Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search
Showing posts with label sumbar. Show all posts
Showing posts with label sumbar. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Belanja Tenunan Songket di Pandai Sikek

Ingin memiliki tenunan songket khas Minang? Pergilah ke Pandai Sikek, nagari di kaki Gunung Singgalang yang terletak tak jauh setelah Kota Padang Panjang menuju Bukittinggi. Tenunan Pandai Sikek buatan tangan ini sangat indah dengan beragam motif dan warna.

Di Pandai Sikek saat ini terdapat puluhan rumah tenun dengan ratusan penenun yang umumnya perempuan muda. Rata-rata dalam satu bulan seorang penenun bisa menghasilkan selembar kain (untuk sarung) atau selendang dengan motif paling sederhana. Pandai Sikek adalah daerah yang masuk daftar kunjungan wisata ke Sumatera Barat untuk berbelanja.

Selain membeli songket, Anda juga bisa melihat langsung proses pembuatan tenunan yang masih menggunakan alat tenun tradisional di rumah-rumah. Anda pun bisa menyaksikan proses pembuatan tenunan songket Pandai Sikek dari helai demi helai benang untuk membuat selembar kain yang indah. Ini tentu pemandangan yang unik dan langka, mengingat di zaman pabrikasi saat ini masih ada pembuatan kain dengan menggunakan keterampilan tangan dan alat sederhana.

Dulunya pembuatan kain tenun ini berkaitan dengan penyediaan pakaian untuk upacara adat, seperti melantik penghulu, pesta perkawinan.

Pandai Sikek merupakan satu dari tujuh nagari di Minangkabau yang masyarakatnya secara turun-temurun sejak ratusan tahun terkenal sebagai perajin tenun. Nagari lain adalah Pitalah dan Sungayang, Silungkang, Kotogadang, Koto nan Ampek, dan Kubang.

Namun sekarang hanya tinggal Silungkang, Kubang, dan Pandai Sikek yang masih terdapat penenun. Dari ketiga itu hanya Pandai Sikeklah yang lebih maju dalam melanjutkan tradisi menenun dengan tetap mewariskan kemahiran menenun kepada warganya, sehingga banyak penduduknya tetap menjadi penenun.

Selain itu, tenunan songketnya pun memiliki kehalusan dan keberagaman motif yang jauh lebih tinggi dan banyak. Jenis motif tenunan songket Pandai Sikek yang jumlahnya lebih 200 itu rata-rata memiliki arti yang berkaitan dengan filosofi adat Minangkabau, seperti motif pinggir “itiak pulang patang” (itik pulang petang) yang mengiaskan orang Minang seiya-sekata atau bersatu.

Di Pandai Sikek puluhan rumah tenunan songket menjual songket buatan tangan itu. Salah satunya adalah Rumah Tenun Pusako yang berbentuk rumah gadang milik Hajah Sanuar yang termasuk paling awal merintis bisnis penjualan songket di Pandai Sikek.

Songket dari Rumah Tenun Pusako sangat indah dengan beragam motif dan warna. Selain mempertahankan songket dengan warna tradisional, warna songket yang dijual juga mengikuti tren mode seperti merah menyala, biru, krem, dan kecokelatan. Harga songket mulai Rp 1,5 juta sampai Rp 10 juta per set, terdiri dari kain songket dan selendang.

Harga lebih ditentukan oleh kerumitan pengerjaan motif yang banyak menggali motif lama serta tergantung pada kain. “Songket paling mahal terbuat dari sutra asli dengan motif kuno Minangkabau, pengerjaannya lebih rumit karena di atas kain sutra, tapi lebih ringan dikenakan, ini yang membuatnya lebih mahal,” kata Adyan Anwar, pemilik usaha songket Rumah Tenun Pusako.

Selain Rumah Tenun Pusako yang khusus menjual songket tenunan, masih ada toko-toko lainnya yang tidak hanya menjual songket, tapi juga kain bordir dan kain sulaman khas Minang. Salah satunya di toko milik Erma Yulnita. Erma memiliki 30 perajin tenun di Pandai Sikek yang bekerja untuknya.

