Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search

Sunday, February 12, 2012

Piknik Asyik di Pemakaman San Diego Hills

Sesosok anak perempuan berlari kecil di hamparan rumput hijau. Sesekali dia masuk ke jalan setapak, kadang juga berhenti untuk melihat bunga yang mekar di sana. Kala lari, rambut pendek si kecil tersapu embusan angin. Tawa riang tak pernah lepas dari wajah polosnya.

Usia si anak kira-kira 1,5 tahun. Namanya Holy Gracia Angel Far Far. Holy tak sendiri. Ada ayah, ibu, dan sang nenek yang berjalan mengiring dirinya.

Menjelang puncak bukit kecil, Holy mendekati sepetak tanah kubur berhias batu nisan dengan tulisan, Octavianus Far Far. Holy cium foto lelaki pada batu nisan itu. "Selamat ulang tahun opa," kata dia.

Sejurus kemudian, sang nenek, Sally Far-Far, ikut mendekati makam suaminya. "Selamat ulang tahun pa. Saya sama anak-anak dan Holy datang nih," ujar Sally seraya mengelus nisan suaminya. Ya, hari itu adalah tanggal kelahiran almarhum Octavianus. Purnawirawan polisi itu mengembuskan napas terakhirnya pada 26 November 2010 karena sakit.

Setelah anak, menantu, cucu, dan sanak saudara menyapa Octavianus, Sally pun menggelar selembar kain di sisi makam dan menata makanan yang dibawanya. Karena hari itu peringatan kelahiran sang suami, perempuan 55 tahun tersebut tak lupa membawa kue tart cokelat. "Kami rayakan ulang tahun bapak di sini," kata Sally.

Bersama anak-cucunya, Sally kerap mendatangi tanah kuburan Octavianus yang berada di San Diego Hills Memorial Park, Karawang. "Tiap tanggal 26 saya ke sini." Tidak hanya datang untuk berziarah, mereka juga piknik di sana. Kenapa Sally piknik di taman pemakaman? Alasannya, karena San Diego Hills Memorial Park tidak seperti kuburan pada umumnya yang menyeramkan. Suasana San Diego yang dibuat sedemikian rupa membuatnya seperti taman bunga.

Hamparan rumput hijau nan empuk seperti lapangan golf, jalan setapak yang dicetak dengan semen, dan sejumlah pohon bunga menyulap San Diego jauh dari kesan angker. Bahkan beberapa bangku dari batu bata dengan lapisan semen abu-abu, tebaran baru koral, serta patung malaikat menjadikan kawasan pemakaman itu cocok untuk lokasi pemotretan. Suasana seperti itulah yang membuat Sally dan keluarganya betah berlama-lama di makam Octavianus.

"Sekali datang, kami bisa menghabiskan waktu 2-3 jam di sini. Kalau ke pemakaman umum, paling lama 15-20 menit," kata Sally. Pengelolaan San Diego Hills seperti bukit taman itu pun membuat Sally tidak segan membawa serta cucunya yang masih balita. "Holy malah suka diajak ziarah. Kadang dia yang mengingatkan saya untuk mengunjungi opanya," ujar dia.

Di San Diego, Holy memang tidak datang hanya untuk mendoakan sang kakek saja. Bocah itu juga mengejar burung dara, memetik bunga krisan, menyantap makanan kesukaannya di Restoran La Collina, atau bermain air di kolam renang yang ada di sana. Suasana sedemikian rupa sengaja disuguhkan oleh si empunya taman pemakaman, Mochtar Riady, pendiri sekaligus CEO Grup Lippo.

Kata Suziany Japardy, Direktur San Diego Hills, ide membangun kawasan tersebut berawal kala Mochtar merasa tidak nyaman ketika mengunjungi makam orang tuanya di Jawa Timur. Selama berziarah, Mochtar merasa sedih melihat kondisi pemakaman yang dipenuhi pengemis, rusaknya jalanan, dan tak ada fasilitas umum, seperti toilet.

Kondisi itulah yang menurut Mochtar membuat makam hanya sekadar pengingat bagi orang tua. "Anak kecil dan kaum muda malas berlama-lama berziarah, jadinya merenggangkan persaudaraan di generasi yang lebih muda," kata Suzi.

Karena itu Mochtar memindahkan makam orang tuanya ke tanah pribadinya di Karawang, Jawa Barat. Dia pun mendapat ide untuk mengelola lahan seluas 500 hektare itu menjadi taman pemakaman. Dan simsalabim. Berdirilah San Diego Hills Memorial Park pada 2007. "San Diego itu City of God," ungkap Suzi.

