Wisata di Daerah Sumatera Utara

Keindahan Alam Sumatera Utara sangat cocok dinikmati untuk menghilangkan penat agar pikiran kembali rileks untuk bekerja

Konten Informasi

Kamu bisa mendapat informasi yang tidak kamu duga pernah ada

Wisata Mancaneggara

Disini kamu dapat menemukan lokasi wisata menyenangkan jika kamu berniat ke mancanegara

Lokasi Wisata Indonesia Bagian Tengah

Pelajari terlebih dahulu lokasi yang akan kamu datangi jika kamu hendak berwisata di Indonesia Bagian Tengah

Tips dan Berita seputar Tujuan Wisata

Kamu dapat menemukan Tips dan Trik seputar wisata serta berita yang berhubungan dengan wisata

Custom Search

Sunday, February 12, 2012

Menyusuri Sejarah Kota Praha

Kota Praha bak mutiara di Benua Eropa. Kilaunya membuat semua orang jatuh cinta," kata Johar, salah seorang teman di Hannover, Jerman, dengan mimik lucu berpuisi, begitu saya mengutarakan keinginan melancong ke ibu kota Republik Cek itu. Dengan senyum-senyum saya mendengar komentar yang sudah sering diucapkan. Itu membuat saya semakin semangat menyusun rencana perjalanan ke bekas negara komunis tersebut.

Dari tempat tinggal saya, di Braunschweig, Jerman bagian utara, jarak ke Praha relatif dekat. Seperti jarak Jakarta-Tegal. Empat jam naik kereta api, sampai ke kota perbatasan, Dresden. Lalu ganti kereta ke Praha selama dua jam perjalanan.

Langit terang benderang ketika saya memulai perjalanan di bulan kedua musim panas pada Juli lalu. Saya menjulurkan kaki di gerbong kelas I kereta api cepat Inter City Express. Tarifnya terjangkau karena lebih murah ketimbang kelas II jika dibeli sehari sebelum berangkat. Enak juga menikmati pelayanannya, seperti di pesawat terbang. Disuguhi kue cokelat, tisu pembersih tangan, dan pesanan makanan diantar pula ke tempat duduk.

Empat jam kurang tujuh menit, kereta akhirnya tiba di Dresden. Setelah setengah jam menunggu, kereta Eurocity, yang akan mengangkut saya ke tujuan, akhirnya datang dari Hamburg. Di sini saya duduk di gerbong kelas II, yang kondisinya jauh berbeda dengan kereta sebelumnya. Begitu juga pemandangan di luar, kontras.

Sampai perbatasan Jerman-Cek, infrastruktur masih rapi dan teratur. Setelah melewati perbatasan, keteraturan itu mulai redup. Pemandangan umum berupa ladang rumput ilalang tinggi, perumahan kumuh, mobil rongsokan di pojok rumah, atau mobil-mobil tua yang diparkir di halaman pabrik yang catnya mengelupas terhampar di sana-sini. Saya mengerutkan kening, ragu akan ucapan teman-teman tentang negeri ini.

Untungnya keraguan itu tidak sampai berubah jadi kekecewaan ketika keesokan harinya saya ikut rombongan ibu-ibu pejabat dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia ke gedung-gedung bersejarah, tak jauh dari Old Town Square. Di antaranya Prague Castle. Inilah istana terbesar di dunia, yang panjang bangunannya hampir 600 meter dan lebar lebih dari 100 meter. Arsitektur bangunannya bergaya gotik.

Persis seperti bangunan Gereja St Vitus, yang berdiri tegak di halaman istana. Gereja katedral yang luar biasa indah itu dibangun atas perintah Kaisar Charles IV, Raja Jerman dan Raja Bohemia dari Dinasti Luxemburg, yang dijuluki Holy Roman Emperor, yang berkuasa pada 1346-1378. Dari sayap sebelah kanan istana yang ada di dataran tinggi itu, turis bisa menyaksikan panorama Kota Praha.

Praha memang semakin cemerlang ketika Charles bertakhta. Banyak bangunan bersejarah dibangun, seperti Jembatan Charles. Jembatan di atas sungai terpanjang di Cek, Vlatava, ini panjangnya sekitar 500 meter dan lebar 10 meter, berhiaskan sekitar 30 patung bergaya Barock. Jembatan ini dibangun pada abad XV, menghubungkan kota lama dengan Istana Praha. Jembatan tersebut masih berdiri kokoh sampai sekarang. Pada siang hari banyak pelukis jalanan dan kios di sini yang juga ramai dilewati turis.

