Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search

Sunday, February 12, 2012

10 Perlengkapan Wajib Bawa Kala ke Luar Negeri

Beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan penerbangan yang menawarkan tiket murah ke sejumlah kota di dalam dan luar negeri. Dengan tawaran itu, liburan ke luar negeri bukan lagi menjadi angan-angan yang sulit tercapai. Apalagi bagi anda yang doyan <I>backpacker</I>-an.

Namun selain tiket pesawat, ada beberapa barang yang harus Anda persiapkan saat akan berlibur ke luar negeri. Berikut sepuluh perlengkapan utamanya.

1. <I>Backpack</I> dan tas kecil
Saat liburan ke luar negeri, baiknya Anda tidak menggunakan koper untuk mengemas barang. Selain bobotnya yang berat, tas koper pun harus masuk ke bagasi pesawat. Itu artinya Anda harus meluangkan waktu liburan untuk menanti keluarnya koper dari bagasi.

Sedangkan dengan <I>backpack</I>, selain bobotnya yang tidak seberat koper, Anda pun bisa berlari dengan mudah kala harus mengejar angkutan yang akan ditumpangi.

Lalu tas kecil, keberadaannya juga sangat membantu Anda menyimpan dokumen dan barang berharga selama perjalanan. Tas ini pun relatif aman dari tangan jahil, karena dia selalu melekat di tubuh. Berbeda dengan koper atau <I>backpack</I> yang sewaktu-waktu lepas dari pegangan Anda.

2. Paspor
Namanya juga liburan ke luar negeri, jadi paspor pun harus ikut serta dengan Anda. Dan sebelum berangkat, cek dulu masa berlakunya. Jangan sampai paspor Anda habis masa berlakunya dalam jangka waktu enam bulan. kalau iya, maka Anda tidak bisa melintas di bagian Imigrasi bandara.

3. Telepon genggam dengan <I>roaming internasional</I>
Meski liburan, tidak berarti Anda putus komunikasi dengan teman dan keluarga. Apalagi bila Anda aktif di Twitter atau Facebook. Karenanya, bawa selalu telepon genggam yang telah dilengkapi fasilitas <I>roaming internasional</I>.

4. <I>Charger ponsel</I>
Telepon genggamnya sudah dibawa, tapi jangan lupa juga membawa <I>charger</I> untuk mengisi baterainya. Meski bentuknya yang kecil, tapi <I>charger</I> adalah penyambung nyawa ponsel. Dalam aktivitas sehari-hari, tidak jarang kita kelimpungan saat sadar tidak membawa <I>charger</I>.

Apalagi saat liburan di luar negeri. Karena tidak mudah mencari toko aksesoris ponsel yang menyediakan <I>charger</I> sesuai kebutuhan ponsel Anda.

5. Mata uang asing
Sebelum berangkat, pastikan dulu mata uang yang berlaku di negara tujuan Anda. Beberapa kota di dunia menggunakan mata uang tertentu namun jarang digunakan sebagai alat transaksi. Misalnya Siam Reap, Kamboja, yang menggunakan mata uang Riel, namun untuk transaksi yang digunakan adalah dollar Amerika.

6. Obat-obatan
Punya atau tidak punya alergi, sebaiknya Anda membawa persediaan obat-obatan. Seperti obat flu, pusing, maag, obat masuk angin, obat luka luar, minyak gosok, dan multivitamin.

Selain mudah lelah saat bepergian, suhu dan cuaca yang berbeda dengan Indonesia memicu badan mudah terserang penyakit. Dan di negara tujuan, belum tentu memiliki persediaan obat seperti yang biasa Anda konsumsi.

7. <I>Itinerary</I> dan <I>copy</I> dokumen penting
Sebelum berangkat berlibur, ada baiknya Anda menyusun rencana perjalanan atau <I>itinerary</I>. Saat di lokasi liburan, Anda tidak harus saklek mengikuti <I>itinerary</I> yang sudah disusun. Tapi rencana perjalan itu bisa memberi Anda gambaran tempat-tempat yang layak dikunjungi.

Sedangkan <I>copy</I> dokumen penting akan sangat membantu Anda bila mendapat masalah, seperti kecopetan. Tidak sedikit cerita bila paspor dan kartu identitas hilang dicopet saat liburan. Dengan <I>copy</I>-an itu, Anda masih memiliki cadangan dokumen saat berurusan dengan pihak berwajib.