Songket yang ia jual juga dibanderol cukup terjangkau, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 7 juta per lembar. Harga songket di Pandai Sikek sangat tergantung pada kain, benang, serta kerumitan pengerjaannya. Semakin halus tentu semakin mahal. Harga masih bisa ditawar dan bisa berkurang paling banyak 10 persen.

Jangan takut tertipu berbelanja di Pandai Sikek karena ini usaha rumahan dan pemilik songket sangat mengandalkan kedatangan wisatawan ke tempatnya. Membeli atau tidak, Anda tetap dilayani dengan ramah. Bahkan di atas meja beranda selalu tersedia minuman gelas dan aneka makanan kecil khas Sumatera Barat seperti rakik maco, gelamai, keripik, hingga kue sagun yang bisa dimakan sambil menonton cara pembuatan songket di semua rumah tenun. Semua cemilan itu gratis.

Lezatnya Nasi Kapau di Los Lambuang

Ranah minang terkenal dengan kekayaan makanannya. Salah satunya adalah nasi Kapau. Masakan dari Kapau, kampung yang berada di dekat Bukittinggi, terkenal dengan gulai kapau yang kaya bumbu dan lezat. Di Bukittinggi ada satu tempat khusus yang menjual nasi Kapau. Namanya Los Lambuang, di Pasar Lereng dekat Pasar Atas.

Di tempat ini ada belasan kedai nasi Kapau yang menempati lahan terbuka. Di setiap kedai dilengkapi dengan nama masing-masing penjualnya. Ada Nasi Kapau Uni Lis, Nasi Kapau Uni Linda, dan lainnya. Silakan memuaskan selera mata dan perut. Nama tempatnya saja Los Lambuang, artinya tempat untuk memuaskan selera lambung.

Nasi Kapau memang sangat khas. Penyajian masakannya juga unik. Uni penjualnya duduk lebih tinggi dari bangku pembeli, seperti di atas takhta dengan aneka lauk dan gulai kapau di dalam baskom-baskom yang besar di depannya. Dengan posisi meja hidangan yang lebih tinggi, pembeli dapat langsung melihat aneka lauk yang menggiurkan terhampar di depan mata. Kita tinggal tunjuk ingin lauk apa, dan si uni dengan tangkas akan mengambil lauk dan gulai sayuran kapau dengan sendok tempurung bertangkai panjang.

Ada berbagai lauk untuk melengkapi nasi kapau. Yang khas seperti gulai tunjang. Ini gulai kikil kaki sapi atau urat sapi berkuah kuning dan dimasak lama, sehingga amat lembut saat digigit. Ada juga pangek ikan mas yang masih ada telur di dalam perutnya. Pangek ini gulai yang dibuat sampai kuahnya kering. Ada juga gulai tamusu atau usus sapi yang diisi telur dan tahu yang dihaluskan.

Ada juga masakan Minang yang sudah dikenal seperti rendang, ayam goreng berbumbu, belut goreng, atau dendeng batokok. Semua itu dipadukan dengan gulai nangka muda yang dicampur kol, kacang panjang, dan rebung. Ini yang paling khas dari nasi kapau.

Gulai Kapau memang sangat kaya bumbu dan agak berbeda dari masakan Minang lainnya. Gulai Kapau terbuat dari santan kental dengan bumbu jahe, lengkuas, kemiri, cabe, dan menggunakan lebih banyak kunyit sehingga warnanya lebih kuning. Dimasak perlahan di atas tungku dan kuali tebal membuat semua bumbu meresap ke lauk dan sayurannya.

Seporsi nasi kapau yang dihidang si uni penjual biasanya terdiri dari nasi, sepotong gulai nangka muda, kol, kacang panjang dan seiris rebung dengan kuah kuning kental, sedikit rendang ubi kayu, dan lauk pilihan. Kali ini saya memilih sepotong gulai usus yang tampak gemuk karena berisi campuran telur dan tahu. Rasanya?...hmmm semua paduan nasi dan lauk dari Kapau itu benar-benar lezat. Tak mengherankan jika banyak orang ke Bukittinggi hanya untuk mencari nasi Kapau.