Bangunan lainnya, Universitas Charles, perguruan tinggi tertua di Eropa Tengah, juga masih eksis sampai sekarang. Bukan cuma indah bangunannya, tapi almamater ini telah melahirkan banyak orang terkenal, termasuk Edvard Benes, presiden kedua Cek serta Ivana Trump--yang nama aslinya Ivana Marie Zelnickova--bekas atlet Olimpiade, bekas model, dan bekas istri raja bisnis Amerika Serikat, Donald Trump.

Praha luar biasa terik hari itu. Saya mengira suhunya sampai 39 derajat Celsius. Kaki rasanya penat bukan main dan keringat membasahi baju setelah menyusuri keluasan istana. Di bawah bayangan megah istana, serombongan musisi orkestra duduk memainkan nomor-nomor klasik. Penonton berjubel di situ. Telinga terasa seperti dibuai oleh lantunan musik klasik di halaman bangunan berarsitektur antik ini.

Ketika berjalan keluar, ibu-ibu yang tak tahan panas belok ke kios es krim. Rasa haus agak terobati setelah menjilat es krim. Hampir pukul 14.00 ketika kami melewati penjaga istana berseragam biru-biru dan berkacamata hitam yang berdiri tegak bak penjaga Istana Buckingham di Inggris di pintu keluar. Saya membeli sebotol air mineral sebelum masuk mobil.

Dari sini mobil mengarah ke pusat belanja termewah di Praha, Parizska Street--mirip distrik perbelanjaan eksklusif Rodeo Drive di Los Angeles, AS. Ibu-ibu masuk ke toko tas branded Louis Viton, sedangkan saya berjalan kaki ke Old Town Square--kota lama yang dikepung toko-toko cendera mata dengan bangunan gereja bergaya Renaissance di latar belakangnya, yang cuma berjarak 300 meter dari situ.

Kerumunan turis mancanegara memadati lapangan kota lama ini. Berbagai tawaran putar-putar kota berseliweran, mulai sewa sepeda, delman yang ditarik enam kuda dengan kusir yang berpakaian tradisional, atau ber-segway dengan tarif 20 euro (kira-kira Rp 300 ribu) sejam. "Ini bisnis bagus, di sini tak pernah sepi turis. Apalagi di musim panas," kata Suzanna Eliansova, wanita berambut pirang dan bercelana pendek dari atas segway tentang bisnis yang dijalaninya sejak empat tahun lalu itu.

Ucapan Suzanna terbukti setelah mendengar komentar turis Belanda yang mengajak saya mengobrol di kedai minum. "Saya sudah banyak melihat gedung-gedung bersejarah di Eropa, tapi selalu ingin kembali ke Praha lagi. Kota ini seperti memiliki kekuatan magis, sehingga saya tidak pernah bosan mengunjunginya lagi dan lagi," kata Marijke Bernard, tertawa.

Ia menawarkan mandi spa di Kota Karovy Vary--kota spa di sebelah barat Praha yang terkenal di dunia itu. Setidaknya terdapat 13 sumber mata air murni di sini. "Amat bermanfaat untuk kesehatan," kata Noni Belanda itu.

Menurut laporan biro turisme Praha, jumlah turis yang datang tiap tahun ke kota ini lebih dari dua kali lipat jumlah populasi Cek, yang cuma sekitar 2 juta. Praha menjadi kota tujuan wisata nomor enam di dunia setelah Madrid, London, Paris, New York, dan Berlin. Banyak gedung bersejarah di sini yang dilindungi UNESCO, termasuk Istana Praha dan Jembatan Charles.

Sayangnya, selain cerita menarik itu, Praha menyimpan banyak rumor yang bisa bikin kecut turis, seperti soal rasialisme dan pencopetan. "Jangan lupa tas dijaga ekstra hati-hati jika bepergian, dan hindari pergi sendirian karena di sini masih banyak orang rasialis yang sering bikin onar," begitu petuah yang saya dengar dari mana-mana.

