Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search

Sunday, February 12, 2012

Menengok Kejayaan Zaman Kolonial di Kota Padang

Kota Padang menyimpan kenangan sejarah zaman Kolonial Belanda. Kota yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera ini sepanjang abad ke-18 dan ke-19 tumbuh menjadi kota dagang, sekaligus kota militer Pemerintahan Hindia Belanda.

Di sepanjang Sungai Batang Arau hingga Pelabuhan Muaro sejumlah bangunan tua jadi saksi bisu jejak kolonial yang tertinggal. Dari Jembatan Siti Nurbaya terlihat jelas sisa-sisa kota tua di Jalan Batang Arau di sisi sungai.

Pada zaman kolonial, Jalan Batang Arau menjadi kawasan perkantoran pemerintahan, perdagangan, dan militer. Di jalan ini berderet bangunan-bangunan tua dan besar bekas kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang peninggalan VOC.

Bangunan yang menonjol adalah gedung NHM (Nederlansche Handels-Maatschappij), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio yang didirikan sebelum 1920. Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik dengan tinggi 24 meter dan berdinding permanen ini berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada puncak atap sebagai tempat sirkulasi udara.

NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat berkantor beberapa perusahaan swasta, asuransi, dan perbankan. Kini bangunan ini hanya dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga. Di seberang gedung NHM ada kantor Bank Indonesia yang dulunya gedung De Javasche Bank. Gedung yang dibangun sekitar 1930 itu bergaya arsitektur tropis dengan bagian puncak atapnya menyerupai atap mesjid.

Masih di Jalan Batang Arau, berdiri kokoh Gedung Padangsche Spaarbank yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua dengan tinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik yang mendapat pengaruh dari arsitektur art-deco.

Padangsche Spaarbank sempat dikelola Hotel Batang Arau hingga 2009. Hotel tua ini amat disukai turis asing yang surfing ke Mentawai. Di sebelah Spaatbank terdapat gedung NV Internatio, sebuah perusahaan dagang yang dibangun sekitar 1910. Gedung yang sekarang milik BUMN Cipta Niaga itu berarsitektur neoklasik bercampur modern yang berkembang sebelum 1920. Selain itu masih ada beberapa gedung tua lagi yang masih berdiri.

Selain di sepanjang Jalan Batang Arau juga masih ada lusinan gedung tua di sebelah selatan. Di antaranya tiga bekas pasar yang dulunya terkenal di pengujung abad ke-19 itu, yaitu Pasa Gadang (Pasar Hilir), Pasa Mudik, dan Pasa Tanah Kongsi.

Kawasan ini sekarang tak lagi menjadi pasar. Arsitektur bangunan yang unik dengan arsitektur campuran antara Arab, Melayu, Cina, dan Minangkabau masih asli dan terjaga. Sebanyak 74 bangunan di sini dijadikan Pemerintah Kota Padang sebagai benda bersejarah yang dilindungi.

Geotrek Rinjani Masuk 15 Destinasi Unggulan

Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB)
Kawasan Geotrek Rinjani bakal jadi satu dari 15 unggulan destinasi pariwisata ke Indonesia. Boleh jadi karena keperluan pengusulan sebagai Geopark Rinjani, pemerintah meminta dilakukan penguatan kelembagaan.

Salah satunya, menurut pejabat fungsional Museum Geologi Bandung Heryadi Rachmat, pemerintah akan menjadikan Rinjani Trek Management Board (RTMB) sebagai contoh lembaga pengelola kawasan Taman Wisata Alam di Indonesia.

RTMB merupakan gabungan kemitraan dari Taman Nasional Gunung Rinjani, industri pariwisata dan masyarakat setempat. Di dua lembah Rinjani, yaitu masing-masing dibentuk kelembagaan Rinjani Trek Centre (RTC) di Senaru dan Rinjani Information Centre (KI) di Sembalun Lawang. "Ini akan menjadi contoh pengelolaan kawasan wisata di Indonesia," kata Heryadi Rachmat kepada Tempo, Jumat, 25 November 2011.

Selesai mengikuti pameran World Nature and Cultural Heritage selama tiga hari, 22-25 November di Bali, Manajer RTMB Asmuni di Mataram juga menjelaskan bahwa selama ini juga telah dibentuk Koperasi Citra Wisata di Senaru yang memiliki lebih 170 porter sebagai anggotanya.

