan bumbu berbeda. Buat yang suka tantangan dan penasaran makanan pedas, siapa yang tak tergoda?

Yuk, Berburu Kaus Unik di Bandung

Kota Kembang tak cuma asyik sebagai tempat berburu kuliner enak, tapi juga kaus untuk segala umur. Desainnya unik dan bernada humor, dari yang khas Bandung juga etnis kesundaan. Harganya mulai dari Rp 25 ribu hingga hampir Rp 100 ribu.

Umumnya kaus dengan desain yang menggambarkan suasana khas Bandung tersebut dijual di luar toko-toko distribution outlet (distro). Pusatnya berada di emperan Jalan Cihampelas, juga sekitar Pasar Baru Bandung Jalan Otto Iskandar Dinata. Ukurannya mulai dari untuk anak kecil hingga dewasa. Di kedua tempat itu, harga kaus ditawarkan murah, mulai dari Rp 20 ribu.

Di pertokoan jeans Jalan Cihampelas, beberapa corak desain dan jenis bahan kausnya ada yang berbeda dengan di emperan. Beberapa juga bergambar lokasi wisata, seperti museum, Gedung Sate, dan bangunan bersejarah. Paling mahal harganya sekitar Rp 100 ribu. Salah satunya di toko KPK alias Kelompok Pecinta Kaus di Cihampelas.

Menurut kasir toko Mida Marliana, tiap akhir pekan penjualannya berlipat ganda dibanding hari kerja. “Kalau di Cihampelas, kaus banyak diserbu turis luar kota dan anak-anak sekolah yang darmawisata,” katanya. Jika ingin memesan kaus untuk acara dan desain khusus dalam jumlah banyak, sentra kaus di Jalan Suci atau Surapati tempatnya.

Tapi kalau tak ingin kaos yang pasaran dan berbahan katun adem, di Cihampelas Walk ada outlet kaus Mahanagari dan kaus Gurita yang mengolah kata-kata lucu dengan gambar ilustrasi. Sedangkan kaus berlabel Harax yang mengangkat tema etnis kesundaan ada di Rockhouse Jalan Dewi Sartika. Nah, apakah Anda sudah siap berburu oleh-oleh kaus dari Bandung?

Cita Rasa Resto Bintang Lima di Tepi Pemakaman

Pernahkah Anda menyantap penganan di restoran mewah, katakanlah restoran bintang lima? Lalu, apakah Anda sudah merasakan sensasi makan di restoran yang berada di taman pemakaman? Kalau jawabannya belum, coba Anda datang ke Restoran La Collina yang berdiri di tepi taman pemakaman San Diego Hills Memorial Park, Karawang.

Jarak La Collina dengan deretan tanah kubur San Diego hanya sekitar setengah kilometer. Meski begitu, kesan angker atau menakutkan yang kerap timbul dari pemakaman tidak akan terasa. Sebab, restoran itu berdiri di atas bukit kecil dengan kolam renang di terasnya. Dan dari ruang makan La Collina, pengunjung bisa melihat danau buatan dengan deretan pohon rindang, tempat burung dara bertengger.

Tak ada aura menakutkan dari restoran tepi pemakaman itu.

Kala Tempo bertandang, 26 Januari 2012, koordinator La Collina, Tintin, menjelaskan bahwa makanan di restoran itu berkonsep Italia dan Indonesia. Karena itu, La Collina menawarkan sajian seputar pasta, pizza, ayam betutu, dan sup. Untuk menu pizza, La Collina memiliki satu menu spesial bernama Siciliana Pizza.

Layaknya pizza Italia pada umumnya, Siciliana disajikan dalam bentuk tipis, bukan roti yang tebal. Di atas Siciliana, sang chef hanya menaburkan lelehan saus keju mozzarella, remahan daun oregano, sedikit saus tomat, dan daging asap seukuran tomat iris.

Kalau dilihat, Siciliana Pizza ini sangat minimalis. Tidak banyak bahan yang dijadikan taburan atau topping di atasnya. Tapi, saat lembaran pizza mulai tergigit, hmmm… Rasa keju bercampur asam tomat mulai mengisi mulut. Lezat. Sedikit rasa ragi yang dikeluarkan lembar pizza juga terkecap di mulut. Sensasi terus berlanjut kala daging asap digigit. Meski hanya seiris, rasa daging begitu kental. Akhir kata, semua kelezatan itu ditutup dengan kriuk-nya pinggiran pizza yang dimasak garing.