8. Pakaian secukupnya
Hitung dengan teliti jumlah hari liburan Anda, dan sesuaikan dengan pakaian yang akan digunakan. Bila perlu, jangan membawa terlalu banyak bawahan atau celana. selain celana yang digunakan saat berangkat, di dalam tas cukup membawa satu celana panjang, beberapa celana pendek, sebuah rok (bila Anda perempuan), dan sejumlah atasan, sebaiknya kaos.

9. Jaket dan sandal
Selain untuk menahan suhu dingin di dalam pesawat, jaket juga berfungsi elindungi tubuh dari perubahan cuaca saat liburan. Sedangkan sandal cocok digunakan untuk perjalanan menjelajah kota. Sehingga telapak kaki Anda tidak terus terbungkus sepatu dan dapat bernafas.

10. Konverter internasional
Di banyak negara, bentuk stop kontak tidak sama dengan di Indonesia, dua lubang. Beberapa negara menggunakan stop kontak tiga atau lubang strip. Agar <I>gadget</I> bisa diisi muatan listrik, ada baiknya saat liburan Anda membawa serta konverter internasional yang memiliki beragam jenis colokan. Sehingga bisa menyambungkan <I>gadget</I> Anda ke pelbagai stop kontak.


Semua perlengkapan liburan sudah siap. Anda tinggal mengepaknya ke dalam <I>backpack</I>. Lalu, "selamat berlibur."

Istana Kuno di Tengah Kota Metropolitan

Berjalanlah di sepanjang jalan utama Kota Seoul, Korea Selatan, dan nikmati sudut-sudut kota yang bersih dan rapi. Seperti drama Korea yang romantis, Seoul penuh gedung megah dan mal yang dihiasi lampu-lampu warna-warni.

Tapi Seoul tidak hanya itu. Kunjungan ke Korea tidak lengkap bila tidak mengunjungi Istana terbesar di Korea Selatan, Gyeongbok. Istana ini merupakan lambang Kejayaan Dinasti Joseon di tahun 1394. Masuk ke istana ini, pengunjung hanya dikenakan biaya 3.000 WOn atau Rp 24.000.  Letaknya yang di tengah kota membuatnya sangat mudah diakses wisatawan.

Dari Bandara Internasional Incheon, kita dapat menggunakan bus yang langsung menuju ke depan halte Gwanghwamun atau gerbang utama Istana Gyeongbok. Kita bisa menggunakan Bis Limousin yang dinamakan Seoul City Hall 6005 seharga 14.000 Won  atau Rp 112.000. Bis ini tersedia di lantai pertama Bandara Incheon, di pintu keluar 5B dan 12A.

Letak Istana Gyeongbok berada di utara Kota Seoul dan berbatasan dengan Kompleks Kedutaan Amerika Serikat  di sebelah barat, serta Taman Sejong di sebelah utara. Pintu gerbang utamanya disebut Gwanghwamun dan menghadap langsung ke Taman Sejong. Istana ini semakin megah karena dibingkai penggunungan Bugaksan.

Gyeongbiok dibangun dengan mengadaptasi Forbidden City di Cina. Meskipun besarnya seperdelapan Forbidden City, Gyeongbok tidak kalah megah. Gyeongbok memiliki enam gerbang utama yaitu, Gwanghwamun, Heungnyemun, Geunjeongmun, Sinmumun, Geonchunmun, dan Yeongchumun.

Selain bisa menikmati keagungan istana di zaman Dinasti Joseon, kita juga bisa berfoto dengan menggunakan kostum kerajaan, dayang istana, dan penjaga istana seharga 3.500 Won atau Rp 28.000. Tepat pukul 12.00 siang, penjaga istana yang berpakaian tradisional akan melakukan apel keliling istana . Mereka apel sambil memainkan alat musik tradisional Korea, seperti Pungmul Janggo (gendering berbentuk jam pasir) dan Jing (Gong), juga alat musik tiup.