Sunday, February 12, 2012

Menengok Kejayaan Zaman Kolonial di Kota Padang

Kota Padang menyimpan kenangan sejarah zaman Kolonial Belanda. Kota yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera ini sepanjang abad ke-18 dan ke-19 tumbuh menjadi kota dagang, sekaligus kota militer Pemerintahan Hindia Belanda.

Di sepanjang Sungai Batang Arau hingga Pelabuhan Muaro sejumlah bangunan tua jadi saksi bisu jejak kolonial yang tertinggal. Dari Jembatan Siti Nurbaya terlihat jelas sisa-sisa kota tua di Jalan Batang Arau di sisi sungai.

Pada zaman kolonial, Jalan Batang Arau menjadi kawasan perkantoran pemerintahan, perdagangan, dan militer. Di jalan ini berderet bangunan-bangunan tua dan besar bekas kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang peninggalan VOC.

Bangunan yang menonjol adalah gedung NHM (Nederlansche Handels-Maatschappij), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio yang didirikan sebelum 1920. Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik dengan tinggi 24 meter dan berdinding permanen ini berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada puncak atap sebagai tempat sirkulasi udara.

NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat berkantor beberapa perusahaan swasta, asuransi, dan perbankan. Kini bangunan ini hanya dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga. Di seberang gedung NHM ada kantor Bank Indonesia yang dulunya gedung De Javasche Bank. Gedung yang dibangun sekitar 1930 itu bergaya arsitektur tropis dengan bagian puncak atapnya menyerupai atap mesjid.

Masih di Jalan Batang Arau, berdiri kokoh Gedung Padangsche Spaarbank yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua dengan tinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik yang mendapat pengaruh dari arsitektur art-deco.

Padangsche Spaarbank sempat dikelola Hotel Batang Arau hingga 2009. Hotel tua ini amat disukai turis asing yang surfing ke Mentawai. Di sebelah Spaatbank terdapat gedung NV Internatio, sebuah perusahaan dagang yang dibangun sekitar 1910. Gedung yang sekarang milik BUMN Cipta Niaga itu berarsitektur neoklasik bercampur modern yang berkembang sebelum 1920. Selain itu masih ada beberapa gedung tua lagi yang masih berdiri.

Selain di sepanjang Jalan Batang Arau juga masih ada lusinan gedung tua di sebelah selatan. Di antaranya tiga bekas pasar yang dulunya terkenal di pengujung abad ke-19 itu, yaitu Pasa Gadang (Pasar Hilir), Pasa Mudik, dan Pasa Tanah Kongsi.

Kawasan ini sekarang tak lagi menjadi pasar. Arsitektur bangunan yang unik dengan arsitektur campuran antara Arab, Melayu, Cina, dan Minangkabau masih asli dan terjaga. Sebanyak 74 bangunan di sini dijadikan Pemerintah Kota Padang sebagai benda bersejarah yang dilindungi.

Serunya Nonton Pacu Jawi di Lereng Gunung Marapi

Menggigit ekor sapi hidup? Wuiihh... menjijikkan. Begitu tanggapan saya saat mendengar cerita dari seorang teman yang pernah nonton Pacu Jawi. Tak terbayang ada orang yang mau menggigit ekor sapi hidup yang berlumpur, berbulu, bau lagi. Kalau sop buntut sih lain ceritanya.

Tontonan unik ini bisa dilihat dalam acara Pacu Jawi di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang kerap diadakan seusai panen padi. Dalam arena itu sang joki akan menggigit ekor sapi keras-keras agar sapinya berlari kencang. Orang Minang menamai sapi dengan jawi, jadi acaranya namanya Pacu Jawi.

Rasa penasaran ingin nonton Pacu Jawi akhirnya kesampaian. Rupanya ada atraksi Pacu Jawi di Nagari Sungai Tarab. Kini masyarakat sedang keranjingan membuat acara Pacu Jawi di nagarinya begitu usai tanam padi lantaran semakin banyak ditonton untuk hiburan anak nagari.