Satu iris Siciliana Pizza cukup sebagai sebuah pembuka. Selanjutnya ada Lasagna al Forno. Entah apa arti dari kata al forno itu. Yang jelas, lasagna ini berupa pasta panggang dengan saus bolognaise yang penuh daging serta saus keju mozzarella dan daun peterseli. Bentuknya yang tebal pun membuat mulut langsung penuh, meski sebelumnya sudah dipotong kecil-kecil. Dan rasanya, yummy... Enak.

Tiap campuran dalam lasagna memberi rasa tersendiri di mulut. Ada asin keju, asam tomat, manis daging, sedikit rasa daun, serta kelembutan pasta. Membuat mulut ingin terus mengecap.

Kelar mengecap lasagna, Tempo pun mencoba menu andalan La Collina lainnya, yakni Spaghetti Carbonara. Berbeda dengan Spaghetti Bolognaise yang menggunakan siraman saus tomat dan daging giling, carbonara ini dipenuhi dengan krim susu yang diadon bersama kuning telur. Hasilnya adalah untaian spageti yang saling menempel lengket dengan taburan daging asap.

Satu suapan Spaghetti Carbonara rasanya lumayan. Kemudian dua, tiga, empat, dan suapan selanjutnya membuat mulut tak terlalu nyaman. Saus krim yang seharusnya menjadi andalan malah terasa tidak cocok di mulut. Kata Tintin, "Spaghetti Carbonara ini biasa dipilih pengunjung dari Eropa. Memang berbeda dengan orang Indonesia yang lebih memilih bolognaise. Mungkin karena orang kita tak terbiasa dengan saus krim."

Yah, makanan Italia sudah tercicip. Maka tidak afdol kalau belum memesan penganan Indonesia. Pilihan pun jatuh pada Sop Buntut. Kemudian datanglah semangkuk besar Sop Buntut, lengkap dengan sepiring nasi dan emping di pinggirnya. Sebelum menyantap sup dan nasinya, Tempo mencicipi dulu potongan buntut sapi itu. Rasanya empuk. Daging tebal di sekitar tulang ekor sapi begitu mudah dipotong dan dikunyah. Manisnya daging juga terasa. Meski kuah sup terasa terlalu manis, sajian ini tidaklah mengecewakan.

Menutup semua sajian itu, Tempo pun menyesap segelas La Collina Special. Minuman yang diracik dengan jus lemon, jus jeruk, irisan pisang, dan madu itu lantas meluruhkan segala lemak yang terasa di mulut. Begitu ringan dan segar.

Daftar harga di La Collina:
Spaghetti Carbonara Rp 54.900
Lasagna al Forno Rp 65.900
Siciliana Pizza ukuran besar Rp 79.500
Siciliana Pizza ukuran sedang Rp 72.500
Sop Buntut Rp 67.500
La Collina Special Rp 18.900

www.tempo.co

Sunday, February 12, 2012

Menikmati Keindahan Arsitektur Kampung Naga

Anggukan dan senyuman menyambut setiap orang yang datang. Kenyamanan dan kebersihan pun begitu terasa saat menurunkan kaki dari kendaraan. Tugu kujang raksasa setinggi 3 meter, yang ditopang sebuah bangunan persegi empat terbuat dari beton, menegaskan bahwa daerah ini sebagai perkampungan adat. Daerah ini bernama Kampung Adat Naga.

Perkampungan ini persis berada di kilometer 32 jalan antara Kabupaten Garut-Tasikmalaya. Secara administratif, kampung adat ini berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Jarak dari jalan utama ke perkampungan sekitar 500 meter.

Meski tidak terlalu jauh, untuk menuju perkampungan harus menyusuri anak tangga tembok sebanyak 439 buah dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Sepanjang menyelusuri anak tangga, panorama hijau perbukitan terlihat di mana-mana. Sesampainya di ujung Sungai Ciwulan, kemudian menyusuri jalan setapak sepanjang 100 meter untuk sampai di Kampung Naga yang biasa disebut Kampung Naga Dalam. Gemericik air sungai akan menemani setiap langkah menuju kampung.