Selain memiliki enam gerbang utama, Istana Gyeongbok juga memiliki bangunan-bangunan indah di dalamnya. Salah satu yang paling menarik adalah Paviliun Air, Gyeonghoeru dan Hyangwonjeong. Kedua bangunan ini dikelilingi danau buatan yang airnya sangat tenang dan bersih. Fungsi dua bangunan ini untuk menjamu tamu kerajaan.

Perjalanan di Istana Gyeongbok diakhiri di gerbang paling belakang, Sinmumun. Tapi keindahan istana ini tidak berakhir di situ. Setelah keluar dari Sinmumun, kita akan disajikan pemandangan megah The Blue House (Istana Kepresidenan) yang juga dilatari Pengunungan Buguksan.

Menikmati Keindahan Arsitektur Kampung Naga

Anggukan dan senyuman menyambut setiap orang yang datang. Kenyamanan dan kebersihan pun begitu terasa saat menurunkan kaki dari kendaraan. Tugu kujang raksasa setinggi 3 meter, yang ditopang sebuah bangunan persegi empat terbuat dari beton, menegaskan bahwa daerah ini sebagai perkampungan adat. Daerah ini bernama Kampung Adat Naga.

Perkampungan ini persis berada di kilometer 32 jalan antara Kabupaten Garut-Tasikmalaya. Secara administratif, kampung adat ini berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Jarak dari jalan utama ke perkampungan sekitar 500 meter.

Meski tidak terlalu jauh, untuk menuju perkampungan harus menyusuri anak tangga tembok sebanyak 439 buah dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Sepanjang menyelusuri anak tangga, panorama hijau perbukitan terlihat di mana-mana. Sesampainya di ujung Sungai Ciwulan, kemudian menyusuri jalan setapak sepanjang 100 meter untuk sampai di Kampung Naga yang biasa disebut Kampung Naga Dalam. Gemericik air sungai akan menemani setiap langkah menuju kampung.

Kampung Naga berada di lembah dengan batas wilayah di sebelah barat dibatasi oleh hutan keramat yang di dalamnya terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di Kabupaten Garut. Luas kampung sekitar 1,5 hektare, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan sawah.

Keunikan kampung ini terlihat dari bentuk dan konstruksi bangunan. Ornamen rumah dibuat seragam, mulai dari bahan sampai pada potongan bangunan dan arah menghadapnya. Rumah-rumah itu tersusun berderet sejajar dan tertata dengan rapi. Kondisi ini berbeda jauh dengan Kampung Naga Luar yang jaraknya sekitar 100 meter. Hampir seluruh bangunan di sini telah menggunakan dinding tembok dan genting.

Jumlah bangunan di Kampung Naga sebanyak 113 unit, di antaranya sebanyak 110 rumah, namun yang ditinggali 108 rumah. Tempat lainnya di antaranya bale pertemuan, lumbung padi, dan masjid yang letaknya sejajar menghadap ke arah timur-barat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan. Jumlah penduduknya tercatat sebanyak 108 kepala keluarga yang terdiri dari 314 jiwa.

Bangunan rumah berupa panggung berbentuk empat persegi panjang. Desain arsitektur dan interiornya sederhana, namun tertata apik, sehingga sirkulasi udara dan cahaya cukup baik masuk ke dalam ruangan. Pola ruangan dibagi dua petak, di antaranya ruang tengah dan petak kedua terdiri dari dapur, gudang (goah), dan kamar. Hal itu juga terlihat dari muka rumah yang terdiri dari dua pintu, satu pintu yang langsung ke ruang tengah dan yang satunya lagi pintu dapur.

Bahan bangunan yang digunakan di antaranya terbuat dari kayu, bambu, daun nipah, dan ijuk atau alang-alang. Rangka bangunan terbuat dari kayu. Daun nipah dan ijuk digunakan untuk bagian atap.

Jenis kayu yang digunakan berupa pohon yang tidak mengandung getah, seperti Albasiah. Sedangkan untuk daun pintu dan kusen menggunakan kayu manglid. Alasannya karena kayu dari tanaman yang mengandung getah mudah dimakan rayap dan lapuk.

Bahan yang digunakan untuk bagian ruang tengah rumah hampir semuanya terbuat dari kayu seperti pada dinding bagian luar dan lantainya. Namun, untuk dinding bagian dalam, semuanya menggunakan anyaman bambu (bilik).