Saya tidak membuktikan kekhawatiran ini, meski beberapa teman mengalami kejadian buruk itu. Saya juga tidak bisa membuktikan keindahan kebun binatang Praha yang, menurut majalah bergengsi Forbes, merupakan nomor tujuh terbaik di dunia. Menurut saya, kebun binatangnya biasa-biasa saja, malah terkesan tidak terawat dan petugas penjaganya pun tidak cukup terampil dalam melayani turis.

Sihir Pulau Esme dan Kisah Cinta Twilight Saga

Pulau Paraty di Brazil, yang dijadikan lokasi syuting film "Twilight Saga : Breaking Dawn" (dalam film bernama Pulau Esme). (paratyexplorer.com)
Untuk para gibol alias penggila bola, Brasil tentu tak bakal mudah hilang dari benaknya karena Negeri Samba ini adalah jawara bola dunia. Demikian juga bagi penyuka perjalanan, Brasil pasti tidak akan dilewatkan dalam daftar pelesirannya karena pemilik hutan tropis di sepanjang Sungai Amazon ini senantiasa siap memanjakan siapa pun yang berkunjung.

Brasil tak hanya menawarkan karnaval Rio de Janeiro yang digelar saban tahun dengan tampilan gadis-gadis molek berpakaian aneka model. Negeri ini juga memiliki kawasan wisata kepulauan yang aduhai elok. Pulau tersebut tak lain adalah Isle Esme.

Isle Esme merupakan sebuah pulau tropis di Rio de Janeiro milik Esme Cullen. Pulau ini sekaligus dijadikan sebagai bukti cinta kasih seorang suami, Carlisle Cullen, kepada istrinya, Esme. Demi cinta sucinya Cullen mempersembahkan pulau ini untuk istri sebagai hadiah. Karena itu, jangan tanya soal keindahannya karena sulit dibayangkan kecuali bila kita membuktikan sendiri ke pulau yang dikelilingi pasir putih berkilau-kilau ketika diterpa sinar matahari.

Cullen sengaja mendesain pulau ini seindah mungkin demi sang pujaan hati. Pria ini melengkapi Isle Esme dengan tempat peristirahatan tetamu terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar berukuran besar, plus sebuah dapur modern menghadap laut. Hampir seluruh bangunan dicat putih dipadu dengan interior khas rumah pantai.

Setiap pengunjung bakal mendapatkan sajian keindahan di sejengkal tanah yang diinjak. Selain hutan yang masih asri, pengunjung pulau akan memperoleh hiburan ocehan burung betet atau kakak tua yang berterbangan di pulau ini, termasuk ikan lumba-lumba yang berlompatan di depan pulau, serta beraneka jenis ikan tropis.

Jajaran pepohonan pun tumbuh subur di sini, termasuk palem. Tidak salah kalau Edward Anthony Masen Cullen seorang bintang film vampir kesohor bersama istrinya Bella Swan memilih pulau ini menjadi tempat bulan madu. Tak silap pula bila produser film Twilight Saga membidik Isle Esme sebagai lokasi syuting film lantaran pulau ini menyuguhkan romantika keindahan.

“Suatu saat, aku berharap bisa berkunjung ke pulau Isle Esme. Saat ini aku hanya bisa bermimpi,” tulis seseorang dalam situs pribadinya. “Suamiku memang belum sanggup memberikan hadiah pulau, tapi aku berharap kelak dia bisa. Pulau ini memang benar-benar cantik,” tulis seorang istri usai mengunjungi Isle Esme dalam blognya.

Bagaimana cara menuju ke Isle Esme. Memang pulau ini tak begitu dikenal banyak orang bahkan boleh dikatakan tersembunyi di balik peta wisata. Tapi jangan khawatir bila ingin berkunjung ke sana, Anda tak terlalu pening kepala karena lokasi pulau ini tak jauh dari Rio de Janeiro, ibu kota Brasil. Karena itulah di sana cukup tersedia biro perjalanan yang siap menemani Anda menuju Isle Esme dengan motor boat. Soal harga perjalanan, bisa cincai dengan penjual jasa perjalanan di sana. Nah, kapan pelesiran ke Isle Esme, silahkan masukkan destinasi wisata ini ke almanak Anda sekarang juga.