Kampung Naga berada di lembah dengan batas wilayah di sebelah barat dibatasi oleh hutan keramat yang di dalamnya terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di Kabupaten Garut. Luas kampung sekitar 1,5 hektare, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan sawah.

Keunikan kampung ini terlihat dari bentuk dan konstruksi bangunan. Ornamen rumah dibuat seragam, mulai dari bahan sampai pada potongan bangunan dan arah menghadapnya. Rumah-rumah itu tersusun berderet sejajar dan tertata dengan rapi. Kondisi ini berbeda jauh dengan Kampung Naga Luar yang jaraknya sekitar 100 meter. Hampir seluruh bangunan di sini telah menggunakan dinding tembok dan genting.

Jumlah bangunan di Kampung Naga sebanyak 113 unit, di antaranya sebanyak 110 rumah, namun yang ditinggali 108 rumah. Tempat lainnya di antaranya bale pertemuan, lumbung padi, dan masjid yang letaknya sejajar menghadap ke arah timur-barat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan. Jumlah penduduknya tercatat sebanyak 108 kepala keluarga yang terdiri dari 314 jiwa.

Bangunan rumah berupa panggung berbentuk empat persegi panjang. Desain arsitektur dan interiornya sederhana, namun tertata apik, sehingga sirkulasi udara dan cahaya cukup baik masuk ke dalam ruangan. Pola ruangan dibagi dua petak, di antaranya ruang tengah dan petak kedua terdiri dari dapur, gudang (goah), dan kamar. Hal itu juga terlihat dari muka rumah yang terdiri dari dua pintu, satu pintu yang langsung ke ruang tengah dan yang satunya lagi pintu dapur.

Bahan bangunan yang digunakan di antaranya terbuat dari kayu, bambu, daun nipah, dan ijuk atau alang-alang. Rangka bangunan terbuat dari kayu. Daun nipah dan ijuk digunakan untuk bagian atap.

Jenis kayu yang digunakan berupa pohon yang tidak mengandung getah, seperti Albasiah. Sedangkan untuk daun pintu dan kusen menggunakan kayu manglid. Alasannya karena kayu dari tanaman yang mengandung getah mudah dimakan rayap dan lapuk.

Bahan yang digunakan untuk bagian ruang tengah rumah hampir semuanya terbuat dari kayu seperti pada dinding bagian luar dan lantainya. Namun, untuk dinding bagian dalam, semuanya menggunakan anyaman bambu (bilik).

Sedangkan untuk dapur lebih banyak menggunakan bambu, baik dari dinding maupun lantainya. Anyaman bambu secara vertikal dan horizontal atau biasa disebut bilik sasag digunakan bagian muka. Alasannya, agar saat memasak, asap dapat cepat keluar dari ruangan. Selain itu, bila terjadi bencana kebakaran, dapat dilihat orang yang lewat dari luar.

Tak hanya itu, lantai untuk dapur pun menggunakan belahan bambu (palupuh). Alasannya agar mudah dibersihkan. Bila ada makanan yang tercecer, bisa langsung dibuang ke bawah, di mana tempat tersebut dijadikan kandang ternak. Bahan untuk menopang bangunan, fondasi rumah terbuat dari batu yang terpasang sejumlah titik. Batu yang digunakan berupa batu papas berukuran 20 x 60 sentimeter.

Bangunan masyarakat Kampung Naga ini sebelumnya pernah rata dengan tanah pada 1956. Semua bangunan hangus dibakar oleh gerakan pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwirjo. Namun, meski begitu, bangunan yang berdiri sekarang masih tetap seperti yang dulu. “Masyarakat berhasil membangunnya kembali pada tahun 57-an. Bangunannya sama tidak ada yang berubah,” ujar salah seorang keturunan warga Kampung Naga, Darmawan, 43 tahun, yang berprofesi sebagai pemandu pengunjung yang akan ke Kampung Naga.

Tak hanya bentuk bangunan, masyarakat d isini pun hidup sederhana. Mereka dilarang untuk menggunakan listrik sebagai penerangan di malam hari dan menggunakan kompor gas. Alasannya karena banyak menimbulkan bencana seperti kebakaran. Namun, meski begitu, ada di antara sebagian masyarakat yang memiliki televisi. Mereka menggunakan accu sebagai energinya. “Kalau TV boleh, karena sebagai sarana informasi dan hiburan,” ujar Darmawan.