Sedangkan untuk dapur lebih banyak menggunakan bambu, baik dari dinding maupun lantainya. Anyaman bambu secara vertikal dan horizontal atau biasa disebut bilik sasag digunakan bagian muka. Alasannya, agar saat memasak, asap dapat cepat keluar dari ruangan. Selain itu, bila terjadi bencana kebakaran, dapat dilihat orang yang lewat dari luar.

Tak hanya itu, lantai untuk dapur pun menggunakan belahan bambu (palupuh). Alasannya agar mudah dibersihkan. Bila ada makanan yang tercecer, bisa langsung dibuang ke bawah, di mana tempat tersebut dijadikan kandang ternak. Bahan untuk menopang bangunan, fondasi rumah terbuat dari batu yang terpasang sejumlah titik. Batu yang digunakan berupa batu papas berukuran 20 x 60 sentimeter.

Bangunan masyarakat Kampung Naga ini sebelumnya pernah rata dengan tanah pada 1956. Semua bangunan hangus dibakar oleh gerakan pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwirjo. Namun, meski begitu, bangunan yang berdiri sekarang masih tetap seperti yang dulu. “Masyarakat berhasil membangunnya kembali pada tahun 57-an. Bangunannya sama tidak ada yang berubah,” ujar salah seorang keturunan warga Kampung Naga, Darmawan, 43 tahun, yang berprofesi sebagai pemandu pengunjung yang akan ke Kampung Naga.

Tak hanya bentuk bangunan, masyarakat d isini pun hidup sederhana. Mereka dilarang untuk menggunakan listrik sebagai penerangan di malam hari dan menggunakan kompor gas. Alasannya karena banyak menimbulkan bencana seperti kebakaran. Namun, meski begitu, ada di antara sebagian masyarakat yang memiliki televisi. Mereka menggunakan accu sebagai energinya. “Kalau TV boleh, karena sebagai sarana informasi dan hiburan,” ujar Darmawan.

Menurut dia, tradisi di Kampung Naga dari dulu hingga saat ini masih tetap terjaga dengan baik. Segala hal yang dianggap tabu masih tetap dipercaya masyarakat dan tidak ada satu pun yang dilanggar. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dari setiap generasi.

Salah satu caranya, semua masyarakat dari mulai anak-anak sampai orang tua dilibatkan untuk mengikuti setiap kegiatan adat. Untuk rumah diwariskan kepada anak perempuan yang paling bungsu. Alasannya karena anak perempuan sering tinggal di rumah, bisa menjaga rumah, dan banyak mengetahui kondisi rumah dibandingkan dengan anak laki-laki yang jarang di rumah.

Kehidupan yang harmonis ini membuat semua penduduk betah tinggal di kampung ini. Menurut Darmawan, semua kebutuhan pun dapat tercukupi dengan baik. “Disini itu, sosialnya lebih tinggi, beda dengan di kota. Untuk makan sehari-hari juga tidak susah beda dengan di kota yang segalanya harus dibeli,” ujarnya.

Balada Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang adalah maskotnya Kota Bukittinggi. Menikmati Bukittinggi akan lebih berkesan sambil bersantai di dekat Jam Gadang. Apalagi kawasan di sekitar Jam Gadang dilengkapi taman yang nyaman dan cukup luas dengan beberapa pohon yang rindang yang dilengkapi kursi untuk bersantai menikmati kota.

Di pagi hari, dari kawasan Jam Gadang, Gunung Singgalang dan Gunung Marapi jelas terlihat. Malam hari, kawasan Jam Gadang juga tidak pernah sepi. Taman Jam Gadang dilengkapi lampu taman yang temaram, menambah indahnya Jam Gadang.

Pengunjung bisa menikmati udara dingin sambil makan jagung bakar dan pisang bakar. Namun, di balik itu, mungkin tidak banyak yang tahu, sejak didirikan pada zaman kolonial, Jam Gadang tak pernah lepas dari tangan kekuasaan.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek kota bernama Yazid bersama Sutan Gigi Ameh. Pada saat itu, controleur atau Sekretaris Kota Bukittinggi dijabat oleh Rook Maker yang mendapat hadiah empat buah jam berukuran besar dengan diameter masing-masing 80 sentimeter dari Ratu Belanda. Keempat jam itu didatangkan dari Rotterdam, Belanda, melalui pelabuhan Teluk Bayur.