Tempatnya jauh di tengah areal pesawahan yang berundak di kaki Gunung Marapi. Perlu ekstra kerja keras untuk mencapai lokasi karena harus berjalan di pematang sawah dan kubangan lumpur. Di Sungai Tarab, Gunung Marapi terlihat lebih menjulang dari biasanya karena sebagian punggungannya tertutup kabut.

Di depannya terbentang sawah yang berundak, dan ada sepetak sawah yang cukup lebar dengan panjang sekitar 60 meter yang akan digunakan untuk Pacu Jawi. Tanahnya berlumpur halus dan cukup dalam karena sudah empat pekan dijajal puluhan sapi yang ikut Pacu Jawi. Di lokasi Pacu Jawi ini tidak tercium lagi aroma kotoran sapi, tapi yang ada aroma lumpur sawah yang segar.

Suasana keceriaan dialek Nagari terasa kental, tiupan saluang mengalun riang diiringi gendang. Ibu-ibu membawa nampan yang tudungnya berhias berisi makanan ringan. Puluhan ekor sapi yang akan berpacu juga terlihat dipersiapkan pemiliknya untuk siap bertanding di lapangan.

Rupanya ini acara penutupan karena belasan sapi jantan sudah dirias seperti pengantin. Mulai dari kepalanya yang dihias rangkaian bunga plastik, tanduknya yang dibalut kain beludu bersulam, dan seluruh tubuhnya dipakaikan kain aneka warna. Itu tandanya sapi tuan rumah dari Sungai Tarab. Paginya mereka sudah diarak keliling kampung yang menandakan penutupan acara Pacu Jawi yang sudah berlangsung empat pekan setiap Sabtu.

Ada empat kecamatan yang punya tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar, yaitu Sungai Tarab, Pariangan, Rambatan, dan Lima Kaum. Keempat daerah ini ada di lereng Gunung Marapi. Pacu Jawi ini dilaksanakan usai panen padi dan tempatnya digilir tiap kecamatan yang dilaksanakan selama empat pekan setiap Sabtu.

“Pacu jawi ini sudah ada dari dulu, tapi belum seramai sekarang. Ini untuk menaikkan harga jawi. Kalau bagus larinya, harganya bisa sampai Rp 20 juta, lebih mahal dari harga pasaran yang hanya Rp 5 sampai Rp 7 juta,” kata Justiar, warga Koto Hiliang yang ikut Pacu Jawi. Ia membawa sapinya yang bernama Merica yang berusia 2 tahun 6 bulan.

“Walaupun kecil dia hebat, larinya kencang. Jadi saya namai merica. Kalau ada yang mau beli Rp 15 juta saya lepas,” kata Justiar. Dalam Pacu Jawi ini Merica akan tandem dengan Tando, seekor sapi jantan yang punya tanda totol hitam di kakinya milik kerabat Justiar.

Untuk meningkatkan stamina sapinya, sebelum dibawa berpacu, sapinya tidak diberi rumput, tapi makan telur dan madu yang dicampur minuman berenergi.

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba. Saya mengambil tempat di dekat garis start. Ingin melihat saat-saat penting ketika sang joki menggigit ekor sapinya. Aturannya, dua ekor sapi masing-masing diberi kala, atau kayu bajak, yang akan diinjak kaki kanan dan kiri sang joki. Joki mengendalikan sapi dengan menarik kedua ekor sapinya. Sapi yang dilepaskan hanya sepasang, dan tidak ada lawannya.
Yang dianggap juara adalah sepasang sapi yang larinya lurus, tidak berbelok ke sawah sebelah, dan jokinya tidak jatuh. Tidak ada pemenang karena penonton yang menyaksikan sapi siapa yang paling jagoan. Tentu saja setelah itu harga sang jagoan menjadi lebih tinggi.

Terjadi keributan kecil di lokasi start karena sapi-sapi itu sulit diatur. Tiba-tiba saja seekor sapi berlari karena tak sengaja bajaknya terinjak oleh joki. Ini soal insting sapi. Sebab setiap bajaknya diijak, sapi merasa itu saatnya berlari. Makanya joki-joki harus memegang bajak dan tidak meletakkannya di lumpur agar sapi tidak lari sebelum pertandingan dimulai.