Menurut dia, tradisi di Kampung Naga dari dulu hingga saat ini masih tetap terjaga dengan baik. Segala hal yang dianggap tabu masih tetap dipercaya masyarakat dan tidak ada satu pun yang dilanggar. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dari setiap generasi.

Salah satu caranya, semua masyarakat dari mulai anak-anak sampai orang tua dilibatkan untuk mengikuti setiap kegiatan adat. Untuk rumah diwariskan kepada anak perempuan yang paling bungsu. Alasannya karena anak perempuan sering tinggal di rumah, bisa menjaga rumah, dan banyak mengetahui kondisi rumah dibandingkan dengan anak laki-laki yang jarang di rumah.

Kehidupan yang harmonis ini membuat semua penduduk betah tinggal di kampung ini. Menurut Darmawan, semua kebutuhan pun dapat tercukupi dengan baik. “Disini itu, sosialnya lebih tinggi, beda dengan di kota. Untuk makan sehari-hari juga tidak susah beda dengan di kota yang segalanya harus dibeli,” ujarnya.

Piknik Asyik di Pemakaman San Diego Hills

Sesosok anak perempuan berlari kecil di hamparan rumput hijau. Sesekali dia masuk ke jalan setapak, kadang juga berhenti untuk melihat bunga yang mekar di sana. Kala lari, rambut pendek si kecil tersapu embusan angin. Tawa riang tak pernah lepas dari wajah polosnya.

Usia si anak kira-kira 1,5 tahun. Namanya Holy Gracia Angel Far Far. Holy tak sendiri. Ada ayah, ibu, dan sang nenek yang berjalan mengiring dirinya.

Menjelang puncak bukit kecil, Holy mendekati sepetak tanah kubur berhias batu nisan dengan tulisan, Octavianus Far Far. Holy cium foto lelaki pada batu nisan itu. "Selamat ulang tahun opa," kata dia.

Sejurus kemudian, sang nenek, Sally Far-Far, ikut mendekati makam suaminya. "Selamat ulang tahun pa. Saya sama anak-anak dan Holy datang nih," ujar Sally seraya mengelus nisan suaminya. Ya, hari itu adalah tanggal kelahiran almarhum Octavianus. Purnawirawan polisi itu mengembuskan napas terakhirnya pada 26 November 2010 karena sakit.

Setelah anak, menantu, cucu, dan sanak saudara menyapa Octavianus, Sally pun menggelar selembar kain di sisi makam dan menata makanan yang dibawanya. Karena hari itu peringatan kelahiran sang suami, perempuan 55 tahun tersebut tak lupa membawa kue tart cokelat. "Kami rayakan ulang tahun bapak di sini," kata Sally.

Bersama anak-cucunya, Sally kerap mendatangi tanah kuburan Octavianus yang berada di San Diego Hills Memorial Park, Karawang. "Tiap tanggal 26 saya ke sini." Tidak hanya datang untuk berziarah, mereka juga piknik di sana. Kenapa Sally piknik di taman pemakaman? Alasannya, karena San Diego Hills Memorial Park tidak seperti kuburan pada umumnya yang menyeramkan. Suasana San Diego yang dibuat sedemikian rupa membuatnya seperti taman bunga.

Hamparan rumput hijau nan empuk seperti lapangan golf, jalan setapak yang dicetak dengan semen, dan sejumlah pohon bunga menyulap San Diego jauh dari kesan angker. Bahkan beberapa bangku dari batu bata dengan lapisan semen abu-abu, tebaran baru koral, serta patung malaikat menjadikan kawasan pemakaman itu cocok untuk lokasi pemotretan. Suasana seperti itulah yang membuat Sally dan keluarganya betah berlama-lama di makam Octavianus.

"Sekali datang, kami bisa menghabiskan waktu 2-3 jam di sini. Kalau ke pemakaman umum, paling lama 15-20 menit," kata Sally. Pengelolaan San Diego Hills seperti bukit taman itu pun membuat Sally tidak segan membawa serta cucunya yang masih balita. "Holy malah suka diajak ziarah. Kadang dia yang mengingatkan saya untuk mengunjungi opanya," ujar dia.