San Diego Hills tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki makam anggota keluarga di sana. Masyarakat umum pun diizinkan berkunjung, tapi bukan di taman pemakamannya, melainkan pada kompleks perkantoran. Di kompleks itu, Mochtar menyediakan restoran La Collina yang menyediakan makanan ala Italia dan Nusantara; kolam renang; danau buatan; dan jogging track. Untuk berenang, pengunjung hanya dipungut bayaran Rp 20 ribu pada hari kerja dan Rp 25 ribu di akhir pekan.

"Pengunjung juga bisa menyewa sepeda seharga Rp 20 ribu per jam atau perahu dayung Rp 50 ribu untuk dua orang," kata Suzy.

Telah satu tahun Octavianus pergi, namun Sally dan keluarganya tak pernah bosan datang ke San Diego Hills. Dan bulan depan, tepatnya tanggal 26, Sally akan kembali mengunjungi makam suaminya itu. Kata dia, sejauh ini tidak ada keluhan untuk pengelolaan taman makam itu. Semua terkelola dengan baik dan rapi. "Hanya perlu lampu taman. Jadi kalau ada keluarga mendadak datang, bisa berziarah di malam hari," ujar dia.

Ke depan, Sally berencana menggelar perhelatan pernikahan anak keduanya, Ade Luther Far Far, di San Diego. Kebetulan pengelola juga menyediakan sebuah kapel di sana. "Kata Ade, tempatnya bagus untuk menggelar pernikahan ala pesta taman. Tapi nanti, kalau jodohnya sudah ada," ujar Sally.

Benteng Kura-kura Terbesar di Asia Tenggara

Minggu pukul 17.00 WIB. Cuaca sore lembut menyapa kulit. Seorang ibu muda menyuapi makan seorang anak perempuan cantik dan cerdas berusia sekitar 2,5 tahun sambil mengitari tiga makam tua di halaman Benteng (Fort) Marlborough, Bengkulu.

Berbeda seperti makam umumnya yang penuh dengan kesan dingin, mistis dan sakral, tiga makam tua itu berjejer seperti ramah menyapa pengunjung benteng di gerbang utama benteng. Bocah kecil yang disuapi ibunya itu sesekali berceloteh dengan bahasa yang belum tandas sambil menunjuk ketiga makam tersebut.

Makam pertama terbaring jasad Residen Thomas Parr yang mati dibunuh pada 23 Desember 1807 oleh pemberontakan rakyat Bengkulu. Di sebelahnya dimakamkan pegawai Parr, Charles Murray. Murray berusaha menyelamatkan Parr, namun terluka dan meninggal. Sedangkan makam yang satunya lagi tidak dikenal.

Jika Anda pernah datang ke benteng ini keberadaan makam tersebut tepat di sebelah kanan pintu masuk gerbang utama. Ibu dan anak tersebut bukan satu-satunya wisatawan yang asyik masyuk berwisata sejarah di Benteng peninggalan Inggris itu.

Jika jarum waktu diputar memasuki awal 1714 pada saat benteng didirikan tentu tidak akan berani ibu muda dan anak perempuannya yang “cerewet” itu mengelilingi benteng kukuh itu. Sebab, di tahun itu keangkuhan, kekejaman, serta keserakahan masih menyelimuti benteng.

Benteng Marlborough atau dikenal juga dengan benteng kura-kura dibuat pada 1714 sampai dengan tahun 1719 oleh Kerajaan Inggris Raya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joseph Collet. Benteng Marlborough berdiri kokoh di tepian Samudra Hindia di atas bukit dengan ketinggian sekitar 8,5 meter di atas permukaan laut.

Benteng ini menghadap ke selatan dan memiliki luas sekitar 44.100 meter persegi. Benteng yang dikelilingi parit buatan ini seolah memunggungi Samudra Hindia. Memiliki empat sudut yang dilengkapi meriam pengintai, meriam pertahanan dan meriam penghancur kapal musuh yang langsung mengarah ke laut.

Dari atas sudut benteng inilah kita bisa menikmati pemandangan berupa hamparan laut lepas biru dilengkapi pohon cemara pada sepanjang pantai Tapak Padri yang bersambung ke Pantai Panjang Bengkulu.

Memasuki gerbang utama setelah melewati jembatan di sebelah kanan pintu masuk terdapat dua ruangan yang saling berhadapan sebelah kanan terdapat ruang jaga dan sel militer. Di sini terdapat lukisan kompas yang dibuat oleh tahanan menggunakan bahasa Belanda tertempel di beton bangunan yang kokoh.