Serunya Nonton Pacu Jawi di Lereng Gunung Marapi

Menggigit ekor sapi hidup? Wuiihh... menjijikkan. Begitu tanggapan saya saat mendengar cerita dari seorang teman yang pernah nonton Pacu Jawi. Tak terbayang ada orang yang mau menggigit ekor sapi hidup yang berlumpur, berbulu, bau lagi. Kalau sop buntut sih lain ceritanya.

Tontonan unik ini bisa dilihat dalam acara Pacu Jawi di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang kerap diadakan seusai panen padi. Dalam arena itu sang joki akan menggigit ekor sapi keras-keras agar sapinya berlari kencang. Orang Minang menamai sapi dengan jawi, jadi acaranya namanya Pacu Jawi.

Rasa penasaran ingin nonton Pacu Jawi akhirnya kesampaian. Rupanya ada atraksi Pacu Jawi di Nagari Sungai Tarab. Kini masyarakat sedang keranjingan membuat acara Pacu Jawi di nagarinya begitu usai tanam padi lantaran semakin banyak ditonton untuk hiburan anak nagari.

Tempatnya jauh di tengah areal pesawahan yang berundak di kaki Gunung Marapi. Perlu ekstra kerja keras untuk mencapai lokasi karena harus berjalan di pematang sawah dan kubangan lumpur. Di Sungai Tarab, Gunung Marapi terlihat lebih menjulang dari biasanya karena sebagian punggungannya tertutup kabut.

Di depannya terbentang sawah yang berundak, dan ada sepetak sawah yang cukup lebar dengan panjang sekitar 60 meter yang akan digunakan untuk Pacu Jawi. Tanahnya berlumpur halus dan cukup dalam karena sudah empat pekan dijajal puluhan sapi yang ikut Pacu Jawi. Di lokasi Pacu Jawi ini tidak tercium lagi aroma kotoran sapi, tapi yang ada aroma lumpur sawah yang segar.

Suasana keceriaan dialek Nagari terasa kental, tiupan saluang mengalun riang diiringi gendang. Ibu-ibu membawa nampan yang tudungnya berhias berisi makanan ringan. Puluhan ekor sapi yang akan berpacu juga terlihat dipersiapkan pemiliknya untuk siap bertanding di lapangan.

Rupanya ini acara penutupan karena belasan sapi jantan sudah dirias seperti pengantin. Mulai dari kepalanya yang dihias rangkaian bunga plastik, tanduknya yang dibalut kain beludu bersulam, dan seluruh tubuhnya dipakaikan kain aneka warna. Itu tandanya sapi tuan rumah dari Sungai Tarab. Paginya mereka sudah diarak keliling kampung yang menandakan penutupan acara Pacu Jawi yang sudah berlangsung empat pekan setiap Sabtu.

Ada empat kecamatan yang punya tradisi Pacu Jawi di Tanah Datar, yaitu Sungai Tarab, Pariangan, Rambatan, dan Lima Kaum. Keempat daerah ini ada di lereng Gunung Marapi. Pacu Jawi ini dilaksanakan usai panen padi dan tempatnya digilir tiap kecamatan yang dilaksanakan selama empat pekan setiap Sabtu.

“Pacu jawi ini sudah ada dari dulu, tapi belum seramai sekarang. Ini untuk menaikkan harga jawi. Kalau bagus larinya, harganya bisa sampai Rp 20 juta, lebih mahal dari harga pasaran yang hanya Rp 5 sampai Rp 7 juta,” kata Justiar, warga Koto Hiliang yang ikut Pacu Jawi. Ia membawa sapinya yang bernama Merica yang berusia 2 tahun 6 bulan.

“Walaupun kecil dia hebat, larinya kencang. Jadi saya namai merica. Kalau ada yang mau beli Rp 15 juta saya lepas,” kata Justiar. Dalam Pacu Jawi ini Merica akan tandem dengan Tando, seekor sapi jantan yang punya tanda totol hitam di kakinya milik kerabat Justiar.

Untuk meningkatkan stamina sapinya, sebelum dibawa berpacu, sapinya tidak diberi rumput, tapi makan telur dan madu yang dicampur minuman berenergi.

Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu tiba. Saya mengambil tempat di dekat garis start. Ingin melihat saat-saat penting ketika sang joki menggigit ekor sapinya. Aturannya, dua ekor sapi masing-masing diberi kala, atau kayu bajak, yang akan diinjak kaki kanan dan kiri sang joki. Joki mengendalikan sapi dengan menarik kedua ekor sapinya. Sapi yang dilepaskan hanya sepasang, dan tidak ada lawannya.
Yang dianggap juara adalah sepasang sapi yang larinya lurus, tidak berbelok ke sawah sebelah, dan jokinya tidak jatuh. Tidak ada pemenang karena penonton yang menyaksikan sapi siapa yang paling jagoan. Tentu saja setelah itu harga sang jagoan menjadi lebih tinggi.

Terjadi keributan kecil di lokasi start karena sapi-sapi itu sulit diatur. Tiba-tiba saja seekor sapi berlari karena tak sengaja bajaknya terinjak oleh joki. Ini soal insting sapi. Sebab setiap bajaknya diijak, sapi merasa itu saatnya berlari. Makanya joki-joki harus memegang bajak dan tidak meletakkannya di lumpur agar sapi tidak lari sebelum pertandingan dimulai.

Pacu Jawi dimulai dengan diiringi teriakan "Heyahhh..!" dari pemimpin lomba. Teriakan yang membuat kedua sapi lari kencang. Di sinilah unik dan lucunya, ada cipratan lumpur di mana-mana, wajah dan tubuh joki bersimbah lumpur sawah.

Ada joki yang langsung terpental jatuh karena kedua sapi berlari sangat kencang. Ada joki yang terjatuh karena hanya salah satu sapi yang lari kencang. Dan, ini yang saya tunggu-tunggu, di antara hujan cipratan lumpur telihat seorang joki yang berusaha mengendalikan kedua sapinya dengan menarik ekor dan menggigit salah satu ekor sapi. Akhirnya dua sapi dan jokinya sukses sampai ke ujung yang disambut sorakan penonton.

Namun gigitan joki pada ekor sapinya itu ada juga yang tidak sukses. Ada sapi yang kelihatannya marah sekali dan berlari kencang berbelok ke sawah orang nyaris menabrak penonton di pematang.

Usai bertanding, saya bertanya pada salah satu joki soal ekor sapi yang digigit itu. Kenapa ekor jawi-nya mesti digigit?

“Ini sudah biasa dalam pertandingan. Apalagi sehari-hari saya main dengan sapi itu, membajak sawah, menggigit ekornya itu pun kalau terpaksa. Biasanya agar lari kencang saya hanya menarik ekornya. Tapi kalau salah satu sapi saja yang lari kencang, terpaksa saya gigit ekor sapi satunya lagi agar larinya sama,” kata Yoyon, 18 tahun, salah satu joki.

Di Tanah Datar ajang Pacu Jawi ini tak lagi sekadar acara hiburan dan bisnis jual-beli ternak tradisional. Tapi sudah dimasukkan ke dalam salah satu cabang olahraga. Kegiatan ini dikelola Persatuan Olah Raga Pacu Jawi (PORWI) Kabupaten Tanah Datar, di bawah naungan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) kabupaten itu.

Tentu saja ajang Pacu Jawi masuk dalam salah satu event wisata favorit di Tanah Datar. Inilah salah satu obyek wisata dari banyak obyek wisata sejarah dan budaya tempat asal dan pusat kebudayaan Minangkabau di Ranah Minang. Di daerah tempat Istana Pagaruyung terletak.

Untuk memastikan ada-tidaknya acara Pacu Jawi, cari informasi dulu ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanah Datar. Biasanya hampir tiap bulan setiap akhir pekan ada acara Pacu Jawi yang tempatnya berpindah-pindah. Nonton acara ini tidak dipungut bayaran.

Eksotisme Kampung Nelayan Volendam

Akhirnya saya sampai di Volendam. Di hari yang beranjak siang, kampung nelayan di utara Amsterdam, Belanda, itu tengah diselimuti awan kelabu. Matahari yang telah meninggi masih bersembunyi di balik awan, menimbulkan bayang-bayang lindap yang menyirami Volendam.

Cuaca Volendam pada pertengahan Oktober lalu, saat musim gugur mulai menyapa, memang kurang bersahabat. Awan hitam pekat dan hujan terkadang muncul tiba-tiba menggantikan siang yang cerah. Angin kencang yang membawa hawa dingin nan menusuk juga kerap menerpa. Dan suhu udara di sana saat itu tak pernah beranjak dari 5 derajat Celsius. Ini tentu membuat saya, yang terbiasa dengan hawa panas Jakarta, cukup tersiksa.