Rook Maker meminta arsitek kota membuat bangunan untuk meletakkan Jam Gadang. Jam Gadang dibangun dengan biaya 3.000 gulden. Menara Jam Gadang dibangun setinggi 26 meter. Luas denah dasar dari Jam Gadang adalah 13 x 4 meter. Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih.

Keunikan dari Jam Gadang adalah pada kesalahan penulisan angka Romawi empat ("IV") pada masing-masing jam yang tertulis "IIII", bukan nomor tradisional Romawi "IV". Mesin Jam Gadang digerakkan secara mekanik.

Mungkin karena terkenalnya Jam Gadang, membuat setiap rezim yang berkuasa juga punya kekuasaan pada Jam Gadang. Ini terlihat pada atap Jam Gadang yang telah mengalami tiga kali perubahan sesuai rezim yang berkuasa.

Pada zaman kolonial Belanda, di puncak Jam Gadang diletakkan patung ayam yang menghadap ke timur. Konon ini untuk menggambarkan anak nagari yang belum mengerti melihat jam dan hanya mengandalkan waktu dengan kokok ayam jantan di pagi hari.

Di masa pendudukan Jepang, puncak Jam Gadang diganti dengan klenteng. Sedangkan, setelah kemerdekaan Indonesia, puncaknya berbentuk atap rumah bagonjong Minangkabau.

Tidak sampai di situ saja. Di masa otonomi daerah seperti sekarang, Jam Gadang juga berusaha tetap dikendalikan penguasa lokal.

Kawasan Jam Gadang paling ramai dan sesak pada malam tahun baru karena warga kota dan wisatawan menunggu momen pergantian tahun itu dengan mendengar detak Jam Gadang dan melihat detik-detik jarum jam di Jam Gadang melewati angka 00.00 WIB. Tak kurang dari 20 ribu pengunjung datang ke Bukittinggi dan sebagian besar memadati kawasan Jam Gadang untuk menunggu detik-detik pergantian tahun di depan Jam Gadang dan merayakannya dengan meriah.

Kegembiraan anak muda pada saat pergantian tahun sempat membuat gerah ulama Bukittinggi. Mereka menuduh perayaan tahun baru di dekat Jam Gadang mendatangkan maksiat. Sebab, saat momen pergantian tahun, datang banyak pasangan muda yang berpelukan.

Pada 2008 lalu, atas permintaan mereka, Wali Kota Bukittinggi saat itu, Djufri, memerintahkan menjahit selubung dari kain marawa untuk menutupi Jam Gadang pada malam tahun baru. Kain Marawa adalah panji Minangkabau dengan warna merah, kuning, dan hitam.

Selain diselubungi kain dan jarum, Jam Gadang juga dimatikan agar tidak terdengar detaknya pada malam pergantian tahun. Tujuan pemerintah kota agar tidak ada yang merayakan tahun baru di depan Jam Gadang.

Menurut Djufri, penyelubungan Jam Gadang dilakukan sebagai upaya untuk menghindari kemaksiatan yang diduga sering terjadi saat malam pergantian tahun. Akhirnya, mulai pukul 16.00 WIB pada 31 Desember 2008 hingga 1 Januari 2009, menara Jam Gadang setinggi 26 meter itu diselubungi kain. Aksi ini menuai protes banyak kalangan. Setahun berikutnya, Jam Gadang tidak lagi diselubungi tahun.

Namun diam-diam mesin jamnya dimatikan sehingga dentangnya tak berbunyi saat pergantian tahun. Namun, pada akhir tahun lalu, tidak ada lagi “sabotase” pada Jam Gadang karena Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengimbau agar Jam Gadang yang megah itu tidak dimatikan mesinnya saat pergantian tahun. Wisatawan kembali bisa menikmati dentangnya berbunyi di malam tahun baru.

Di Bukittinggi, tentu tidak hanya melihat Jam Gadang. Ada banyak kawasan wisata di dalam kota yang dekat dengan Jam Gadang, bahkan bisa didatangi dengan berjalan kaki. Seperti Ngarai Sianok, Terowongan Lubang Jepang, dan menikmati panorama Bukittinggi di Benteng Fort de Kock.