Di sebelah lukisan kompas itu terdapat tulisan, “Die dit kompas mnzii berisp den knoeijer niet bedenk dat-lee cen leidt en dat voor tijdverdrijf ik dit hier nederschrijf.” Artinya: “Barang siapa mengamati kompas ini janganlah memarahi yang membuat coretan ini, ingatlah bahwa kesengsaraan dan waktulah yang membuat saya mencoret-coret di sini dan waktu saya menulis ini.” Tulisan tersebut diterjemahkan Prof. DR Haryati Soebado pada 14 Oktober 1983. Konon di ruangan itu juga Bung Karno pernah mendekam ketika diasingkan di Bengkulu.

Selanjutnya, di sebelah kiri, terdapat ruang tahanan dan harta. Sedangkan memasuki ke pintu utama di sebelah kanan terdapat barak militer berisikan beberapa meriam dan peluru yang tersisa. Terus ke depan terdapat perkantoran yang digunakan untuk perwira. Di utara terdapat bekas gudang mesiu.

Ada dua terowongan di pojok depan dan sebelah kiri benteng dekat perkantoran itu. Ada yang berasumsi terowongan tersebut tembus hingga Pantai Panjang Bengkulu, sebagai jalan keluar militer Inggris bila terkepung. Namun ada pula yang beranggapan terowongan itu buntu.

Jika dilihat dari udara, maka benteng ini akan terlihat berbentuk seperti kura-kura memiliki kepala dan empat buah kaki. Bagian kepala adalah pintu utama sedangkan kaki adalah sudut benteng yang digunakan sebagai menara pertahanan dan pengintai.

Dahulu, Benteng Marlborough merupakan bandar utama pelabuhan laut. Dari benteng inilah Inggris dengan leluasa mengontrol keluar masuknya kapal menuju Bengkulu.

Benteng ini diakui ahli sejarah merupakan benteng peninggalan Inggris terbesar di Asia Tenggara. Tujuan dibuatnya benteng adalah sebagai basis pertahanan militer Inggris.

Seiring dengan kuatnya cengkraman Inggris di Bengkulu, maka fungsi Benteng berubah menjadi kepentingan perdagangan. Benteng dijadikan tempat koordinasi bagi kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East Indian Company, dan pusat pengawasan jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda.

Pada 17 Maret 1824, Belanda menyerahkan Malaka dan Semenanjung Melayu kepada Inggris. Sedangkan, Inggris menyerahkan kekuasaannya di Bengkulu dan seluruh kepemilikannya pada pulau Sumatera kepada Belanda.

Perjanjian tersebut dilakukan pada 17 Maret 1824 di London, dikenal dengan traktat London. Pada perjanjian itu Belanda diwakili oleh Hendrik Fagel dan Anton Reinhard Falck, sedangkan Inggris diwakili George Canning dan Charles Watkins Williams Wynn. Ini untuk mempermudah Inggris dan Belanda dalam mengontrol wilayah jajahan masing-masing.

Saat itu sebagian besar jajahan Inggris di Semenanjung Melayu, dan Belanda di Indonesia. Secara resmi Benteng ini dibuka untuk umum usai kemerdekaan Indonesia pada 24 April 1984. Beberapa perubahan kecil terjadi yang mengubah bentuk dan keasliannya.

Benteng ini selain berdekatan dengan samudera, juga dikelilingi kawasan wisata pecinan dan satu buah wihara. Karena pada masa Inggris mereka menggunakan warga etnis Tionghoa sebagai pedagang dan pekerja.

Kawasan pecinan menjadi pemandangan yang menarik satu bentuk perpaduan beberapa unsur budaya membaur menjadi satu serta turut mendewasakan Bengkulu.

Beberapa lampu lampion khas Tionghoa tidak ketinggalan turut menghias keindahan malam pada sudut benteng yang berbatasan langsung dengan Pecinan. Tak jauh dari kawasan Pecinan, wisatawan yang lapar dapat memanjakan perut dengan aneka kuliner khas Bengkulu dan pesisir pantai.

Tidak perlu repot bila menjadi wisatawan di kawasan benteng Marlborough, karena dari kawasan ini semua akses mudah dijangkau. Wisatawan bisa mencari hotel, restoran, atau langsung menuju ke bandara Fatmawati.

Bagi masyarakat Bengkulu, Benteng Marlborough atau benteng kura-kura bukan merupakan simbol kekuatan Inggris tetapi sebaliknya sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap imperialis. Ini terbukti dengan terbunuhnya Residen Thomas Parr.

Rio, salah seorang wisatawan asal Jakarta, terlihat asyik memotret banyak hal bersama rekannya. "Sudah lama saya mendengar tentang Benteng ini. Setelah melihat langsung ternyata benar-benar sebuah peninggalan yang hebat," ujar Rio.