Namun kondisi itu seolah menguap begitu menyaksikan pesona Volendam. Di sana terhampar di pesisir Laut Utara. Kampung nelayan itu menyuguhkan panorama nan eksotis. Rumah-rumah berarsitektur khas dan unik tampak berderet rapi menyambut kami. Kanal-kanal yang membelah desa dengan jembatan kayunya terlihat begitu menarik. Deretan kapal nelayan yang bersandar di pantai kian menambah keindahan Volendam.

Kepergian saya ke daerah wisata di wilayah Provinsi Noord-Holland, Belanda, itu merupakan perjalanan yang pertama kali. Dari Jakarta, saya bersama rombongan "Fam Trip to Europe" naik pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 088. Setelah transit di Dubai, Uni Emirat Arab, sekitar 1 jam, pesawat melanjutkan penerbangan ke Amsterdam.

Tepat pukul 08.40 waktu setempat, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Schiphol, Amsterdam. Meski dihadang hujan yang disertai angin cukup kencang, pesawat jenis Airbus A330-200 itu mendarat dengan mulus. Ya, bukan main leganya begitu menginjakkan kaki di salah satu bandara terbaik di Eropa itu. Penerbangan panjang Jakarta-Amsterdam, yang menelan waktu sekitar 14 jam, berakhir sudah.

Pagi itu, setelah rihat sejenak di Schiphol, kami kemudian menuju bus yang akan mengantarkan kami ke Volendam. Udara pagi yang menggigit langsung sirna begitu memasuki bus yang dilengkapi pemanas ruangan itu. Tak lama berselang, bus yang saya tumpangi telah meluncur di atas jalan tol yang lebar dan beraspal mulus.

Boleh dibilang, Amsterdam hampir tak mengenal kemacetan lalu lintas, meski jalan raya yang kami lalui tetap sibuk dengan lalu-lalang beragam mobil. Sepanjang perjalanan Schiphol-Volendam, mendung yang menggayut disertai hujan rintik-rintik menemani kami. Jalanan tampak basah dan licin. Siro, pengemudi berusia separuh baya asal Italia, sigap mengemudikan busnya, diiringi musik pop yang terdengar rancak mengentak-entak.

Pemandangan yang kami lewati berganti-ganti. Kami melintasi hamparan padang rumput dan ilalang yang luas. Sekawanan sapi terlihat asyik merumput dengan latar kincir angin yang berdiri menawan nun jauh di belakang. Setelah itu, bus yang kami tumpangi melaju di antara pohon-pohon rindang, yang berjejer di kiri-kanan jalan. Kami juga melalui rumah-rumah mungil dengan model menarik yang berderet rapi.

Sekitar 40 menit kemudian, kami sampai di tempat tujuan. Siang itu, Volendam, yang tengah dipayungi awan kelabu, menyambut kami dengan panorama pesisir nan eksotis. Setelah bus yang mengantar kami diparkir di sebuah area khusus turis, kami bergegas berhamburan keluar. Saya pun begitu menggebu untuk segera menikmati Volendam.



Berdiri pada 1357, Volendam terletak di muara Sungai Ij (baca: ay), yang berbatasan langsung dengan perairan Laut Utara. Awalnya, Volendam adalah pelabuhan kecil di wilayah Edam, sebuah kota penghasil keju utama di Belanda. Tapi, saat Edam membangun pelabuhannya sendiri, Volendam kemudian "memisahkan diri” dan tumbuh menjadi desa nelayan.

Desa kecil yang awalnya hanya berpenduduk sekitar 25 orang itu kini telah berkembang dan dihuni oleh lebih dari 22 ribu orang. Mayoritas penduduk Volendam menganut Katolik Roma. Selain berprofesi sebagai nelayan, warga di sana sekarang memiliki latar belakang yang bervariasi. Banyak seniman dan orang-orang tajir Belanda yang belakangan menetap di sana.

Menginjakkan kaki di Volendam saat ini adalah perjumpaan dengan sebuah kontras. Dulu, kampung nelayan itu kumuh dan penuh lumpur di mana-mana. Konon, kondisi itulah yang mendorong warga setempat kemudian membuat sepatu kayu–sejenis klompen atau terompah khas Belanda–untuk melindungi dari kotoran lumpur.