Selain itu, di Sembalun juga terbentuk Koperasi Sinar Rinjani yang anggotanya 150-an orang. "Di situ juga ada pembekalan mengenai vulkanologi dan geologi. Bukan sekedar informasi ketinggian gunung saja,’’ ujarnya. Selama ini kurang pengetahuannya tentang kegunungapian Rinjani.

Seperti diketahui, terkenalnya keindahan Danau Kaldera Segara Anak telah menyebar ke mancanegara. Ramainya peminat pendakian telah menjadikan Gunung Rinjani, yang merupakan taman nasional, harus dikelola dengan lebih baik.

Dengan terbentuknya RTMB yang sebenarnya merupakan forum kepedulian dari berbagai pemangku kepentingan atas Rinjani, yaitu pihak TNGR sendiri, Dinas Pertambangan dan Energi serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), asosiasi pemandu wisata, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, klub-klub pencinta alam, serta masyarakat lokal yang telah turun-temurun mendiami kaki dan lereng bawah Gunung Rinjani, maka pengelolaan trekking ke Gunung Rinjani akan lebih terkoordinasi.

Gunung Rinjani (+ 3.726 m di atas permukaan laut) di Pulau Lombok adalah salah satu gunung api aktif itu. Gunung api yang menjadi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci (+ 3.805 m dpl) di Jambi-Sumatera Barat, merupakan gunung api indah dan tergolong mempunyai Danau Kaldera yang langka.

Selama pengelolaannya, Rinjani telah mengantongi dua penghargaan, yaitu World Legacy Award untuk kategori Destination Stewardship dari Conservation International and National Geographic Traveler 2004 dan Tourism for Tomorrow Award pada 2007 lalu.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) diminta menyusul memberikan dukungan untuk mengajukan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sebagai geopark. Setelah Batur Geopark dan Pacitan Geopark didaftarkan ke UNESCO Global Network of National Geoparks, Indonesia juga mengusulkan Marangin di Jambi.

Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan dan Parwisata sudah memberikan dukungan usulan Batur Geopark dan Pacitan Geopark ke Global Earth Observation Section, Division of Ecological Correlation and Earth Sciences UNESCO-International Geological Programme (IGCP). Persyaratannya harus mengisi formulir khusus, memberi narasi, dan self-evaluation.

Geopark adalah salah satu destinasi geowisata (geotourism). Kecenderungan dunia untuk mengkonservasi warisan budaya dan alamnya menjadi landasan mengapa geopark harus terbentuk. Pentingnya status geopark adalah untuk bisa meningkatkan pertumbuhan kepariwisataannya.

Jaringan 53 geopark yang ada sekarang ini di seluruh dunia mendapat perhatian penuh UNESCO, terutama dalam bantuan penanganannya, serta secara otomatis akan terdaftar sebagai destinasi geowisata dunia.

Dalam rangka penyusunan data dan informasi untuk pengajuan Rinjani sebagai geopark, maka telah dilakukan observasi geologis di Gunung Rinjani dan sekitarnya. Observasi dilakukan oleh empat ahli geologi, yaitu Heryadi Rahmat dan Kun Dwi Santoso (Dinas Pertambangan dan Energi NTB), Igan S. Sutawijaya dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, dan Budi Brahmantyo (Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB).

Obyek-obyek yang diobservasi meliputi beberapa air terjun yang berada di kaki Gunung Rinjani serta pelaksanaaan trekking dari Senaru, naik ke Plawangan, menuruni Danau Segara Anak, naik kembali ke Plawangan Sembalun, dan turun ke arah Sembalun.

Asyiknya Menyelam di Perairan Pulau Mansinam

Menyelam di Pulau Mansinam di Kabupaten Manokwari, ibu kota Papua Barat
Adakah tempat menyelam yang lebih indah dari Raja Ampat di Papua Barat? Oh...masih banyak, jangan khawatir, masih ada puluhan. Provinsi ini menyiapkan lahan mahaluas untuk dinikmati keindahannya. Sebut misalnya, Kaimana atau Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC).

Namun kalau Anda seorang pencinta laut atau penyelam, Papua Barat juga memberikan hidangan alam bawah laut yang aduhai menggiurkan. Satu di antaranya Pulau Mansinam di Kabupaten Manokwari, ibu kota Papua Barat.