Menurut Rio, Benteng Marlborough sebuah tempat wisata yang komplet. Karena selain berwisata sejarah, kita juga bisa menikmati suasana pantai yang persis terbentang di hadapan benteng.

Indahnya Reefball di Teluk Buyat

Lima tahun silam kondisi laut Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok di Sulawesi Utara, menurut penggiat lingkungan, rusak parah akibat pembuangan limbah tambang (tailing) yang sembrono oleh PT Newmont Minahasa Raya (MNR).

Bahkan sejak 1986-2003 MNR didakwa sebagai penghancur keanekaragaman hayati kehidupan laut di Teluk Buyat karena pencemaran arsen. Karena itu para penggiat lingkungan dan pemerintah meminta perusahaan tambang emas ini bertanggung jawab, antara lain dengan mengembalikan lingkungan laut yang asri seperti sediakala.

Sangkaan itu tak lama kemudian mendapatkan sambutan dari MNR. Adalah Jerry Kojansow, Environmental Manager PT MNR, bergerak cepat. Bersama sejumlah rekannya dia mengambil langkah seribu dengan cara menanam 3.000 reefball (bola karang) di sekitar Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok.

“Reefball itu saya tanam bersama para penyelam pada 2000. Hasilnya bisa dilihat sekarang, berbagai jenis ikan hias ataupun ikan tangkapan nelayan kembali ke Teluk,” ujar pria bertubuh tambun ini kepada Tempo, pekan lalu.

Menurut dia, para nelayan sekarang ini tak perlu mencari ikan hingga bermil-mil laut karena hampir semua ikan yang mereka butuhkan ada di sekitar Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok.

Pengakuan Jeko, sapaan laki-laki yang menyelam sejak mahasiswa, memang bukanlah isapan jempol. Ketika Jeko menemani Tempo dan wartawan lainnya yang tergabung ke dalam komunitas Journalist-Divers (JD) menyelam bersama di beberapa dive spot, tampak indahnya beragam karang tumbuh di reefball.

“Karang-karang ini tumbuh luar biasa, berbagai ikan hias bermain-main di sini, antara lain clownfish atau ikan badut,” kata Yudhi, salah seorang juru kamera televisi swasta di Jakarta.

Tempo menyaksikan berbagai biota laut hidup di kedalaman 20 meter antara lain sejenis kelinci laut (nudribranch), bintang laut (star fish), karang tangkai (acropora), kipas laut (sea fan), anemon, soft coral, table coral, ikan karang, damsel fish, sweet lips fish, bat fish, serta gerombolan ikan (schooling fish) jenis pelagic kecil seperti ekor ikan ekor kuning.

Indira Dian Saraswati, wartawan National Geographic Kids Indonesia, mengaku kepada Tempo bahwa dia tak menyangka pemandangan bawah lautnya secantik yang dia selami. Semula, menurut gadis yang biasa dipanggil Indi itu, Teluk Buyat benar-benar tercemar dan tak ada kehidupan bawah laut sama sekali. “Ternyata setelah menyelam di Teluk Buyat, alam bawah lautnya cantik dan bagus, biota yang ada tak seseru yang saya bayangkan,” ujar Indi.

Bagi para penyelam, Sulawesi Utara tak sekadar menyuguhkan pemandang bawah laut Molas (shipwreck), Bunaken (reefwall), dan Lembeh. Teluk Buyat dan Teluk Ratatotok juga menyiapkan suguhan laut aduhai. Untuk menuju ke sini, kawasan di Minahasa Selatan berjarak 250 kilometer dari Manado, bisa ditempuh dengan perjalanan darat selama tiga jam. Jika para penyelam ingin tiba di sini melalui Lembeh, perlu waktu tempuh tiga jam dengan kapal.

Hampir tiap akhir pekan Teluk Buyat dan Ratatotok didatangi penyelam asing, rata-rata berjumlah 10 orang. Mereka umumnya sudah mulai mencari dive spot yang tak terlalu ramai didatangi penyelam. Nah, Teluk Buyat, menurut mereka, menjadi salah satu pilihan karena di kawasan ini setidaknya terdapat 24 dive spot yang indah, antara lain di Pulau Putus-putus, Pulau Racun, dan Pulau Tulang. Jadi, kapan Anda menyelam ke sana?
TEMPO.CO

Magis Piramida di Gunung Padang

Ribuan batu yang terserak di punggung Gunung Padang menjadi saksi bisu peradaban yang pernah menghuni kawasan Cianjur ribuan tahun lalu. Para ahli mencoba merekonstruksi pemandangan daerah megalitik ini.