Kini, Volendam telah bersolek dan menjelma menjadi daerah tujuan wisata yang sangat populer di Negeri Kincir Angin. Tempat wisata itu terkenal dengan pakaian tradisional yang masih dipakai oleh sejumlah warga di sana hingga kini. Di kalangan para wisatawan tempat ini juga terkenal sebagai lokasi untuk berfoto dengan pakaian tradisional dan sepatu kayu khas Belanda. Boleh dibilang, belum lengkap ke Belanda jika kita tak bertandang ke Volendam. Saban tahunnya, hampir 2 juta pelancong datang ke sana.

Sisi menarik lain dari Volendam adalah suasananya, yang menyuguhkan keunikan Belanda tempo dulu. Di sana, kita masih bisa menemukan kekhasan tradisi kuno Belanda. Memang, salah satu yang menjadi magnet Volendam sehingga sangat menarik untuk dikunjungi karena daerah itu masih mempertahankan ciri khas budaya tradisional Belanda yang tetap terpelihara hingga sekarang. Salah satunya, warga di sana masih banyak yang mengenakan pakaian tradisional khas negeri penghasil keju itu.

Saya memulai perjalanan berkeliling Volendam dengan menyusuri perkampungan di sana. Boleh dibilang semua memang tampak baik dan teratur di kampung nelayan itu. Rumah-rumah yang berjajar rapi di sepanjang jalan tampak terawat dengan baik dan sangat bersih. Meski berukuran kecil, sekitar 7 x 8 meter persegi, rumah berbahan kayu papan dan bercat warna-warni serta tak berpagar itu sangat menarik.

Sebagian besar warga di sana tak bermobil. Meski begitu, jalanan yang menghubungkan antarpenjuru kampung tetap mulus dan terawat baik. Lebar jalan antar-rumah sekitar 8 meter dan menggunakan bahan paving block. Jalanan di sana juga menyediakan pedestrian yang nyaman buat para pejalan kaki.


Setelah berjalan-jalan menyusuri perkampungan, saya kemudian menuju pantai. Kapal nelayan yang bersandar di sana berderet rapi. Sejumlah nelayan tampak sibuk memperbaiki jala atau berbincang-bincang dengan rekannya. Di sebuah bangku kayu di tepi pantai, dua orang terlihat asyik menikmati suasana laut. Beberapa burung camar terbang melayang-layang.

Puas menikmati panorama pantai, saya tak menyia-nyiakan kesempatan bertandang ke pusat keramaian Volendam yang terletak di daerah Haven. Di kiri-kanan jalan conblock yang membelah kawasan itu, terdapat aneka restoran makanan laut, dan toko suvenir. "Kalau mau beli suvenir buat oleh-oleh, mendingan di sini, harganya lebih murah dibanding di Amsterdam," kata Daniek, teman seperjalanan yang sudah beberapa kali berkunjung ke sana.

Selain berbelanja beberapa suvenir, saya sebetulnya berniat berfoto mengenakan pakaian khas Belanda, seperti yang dikenakan beberapa warga di sana. Karena antrean di studio foto yang menyediakan layanan itu cukup panjang, akhirnya saya mengurungkan niat tersebut. Ya, sudahlah, mungkin pada kesempatan lain saya bisa berfoto. Saya menghibur diri.

Meski begitu, itu tak mengurangi kepuasan saya menikmati pesona Volendam yang sangat memukau. Keunikan dan eksotisme kampung nelayan yang berada di bibir pantai Laut Utara itu terus mengusik saya, hingga bus yang mengantar kami kembali meluncur ke Amsterdam.

6 Cara Agar Perjalanan Bebas Stres

Jangan biarkan antrean panjang, jadwal terbang yang tertunda, bagasi hilang, macet, padat, dan semua halangan liburan mengurangi kegembiraan Anda. Dengan sedikit persiapan dan pengamatan, Anda bisa menghindari beberapa jebakan yang paling membuat stres selama perjalanan dan menikmati liburan.

Kuncinya adalah, “Menetapkan harapan yang realistis, penundaan, dan frustrasi dalam semua rencana yang disusun,” ujar Carol Scott, M.D., penulis buku Optimal Stress: Living in Your Best Stress Zone. “Perkiraan dan kontrol adalah variabel utama yang berpengaruh pada respons terhadap stres.”