Pacu Jawi dimulai dengan diiringi teriakan "Heyahhh..!" dari pemimpin lomba. Teriakan yang membuat kedua sapi lari kencang. Di sinilah unik dan lucunya, ada cipratan lumpur di mana-mana, wajah dan tubuh joki bersimbah lumpur sawah.

Ada joki yang langsung terpental jatuh karena kedua sapi berlari sangat kencang. Ada joki yang terjatuh karena hanya salah satu sapi yang lari kencang. Dan, ini yang saya tunggu-tunggu, di antara hujan cipratan lumpur telihat seorang joki yang berusaha mengendalikan kedua sapinya dengan menarik ekor dan menggigit salah satu ekor sapi. Akhirnya dua sapi dan jokinya sukses sampai ke ujung yang disambut sorakan penonton.

Namun gigitan joki pada ekor sapinya itu ada juga yang tidak sukses. Ada sapi yang kelihatannya marah sekali dan berlari kencang berbelok ke sawah orang nyaris menabrak penonton di pematang.

Usai bertanding, saya bertanya pada salah satu joki soal ekor sapi yang digigit itu. Kenapa ekor jawi-nya mesti digigit?

“Ini sudah biasa dalam pertandingan. Apalagi sehari-hari saya main dengan sapi itu, membajak sawah, menggigit ekornya itu pun kalau terpaksa. Biasanya agar lari kencang saya hanya menarik ekornya. Tapi kalau salah satu sapi saja yang lari kencang, terpaksa saya gigit ekor sapi satunya lagi agar larinya sama,” kata Yoyon, 18 tahun, salah satu joki.

Di Tanah Datar ajang Pacu Jawi ini tak lagi sekadar acara hiburan dan bisnis jual-beli ternak tradisional. Tapi sudah dimasukkan ke dalam salah satu cabang olahraga. Kegiatan ini dikelola Persatuan Olah Raga Pacu Jawi (PORWI) Kabupaten Tanah Datar, di bawah naungan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) kabupaten itu.

Tentu saja ajang Pacu Jawi masuk dalam salah satu event wisata favorit di Tanah Datar. Inilah salah satu obyek wisata dari banyak obyek wisata sejarah dan budaya tempat asal dan pusat kebudayaan Minangkabau di Ranah Minang. Di daerah tempat Istana Pagaruyung terletak.

Untuk memastikan ada-tidaknya acara Pacu Jawi, cari informasi dulu ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanah Datar. Biasanya hampir tiap bulan setiap akhir pekan ada acara Pacu Jawi yang tempatnya berpindah-pindah. Nonton acara ini tidak dipungut bayaran.

Balada Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang adalah maskotnya Kota Bukittinggi. Menikmati Bukittinggi akan lebih berkesan sambil bersantai di dekat Jam Gadang. Apalagi kawasan di sekitar Jam Gadang dilengkapi taman yang nyaman dan cukup luas dengan beberapa pohon yang rindang yang dilengkapi kursi untuk bersantai menikmati kota.

Di pagi hari, dari kawasan Jam Gadang, Gunung Singgalang dan Gunung Marapi jelas terlihat. Malam hari, kawasan Jam Gadang juga tidak pernah sepi. Taman Jam Gadang dilengkapi lampu taman yang temaram, menambah indahnya Jam Gadang.

Pengunjung bisa menikmati udara dingin sambil makan jagung bakar dan pisang bakar. Namun, di balik itu, mungkin tidak banyak yang tahu, sejak didirikan pada zaman kolonial, Jam Gadang tak pernah lepas dari tangan kekuasaan.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek kota bernama Yazid bersama Sutan Gigi Ameh. Pada saat itu, controleur atau Sekretaris Kota Bukittinggi dijabat oleh Rook Maker yang mendapat hadiah empat buah jam berukuran besar dengan diameter masing-masing 80 sentimeter dari Ratu Belanda. Keempat jam itu didatangkan dari Rotterdam, Belanda, melalui pelabuhan Teluk Bayur.