Situs Gunung Padang terdiri atas lima tingkat halaman--disebut teras--yang berjejer pada satu sisi bukit. Teras-teras bersusun memanjang menghadap ke Gunung Gede yang berada 25 kilometer di barat laut situs.

Menurut Anggota Ikatan Arsitek Indonesia Pon Purajatnika, susunan yang menghadap ke Gunung Gede memberi petunjuk paradigma spiritual masyarakat pada masa itu. Gunung Gede dianggap sebagai simbol kepercayaan manusia terhadap gunung."Gunung Padang pernah menjadi tempat ritual suci," kata Pon  di Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012.

Dugaan lokasi ritual ini diperkuat dengan keberadaan meja batu di teras terbawah. Dahulu, meja ini menjadi lokasi persimbahan darah kerbau yang diserahkan kepada leluhur. Ukuran meja sendiri dibuat untuk sanggup memuat tubuh kerbau.

Di malam hari, pemandangan menjadi lebih mengesankan. Sesuai namanya, Gunung Padang berarti tempat yang terang benderang. Hal ini wajar karena dari lokasi ini masyarakat bisa menyaksikan taburan bintang di langit. Sebulan sekali, lahan seluas 900 meter persegi ini akan menjadi sangat terang akibat diguyur cahaya purnama.

Hokky Situngkir dari Sosiologi Komputasi Bandung Fe Institute memiliki gambaran lain. Menurut dia, Gunung Padang juga dipakai untuk memantau waktu dan musim. Terbukti dengan keberadaan sepetak tanah yang dibatasi batu-batu kecil dengan satu batu balok besar di bagian tengah.

Lokasi ini dijadikan sebagai jam matahari untuk mengetahui pergerakan harian matahari. Bagitu pula dengan batu duduk yang diposisikan menghadap ke utara. Dari titik tersebut, tetua adat bisa memantau pergerakan bintang-bintang di kutub utara. Tetua juga bisa melihat rasi bintang tertentu yang menandakan pergantian musim.

"Tradisi mengantisipasi pergantian musim dengan melihat bintang masih diturunkan hingga petani tradisional masa sekarang," kata Hokky.

Pengaturan waktu bercocok tanam ini bertepatan dengan keberadaan lokasi pertanian tepat di seberang sungai yang mengalir di utara teras pertama. Pertanian yang makmur membuat peradaban Gunung Padang bisa bertahan di tengah keganasan alam.

Temuan lain menyangkut alat musik dari batu atau biasa disebut sebagai litofon. Terdapat empat batu yang mengeluarkan nada pada frekuensi tertentu jika dipukul. Pada berbagai peradaban, alat musik seperti ini banyak dipakai untuk mengiringi ritual, membangun suasana magis pada upacara sakral. Selain itu, bunyi-bunyian juga bisa dipakai sebagai alat komunikasi jarak jauh kepada masyarakat agraris pada waktu itu untuk mulai menanam dan memanen.

Terdapat kemungkinan lain. Menurut Hokky, litofon juga bisa dipakai sebagai tanda peringatan. Peringatan ini berlaku ketika akan melakukan perang atau bencana menjelang.

Wisata Gunung Sadahurip Bisa Hidup dari Mitos Piramida

Meski keberadaan piramida masih diragukan, Gunung Sadahurip tetap bisa dijadikan lokasi wisata. Masyarakat bisa mengenal geologi dari gunung ini.

Pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sujatmiko adalah seorang yang menentang keras dugaan piramida di perut Sadahurip. Menurut dia gunung ini terbentuk oleh desakan magma yang perlahan, sehingga membentuk struktur limas.

Namun ia tak menafikkan tingginya minat masyarakat akan keberadaan piramida. Apalagi ia menyaksikan langsung ratusan orang berkumpul di puncak Sadahurip setelah isu ini berkembang.

"Ini menunjukkan masyarakat mencintai gunung," kata dia di Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012.

Lalu bagaimana cara mengkompromikan kealamian Sadahurip dengan minat masyarakat ini? Sujatmiko mengusulkan Pemerintah Kabupaten mempertahankan mitos piramida di dalam gunung. Hal ini dianggap wajar karena banyak lokasi wisata di dalam dan luar negeri ramai dikunjungi karena adanya mitos. "Mitos piramida akan menarik minat wisatawan," kata dia.

Atas alasan ini, ia meminta Bupati Garut agar segera membangun sarana publik di gunung ini. Upaya ini tak perlu menunggu kesimpulan akhir dari Tim Bencana Katastropik Purba yang masih mempelajari kemungkinan keberadaan piramida di balik Sadahurip.

Random Post