Bila dibandingkan dengan Raja Ampat, pulau ini hanya kalah pamor di pemberitaan media massa. Namun jika disetarakan soal keindahan bawah lautnya, Pulau Mansinam tak kalah menarik.

Mari kita tengok keunggulan pulau seluas 410 hektare yang terletak di Teluk Doreh ini. Untuk menuju ke pulau ini, setelah pelancong turun dari pesawat di Bandar Udara Rendani yang berjarak enam kilometer dari Kota Manokwari, wisatawan dapat menyewa perahu tradisional atau long boat dengan bayaran Rp 15 ribu dari Pantai Kwawi.

Ketika tiba di Pulau Mansinam, turis domestik maupun mancanegara pertama kali bakal melihat Gereja Pengharapan (Krek der Hopen), dipercaya sebagai tempat peribadatan umat Kristiani tertua di Papua. Gereja ini didirikan pada 5 Februari 1855 oleh pengabar Injil asal Jerman, C.W. Ottow dan Johann Gottlob Geissler saat menginjakkan kakinya di Pulau Mansinam.

Bagi penyuka laut, Pulau Mansinam sangat pas. Betapa tidak, kendati pelancong tak memiliki keterampilan diving (menyelam), boleh mencoba menikmati alam bawah laut dengan cara snorkling alias berenang di atas permukaan laut menggunakan masker, snorkel, dan fin (kaki katak). Tetapi kalau belum puas dan Anda memiliki sertifikat menyelam, silakan selami keelokan Pulau Mansinam.

Di sini, saat divers menyelam akan bertemu dengan aneka ikan laut warna-warni, kuda laut loncat-loncat, dan beragam jenis terumbu karang. Semua pemandangan elok itu bisa dilihat di kedalaman hanya lima meter dari permukaan laut.

Tak cukup? Di Pulau Mansinam tersedia pula shipwreck alias bangkai kapal laut yang diyakini oleh penduduk setempat milik tentara Jepang yang ditembak jatuh oleh pasukan sekutu pada Perang Dunia II. Shipwreck biasanya menjadi obyek menyelam paling menarik bagi para penyelam.

"Bangkai kapal ini milik Jepang yang jatuh pada Perang Dunia II," kata Mulyadi, seorang penyelam di Manokwari yang sekaligus menjadi buddy Tempo ketika menyelam di pulau ini, Juni lalu.

Seluruh badan bangkai kapal yang karam di kedalaman 20 meter ini sudah tak utuh lagi, kendati bentuk kapal masih jelas. Beberapa bagian terkoyak entah karena tembakan senjata pasukan sekutu atau sebab lain. Tapi yang jelas, shipwreck ini telah ditumbuhi aneka tanaman laut dan terumbu karang. Saat Tempo mencoba menyelam dan mengelilingi sekujur tubuh kapal, aduh.....indah sekali. "Aneka ikan warna-warni bermain di terumbu karang yang tumbuh di atas dek kapal."

Hayuukkk…., luangkan waktu untuk bermain-main dan menyelam di Pulau Mansinam. Anda tak perlu repot-repot bawa perlengkapan diving. Kantor Taman Nasional Teluk Cendrawasih dan PMI Manokwari siap membantu menyediakan semua peralatan yang dibutuhkan sekaligus menjadi pemandu. Bila tak cukup, Tempo siap menemani Anda menyelam.

Samosir Disiapkan Jadi Taman Geologi Dunia

Ledakan Gunung Toba yang terjadi sekitar 75 ribu tahun lalu hampir memusnahkan umat manusia. Kini Pemerintah Kabupaten Samosir berupaya menjadikan pulau yang terletak di tengah Danau Toba itu menjadi salah satu simpul geologi dunia.

Menurut Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Pemerintah Kabupaten telah mendapat laporan mengenai fakta geologi kawasan tersebut dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Maklum saja, penelitian geologi untuk kawasan Pulau Samosir adalah yang terlengkap dibandingkan kawasan lain di sekitar Danau Toba.

Beberapa fakta yang terungkap adalah munculnya batuan dasar bumi berusia 300 juta tahun setelah terjadi ledakan. Batuan tua ini menjadi salah satu obyek penelitian penting dalam mengungkap kejadian Ledakan Gunung Toba.

"Samosir menjadi begitu penting bagi penelitian geologi, sehingga diajukan masuk sebagai jaringan Geo Park dunia," ujar Mandindar kepada wartawan di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu, 30 November 2011.