Seperti dikutip laman ivillage.com, inilah 6 cara untuk menjauhkan stres selama perjalanan liburan Anda.

1. Tidur nyenyak sebelum berangkat
Jangan membungkus kado, menyiapkan tas, dan melakukan persiapan perjalanan di menit terakhir. Persiapkan semua ini jauh sebelumnya dan manfaatkan waktu yang cukup untuk tidur, setidaknya 7-9 jam, sebelum keberangkatan. Jika Anda mendapatkan cukup tidur, “Kejengkelan Anda akan berkurang dan tidak mudah terkena stres. Anda juga akan lebih mudah menerima rasa sakit saat di pesawat atau kereta karena sistem di tubuh Anda telah terisi ulang selama tidur,” ujar Dr Scott. Jika Anda tertidur saat melakukan perjalanan, batasi waktu tidur paling banyak 40 menit sehingga Anda tidak akan mengalami rasa lemah dan menyebabkan grogi.

2. Hindari bawaan berat
Kita tidak membicarakan soal keluarga, tapi ini adalah masalah bawaan yang akan Anda bawa saat liburan. Soal oleh-oleh untuk keluarga, sebaiknya dikirim lebih dulu melalui pos. Dengan demikian, Anda akan mengurangi bawaan di koper nantinya, saran Dr Scott. Anda tentu tidak ingin merusak punggung, leher, atau bahu Anda karena membawa bawaan berat atau stres memikirkan apakah bawaan ini bisa Anda masukkan ke dalam bagasi. “Pikirkan apa yang paling membuat Anda nyaman dan gunakan pakaian yang sederhana,” ujar Dr Scott.

3. Bawa makanan sehat kesukaan Anda
Jangan menunggu sampai Anda merasa lapar, kesal, dan putus asa ingin memakan sesuatu saat di bandara, stasiun kereta, atau tempat istirahat. Siapkan makanan yang sehat untuk situasi seperti ini. Selain memuaskan rasa lapar, “Makan teratur menjaga level gula darah stabil dan Anda akan jarang resah dan sensitif selama perjalanan. Bawa makanan yang beraroma dan mudah dibawa, seperti apel, kacang almond, atau roti gandum yang diberi selai aprikot. Hindari minuman yang menyebabkan dehidrasi seperti kola dan kopi. Bawa banyak air putih akan membuat Anda terhindar dari dehidrasi.

4. Siapkan perlengkapan pribadi
Bawa buku yang Anda yakin akan mampu membacanya, iPod, atau pemutar MP3 dengan susunan lagu yang bisa membantu menikmati perjalanan. Penelitian terbaru dari New York Medical College menyebut musik bisa memberikan kenyamanan dan rasa santai pada pasien yang sedang dipindahkan dengan menggunakan ambulans.

5. Menyiapkan peralatan kebersihan
Siapkan satu botol kecil cairan pembersih di dalam tas kosmetik bersama dengan tisu, permen, pembersih kuping, obat batuk, penghilang rasa sakit, stocking kompres, dan semua yang mungkin diperlukan untuk merasa nyaman secara fisik dan psikologis saat Anda merasa sendiri. Juga jangan lupa untuk membawa botol kecil pelembap tangan. Peneliti dari Universitas Miami menemukan saat orang mencium gel dengan aroma lavender sebelum mengerjakan soal matematika, bau menyengat dari aroma itu meningkatkan gairah dan membuat mereka lebih santai, mereka pun menyelesaikan perhitungan lebih cepat dari biasanya. Bawalah tas khusus untuk barang-barang jenis ini yang selalu siap jika Anda membutuhkan dengan cepat selama perjalanan.

6. Menyiapkan waktu istirahat
Sangat bijaksana untuk merencanakan tiba di bandara atau stasiun kereta lebih awal sehingga Anda tidak perlu berlarian mengejar waktu keberangkatan dalam antrean panjang dan kondisi padat. Jika Anda memiliki banyak waktu bebas, bisa Anda manfaatkan dengan jalan-jalan mengamati sekeliling atau melakukan peregangan otot kaki. “Dengan begitu, Anda bisa benar-benar santai sebelum akhirnya siap pergi,” ujar Dr Scott.

Random Post