Rook Maker meminta arsitek kota membuat bangunan untuk meletakkan Jam Gadang. Jam Gadang dibangun dengan biaya 3.000 gulden. Menara Jam Gadang dibangun setinggi 26 meter. Luas denah dasar dari Jam Gadang adalah 13 x 4 meter. Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih.

Keunikan dari Jam Gadang adalah pada kesalahan penulisan angka Romawi empat ("IV") pada masing-masing jam yang tertulis "IIII", bukan nomor tradisional Romawi "IV". Mesin Jam Gadang digerakkan secara mekanik.

Mungkin karena terkenalnya Jam Gadang, membuat setiap rezim yang berkuasa juga punya kekuasaan pada Jam Gadang. Ini terlihat pada atap Jam Gadang yang telah mengalami tiga kali perubahan sesuai rezim yang berkuasa.

Pada zaman kolonial Belanda, di puncak Jam Gadang diletakkan patung ayam yang menghadap ke timur. Konon ini untuk menggambarkan anak nagari yang belum mengerti melihat jam dan hanya mengandalkan waktu dengan kokok ayam jantan di pagi hari.

Di masa pendudukan Jepang, puncak Jam Gadang diganti dengan klenteng. Sedangkan, setelah kemerdekaan Indonesia, puncaknya berbentuk atap rumah bagonjong Minangkabau.

Tidak sampai di situ saja. Di masa otonomi daerah seperti sekarang, Jam Gadang juga berusaha tetap dikendalikan penguasa lokal.

Kawasan Jam Gadang paling ramai dan sesak pada malam tahun baru karena warga kota dan wisatawan menunggu momen pergantian tahun itu dengan mendengar detak Jam Gadang dan melihat detik-detik jarum jam di Jam Gadang melewati angka 00.00 WIB. Tak kurang dari 20 ribu pengunjung datang ke Bukittinggi dan sebagian besar memadati kawasan Jam Gadang untuk menunggu detik-detik pergantian tahun di depan Jam Gadang dan merayakannya dengan meriah.

Kegembiraan anak muda pada saat pergantian tahun sempat membuat gerah ulama Bukittinggi. Mereka menuduh perayaan tahun baru di dekat Jam Gadang mendatangkan maksiat. Sebab, saat momen pergantian tahun, datang banyak pasangan muda yang berpelukan.

Pada 2008 lalu, atas permintaan mereka, Wali Kota Bukittinggi saat itu, Djufri, memerintahkan menjahit selubung dari kain marawa untuk menutupi Jam Gadang pada malam tahun baru. Kain Marawa adalah panji Minangkabau dengan warna merah, kuning, dan hitam.

Selain diselubungi kain dan jarum, Jam Gadang juga dimatikan agar tidak terdengar detaknya pada malam pergantian tahun. Tujuan pemerintah kota agar tidak ada yang merayakan tahun baru di depan Jam Gadang.

Menurut Djufri, penyelubungan Jam Gadang dilakukan sebagai upaya untuk menghindari kemaksiatan yang diduga sering terjadi saat malam pergantian tahun. Akhirnya, mulai pukul 16.00 WIB pada 31 Desember 2008 hingga 1 Januari 2009, menara Jam Gadang setinggi 26 meter itu diselubungi kain. Aksi ini menuai protes banyak kalangan. Setahun berikutnya, Jam Gadang tidak lagi diselubungi tahun.

Namun diam-diam mesin jamnya dimatikan sehingga dentangnya tak berbunyi saat pergantian tahun. Namun, pada akhir tahun lalu, tidak ada lagi “sabotase” pada Jam Gadang karena Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengimbau agar Jam Gadang yang megah itu tidak dimatikan mesinnya saat pergantian tahun. Wisatawan kembali bisa menikmati dentangnya berbunyi di malam tahun baru.

Di Bukittinggi, tentu tidak hanya melihat Jam Gadang. Ada banyak kawasan wisata di dalam kota yang dekat dengan Jam Gadang, bahkan bisa didatangi dengan berjalan kaki. Seperti Ngarai Sianok, Terowongan Lubang Jepang, dan menikmati panorama Bukittinggi di Benteng Fort de Kock.