Geo Park Samosir nantinya disusun oleh 35 titik penting atau disebut sebagai geo site. Di setiap titik akan menjadi lokasi edukasi dan penelitian yang bisa dikunjungi masyarakat dan peneliti. Masyarakat dilibatkan sebagai pemandu dan penjaga setiap situs geologi ini.

Sebuah pusat informasi akan didirikan di kaki Gunung Pusuk Buhit yang terletak di tengah Danau Toba. Di lokasi ini akan dibangun denah sebaran geo site berikut penjelasan geologinya. Gunung ini memegang posisi penting bagi masyarakat Samosir karena dianggap sebagai tempat munculnya nenek-moyang mereka.

Mangindar sendiri berencana mulai membangun Geo Park tahun depan. Dana sebesar Rp 20 miliar disiapkan untuk membangun keseluruhan kompleks. Untuk pengerjaan proyek Geo Park, Pemerintah Kabupaten Samosir meminta bimbingan dari BPPT.

Asyiknya Menyusuri Perut Bumi Gombong Selatan

Tanpa rasa takut, Fauzy Zulvikar, 20 tahun, nyemplung ke Sendang Mawar di Gua Jatijajar Kebumen akhir pekan lalu. Berkali-kali, ia membasuh muka dengan air sendang yang mengalir deras. Bening tanpa sampah, mengalir di sela-sela stalakmit gua itu.

“Biar awet muda dan tambah ganteng,” ujar Bang Ozi, panggilan akrab Fauzy, meniru iklan goyang gayung di televisi, saat mengunjungi Gua Jatijajar.

Bang Ozy bersama puluhan kawan satu kampusnya sengaja berlibur ke Gua Jatijajar untuk melihat eksotisme gua karst Gombong Selatan. Kawasan karst yang membentang di perairan selatan Kebumen itu berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Kabupaten Kebumen.

Ratusan gua yang layak dijadikan wisata petualangan ada di kawasan ini. Hamparan pantai selepas pegunungan karst, juga menambah lengkap agenda liburan.

Agus Rasono, 50 tahun, juru kunci Gua Jatijajar mengatakan, kawasan gua akan banyak didatangi pengunjung saat hari libur. “Ada yang sengaja untuk melihat keindahan gua, ada juga yang sengaja ingin semedi,” katanya.

Seperti halnya di Gua Jatijajar yang mulai dibangun sebagai obyek wisata pada tahun 1975. Selain pemandangan stalaktit dan stalakmit, yang paling terkenal stalakmit Kurungan Ayam, di gua ini juga ada beberapa sendang atau kubangan air yang dipercaya mempunyai khasiat terntentu.

Selain itu, ratusan patung yang mengisahkan cerita Kamandaka juga menjadi pemandangan tersendiri di gua itu. Kisah Kamandaka atau dikenal dengan kisah lutung kasarung menjadi visualisasi di gua itu. Banyaknya patung kera, kata Agus, merupakan gambaran perwujudan lain dari Kamandaka. Kisah itu sendiri bersumber dari Babad Pasir Luhur yang merupakan cikal bakal lahirnya Kadipaten Banyumas.

Waktu itu, gua Jatijajar digunakan Kamandaka untuk semedi mencari wangsit. Selain Kamandaka, ada juga patung Dewi Nawang Wulan sedang berendam di sendang kanthil dan mawar.

Air dari Sendang Kanthil dipercaya bisa membuat orang yang membasuh mukanya dengan air sendang itu akan menjadi cantik atau ganteng. Sementara sendang Mawar dipercaya bisa membuat orang awet muda. “Nalarnya, air dari pegunungan karst mempunyai kandungan mineral tinggi sehingga bagus untuk tubuh,” katanya.

Selain dua sendang itu, ada juga sendang Paser Bumi dan Jombor yang khusus digunakan orang untuk bersemedi. Dua sendang itu pintu masuknya dikunci dan tidak diperboleh dimasuki oleh sembarang orang. Biasanya, orang yang bersemedi ingin jabatannya naik atau perdagangannya lancar. Selama tiga hari tiga malam, orang itu ngebleng atau berdiam diri di sendang yang cukup gelap itu.

Bahkan, kata Agus, Sri Sultan Hamengkubono IX pernah bersemedi di tempat itu. Konon, Sri Sultan hendak bertemu dengan penguasa pantai laut selatan, Nyi Roro Kidul. Ia percaya, sungai-sungai yang mengalir di tengah gua, bermuara di pantai laut selatan.