Di San Diego, Holy memang tidak datang hanya untuk mendoakan sang kakek saja. Bocah itu juga mengejar burung dara, memetik bunga krisan, menyantap makanan kesukaannya di Restoran La Collina, atau bermain air di kolam renang yang ada di sana. Suasana sedemikian rupa sengaja disuguhkan oleh si empunya taman pemakaman, Mochtar Riady, pendiri sekaligus CEO Grup Lippo.

Kata Suziany Japardy, Direktur San Diego Hills, ide membangun kawasan tersebut berawal kala Mochtar merasa tidak nyaman ketika mengunjungi makam orang tuanya di Jawa Timur. Selama berziarah, Mochtar merasa sedih melihat kondisi pemakaman yang dipenuhi pengemis, rusaknya jalanan, dan tak ada fasilitas umum, seperti toilet.

Kondisi itulah yang menurut Mochtar membuat makam hanya sekadar pengingat bagi orang tua. "Anak kecil dan kaum muda malas berlama-lama berziarah, jadinya merenggangkan persaudaraan di generasi yang lebih muda," kata Suzi.

Karena itu Mochtar memindahkan makam orang tuanya ke tanah pribadinya di Karawang, Jawa Barat. Dia pun mendapat ide untuk mengelola lahan seluas 500 hektare itu menjadi taman pemakaman. Dan simsalabim. Berdirilah San Diego Hills Memorial Park pada 2007. "San Diego itu City of God," ungkap Suzi.

San Diego Hills tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki makam anggota keluarga di sana. Masyarakat umum pun diizinkan berkunjung, tapi bukan di taman pemakamannya, melainkan pada kompleks perkantoran. Di kompleks itu, Mochtar menyediakan restoran La Collina yang menyediakan makanan ala Italia dan Nusantara; kolam renang; danau buatan; dan jogging track. Untuk berenang, pengunjung hanya dipungut bayaran Rp 20 ribu pada hari kerja dan Rp 25 ribu di akhir pekan.

"Pengunjung juga bisa menyewa sepeda seharga Rp 20 ribu per jam atau perahu dayung Rp 50 ribu untuk dua orang," kata Suzy.

Telah satu tahun Octavianus pergi, namun Sally dan keluarganya tak pernah bosan datang ke San Diego Hills. Dan bulan depan, tepatnya tanggal 26, Sally akan kembali mengunjungi makam suaminya itu. Kata dia, sejauh ini tidak ada keluhan untuk pengelolaan taman makam itu. Semua terkelola dengan baik dan rapi. "Hanya perlu lampu taman. Jadi kalau ada keluarga mendadak datang, bisa berziarah di malam hari," ujar dia.

Ke depan, Sally berencana menggelar perhelatan pernikahan anak keduanya, Ade Luther Far Far, di San Diego. Kebetulan pengelola juga menyediakan sebuah kapel di sana. "Kata Ade, tempatnya bagus untuk menggelar pernikahan ala pesta taman. Tapi nanti, kalau jodohnya sudah ada," ujar Sally.

Wisata Gunung Sadahurip Bisa Hidup dari Mitos Piramida

Meski keberadaan piramida masih diragukan, Gunung Sadahurip tetap bisa dijadikan lokasi wisata. Masyarakat bisa mengenal geologi dari gunung ini.

Pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sujatmiko adalah seorang yang menentang keras dugaan piramida di perut Sadahurip. Menurut dia gunung ini terbentuk oleh desakan magma yang perlahan, sehingga membentuk struktur limas.

Namun ia tak menafikkan tingginya minat masyarakat akan keberadaan piramida. Apalagi ia menyaksikan langsung ratusan orang berkumpul di puncak Sadahurip setelah isu ini berkembang.

"Ini menunjukkan masyarakat mencintai gunung," kata dia di Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012.

Lalu bagaimana cara mengkompromikan kealamian Sadahurip dengan minat masyarakat ini? Sujatmiko mengusulkan Pemerintah Kabupaten mempertahankan mitos piramida di dalam gunung. Hal ini dianggap wajar karena banyak lokasi wisata di dalam dan luar negeri ramai dikunjungi karena adanya mitos. "Mitos piramida akan menarik minat wisatawan," kata dia.

Atas alasan ini, ia meminta Bupati Garut agar segera membangun sarana publik di gunung ini. Upaya ini tak perlu menunggu kesimpulan akhir dari Tim Bencana Katastropik Purba yang masih mempelajari kemungkinan keberadaan piramida di balik Sadahurip.

Random Post