Belum lagi menikmati sederet masakan Minang yang lezat, mulai dari Nasi Kapau hingga Ampaing Dadiah (susu kerbau yang difermentasi dan ditambah cairan gula merah serta emping beras).

Karena Bukittinggi setiap tahun menjadi tujuan wisatawan untuk merayakan tahun baru, di akhir tahun semua hotel penuh. Bila ingin menghabiskan liburan akhir tahun di Bukittinggi, sebaiknya pesan hotel jauh-jauh hari.

Dari Padang ke Bukittinggi, perjalanan memakan waktu dua jam menempuh jarak 91 kilometer dengan menggunakan bus travel.

Magis Piramida di Gunung Padang

Ribuan batu yang terserak di punggung Gunung Padang menjadi saksi bisu peradaban yang pernah menghuni kawasan Cianjur ribuan tahun lalu. Para ahli mencoba merekonstruksi pemandangan daerah megalitik ini.

Situs Gunung Padang terdiri atas lima tingkat halaman--disebut teras--yang berjejer pada satu sisi bukit. Teras-teras bersusun memanjang menghadap ke Gunung Gede yang berada 25 kilometer di barat laut situs.

Menurut Anggota Ikatan Arsitek Indonesia Pon Purajatnika, susunan yang menghadap ke Gunung Gede memberi petunjuk paradigma spiritual masyarakat pada masa itu. Gunung Gede dianggap sebagai simbol kepercayaan manusia terhadap gunung."Gunung Padang pernah menjadi tempat ritual suci," kata Pon  di Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012.

Dugaan lokasi ritual ini diperkuat dengan keberadaan meja batu di teras terbawah. Dahulu, meja ini menjadi lokasi persimbahan darah kerbau yang diserahkan kepada leluhur. Ukuran meja sendiri dibuat untuk sanggup memuat tubuh kerbau.

Di malam hari, pemandangan menjadi lebih mengesankan. Sesuai namanya, Gunung Padang berarti tempat yang terang benderang. Hal ini wajar karena dari lokasi ini masyarakat bisa menyaksikan taburan bintang di langit. Sebulan sekali, lahan seluas 900 meter persegi ini akan menjadi sangat terang akibat diguyur cahaya purnama.

Hokky Situngkir dari Sosiologi Komputasi Bandung Fe Institute memiliki gambaran lain. Menurut dia, Gunung Padang juga dipakai untuk memantau waktu dan musim. Terbukti dengan keberadaan sepetak tanah yang dibatasi batu-batu kecil dengan satu batu balok besar di bagian tengah.

Lokasi ini dijadikan sebagai jam matahari untuk mengetahui pergerakan harian matahari. Bagitu pula dengan batu duduk yang diposisikan menghadap ke utara. Dari titik tersebut, tetua adat bisa memantau pergerakan bintang-bintang di kutub utara. Tetua juga bisa melihat rasi bintang tertentu yang menandakan pergantian musim.

"Tradisi mengantisipasi pergantian musim dengan melihat bintang masih diturunkan hingga petani tradisional masa sekarang," kata Hokky.

Pengaturan waktu bercocok tanam ini bertepatan dengan keberadaan lokasi pertanian tepat di seberang sungai yang mengalir di utara teras pertama. Pertanian yang makmur membuat peradaban Gunung Padang bisa bertahan di tengah keganasan alam.

Temuan lain menyangkut alat musik dari batu atau biasa disebut sebagai litofon. Terdapat empat batu yang mengeluarkan nada pada frekuensi tertentu jika dipukul. Pada berbagai peradaban, alat musik seperti ini banyak dipakai untuk mengiringi ritual, membangun suasana magis pada upacara sakral. Selain itu, bunyi-bunyian juga bisa dipakai sebagai alat komunikasi jarak jauh kepada masyarakat agraris pada waktu itu untuk mulai menanam dan memanen.

Terdapat kemungkinan lain. Menurut Hokky, litofon juga bisa dipakai sebagai tanda peringatan. Peringatan ini berlaku ketika akan melakukan perang atau bencana menjelang.

Random Post