Gua Jatijajar sendiri ditemukan tahun 1802 oleh Djaya Menawi yang juga kakek buyutnya Agus. Ia adalah pemilik lahan di atas gua. Saat itu, ia tak sengaja menemukan gua. Sebuah lubang dengan kedalaman 24 meter membuatnya terperosok dan ia pun jatuh ke dalam gua. Beruntung ia tersangkut di akar pohon besar.

Jatijajar sendiri berasal dari kata Jati dan Jajar. Dulunya, di mulut gua ada dua batang pohon Jati berukuran raksasa tumbuh berjejer. Kelak nama gua dan desa itu menjadi Jatijajar. Dua pohon jati itu lantas ditebang dan dijadikan tiang pendopo Kadipaten Ambal.

Di pintu masuk gua, nampak ratusan tulisan tangan memenuhi dinding gua. Tulisan itu merupakan bentuk kenarsisan orang-orang Belanda dan penggede keratin yang mengunjungi tempat itu. “Tulisan dari pengunjung mulai ada tahun 1812 berisi nama-nama mereka. Tulisan itu tidak boleh dihapus karena merupakan bukti sejarah,” katanya.

Bahkan, tahun 1979, serombongan turis Belanda yang rata-rata sudah berumur 90-an pernah berwisata nostalgia ke gua itu. Mereka membaca kembali tulisan-tulisan mereka yang pernah ditorehkan di dinding gua.

Belanda, waktu itu sedang membangun jalan Deandels yang membentang dari Anyer hingga Panarukan melintasi Kebumen. Nama-nama pejabat Keraton Jogjakarta juga terpampang di dinding itu. Di situ tertulis tanggal, 21 Juni 1931.

Agus mengatakan, saat Jepang berkuasa, mereka memanfaatkan kotoran kelelawar untuk dijadikan pupuk. Dulu, kata dia, ada ribuan kelelawar tinggal di situ. “Sekarang tinggal ratusan saja,” katanya.

Kepala Pengelola Kawasan Jatijajar, Suyatno mengatakan, tahun 1981 pemerintah membangun jalan tembus untuk keluar gua. “Sebelum dibangun jalan tembus, pengunjung harus kembali ke mulut gua yang panjangnya sekitar 350 meter,” katanya.

Ia menyebutkan, kawasan itu mempunyai luas sekitar lima hektare. Selain jembatan dan jalan yang memudahkan pengunjung berkeliling gua, pengelola juga membangun pasar tradisioanal yang khusus menjajakan kerajinan tangan dan souvenir khas Kebumen.

Suyatno menambahkan, di kawasan karst Gombong Selatan terdapat sekitar 175 gua. Selain gua Pteruk, ada juga gua dempok, intan, titukan, barat, simpenan, gelatik dan lainnya. Gua tersebut masih alami sehingga biasa dimanfaatkan untuk penelitian atau olahraga caving atau susur gua.

Ia menceritakan, dulunya kawasan itu pernah akan ditambang kapurnya. Namun banyak yang menolak karena bisa merusak lingkungan dan mengancam ketersediaan air bersih di Kebumen. Menurutnya, dari sebuah hasil penelitian, di kawasan itu ada sebuah danau raksasa yang terletak di bawah kawasan karst.

Jika kawasan itu dipapras dan ditambang kapurnya, dikhawatirkan bisa menyedot persediaan air bersih. Lingkungan menjadi kering dan petani tak bisa mengolah lahannya karena air habis.

Ia menambahkan, aliran air melalui stalaktit dan stalakmit bisa dijadikan indikator lingkungan. ia menambahkan, dulunya air masih mengucur deras dari ujung stalaktit menandakan lingkungan di sekitar gua masih ijo royo-royo. Namun saat ini, air sudah tidak mengalir lagi. “Secara teori, gua ini sudah mati. Tidak ada air lagi yang mengalir. Stalaktit dan stalakmit sudah tak mungkin tumbuh,” imbuhnya.

Karena itu, saat ini Gua Petruk yang mempunyai panjang dua kilometer tidak dibangun untuk pariwisata. Gua Petruk sendiri hanya digunakan untuk penelitian sehingga proses pembentukan stalaktit dan stalakmit selama ribuan tahun akan terus terjadi.

Random Post