Belum lagi menikmati sederet masakan Minang yang lezat, mulai dari Nasi Kapau hingga Ampaing Dadiah (susu kerbau yang difermentasi dan ditambah cairan gula merah serta emping beras).

Karena Bukittinggi setiap tahun menjadi tujuan wisatawan untuk merayakan tahun baru, di akhir tahun semua hotel penuh. Bila ingin menghabiskan liburan akhir tahun di Bukittinggi, sebaiknya pesan hotel jauh-jauh hari.

Dari Padang ke Bukittinggi, perjalanan memakan waktu dua jam menempuh jarak 91 kilometer dengan menggunakan bus travel.

Menikmati Pesona Karo

Berada lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut menjadikan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, beriklim 18 derajat Celsius. Memasuki Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, udara dingin mulai menyergap kulit. Kecamatan Sibolangit merupakan wilayah perbatasan Deli Serdang dan Kabupaten Karo.

Roda kendaraan kami melambat di jalan menanjak yang berkelok. Pengendara yang melintasi jalur ini kudu ekstra hati-hati. Ruas jalan tidak lebar, dilalui berbagai jenis kendaraan seperti trailer. Jalur bergelombang lantaran topografi Kabupaten Karo berada di dataran tinggi.

Daerah ini memiliki dua gunung berapi aktif, Gunung Sinabung dan Sibayaak, telah bangun dari tidur panjangnya. Sudah tentu pula Bukit Barisan, menambah pigura panorama Kabupaten Karo. Bukit Barisan merupakan pegunungan yang membentang di Pulau Sumatera.

Lintasan menuju Karo tergolong rawan kecelakaan lalu lintas. Lantaran beberapa kelokan, di antaranya kelokan tajam hingga 180 derajat, terhalang pepohonan dan ilalang menyebabkan pandangan mata terbatas.

Tiga sopir pikap tidak menghiraukan rute berbahaya itu. Menjelang tikungan, kendaraan pikap menyalip kendaraan kami dan dua kendaraan di depan. Secara mendadak, sopir pikap membanting setir ke kiri dan mengerem pakem. Truk melon dari arah Karo tiba-tiba muncul. Beruntung tidak terjadi kecelakaan, walau jarak kedua kendaraan hanya beberapa sentimeter saja. ”Rasain kau!” ujar Jon, teman saya yang mengemudikan kendaraan.

Pekan kedua Januari 2012 saya dan dua teman mengunjungi Kabupaten Karo untuk melepaskan penat dari aktivitas sehari-hari. Karo menjadi alternatif tujuan wisata. Kabupaten ini menyuguhkan beragam tempat rekreasi. Mulai dari Kota Berastagi. Kota ini memiliki sejarah dan kedekatan dengan Bung Karno. Pada Desember 1948, Sang Proklamator, bersama dua tokoh lainnya: Sutan Sjahrir dan Agus Salim, diasingkan oleh Belanda di kota ini.

Karo pun memiliki dua air terjun. Sipiso-piso dan Sikulikap, Bukit Gundaling, di Kecamatan Berastagi, telah tersohor sebagai kawasan puncak yang kerap diramaikan pengunjung domestik dan mancanegara. Dari dataran Gundaling, panorama alam begitu nikmat dipandang dengan latar Gunung Sinabung dan Sibayak. Di sini kuda ataupun dokar menjadi transportasi khas.

Selain panorama, Gundaling dan Berastagi dikenal sebagai pusat flora. Kabupaten Karo adalah salah satu daerah potensi hortikultura di Provinsi Sumatera Utara. Tak mengherankan bila Karo menjadi daerah agrowisata. Mayoritas pasar di Kota Medan dan provinsi lainnya mendapat pasokan sayur-mayur hasil tani di Karo.

Karo juga mengeksploitasi panorama Danau Toba dari kawasan Tongging, dan sudah tentu Danau Toba sendiri, meliputi beberapa kabupaten di Sumatera Utara.

Ada juga Danau Lau Kawar, danau yang berada di kaki Gunung Sinabung. Areal ini menjadi kawasan favorit bagi para mahasiswa dan keluarga untuk menikmati malam dengan membakar api unggun dan tidur di dalam tenda. Pencinta alam yang hendak mendaki Gunung Sinabung kerap melalui Lau Kawar.

Seperti halnya Danau Toba, Danau Lau Kawar memiliki kedalaman yang sulit dijangkau--tak terukur. Lokasi wisata terakhir yang kerap dikunjungi bila berwisata ke Kabupaten Karo adalah pemandian air hangat atau disebut Lau Debuk-Debuk.

Tiba-tiba Jon melontarkan ide untuk istirahat di kawasan Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Untuk tiba di Karo dari Kota Medan perlu waktu 2 jam. Saat musim liburan waktu tempuh bisa lebih dari 4 jam. ”Mau tiduran dulu di kawasan ini,” ucap Jon disertai tawa. Tawanya sebagai isyarat mengenalkan kawasan ini.

Bandar Baru, entah dimulai sejak tahun berapa, tersohor sebagai daerah prostitusi. Ide itu sama-sama kami tepis. Perjalanan kami lanjutkan di siang yang cerah itu. Matahari bersinar penuh, sinarnya berpendar menerobos daun dan ranting pohon, menciptakan cahaya dan kilatan, membantu mengusir dingin.

Memasuki wilayah Kabupaten Karo kami disambut dengan dagangan jagung bakar. Lokasi ini populer disebut Panatapan. Warung dibangun pada bibir curam, di jalur berkelok. Ini areal pilihan bagi pengunjung sekadar melepas lelah atau menyegarkan diri dari kursi kendaraan.

Keramaian baru terasa menjelang senja hingga malam hari. Dari Panatapan Jagung Bakar ini memandang sunset menjadi kepuasan tersendiri. Kala malam tiba, jutaan cahaya bohlam dari Kota Medan menjadi sajian pandangan lainnya.



Mejuah-juah, slogan di bumi Karo, mudah ditemukan di gapura, pusat bisnis, tentu juga di obyek wisata di kabupaten ini. Memasuki Kota Berastagi, aura wisata begitu kentara. Jajaran gazebo berarsitektur rumah adat Karo, silawuh jabu, atau suah berderet membelah jalan protokol hingga bundaran Tugu Perjuangan di Kecamatan Berastagi, berpopulasi 23.161 jiwa.

Pria kais kuda menuntun hewan itu yang ditunggangi seorang pria bule, berkeliling Kota Berastagi. K. Sembiring, penyedia jasa transportasi kuda, mengaku dalam sehari bisa memperoleh penghasilan sedikitnya Rp 250 ribu. “Hari tahun baru kemarin lumayan banyaklah,” kata Sembiring dengan bibir melebar.

Untuk sekali rute, penyedia jasa kuda dan sado memasang tarif Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu. Penyedia jasa kuda dan delman bisa ditemui di tiga tempat, Pasar Buah (Taman Menjuah-juah), Gundaling, dan Bukit Kubuh.

Kami tak meneruskan perjalanan ke Gundaling. Perut memaksa kami berhenti di areal Pasar Buah atau juga disebut Taman Mejuah-juah. Di bagian belakang terdapat deretan rumah makan. Menu pesanan telah tersaji, langsung kami lahap. Udara dingin menambah selera makan.

Rehat di jantung Kota Berastagi membikin kami terlena akan waktu. Kami duduk di rumah makan yang di bagian dindingnya bertengger foto beberapa artis Ibu Kota, menandakan mereka pernah berkunjung dan menyantap menu di rumah makan ini, melihat aktivitas para pengunjung yang saling tawar tarif kuda dan dokar.

Dagangan bunga, pusat perbelanjaan buah hasil tani, toko-toko suvenir, dan beberapa lapak pakaian eks impor, menjadi daya tarik dan hiruk pikuk kota ini. Sayangnya, di jalan protokol kota ini tumpukan sampah berserakan. ”Makin parah kota ini, di mana-mana sudah banyak tumpukan sampah,” seru  sopir angkutan kota mengenalkan dirinya bermarga Ketaren.

Tiga jam sudah kami menghabiskan waktu di Kota Berastagi. Karena liburan kali ini dilakukan tanpa rencana, jadi kami memutuskan tidak mencari penginapan. Infrastruktur wisata di Karo tergolong lengkap. Berbagai hotel dan penginapan tidak sulit untuk mendapatkannya, dengan harga bersaing.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.45 WIB, kami pun meninggalkan Kota Berastagi. Di inti kota, kemacetan terjadi. “Tahun baru kemarin macetnya minta ampun panjangnya,” ujar pengendara Toyota Fortuner yang terjebak kemacetan seperti kami.

Di sela waktu singkat itu si pengendara yang bernama Dermawan, seorang pengusaha leveransir di Kota Medan, sengaja memilih Karo sebagai liburan. Di tahun baru lalu ia memboyong keluarganya ke mari.

Saat itu seluruh obyek wisata di Karo dipenuhi pengunjung. “Di Tongging juga cukup ramai. Beruntung kami (saat itu) mendapatkan kamar di Taman Resor Simalem,” ujar dia.

Taman Resor Simalem adalah salah satu areal perhotelan berkelas di Kabupaten Karo. Pengakuan Dermawan tidak berlebihan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu sendiri memilih Kabupaten Karo menghabiskan liburan akhir tahun 2011. Lokasinya berada di perbukitan, memanjakan tamu hotel dan pengunjung menikmati pemandangan Danau Toba juga permukiman warga yang berada di pinggiran Danau Toba.

Sempritan personel polisi lalu lintas mengakhiri perbincangan saya dengan pengendara itu.

”Singgah di rumah Bung Karno saja, menghindari kemacetan,” ujar Samhadi. Tanpa didebat, saya dan Jon menerima saran teman kami itu.

Rumah pengasingan Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim berada tak jauh dari jantung Kota Berastagi, tepatnya di Desa Lau Gumba, Kecamatan Berastagi. Lokasi itu juga tak jauh dari Bukit Kubuh, salah satu taman rekreasi di Berastagi. Memasuki Jalan Sampurna, kendaraan kami meluncur melalui aspal yang kupak-kapik dan menanjak.

Rumah pengasingan Proklamator Kemerdekaan Indonesia memiliki areal sekitar 2 hektare. Di atasnya berdiri bangunan yang terbagi dua. Rizal, pengurus rumah pengasingan, secara sukarela menjadi pemandu pada kunjungan kami di bangunan bercat serba putih itu. Rizal menyebutkan bangunan ini telah dipugar. ”Dulunya di sini hanya ada dua kamar. Satu kamar ditempati Bung Karno, dan kamar di depan itu ditempati Agus Salim dan Sjahrir,” tutur Rizal begitu kami memasuki bangunan utama.

Tak ada lagi benda jejak Soekarno yang masih tertinggal di rumah ini. Bangunan belakang dihuni pembantu dan serdadu Belanda yang ditugasi mengawasi 24 jam ketiga tokoh itu.

Kamar seluas 5x8 meter yang dulu menjadi kamar istirahat Bung Karno kini diisi dengan empat tempat tidur, satu tempat tidur ukuran satu orang. Rizal menerangkan salah satu dari tempat tidur itu merupakan kasur Bung Karno. ”Persisnya yang mana saya tidak tahu,” ujar dia. Di kamar ini terdapat kamar mandi. ”Kamar mandi sudah beberapa kali direnovasi. Terakhir bangunan ini dipugar pada 2005,” kata dia. Di tahun itu juga, anak Bung Karno, Guruh Soekarno Putra, menempatkan arca Bung Karno, terbuat dari perunggu, di halaman rumah pengasingan. Arca Bung Karno, setinggi tujuh meter, berpose duduk dengan kaki kanan ditumpukkan di paha kaki kiri. Kedua tangan bertumpu pada paha kaki kanan.

Di ruang tamu Rizal hanya menerangkan tiga bingkai foto, hitam putih, menempel di dinding. Foto-foto itu mengabadikan senyuman dan cengkerama Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim bersama serdadu Belanda. Halaman bagian kanan berdiri kokoh pohon jenis cemara. ”Di bawah pohon itu Bung Karno sering mengajak tentara Belanda yang menjaganya berdiskusi,” kata Rizal.

Pada hari libur, Rizal mengamini, kawasan situs sejarah ini menjadi obyek kunjungan wisata. Tidak semua pengunjung diperkenankan masuk ke dalam bangunan, yang kini menjadi mes Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara.

Random Post